
Pukul 17.00, setelah Pak Mustafa mengantarkan hampers ke kantor Wulan, pria itu kembali mengetuk kantor Toni. Dua pria yang sejak tadi menemaninya bertukar cerita dan memberikan saran, baru saja kembali.
“Gimana, Pak? Sudah dianter?” tanya Toni, saat Pak Mustafa muncul di ambang pintu.
“Sudah, Pak. Tapi ….” Pak Mustafa menatap atasannya dengan raut resah.
“Kenapa? Ada masalah?” Toni berdiri dari kursinya dan memutari meja. “Kenapa? Ada laki-laki yang lagi sama Wulan?” Toni berjalan mendekati Pak Mustafa.
“Saya awalnya diminta untuk meletakkan bingkisan itu di meja resepsionis, oleh pegawai wanita yang duduk di depan. Tapi saya khawatir bingkisan itu nggak sampai atau rusak. Seperti biasa saya izin untuk langsung ke penerima. Mereka izinkan, jadi saya langsung naik tangga menuju kantor Bu Wulan. Tapi di depan kantor, sepertinya Bu Wulan sedang berdebat dengan laki-laki. Berdebat … atau lebih tepatnya bertengkar. Saya mengurungkan niat untuk ngetuk pintu. Jadi saya berbalik arah, saya tunda untuk ngasi. Tapi, sewaktu menuruni tangga, laki-laki yang dari kantor Bu Wulan juga keluar buru-buru. Ketemu saya di tangga, dan nanya itu apa. Saya bilang kiriman. Laki-laki itu langsung ngambil kartu ucapan. Dia bawa bingkisannya kembali ke kantor Bu wulan. Saya ikuti ke atas. Mereka kembali bertengkar. Kalau saya salah, saya minta maaf, Pak.” Pak Mustafa mengangguk pelan pada atasannya. Ia sudah sangat lama bekerja dengan Toni. Sejak perusahaan itu didirikan oleh Mr. Thomas Anderson, ayah Toni, Pak Mustafa adalah salah satu kurir senior yang ikut mengiringi perkembangan perusahaan ekspedisi itu.
Sekarang, Pak Mustafa hanya mengantarkan paket-paket khusus dan menetap di kantor pusat. Ia termasuk salah satu orang kepercayaan Toni. Dalam mengerjakan suatu hal, Pak Mustafa tidak memerlukan perintah-perintah khusus lagi. Pria itu sudah tergolong profesional dalam pekerjaannya. Dan hari itu, ia merasa gagal mengantarkan bingkisan untuk Wulan. Mantan istri atasannya, yang juga ia kenal secara pribadi.
“Bertengkarnya gimana? Wulan? Wulan gimana, Pak? Ada kekerasan?” Toni merasa perlu memastikan keadaan Wulan.
“Bu Wulan kayaknya nggak disakiti. Tapi saya denger barang dibanting, dan Bu Wulan teriak. Mungkin karena terkejut. Bu Wulan marah. Itu aja, Pak. Jadi bagaimana?” Pak Mustafa memandang lurus pada atasannya.
“Ya, udah. Enggak apa-apa. Pak Mus bisa pulang. Udah sore. Makasih ya, Pak …,” ucap Toni. Dalam rautnya tergambar kecemasan. Tak apa kalau bingkisan itu dibuang atau diabaikan, asal Wulan baik-baik saja. Namun, mengingat pesannya kemarin sudah dibaca dan tak kunjung mendapat balasan, malah menambah kecemasan Toni.
Toni membereskan alat tulis dan mematikan komputernya dengan setengah melamun. Ia sangat ingin menemui Wulan. Dan benar-benar bertanya soal Rey dan seberapa banyak uang yang dipinjam mantan istrinya itu.
Rah, rah-ah-ah-ah
Roma, roma-ma
Gaga, ooh-la-la
Want your bad romance
Rah, rah-ah-ah-ah
Roma, roma-ma
Gaga, ooh-la-la
Want your bad romance
Musdalifah yang jam kerjanya sudah berakhir, sedang bersenandung mengayun langkahnya memasuki lift. Dia bahagia dan lega sekaligus karena tugas tak masuk akal dan tak masuk job description-nya sudah berhasil ia kerjakan dengan hasil, ‘not bad’.
Setibanya di depan kantor, ia melihat seorang pria turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Musdalifah baru jalan dua langkah ketika tiba-tiba pria itu menghardiknya.
“Heh! Kamu sekretaris laki-laki berengsek itu, kan?” hardik Rey dengan telunjuk mengarah ke dahi Musdalifah.
Musdalifah terperanjat. Namun, ia menyadari siapa laki-laki yang berada di depannya. Ia menggeser kakinya selangkah ke kanan, lalu mengusap dahinya. Ia tak suka dahinya berada di depan telunjuk laki-laki tak sopan.
__ADS_1
“Cari siapa, ya?” tanya Musdalifah.
“Mana laki-laki itu?” tanya Rey lagi.
“Pak Mus!” panggil Musdalifah. “Pak …!”
Pak Mustafa muncul dari dalam dengan langkah santai.
“Apa, Mus?” tanya Pak Mustafa.
“Atasan kamu? Mana?” tanya Rey. Ia sedikit bingung dengan nama dua orang di depannya.
“Pak Mus juga laki-laki di sini. Ada perlu apa nanti kita sampaikan,” ujar Musdalifah. Ia mulai gelisah dan berpikir mungkin kedatangan laki-laki itu ada hubungannya dengan hampers yang baru saja mereka kirimkan.
“Panggil aja. Apa aku perlu naik?” sergah Rey.
“Hei, Mas … ini kantor. Jangan berisik-berisik. Di Polsek Sukabumi sama-sama tanda tangan perjanjian damai. Kalau Mas masuk ke kantor kami dan bikin keributan, nanti Mas di penjara.” Musdalifah masih berdiri di depan pintu kantor.
“Itu! Mana temennya yang ikut tanda tangan di kantor polisi? Dia, kan, yang minta kita beresinnya antar sesama laki-laki? Biar diberesin sekarang.”
Musdalifah diam. Ia tahu betul mulut laki-laki mana yang meminta ‘membereskan antar sesama laki-laki'.
“Panggil! Panggil sekarang! Apa maksud bingkisan itu? Bingkisan mesum!” maki Rey.
“Ada apa, Mus?” tanya Toni.
Kedua Mus langsung menoleh bersamaan. Pak Mustafa dan Musdalifah mendekati Toni yang berjalan menatap tajam ke arah Rey. Pintu kaca ruang kantor terbuka seluruhnya setiap sore. Pak Mustafa biasa mematikan AC dan membiarkan udara di lantai satu berganti karena para resepsionis sudah pulang dan diganti petugas keamanan.
“Maksud lo apa, sih? Buat apa bingkisan itu? Mau mesum lo ama Wulan? Lo sadar nggak, sih? Lo itu bukan siapa-siapanya lagi!”
“Setidaknya, atasannya saya sudah pernah. Mas yang belum pernah apa-apanya.” Musdalifah menjawab perkataan Rey, lalu tersadar telah mencampuri, ia menutup mulutnya.
Rey menoleh sekilas pada Musdalifah dengan wajah kesal.
“Thanks Mus,” kata Toni.
“Sama-sama,” sahut Musdalifah. Ia lalu menutup mulutnya lagi.
“Sudah, Pak. Sudah sama-sama dewasa. Sekarang lagi emosi, besok aja balik ke sini lagi. Diomongin dengan kepala dingin,” ujar Pak Mustafa mendekati Rey dan memegang bahu pria itu.
BRAKK!
“Lepas! Siapa lo pegang-pegang gue? Siapa nama lo? Siapa yang namanya Mus sebenarnya?” sergah Rey memutar tubuhnya. Ia melihat Pak Mustafa sudah jatuh telentang ke lantai.
__ADS_1
“Kasar! Beraninya sama orang tua! Pak!” jerit Musdalifah menghampiri Pak Mustafa. "Semua yang kerja di sini namanya Mus. Apa urusannya sama kamu?"
BUG!
Toni menendang dada Rey sampai laki-laki itu terjengkang tak jauh dari tubuh Pak Mustafa. Ia melangkah mendekati Rey dan mencengkeram kerah kemeja pria itu. Namun, belum sempat mengarahkan tinjunya ke wajah Rey, laki-laki itu membalas tendangan Toni di tempat yang sama.
BRAKK!
Toni terhempas ke lantai. Rey bangkit dari posisinya dan buru-buru menuju ke arah Toni.
Toni sudah kembali berdiri dan menendang tubuh Rey. Tepat di dada laki-laki itu. Rey tak membiarkan kaki Toni lolos begitu saja. Sekuat tenaga ia memeluk kaki Toni dan melemparkannya ke samping.
Pak Mustafa bingung. Ia meraih pesawat telepon dan menghubungi satpam yang bertugas hari itu.
Musdalifah tak ingin melaporkan hal itu pada polisi. Setidaknya, tidak untuk sekarang. Ia yakin atasannya akan menang. Dan ia telanjur kesal dengan Rey yang menerobos kantor mereka. Dalam undang-undang pun, Rey salah. Memulai keributan lebih dulu.
Rey dan Toni bergulingan di lantai. Menghantam dinding kaca hingga bergetar, dan memporak-porandakan kardus di ruangan itu.
Saat Musdalifah menatap keluar kantor, ia melihat sebuah mobil dengan dua orang pria, baru saja turun. Ia mengenali pria itu. Teman-teman Rey. Atasannya pasti dikeroyok dan babak belur. Tak ingin berlama-lama, Musdalifah lari menuju meja keamanan. Ia mengambil tongkat T, senjata satpam yang biasa diselipkan di pinggang.
“Mus! Jangan! Jangan campuri! Tunggu sebentar lagi, satpam sudah dijalan. Nanti Pak Toni salah kalau pakai senjata,” ujar Pak Mustafa, memperingatkan Musdalifah.
“Biarin aja! Kalau dipenjara, ada temennya yang urus! Biar pengacara itu nggak cuma ngomel aja taunya,” sergah Musdalifah.
Tak lama kemudian, “Pak! Tangkap!” kata Musdalifah. Ia melemparkan tongkat T.
Dan yang dikhawatirkan Pak Mustafa pun terjadi. Toni yang sedang berada di atas tubuh Rey, menerima tongkat T dan menghantam Rey berkali-kali.
Musdalifah menendang sebuah gulungan kardus tebal yang sedang berusaha diambil Rey sebagai senjata.
Di lantai satu kantor pusat T&T Express, Rey dikeroyok oleh Toni dan sekretarisnya. Dua orang pria yang baru tiba di depan pintu, datang bersamaan dengan tiga orang satpam.
Tak pelak lagi, sebuah mobil polisi datang beberapa saat kemudian. Sahabat Rey tak terima temannya dihajar. Toni dan Musdalifah harus masuk dan ikut mobil polisi. Pak Mustafa memijit-mijit bahunya yang sakit karena menghantam kardus padat.
Rey yang babak belur karena hantaman tongkat T, dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.
Pak Mustafa mengangkat pesawat telepon dan menghubungi sederet nomor yang dititipkan atasannya. Ia diminta menghubungi seorang pria bernama Rio.
Seketika kantor itu sepi dalam keadaan kacau balau.
To Be Continued
__ADS_1