
“Ini … arahnya ke mana?” tanya Toni.
“Keluar dari sini, kita ke kiri. Arah Kebon Jeruk,” jawab Wulan.
“Rumah atau—”
“Apartemen,” potong Wulan. “Apartemen nggak mengharuskan aku ketemu dengan tetangga. Semua pintu selalu tertutup. Aku nggak harus basa-basi,” terang Wulan.
“Apartemen,” gumam Toni. “Beli lagi?” tanya Toni. Ia sedang menyusun cerita soal mantan istrinya satu persatu.
“Enggak,” jawab Wulan. Ia memandang jalanan di depannya.
“Dikasi Rey kalo gitu?”
“Aku ngontrak sendiri. Bukan dari dia,” jawab Wulan pelan.
“Oh,” gumam Toni. Ia bersyukur Wulan mengontrak apartemen itu sendiri. Bukan berasal dari Rey. Dalam remang cahaya di dalam mobil, Toni melirik Wulan yang memeluk tas mungilnya di atas pangkuan.
Kenapa Wulan terasa jauh sekali, pikirnya.
“Lan …,” panggil Toni, menoleh sekilas pada Wulan.
“Hmm?” Wulan menoleh, memandang raut Toni dari samping.
“Kamu cinta Rey, ya?” tanya Toni, begitu lembut.
Wulan kembali menoleh, menatap jalanan. “Aku nggak tau,” jawab Wulan. “Aku udah nggak mikirin soal cinta lagi. Terakhir kali aku meyakini cinta dan menikah, hasilnya nggak berjalan lancar untuk aku. Jadi … menurutku sekarang, menikah dengan modal cinta aja nggak cukup.” Wulan tak ada menatap mantan suaminya saat mengatakan hal itu.
“Kalo gitu … masih sayang aku?” tanya Toni. Ia meraih tangan Wulan dan menggenggamnya.
“Kayaknya kamu nggak berhak nanya itu. Kamu punya pacar, Ton ….” Wulan kembali menarik tangannya.
“Ha? Pacar? Kalo aku punya pacar, nggak mungkin aku di sana sendirian.”
“Maaf—maaf. Mantan pacar maksudnya. Kamu minta aku masih sayang kamu, tapi kamu juga sudah memulai hubungan baru. Itu enggak adil untuk kita berdua. Aku nggak mau lagi kita saling menyakiti,” kata Wulan. “Kita juga bukan orang suci yang selalu bisa menjaga hati,” tambah Wulan.
Wulan kemudian tertawa pelan. “Aku udah terbiasa sendiri menghadapi permasalahanku. Siapapun laki-laki yang deket sama aku—”
“Belum tentu ngerti dan ikut campur dalam semua urusan kamu, kan?” tanya Toni. Ia kembali meraih tangan Wulan dan menggenggamnya. “Sama, Lan. Sama. Aku juga gitu. Bener yang kamu bilang, kita bukan manusia suci yang bisa menjaga hati. Empat tahun itu nggak sebentar. Mungkin—mungkin bisa aja luka lama itu belum sembuh.”
Wulan mengatupkan mulutnya. Kali ini ia membiarkan tangannya berada di atas paha Toni. Tangan Toni begitu hangat saat memijat lembut telapak tangannya. Dan … ternyata, dadanya masih berdebar saat Toni melakukan kebiasaannya itu.
Tiba-tiba Wulan menunjuk sesuatu di tepi jalan. “Eh, itu … ini jalan yang—” Wulan memandang Toni.
“Iya, ini jalan yang biasa aku lewatin tiap jemput kamu pulang kerja dulu,” jawab Toni.
“Tapi biasa di situ ada pedagang kaki lima yang biasa—”
__ADS_1
“Pindah. Pedagang nasi goreng yang dagang ibu-ibu, kan? Sekarang udah pindah, nggak di sana lagi.” Toni tersenyum melihat raut antusias Wulan.
“Pindah ke mana?” tanya Wulan.
“Pengen makan di sana? Jam segini udah tutup. Besok kalo pengen makan di sana, aku jemput kamu.” Toni mengeratkan genggaman tangannya.
Wulan kembali terdiam. Toni baru saja mengatakan kata besok. “Enggak. Enggak mesti besok, kok. Aku cuma baru tau aja, ibu nasi goreng itu ternyata udah nggak dagang di sana. Aku nggak pernah lewat jalan ini,” ujar Wulan.
“Kalo … Beer Garden? Masih ke sana?” tanya Toni.
Wulan menggeleng. “Enggak mungkin aku ke sana,” sahut Wulan.
“Iya, ya … nggak mungkin. Kamu pasti nggak mau ngeliat aku.” Toni tertawa.
“Enggak gitu juga. Aku cuma sibuk ….” Wulan menoleh keluar jendela.
“Soal tadi siang … nggak mau cerita?” tanya Toni, masih memijat-mijat tangan Wulan yang berada di atas pahanya.
“Cerita apa lagi? Ngingetnya aja aku udah capek …,” gumam Wulan.
“Eh, ini apartemen yang mana? Tower yang mana?” tanya Toni.
“Masuk dari pintu tiga aja, lurus sampe mentok.” Wulan menunjuk pintu masuk di depan.
“Kok pindahnya ke sini? Enggak kejauhan dari rumah ibu?” tanya Toni. Dari kantor kayaknya juga jauh …,” sambungnya lagi.
Di tangan Wulan sudah tergenggam sebuah kartu akses yang akan digunakannya masuk pintu menuju lift.
“Naik lift pakai akses juga?” tanya Toni.
“Iya, ke kolam renang juga pakai akses.”
“Aman, ya …,” gumam Toni. “Tapi biasa akses nggak cuma satu aja, kan?” tanya Toni. Ia membawa mobil Wulan melewati lobi menuju lahan parkir yang kosong.
“Rey nggak pegang akses kamarku. Kalo kamu memang mau nanya itu,” ujar Wulan. Ia menatap Toni. Mobil telah berhenti di parkiran dan Toni baru saja menarik hand break.
“Kamu baru ribut ama dia tadi siang. Sore dia ngelaporin aku. Dan sekarang, aku nggak ada terima kabar lagi soal dia. Kamu tau? Dia ada menghubungi kamu?” Toni kembali meraih tangan Wulan.
“Kami ribut. Biasa Rey ngilang semaleman, trus minta maaf keesokan harinya. Kali ini juga gitu, sehabis ngamuk-ngamuk di kantor, dia langsung pergi. Aku nggak bisa cegah meski aku tau dia pergi nemuin kamu. Aku bingung …,” gumam Wulan.
“Aku boleh peluk kamu, Lan?” tanya Toni, menangkup tangan kanan Wulan yang mungil dengan kedua telapak tangannya.
Wulan hanya diam menunduk, memandangi tangannya yang diselubungi kehangatan.
Toni melepaskan tangan Wulan dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
“Lepasin Rey, Yang …. Kita coba lagi. Kita mulai lagi dari awal. Kasi aku waktu untuk ngasi Mami pengertian. Keadaan Mami sekarang juga nggak kayak dulu. Mami—depresi parah. Aku sebenarnya takut. Takut kamu bakal merasa tertekan. Tapi untuk ngelepasin kamu, apalagi dengan orang kayak Rey, aku nggak akan sanggup.” Toni mengeratkan pelukannya. Membelai sisi belakang kepala Wulan dan mengecup puncak kepala mantan istrinya.
__ADS_1
“Aku nggak tau. Aku nggak bisa jawab. Untuk sekarang, aku masih terikat dengan Rey.”
“Kita selesaikan,” sahut Toni.
“Kayaknya nggak akan semudah itu. Apalagi dia lagi emosi. Aku takut, Ton …. Aku takut dia dendam ke kamu,” kata Wulan.
Toni melepaskan pelukannya. “Jangan temui dia dulu sementara ini. Sebisa mungkin menghindar.”
“Aku banyak kerjaan, nggak mungkin. Itu susah, Ton … ck!” Wulan berdecak frustasi. “Aku takut dia murka,” tambah Wulan.
“Andai kamu mau terus terang soal semuanya. Mungkin bakal lebih mudah,” ucap Toni.
Wulan kembali diam. Mengatakan semuanya pada Toni, artinya ia memohon pertolongan. Ia tak mau. Wulan merasa ini adalah masalah pribadinya. Ia yang harus membereskannya sendiri. Ia lalu mendongak menatap Toni.
“Kamu sekarang beda,” ucap Wulan. “Lebih dewasa.”
Toni tersenyum tipis. Menyelipkan rambut Wulan ke belakang telinganya.
“Sayang-ku masih sama. Masih sama cantiknya ….” Toni menunduk mencium bibir mantan istrinya. Tangan kirinya membawa tubuh Wulan ke dalam pelukannya. Tangan kanannya membelai pipi wanita itu dengan lembut.
Wulan memejamkan mata. Tubuh dan jiwanya sama letih. Toni masih lembut seperti dulu. Anak tunggal yang mampu menyayanginya bak seorang bayi. Toni yang romantis dan sangat naif dulunya.
Perlahan tangan Wulan ikut menyentuh kedua sisi wajah mantan suaminya. Sebuah kenangan yang selalu indah tiap masuk ke angan. Bibir Toni yang selalu hangat. Ia merasakan tangan Toni membelai wajahnya. Mengusap dagunya dengan lembut dan memijat telinganya.
Ciuman itu lembut dan panjang. Wulan masih menutup mata saat Toni melepaskan ciuman mereka.
“Udah malem,” kata Toni. Ia kembali mengusap bibir Wulan dengan ibu jarinya.
“Udah hampir tengah malem,” ujar Wulan.
“Iya. Hampir tengah malem,” sambut Toni.
Lalu ia kembali merasakan ponselnya bergetar.
“Sebentar,” ucap Toni. Menjauhkan tubuh mereka dan kembali merogoh sakunya. Saat melihat nama pengirim pesan, tak sadar Toni mendengus.
‘Pulang. Jangan nginep lo. Jangan bikin makin runyam. Masalah lo belum kelar. Beresin Mami lo dulu kalo mau lebih enak lagi. Banyak taksi di sana, supir lo ada, satpam ada, duit lo ada, alasan lo nginep yang nggak ada.’
Dari Dean. Sudah hampir tengah malam tapi Dean masih merusuhinya. Toni mengetikkan balasannya.
‘Bacot lo jam segini masih usil. Gue ama Wulan sama-sama single.’
Toni mengirimkannya. Dan beberapa menit kemudian, ia langsung mendapatkan balasannya.
‘Ibu adopsi lo khawatir. Gue harus menenangkan kekhawatirannya tengah malam. Makanya lo harus pulang. Entar kalo semua udah beres, gue jamin bakal lebih enak.'
To Be Continued
__ADS_1
Like-nya jangan kelewatan ya ... sayang-sayang akuuh... enjus mintanya itu aja. Mmuaaahh