
Ryan berdiri sangat dekat dengan atasannya yang sedang berbicara. Ia mendengar semua yang diucapkan Dean, karena di ruangan itu semua orang harus setengah berteriak agar bisa didengar.
“Jadi, atasan kamu lagi ngapain?” tanya Dean pada wanita yang bergelayut di pinggangnya. “Udah mabuk atau belum?” tanya Dean memastikan.
“Setengah mabuk. Tapi masih kurang obatnya … masih nunggu,” ucap wanita tadi.
“Bandarnya belum dateng? Padahal aku juga pengen, deh. Buat tambahan tenaga,” ujar Dean.
Ryan sedang menebak-nebak hal apa yang sedang dibicarakan atasannya. Setengah mabuk? Masih kurang obat? Bandar? Narkobakah?
“Eh, itu dia. Aku masuk dulu. Kamu nyusul, ya … kamu udah janji,” kata wanita itu, berjinjit dengan maksud meminta ciuman.
Ryan melihat bagaimana atasannya dengan cepat memegang dagu wanita itu. “Sabar, Sayang … kasian rekanku kalo ngeliat kita di sini mesra-mesraan.”
“Segera nyusul,” ucap wanita itu, lalu pergi meninggalkan mereka. Tak lama terdengar ia memanggil seorang pria yang berpenampilan seperti pelayan, melintas.
“Itu bandar untuk klub ini,” kata Dean. Ryan langsung melihat ke arah mana tatapan atasannya. Terlihat wanita dengan tank top merah tadi berbisik-bisik dalam kegelapan. Tak lama sebungkus kecil benda berpindah tangan.
“Jadi, sekarang bagaimana, Pak?” tanya Ryan.
“Sekarang, saya mau pakai cara licik. Karena dia lebih licik. Berita soal direktur utama perusahaan asuransi, yang hobi mabuk ekstasi baru saya dapat dua minggu lalu. Jadi saya mau nunggu dia mabuk. Saya juga mau mabuk sebelum masuk ke sana. Sedangkan kamu … nggak boleh mabuk. Panjang atau enggaknya kamu kerja dengan saya, ditentukan malam ini.” Dean lalu merogoh kantongnya mengambil sebuah pemantik. Menyalakan lalu mengangka tangannya.
Tak sampai lima menit, seorang pelayan pria berompi hitam, mendekati mereka. “Mau pesan, Pak?” tanya pelayan itu.
Dean mengangguk. “Enggak perlu dicatat. Mudah diinget. Bacardi triple, sekaleng gin tonic dan sebotol minuman penambah stamina untuk dia. Dan juga … dua botol air mineral.” Dean menunjuk Ryan dengan dagunya. “Malam ini, dia perlu stamina dan harus semangat.”
Ryan merasa tersindir dengan perkataan atasan barunya. Ia langsung menegakkan tubuh dan membenarkan letak dasi. Apa ia terlihat lesu makanya Dean mengatakan hal itu?
Ternyata memesan minuman di sana tak membutuhkan waktu lama. Tak lama berselang, pesanan mereka datang.
Ryan mengamati atasannya yang langsung membuka kaleng gin tonic dan menuangkannya ke dalam gelas tinggi berisi Bacardi dan beberapa butir es batu.
“Saya sebenarnya nggak tahan minum. Bisa mual semaleman. Tapi … hari ini, saya harus mabuk.”
__ADS_1
Ryan mencoba mengerti dengan apa yang akan dilakukan atasannya. Ia melihat mata Dean tak lepas memandang ruangan pojok tempat di mana direktur asuransi berada. Dua pasang manusia terlihat mendorong pintu ruangan dan masuk ke dalamnya.
Setelah melewati waktu yang terasa amat panjang, Ryan mulai menyadari sesuatu. Dean menuangkan kaleng gin tonic dan mengguncang-guncang kaleng itu di atas gelasnya.
“Udah habis, Pak.” Ryan mengambil kaleng kosong dari tangan Dean.
“Oh, udah abis. Gue udah mabok, ya? Minuman lo udah abis juga? Abisin. Biar lo lebih garang. Kayak gue gini ….” Dean tergelak.
“Udah, Pak. Bapak udah mabuk. Sekarang gimana?” Ryan mulai cemas. Dean terlihat benar-benar serius dengan mabuknya.
“Sekarang … mari kita masuk ke sana. Biar pestanya bubar. Hahaha ….” Dean berdiri, berjalan santai memutari balkon hingga tiba di seberang. Ia berdiri di depan pintu mengetatkan dasi dan sekilas merapikan rambutnya. “Gimana? Masih menawan?” tanya Dean.
“Pastinya, Pak.” Ryan mengangguk mantap.
“Bagus. Menjilat itu manusiawi. Yang penting kerjaan kamu bagus.” Dean menepuk-nepuk pundak Ryan, lalu masuk ke dalam ruangan.
Ryan merasa seperti buta seketika. Di luar ruangan memang gelap. Tapi lampu warna warni yang berputar ke segala penjuru, masih membantu penglihatannya. Sejenak ia mengerjapkan mata menyesuaikan penglihatan. Dan di sanalah ia melihat pria-pria kaya menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti musik. Ada yang sedang berciuman dengan satu tangan masuk ke dalam baju wanita di sebelahnya. Aroma minuman keras, asap rokok, teriakan, dan hentakan musik membuatnya megap seketika.
“Pak Valentino …,” sapa Dean.
“Saya minta ketemu, Bapaknya nggak bisa terus … kebetulan ketemu di sini.” Dean kembali terkekeh. “Hei, cantik juga yang ini. Namanya siapa?” Dean menoleh pada wanita yang baru saja lepas dari pria tua bernama Valentino itu. Dean memegang tangan wanita itu.
“Kamu itu nggak ada sopannya, ya. Bar-bar! Enggak ada sopan santun. Kamu kira ini acara umum? Ini acara pribadi!” Yang bernama Valentino itu menggeser duduknya. Menjauh dari Dean. Ryan beringsut mundur sampai kakinya menyentuh speaker besar di lantai.
“Hei, jangan gitu … saya cuma mau ngomongin soal tuntutan nasabah saya. Buat forum diskusinua, dong. Di kantor pusat kalianlah. Kasian, lho. Kalian di sini seneng-seneng, tapi makan uang orang banyak.”
Pria yang bernama Valentino itu ternyata tak menanggapi Dean. Ia menarik tangan wanita yang berada di sebelah Dean, agar berpindah di dekatnya.
“Saya ngomong, lho.” Dean tertawa. Matanya melihat-lihat semua hal di atas meja, lalu ia mengambil botol air mineral. “Boleh minta?” tanyanya.
Pak Valentino tidak menggubris Dean sama sekali. Laki-laki itu malah melanjutkan bercumbu.
“Ih, kamu kok mau, sih, sama orang tua. Dia pasti bau. Huek!” Dean memperagakan adegan muntah, lalu bergidik.
__ADS_1
Ryan meringis dan membekap mulutnya. Apa lagi … apa lagi yang akan dibuat atasan nyentriknya ini.
“Mending kamu sama aku aja,” kata Dean. Menarik tangan wanita itu.
“Dean …,” panggil wanita yang tadi bertemu dengan mereka di luar. Ternyata wanita itu sedang berada di kamar mandi saat mereka tiba tadi.
“Hei! Aku sama temen kamu yang ini, boleh?” tanya Dean. Kembali menarik tangan wanita yang sepertinya adalah ‘kekasih’ Pak Valentino.
“Ada apa, sih?” tanya seorang pria berdiri dari bagian ujung sofa untuk menghampiri keributan kecil itu.
“Usir aja, kutu ini! Ganggu aja! Dia ngemis-ngemis untuk kliennya.”
“Kutu? Kalo kutu seganteng ini, kamu lantas apa? Salmonella? Bakteri penyebab diare? Hahaha ….” Dean tertawa terbahak-bahak.
Tak sengaja. Ryan malah ikut tertawa terbahak-bahak. Dan di situlah kesalahannya. Ia lengah.
BUG!
Pria yang setengah mabuk mendatangi keributan tadi, memukul rahang Dean. Dan itulah pertama kali Ryan menyaksikan kegilaan atasannya. Dean berdiri terhuyung-huyung.
PRANGG!
Dean membalikkan meja. Seketika semua benda yang berada di atas meja jatuh ke lantai. Belasan botol minuman pecah dan brandy mahal jatuh berdebum. Para wanita berdiri menuju pintu keluar. Dan tiga orang pria yang mabuk berat mendekat, berniat untuk mengeroyoknya.
“Hei! Hei! Panggil keamanan!” Ryan memanggil salah seorang wanita, tapi tak ada yang menggubrisnya. “Hei! Cewek!” Tidak ada yang melihatnya. Ryan membuka pintu dan menjengukkan kepalanya keluar.
“Cewek! Mbak! Ih, manggilnya apa, sih. Enggak ada yang ngeliat.” Ryan diam sedetik. Lalu, “Say! Panggil keamanan, dong, Sayang ….” Ryan memberi senyum manisnya pada dua wanita yang keluar paling akhir.
“Oke, Mas. Langsung kita panggil,” sahut salah seorangnya.
“Harus pake ‘Sayang’ ternyata. Susah juga kalo semua wanita di sini, disayang-sayang.” Ryan kembali menutup pintu.
To Be Continued
__ADS_1