GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
37. Ulah Para Sekretaris


__ADS_3

Dean sudah menyalakan mesin mobil dan duduk di kursi pengemudi bagian depan. Ryan masih menyimpan beberapa dokumen saat ditinggalkannya di ruangan.


Ryan masuk ke mobil Dean dan duduk di belakang kemudi. “Pak, Bu Winar baru nelfon, nanya ‘Bapak Dirja pulang jam berapa’, terus bilang pengen makan di luar. Gimana?” Ryan menyerahkan ponsel Dean yang sejak tadi masih dipegangnya.


“Sebentar, aku telfon dulu.” Dean menghubungi nomor telepon Winarsih. “Win … lagi pengen makan di mana? Aku jalan pulang ni, aku jemput sekarang ya … kamu siap-siap. Iya … iya Sayang … nggak apa-apa. Aku nggak capek. Tumben kamu meragukan staminaku. Dandan yang cantik. Ya, udah, aku tutup dulu.” Dean kemudian meletakkan ponselnya.


“Jadi? Mas Toni gimana?” tanya Ryan mulai memasukkan gigi persneling dan melaju.


“Toni bisa nunggu. Ini untuk ngurusin kasus dia dalam waktu jangka panjang juga. Ketimbang gue langsung ngurusin Toni? Bini gue ngambek, nyokap gue ngomel-ngomel. Gue bener-bener bisa nemenin si Rojak di pos-nya.”


“Jadi, jemput Bu Winar, terus ke kantor polisi?” Ryan memastikan.


“Yoi. Jemput bini gue dulu. Biar dia liat Toni dan hatinya terenyuh. Besok-besok gue bakal gampang keluar. Lo juga kabarin bini lo. Jangan lupa,” ujar Dean.


“Ternyata ujung-ujungnya untuk kepentingan dia juga …,” gumam Dean.


“Gue belum denger dari Toni langsung. Tapi semoga ini Tindak Pidana Ringan aja, ya … Gue udah tebak, sih, bakal begini ujung-ujungnya. Cepat atau lambat. Ya udah, buruan nyetir. Biar jangan pulang kemaleman. Bawa ibu hamil soalnya,” ujar Dean.


Ryan mengemudi dalam diam. Ia masih bingung bagaimana cara memberitahu Dean soal isi pesan pada Langit yang sudah dimodifikasinya.


Mereka tiba di kediaman Pak Hartono saat langit hampir gelap. Dean langsung turun untuk menjemput istrinya.


“Mas nggak ganti pakaian dulu? Biasa pasti mandi …,” ujar Winarsih saat digandeng suaminya menuruni tangga teras.


“Nanti kelamaan. Sebelum makan malam, kita ke kantor polisi dulu, ya, Win ….” Dean membuka pintu mobil dan meletakkan tangannya di atas kepala Winarsih, saat wanita itu masuk ke dalam.


“Kenapa, Mas? Siapa yang di kantor polisi?” Winarsih menggeser duduknya saat Dean masuk.


“Anak adopsi kita, Bu … Toni Setyo Anderson.” Dean meraih tangan Winarsih dan menciumnya. “Wangi banget kamu …,” kata Dean menunduk dan mencium leher Winarsih.


“Kenapa lagi? Berantem lagi?” tanya Winarsih.


“Ini pake parfum yang mana? Wanginya sensual … sebelumnya pake lotion dulu pasti. Ya, kan? Wanginya beda. Makin enak …,” cetus Dean sambil mencium dan mengendus-endus leher istrinya.


PLAKK!


Winarsih memukul paha Dean. “Aku nanya mas Toni,” ujar winarsih. “Ya, udah, urusin mas Toni dulu. Makan malamnya selesai ngurus mas Toni. Kasian kalo kelamaan di kantor polisi. Ibunya pasti cemas kalau anaknya pulang lama …,” kata Winarsih dengan raut cemas.


“Ibu adopsinya juga cemas,” sahut Dean mengusap perut Winarsih. “Biarin aja, Win … kita makan dulu. Biarkan dia merasakan suasana kantor polisi. Biar dia kapok. Aku juga kesel. Ngerepotin aja … padahal tadi aku mau pulang cepet. Mau ketemu ibunya Dirja yang baru selesai mandi sore.” Dean memasang raut kesal dibuat-buat.


“Jangan—jangan. Kita ke kantor polisi aja langsung. Beli minuman, Mas. Atau belikan cemilan.” Winarsih benar-benar cemas memikirkan nasib Toni.

__ADS_1


Dean melirik Ryan dari kaca spion dan seperti diperintah, tatapan mata mereka bertemu. Ryan mendengus dan Dean membalas dengan kedipan mata.


“Iya, nanti kita pesan minuman dan makanan buat Toni. Kasian Toni, ya, win …,” tambah Dean.


“Iya, kasian. Apalagi mas Toni nggak ada istri yang mencemaskannya. Enggak ada istri yang nungguin dia pulang, yang ngurusin pakaian dan makannya. Enggak ada istri yang bisa dimintain usap-usap punggung, kalau mau tidur. Kasian memang … yang ada istri malah kelayapan aja.” Winarsih menggeleng lemah dengan wajah prihatin.


Dean langsung bungkam. Tak sengaja ia kembali melirik spion dan kembali bertemu pandang dengan Ryan. Mata sekretarisnya berbinar dan mulutnya melengkungkan senyuman.


“Kamu ini …,” sungut Dean meraih tangan istrinya.


“Apa?” tanya Winarsih dengan mimik datar.


“Nyindir aku,” cetus Dean.


“Mustahil. Enggak mungkin aku nyindir,” jawab Winarsih kalem.


Dean meraih tangan Winarsih dan meletakkannya di atas paha. “Kamu jangan bikin aku makin gemes, ya …,” bisik Dean. Ia meremas pelan kejantanannya menggunakan tangan winarsih.


“Ck!” decak winarsih memandang suaminya. Ia paham betul itu adalah pertahanan terakhir suaminya bila tersudut. “Apa itu?” tanya Winarsih dengan wajah menahan tawa.


“Ini obat tidur kamu …,” bisik Dean di telinga istrinya. “Dua dosis dan kamu lelap tanpa mimpi sampai pagi.” Dean terkekeh-kekeh seraya mencium bahu istrinya.


“Itu terus yang dibanggain,” kata Winarsih pelan.


Di belakang kemudi, Ryan tak menjawab. Ia hanya mendengus. Selalu licin, pikirnya. Lantas sebuah jalan keluar muncul di kepalanya.


“Pak, coba buka pesan dari mas Langit. Dibaca dulu,” pinta Ryan mengambil ponsel atasannya dari dasbor dan menyerahkannya ke belakang.


Dean langsung melakukan apa yang dikatakan Ryan padanya. Lalu …, “Mbak Mus? Kerjanya bagus dan luar biasa?” Dean membaca pesan yang diketik Ryan. “Siapapun yang mengenal gue, nggak akan percaya itu gue yang kirim. Mus? Keren? Luar biasa? Huh,” dengus Dean.


“Mbak Mus itu kerjanya bagus. Tangkas dan gesit. Keliatan kalo mbak Mus juga pekerja yang loyal. Memuji sedikit itu, kan, nggak sulit. Ya, kan, Bu Win?” Ryan memandang Winarsih dari kaca spion.


“Iya, Mas, nggak ada ruginya juga memuji orang atas prestasinya. Bisa jadi motivasi … apalagi mendampingi atasan yang …”—Winarsih melirik Dean sekilas—"mendampingi atasan yang luar biasa itu pasti sulit,” terang Winarsih.


“Hmmm …,” gumam Dean, masih menggenggam tangan istrinya di atas paha. “Tapi harusnya, kalo sekretarisku yang luar biasa ini ngetik pesanku dengan benar ... mungkin Toni nggak bakal ribut. Rio dan Langit pasti bisa mencegah.”


Ryan diam seribu bahasa.


“Yan …,” panggil Dean melirik kaca spion.


“Ya, Pak?” Ryan membalas tatapan atasannya.

__ADS_1


“Cari tau, usaha dan perusahaan pacarnya Wulan. Kalo perlu, sewa agen buat cari tau, kenapa si Rey itu dulunya nggak jadi nikah. Dia anak orang kaya. Katanya anak bekas gubernur. Kenapa nggak jadi nikah? Sebabnya pasti nggak sepele. Dari sikapnya yang ngamuk-ngamuk, datengin Toni langsung ke kantornya, itu terlalu gegabah. Cuma hampers. Dan Wulan belum jadi istrinya. Trauma gagal lagi? Cari tau, berapa yang dipinjam Wulan dari si Rey. Itu pinjaman sebatas teman dan kepercayaan orang dekat, atau dengan jaminan. Kalo dengan jaminan, jaminannya apa. Kalo nanya langsung ke Wulan, pasti sulit.” Dean mengatakan hal itu seraya menggesekkan ujung hidungnya di kepala Winarsih.


"Sewa agen, Pak?" tanya Ryan memastikan.


"Yup. Jangan lupa tagihannya ke T&T Express," jawab Dean.


Mobil memasuki pelataran kantor polisi dan Dean menggandeng Winarsih menuju pintu masuk. Langit mulai gelap dan Dean berhenti sejenak di depan pintu. “Enggak dingin? Biasa kalo keluar malem, luarannya yang tebel …,” ucap Dean menaikkan cardigan yang dipakai Winarsih. Istrinya hanya menggeleng. Lalu Dean meneruskan langkahnya.


Bayangan soal kata-kata Winarsih, ‘Kasihan Mas Toni’ ternyata tidak sepenuhnya benar. Toni, Musdalifah, rio dan Langit, duduk di sebuah ruangan dan sedang ‘berpesta’ minuman boba dan kopi kekinian. Sepertinya Rio mengucurkan sponsor rasa bersalahnya pada Toni.


“Hei,” sapa Dean. Ia masuk ke ruangan dan langsung menarik sebuah kursi untuk Winarsih.


“Nah, ini dia … eh, Bu Win ikut.” Toni melambai-lambai pada Winarsih.


Dan Winarsih tersenyum lembut membalas lambaian tangan Toni padanya. Senyumnya persis saat ia melihat Dirja, Dita atau Widi melambaikan tangan.


“Gimana? Lukanya parah?” tanya Dean langsung. “Bisa jalan? Menghambat aktifitasnya atau enggak? Menimbulkan penyakit? Dirawat?” Dean memberondong Toni dengan pertanyaan yang dimaksudkan pada orang yang menjadi korban.


“Enggak parahlah. Badan dia juga gede. Dia, kan, nggak bego. Enggak mungkin dia diem aja gue gebukin.” Toni memutar duduknya dan mengangkat bagian depan kemeja. Sepanjang garis rusuknya terlihat memerah kebiruan. Toni mengalami luka lebam.


“Oh, aman. Ada lagi yang terluka?” tanya Dean dengan wajah serius.


“Awalnya si Rey, dorong Pak Mus sampe jatuh. Makanya gue kesel,” ucap Toni.


“Oke, kalo Pak Mus luka, dia bisa visum dan nuntut. Lo juga visum. Trus?”


“Mungkin, kalo si Mus nggak ngasi tongkat T satpam ke gue, gue yang bakal jadi korban. Sekarang aja gue udah korban ni,” ucap Toni mengusap rusuknya.


“Tunggu—tunggu, ini yang ngasi tongkat T buat gebuk si Rey?” tanya Dean. Toni mengangguk. “Oke. Mus yang mana?” tanya Dean lagi.


“Mus yang ini …,” jawab Toni menunjuk Musdalifah yang sedang menghitung butiran boba di dalam gelas plastik.


“Oooh … okee … ngasi tongkat T. Baik … ngasi tongkat T, ya? Dari mana tongkat T-nya? Kalo ada di dekat situ, bisa dianggap spontan. Pertahanan diri. Tapi kalo disiapkan sebelumnya ... bisa jadi penganiayaan yang direncanakan. Gimana? Siapa yang merencanakan penganiayaan ini?” Dean sebenarnya geli sekali saat mengatakan hal itu. Musdalifah yang membela atasannya mati-matian, mengingatkannya pada Ryan di awal masa kerja sekretarisnya itu.


“Jadi, De?” tanya Toni.


“Sekretaris-sekretaris ini yang bisa dipidana. Cocoknya dibiarkan satu malam di sini,” jawab Dean.


Ryan terlihat santai mengeluarkan satu minuman boba yang belum dibuka dan menyerahkannya pada Winarsih. Sedangkan Musdalifah, menyedot isi gelasnya dengan berisik.


To Be Continued

__ADS_1




__ADS_2