
Saat itu sudah berada di penghujung tahun. Winarsih, Dirja dan Widi baru saja berulang tahun bulan lalu. Istri Dean itu genap berusia 28 tahun. Itu artinya Dean sudah menginjak usia 36 tahun. Usia yang cukup matang bagi seorang pria.
Dean sedang berada di puncak karirnya. Kantor advokasinya semakin tenar. Namanya pun sering muncul di kolom surat kabar, menjadi dosen tamu, atau mengisi talk show televisi yang sedang mengulas suatu kasus dan membutuhkan narasumber. Hal itu bukan hanya karena penguasaan Dean akan bidangnya. Namun juga karena penampilannya.
Dean adalah pengacara muda tampan dan necis yang berhasil memenangkan banyak kasus besar. Kepribadian dan tampilannya dengan mudah menarik perhatian.
Saat ini, pengacara kondang itu sedang dilanda kebingungan dan gelisah. Anak Dean berjumlah empat orang. Dirja yang paling sulung sudah berusia enam tahun, Dita berusia lima tahun, Widi berusia empat tahun, sedang Handaru yang bungsu, berusia satu tahun delapan bulan.
Kegelisahan Dean itu beralasan kuat. Bulan lalu ia kembali melakukan kecerobohan. Karena terhanyut mengenang masa-masa pendekatan bersama istrinya, Dean kebablasan bercinta tanpa pengaman. Daru sudah dinobatkan sebagai anak bungsu di kediaman Hartono. Bahkan Mbak Anggi, kakak Dean yang tinggal di Belanda, sudah menyebut Daru sebagai, ‘our little one’ (anak kecil kita).
Pukul lima pagi, Winarsih yang beberapa bulan lagi merampungkan pendidikannya sebagai sarjana manajemen bisnis, baru saja keluar dari kamar mandi. Di tangannya tergenggam sebuah test pack.
“Gimana? Udah? Duduk sini,” pinta Dean, menepuk sisi ranjang di sebelahnya.
“Mungkin ini nggak bener, Pak. Aku coba lagi, ya.”
Winarsih yang terlambat datang bulan sehari, berniat mengambil satu test pack baru. Dia sudah mencoba dua kali. Dua garis merah melintang, tetap berada di sana.
“Pasti bener. Enggak mungkin salah. Udah dua kali dites. Garisnya juga seterang ini. Hai, Pak, Bu. Itu kata garisnya,” jawab Dean, memandang test pack kedua yang baru diangsurkan istrinya. “Kamu cuma menghibur diri kalo bilang ini nggak bener. Ya, udah. Ini rejeki. Tapi Handaru gagal bungsu lagi.” Dean menahan senyumnya.
“Gimana kalau Mama tau? Papa? Ibuku? Aduh,” keluh Winarsih. Ia masih mengenakan pakaian tidur renda yang sangat tipis berwarna krem.
“Memangnya kenapa? Malu? Enak aja. Enggak boleh. Ini anak aku. Kamu nggak boleh malu-malu. Namanya juga rejeki,” tukas Dean.
“Ini gara-gara Bapak. Sama sekali nggak sabar. Aku udah bilang waktu di kamar pojok belakang. Mesti mau di sana padahal nggak bawa pengaman. Bapak itu nggak bisa nahan diri. Self control-nya kurang,” omel Winarsih.
“Iya. Aku udah bilang kamu boleh nyalahin aku sepuasnya. Aku denger,” sahut Dean, meletakkan test pack ke atas nakas. “Mau ngomel apa lagi?” tanya Dean.
“Enggak ada. Percuma aku ngomel. Udah hamil,” kata Winarsih.
“Aku janji yang ini bakal bungsu. Setelah lahiran kita konsultasi ke dokter. Pakai kontrasepsi yang nggak merugikan kamu. Dan aku juga tentunya.”
“Anak kita bakal lima, Pak. Itu gimana ngomong ke Widi? Dita sama Dirja pasti biasa aja denger mau punya adik lagi. Widi selalu ngambek karena merasa Daru selalu diduluin. Daru juga udah manja. Ini nambah satu lagi. Aku udah pesimis ada anak yang mirip aku.” Winarsih duduk di tepi tempat tidur.
“Mirip kamu atau aku, kan, nggak ada bedanya. Ya, udah. Sini deket aku. Percuma selama ini aku pake karet, menahan diri buang di mana-mana. Tau-tau hamil juga,” kata Dean, menarik lengan Winarsih agar memeluknya. Dean sedang setengah berbaring dan sejak tadi mengusap punggung istrinya untuk menghibur diri.
“Jadi ini mau apa?” tanya Winarsih, dari atas bahu suaminya. Ia merasa tangan Dean sudah masuk ke balik pakaian tidur tipis yang dikenakannya.
“Mau buang di dalem,” jawab Dean. “Kan, udah hamil. Enggak ada bedanya. Aku bebas mau buang sebanyak apa,” sambung Dean tertawa.
“ASI-ku udah mulai sedikit nyusuin Daru kemarin. Kasian kalau anak bungsu nggak dapet ASI.” Suara Winarsih teredam di balik leher suaminya.
“Yang penting sehat-sehat, Bu. Masih bisa dikasi susu formula. Kalo emang udah nggak ada susunya mau gimana? Yang penting wadahnya masih utuh buat bapaknya,” jawab Dean.
“Bercanda terus,” sungut Winarsih.
“Cium aku, Win.” Dean memeluk Winarsih yang duduk di tepi ranjang dan merebahkan diri memeluknya. “Kalo kamu nyium leher aku, aku lebih cepet tegang. Ayo,” pinta Dean, sepasang tangannya sudah meremas pinggul Winarsih.
Winarsih memiringkan kepalanya, mengecup leher Dean cukup lama, lalu kembali menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
“Bapak nggak malu sama temen-temennya? Nanti diledekin karena aku hamil terus.” Winarsih mengungkapkan kekhawatirannya.
“Siapa temen aku yang berani ngeledekin?” tanya Dean pada Winarsih.
“Semua,” gumam Winarsih.
“Iya, sih. Ya, udah. Enggak usah dipikirin yang penting kamu sehat. Mari, Bu. Dibantu bapaknya.” Dean meraih tangan Winarsih dan memasukkan ke dalam bawahan piyamanya.
***
Sejak tahun baru para sahabat itu belum ada melakukan arisan lagi. Semua sibuk dengan urusan keluarga masing-masing. Dean baru saja kembali dari Desa Beringin. Toni sibuk dengan anak keduanya yang juga seorang laki-laki. Bayi laki-laki itu berusia empat bulan dan diberi nama Wisnu. Sama tampannya dengan Tirta.
Sudah bulan Februari saat mantan Genk Duda Akut kembali membuat janji bertemu di Beer Garden.
“Dean kenapa, sih? Kok susah banget diajak keluar?” tanya Langit pada Toni.
“Enggak tau. Gue udah ngajak ketemu dari bulan lalu. Gue kira dia liburan ke luar negeri. Soalnya taon lalu dia ada ngomong mau taon baruan di luar negeri. Taunya ke Desa Beringin,” jawab Toni.
“Kayaknya emang lagi sibuk, deh. Soalnya gue ngajak dia tadi, dia bilang nggak bisa sampe malem. Biasa kalo Dean udah ngomong gitu, dianya emang sibuk.” Rio membuka-buka buku menu. Seperti biasa, dia mengecek menu baru di sana.
“Entar kalo Ryan atau Santoso dateng duluan, kita interogasi. Apa aja kerjaan atasannya.” Langit menggaruk-garuk dagunya dengan raut serius.
Yang namanya baru saja disebut, akhirnya muncul. Ryan dan Santoso terlihat bersamaan melewati pintu kaca.
“Eh, sini—sini! Lo duduk deket gue.” Langit melambai pada Ryan. Ia menepuk bangku panjang yang masih kosong di sebelahnya. “Lo di sebelah Toni, San!” pinta langit menunjuk tempat kosong di seberangnya.
“Dean ke mana aja, sih?” tanya Langit pada Ryan. Bahkan sebelum sekretaris Dean itu sempat duduk dan menarik napas.
“Bosen, ah, dengerin Dean ngomong. Udah sering,” jawab Langit.
“Lembur terus?” tanya Toni pada Ryan.
“Enggak. Sore udah pulang dari kantor,” jawab Ryan.
“Kok, aneh. Kesannya ngomong kayak sibuk banget,” gumam Rio.
“Dunianya Pak De sedang jungkir balik,” jawab Santoso.
“Kenapa?!” tanya Langit, Rio, dan Toni nyaris bersamaan.
“Denger dari orangnya langsung aja. Enggak enak ngomongin—”
“Ternyata kesetiaan lo masih bisa diandalkan.” Dean menepuk pundak Ryan yang ucapannya barusan terpotong. Ia baru tiba dan langsung menghempaskan tubuhnya di sebelah Ryan. Tangan kirinya menarik menu dari bawah tangan Rio, dan tangan kanannya mengendurkan dasi.
“Sibuk banget, De?” tanya Rio, memandang Dean di seberangnya.
Dean menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. “Luar biasa pokoknya,” ucap Dean.
“Emang kenapa, sih?” tanya Langit lagi. Ia benar-benar tak sabar menunggu Dean bercerita. Biasanya Dean tak diminta pun bisa mudah memberi informasi.
__ADS_1
“Eh, nyari jambu biji yang udah dipotong kecil dan diwarnai ijo gitu, dimana?” Dean memandang berkeliling pada lima orang laki-laki di dekatnya.
“Lo nyari biji? Untuk siapa?” tanya Toni tertawa.
“Jambu biji, Nying! Kalo biji gue punya. Subur banget biji gue,” jawab Dean.
“Hari ini jambu biji?” tanya Ryan.
Dean mengangguk lemah. “Tau bisa beli di mana?” tanya Dean lagi.
“Nanti saya pesan dan anter langsung ke rumah. Enggak banyak, kan?” tanya Ryan.
“Kayaknya nggak usah banyak-banyak. Yang jambu air kemarin cuma dimakan sedikit. Sisanya Pak De bawa lagi ke kantor,” kata Santoso.
“Ya, iya. Ngasi jambu air sampe sepuluh kilo. Bini gue ngidam, bukan mau dagang rujak,” sungut Dean.
“Hah? Ngidam? Bu Win hamil?” tanya Toni.
Langit tertawa terbahak-bahak. Memukul-mukul lengan Dean dari balik punggung Ryan.
“Asih bener dong?” Rio memandang Toni dengan raut serius.
Langit belum berhenti tertawa. Di sela tawanya, ia berkata, “Gaya Lo, De! Ngomong bakal berenti di empat!” Langit kembali tertawa.
“Diem, anjing! Ketawa mulu. Bahagia banget,” umpat Dean, mengarahkan tinjunya kepada Langit yang bersembunyi di sebelah Ryan.
“Selamat, ya, De!” Rio mengulurkan tinjunya pada Dean. “Akhirnya lima juga. Rumah lo bakalan rame,” ucap Rio.
“Iya. Kali ini beneran lima. Bini gue bakal gue perbolehkan pake kontrasepsi. Anak gue stop di lima aja. Itu udah cukup untuk melakukan briefing, kalo nantinya mereka semua mau menyelesaikan suatu masalah. Gue mau bangun ruang meeting di rumah.” Dean terkekeh-kekeh menyambut uluran tangan Rio.
“Semoga mirip Bu Win, ya,” gumam Toni.
“Muka lo, kok, prihatin gitu?” tanya Dean.
“Yah, kasian aja kalo udah lima, tapi satu pun nggak ada yang mirip ibunya.” Toni melemparkan gulungan tisu pada Dean.
“Bisa jadi mirip,” gumam Santoso. “Soalnya baru kali ini Bu Win ngidam. Semuanya buah,” ucap Santoso.
“Sebagai suami yang berpengalaman memenuhi ngidam bayi perempuan, Pak Santoso layak dipercaya.” Ryan mengangguk pada Santoso.
“Oh, iya. Anak Santoso cewe. Usia berapa, San?” tanya Rio.
“Anak Santoso enam bulan. Anak gue yang bungsu empat bulan. Selisihnya dikit aja,” sahut Toni.
“Jadi? Arisan vakum?” tanya Rio pada Dean.
“Vakum sampe bini gue selesai ngidamnya. Selain ngidam buah, gue nggak bisa bergerak. Kalo udah nyampe rumah, gue harus ada di depan dia. Ke kamar mandi aja gue diwanti-wanti, ‘Jangan lama-lama, Pak.’ Tiap mau tidur gue udah kayak cowo-cowo panti pijat. Gue diminta pake boxer minjetin kakinya sampe ketiduran. Katanya gue harus seksi meski di rumah. Makanya gue semakin memantapkan diri untuk berhenti di lima.” Dean kembali menghela napas. Semua pria yang berada di meja itu saling pandang.
“Baiklah, kalo gitu ... kita semua hanya bisa mengucapkan ....” Rio menoleh pada empat orang lelaki lainnya.
__ADS_1
“Sabaaar ....” sambung Rio, Toni, Langit, Ryan dan Santoso bersamaan. Mereka semua lalu tertawa terbahak-bahak.
To Be Continued