
Toni berjalan mondar-mandir di lobi apartemen Wulan sambil menenteng dua bungkusan di tangannya. Ia baru saja menelepon Wulan dan mengabarkan ia sudah tiba. Sofa lobi kosong dan bisa ditempati, tapi Toni merasa gelisah hingga merasa bergerak adalah cara ampuh menghilangkan groginya.
Tak lama, bahunya ditepuk dari belakang. Toni berbalik dan melihat Wulan datang dengan pakaian rumah yang santai.
“Udah lama?” tanya Wulan. Memandang raut Toni, tapi tidak menatap mata pria itu langsung. Entah kenapa sekarang ia merasa sedikit aneh kalau mata mereka bertemu.
“Baru nyampe. Udah makan?” tanya Toni, mengangkat bungkusan di tangannya.
“Belum. Kan, nunggu kamu.” Wulan meringis.
“Iya, bener. Mmmm—”
“Ayo,” ajak Wulan. Ia mendahului Toni mendorong pintu kaca di depan mereka. Lift sedang sepi karena itu adalah hari biasa di jam kerja. Biasanya, lobi apartemen lebih padat di waktu menjelang magrib atau malam.
“Kayaknya aku ada solusi untuk masalah Rey. Aku minta bantuan Dean. Secara profesional tentunya. Tapi ... semua harus izin kamu dulu.” Toni mengatakan itu saat mereka tiba di lantai tujuan dan beriringan menuju kamar Wulan.
“Soal pinjamanku, aku harus selesaikan sendiri. Jangan kamu, Ton ....” Wulan mendekati pintu kamarnya, namun tangan Toni lebih cepat mengetikkan angka password pintu masuk.
Wulan menoleh wajah mantan suaminya, ia merasakan tangan Toni memegang punggungnya saat mereka melangkah masuk.
Toni meletakkan bungkusannya di atas meja dan mengambil piring beserta sendok di dekat bak cuci.
“Aku nggak mau ngerepotin kamu, ah. Aku nggak minta. Aku bisa,” kata Wulan.
“Makan dulu sini,” kata Toni. “Ngerjain apa aja setengah hari ini?” tanya Toni memandang Wulan yang berjalan mendekat.
“Aku nyari tarif ekspedisi kapal termurah,” kata Wulan.
“Nanti aku kasi liatnya,” kata Toni. “Makan dulu, Sayang ....” Toni memegang bahu Wulan dan mendudukkannya di salah satu kursi terdekat.
Wulan menuruti perkataan Toni dalam diam. Hatinya benar-benar bimbang. Di satu sisi, ia merasa berhutang budi pada Rey. Selama ini, Rey selalu membantunya. Karena hal itu juga, ia tak mempermasalahkan jika Rey terkadang kelewatan padanya.
“Tadi Dean nemuin mantan tunangannya si Rey. Ternyata bener. Mereka nggak jadi nikah karena sikap Rey yang kasar. Aku nggak bisa ngelepasin kamu gitu aja,” kata Toni.
Wulan melirik Toni yang duduk melipat tangan di depannya. “Kamu nggak makan?” tanya Wulan. Ia mulai menyendok nasi yang disediakan Toni di piringnya.
“Tadi aku laper, sekarang aku malah kenyang. Kamu aja yang makan. Harus banyak, biar kamu tumbuh besar dan tinggi.” Toni tertawa melihat Wulan yang cemberut. Ia lalu mencubit pelan pipi wanita itu. “Kamu itu nggak pantes dikasari, Sayang ... Enggak cocok laki-laki berbuat kasar ke perempuan. Bukan lawannya. Dia ngasarin kamu, tapi gebuk-gebukan sama aku masih lapor polisi. Harusnya, kalo perlu temen gelut jangan lapor-lapor, dong. Aku siap kapan aja.” Toni mengambil sebuah sendok baru dan mengumpulkan nasi Wulan ke tengah piring.
“Kamu juga jangan gebuk-gebukan. Aku nggak suka.” Wulan menunduk.
“Jadi istri aku lagi, Yang ....” Toni membelai kepala Wulan dan merapikan rambutnya.
__ADS_1
Wulan hanya diam. Menikmati makan siangnya sambil terus memikirkan apa yang harus ia katakan pada Rey.
“Putusin Rey, ya ....” Toni menurunkan tangannya dan mengusap punggung Wulan.
“Aku takut,” kata Wulan.
“Apa kita minta Dean aja yang mutusin Rey?” tanya Toni, dengan raut bodoh.
“Kok, Dean yang mutusin?” Wulan bertanya dengan raut bingung bercampur geli. Baru kali ini ia mendengar usul langka seperti itu.
“Dia, kan, pengacara kita. Biar dia yang beresin,” kata Toni. Ia langsung membayangkan bagaimana cara Dean memutuskan hubungan dengan Rey. ia terbahak di dalam hati.
“Baru kali ini putus pake pengacara,” sahut Wulan. “Aku udah selesai,” sambung Wulan, meletakkan sendoknya.
“Masih ada dikit lagi,” ujar Toni, kembali mengambil sendoknya dan mengumpulkan nasi ke tengah piring. Wulan selalu sulit makan banyak. Itu yang membuatnya dari dulu selalu mengawasi wanita itu saat makan.
“Udah kenyang ...,” rengek Wulan.
“Ya, udah. Makan yang ini kalo gitu.” Toni membuka kotak cake dan mengambil sendok kecil plastik dari dalamnya. “Masih sayang aku, kan, Lan?” tanya Toni.
Wulan mengambil sendok plastik dan mulai memakan cake.
“Aku ngomong dulu ke Rey. Soal hutang, aku akan cicil.”
“Aku nyicilnya ke kamu berapa lama?” Wulan mulai mempertimbangkan perkataan Toni. Setidaknya ia tidak menerima bantuan mantan suaminya bulat-bulat.
“Seumur hidup. Kamu harus nyicil ke aku seumur hidup kamu.” Toni menggenggam tangan Wulan. “Balikan sama aku, ya ...."
Wulan mengangkat wajah menatap pria di sebelahnya. “Aku takut Mami kamu, Ton .... Mami kamu mau cucu. Kita udah pernah nikah enam bulan, tapi aku belum bisa ngasi Mami kamu cucu. Aku takut, itu nggak berubah nantinya. Mungkin Mami kamu mau anaknya nikah dengan wanita lain. Mungkin aku nggak bisa.” Kali ini ia menatap Toni dan mengatakan kekhawatiran yang dipikirkannya sejak pria itu mengajaknya kembali berumah tangga.
“Terlalu banyak kata mungkin. Semua masih mungkin. Gimana kalo, aku yang mungkin nggak bisa ngasi Mami cucu? Atau aku yang nggak bisa ngasi kamu anak? Kalo gitu gimana? Kamu masih tetep mau sama aku?” tanya Toni. Ia memandang wajah Wulan yang tak dipoles make up apapun.
Pertanyaan yang sulit, pikir Wulan. Ia selama ini tak ada memikirkan kemungkinan hal itu. Ia menganggap dirinya yang bermasalah, makanya ia merasa harus menyerah.
“Sayang .... Kamu cukup ngomong, ‘Iya, Yang, aku masih cinta kamu.’ Itu udah cukup untuk aku. Selebihnya, percaya aku. Gimana?” tanya Toni. Ia memijat-mijat lembut bahu Wulan yang sedang mengobrak-abrik cakenya dengan sendok.
Wulan masih diam menunduk menusuk-nusuk cake-nya.
“Aku agak aneh denger kamu manggil aku, Tan-Ton-Tan-Ton.” Kini Toni yang menekuk wajahnya.
“Ih, apa, sih ... malah ngambek. Lebih aneh lagi bukan apa-apa, tapi manggil ‘Sayang-sayang’. Ngapain coba? Gimana kalo kamu lagi asik-asik pacaran, trus ketemu aku, trus aku panggil ‘Sayang kamu lagi sama siapa?’ Emang pacar kamu mau? Kamu, kan, banyak pacar. Aku tau siapa aja yang kamu pacarin. Bukan karena aku diem-diem aja, aku nggak nyimak berita soal kam—Eh!” pekik Wulan, terkejut.
__ADS_1
Toni menggeser kursi Wulan dan menyelipkan tangannya di bawah lipatan kaki mantan istrinya. Dengan satu gerakan mudah ia mengangkat tubuh wanita itu dan berdiri dari kursi menuju ranjang.
“Kamu nggak mau ngomong masih cinta aku, tapi kamu tau aku pacaran sama siapa aja.” Toni mendesis di telinga Wulan.
“Nanti aku jatuh,” pekik Wulan karena tiba-tiba Toni menghempaskan dirinya di sudut ranjang.
Toni berpindah tempat karena ia tak yakin kursi mungil di bawah meja makan bisa menampung beban tubuhnya dan Wulan sekaligus.
“Bilang kalo kamu masih sayang aku,” pinta Toni, mengetatkan cengkeraman tangannya di lipatan kaki Wulan dan di rusuk wanita itu.
“Maksa, ih.” Wulan menggeliat. Ia seperti seorang anak kecil yang meringkuk di dalam gendongan. Bisikan Toni terdengar begitu sensual di telinganya.
Walau tak sedang dikejar deadline dari Dean, Toni merasa perlu membantu Wulan untuk menyadari perasaannya sendiri. Atau lebih tepatnya, ia harus menyingkirkan ego yang sedang dijadikan Wulan sebagai tameng.
Toni menatap Wulan yang meringkuk di dalam pangkuannya. Ia menyentuh pipi Wulan, lalu turun memegang dagu wanita itu. Telunjuknya kemudian bergeser, menyentuh bibir bawah Wulan dan mengusapnya.
“Kamu nggak akan pernah terganti, Sayang ...,” bisik Toni. "Besok kita temuin Rey. Bareng Dean."
Toni mencondongkan tubuh mengusapkan bibirnya di atas bibir Wulan. Ia tahu Wulan pasti akan memejamkan mata. Toni bisa merasakan bibir Wulan bergetar, karena sensasi menggigil yang baru ia ciptakan.
Wulan memejamkan mata, namun tak bisa menyangkalnya. Ia tak bisa menyangkal saat Toni menyentuhnya seperti ini. Wulan ingin dicium, ingin membalas ciuman itu. Ia ingin menyentuh Toni, membelainya, memeluknya erat. Semua dorongan itu terus menerus berpusar dalam dirinya, meski ia sudah berusaha mengenyahkannya. Jantungnya terus memompa kebohongan-kebohongan itu ke seluruh tubuhnya.
Napas Wulan tersentak, saat Toni mendorong ujung lidahnya ke sudut mulutnya. Ia terkesiap lirih dan Toni mengambil kesempatan itu untuk meluncurkan lidah masuk ke mulutnya.
Wulan seketika membeku, meletakkan tangannya dengan cepat ke dada Toni. Pria itu membelai bibirnya dengan lembut. Menyesap nyaris tanpa suara. Ciuman Toni yang selalu paling lembut dan memujanya. Detik itu juga, gairah menjalari tubuh Wulan. Hawa panas yang terbentuk di antara tubuh mereka, melelehkan sebagian kecemasan dalam dirinya.
Di lain tempat, di kediaman keluarga Hartono.
Dean baru masuk ke kamar, menghempaskan dirinya ke ranjang di sebelah istrinya.
“Temennya mana? Udah pulang?” tanya Winarsih.
“Belum. Ryan masih ngobrol sama Santoso. Aku capek, mau di sini dulu ngelus-ngelus kamu. Cuci mulut abis makan,” kata Dean.
Winarsih berdecak saat tangan Dean meremaas dadanya. Bukannya berhenti, Dean tetap melanjutkan kegemarannya.
“Toni udah selesai ngobrol sama Wulan belom, ya? Itu anaknya kasian nggak dijemput-jemput. Bapaknya pasti sedang lupa diri di sana,” gumam Dean.
"Ditelfon aja," kata Winarsih, kembali membaca buku. Dean membenamkan wajah di perutnya.
"Nanti kalo lagi nanggung, malah ganggu. Enggak enak, lho, Win .... Aku tau rasanya."
__ADS_1
To Be Continued