GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
38. That's Why We Adore Him


__ADS_3

Winarsih merasa tangan Dean berada di pinggangnya saat memasuki ruangan tempat Toni. Seperti biasa, Dean selalu menggandeng, merangkul, dan memeluk pinggangnya. Bahkan jika mereka berada di dalam lift yang padat, Dean tak segan memeluknya. Melingkarkan kedua tangan di sekeliling tubuhnya hanya untuk memastikan, ia tak tersenggol orang lain.


Awalnya, Winarsih terkadang malu dan risih pada tatapan orang. Tapi, pada akhirnya lama kelamaan ia menjadi terbiasa pada sikap suaminya yang ekspresif itu. Orang-orang terdekat mereka juga sudah terbiasa. Semua sudah maklum dan mengetahui sikap Dean yang manja sejak dulu. Terutama, Bu Amalia dan Ryan.


Sesaat setelah memasuki ruangan di mana Toni berada, Winarsih dituntun Dean ke sebuah kursi besi di sisi kanan ruangan. Mereka duduk membentuk huruf L. Di sisi kanan Winarsih, sekretaris Toni duduk santai dengan gelas bobanya yang sudah kandas. Wanita itu terlihat menusuk-nusuk tiap bubble dan sesekali menyedot sisa air di antara es batu yang masih ada.


Dan saat Dean mengatakan, “Sekretaris-sekretaris ini yang bisa dipidana. Cocoknya dibiarkan satu malam di sini.” Suara sedotan dari gelas sekretaris Toni semakin kencang.


Winarsih duduk santai mengamati pekerjaan suaminya. Dean terlihat kembali membuka kemeja Toni dan mengernyit saat melihat luka lebam temannya.


“Mus dua!” panggil Dean pada Musdalifah. Sekretaris Toni itu menoleh.


“Saya maksudnya?” tanya Musdalifah, menghentikan suara bisik sedotan dan menunjuk hidungnya.


“Yup. Siapa lagi yang namanya Mus? Apa ada Mus tiga?" Dean menautkan alisnya menatap Musdalifah.


"Telfon Mus satu, minta ke sini secepatnya. Biar bisa ngasi keterangan. Tadi juga harusnya langsung ikut aja, bikin laporan.” Dean menoleh pada Toni, kemudian kembali lagi menoleh Musdalifah. Sekretaris Toni masih bergeming menyimak percakapan Dean dan atasannya.


“Hei, cepat ditelfon. Kamu betah kayaknya di sini. Kalo betah biar cemilannya ditambah lagi buat semalam suntuk,” cetus Dean.


Musdalifah gelagapan. “Oh, iya.” Segera mengambil ponselnya dan menghubungi kantor. Ternyata Pak Mustafa masih berada di kantor menunggu kabar. Setelah mengakhiri pembicaraan, Musdalifah kembali menoleh pada Dean. “Pak Mus segera menuju ke sini, Pak.”


“Mmm …,” gumam Dean. “Pasal penganiayaan, harusnya cuma tiga bulan aja kalo kayak gini. Posisinya bisa saling menuntut. Nanti kita masukin tuntutan juga. Ujung-ujungnya bayar denda untuk negara. Lo emang niat banget nambahin kerjaan gue,” kesal Dean pada Toni.


Winarsih memandang punggung suaminya yang sedang berdiri bersandar pada meja dan menghadap dinding. Toni duduk di kursi sebelah kanan Dean menghadap arah yang sebaliknya.


“Udah, deh, diberesin aja. Gue nggak ditahan, kan?” tanya Toni.


“Enggak, Tindak Pidana Ringan ….” Dean memandang Ryan yang duduk santai mengobrol dengan Winarsih soal jenis topping boba mereka masing-masing. “Wah … semakin licin. Biar nggak disemprot soal pesan. Bini gue dipepet terus. Semakin pintar mengamankan situasi," gerutu Dean.


“Gue keluar dulu ya, nggak lama. Entar lagi, kita semua bakal pulang. Lo aja yang di sini,” kata Dean.


“Kok gue sendiri, De?” tanya Toni memandang resah Langit dan Rio yang sejak tadi mengobrol soal brand baru Rio yang baru saja launching.

__ADS_1


“Mau enak, nggak?” bisik Dean.


“Ha? Lo jangan abu-abu gini, anjir ….” Toni kembali berbisik melirik Winarsih dari balik tubuh Dean.


“Ya, udah. Sebentar.” Dean menegakkan tubuhnya. “Yan, Mus dua, ayo keluar.” Dean berjalan menuju Winarsih dan meraih tangan istrinya.


“Mau langsung balik?” tanya Rio.


“Enggak, mau ngelaporlah.” Dean menggandeng Winarsih.


“Segala dibawa bininya,” kata Langit. "Padahal bininya diem-diem aja duduk di situ.” Langit menatap punggung Dean yang meninggalkan ruangan.


“Dia nggak mau istrinya merasa diabaikan. Udah biarin aja. Berisik. Besok-besok biar Dean aman keluar lagi,” ucap Toni menaikkan alisnya memandang Langit.


Setibanya di luar, Dean kembali meminta Winarsih duduk di sebuah bangku panjang.


“Yan, telfon Santoso. Minta dia pegang kasus Toni. Jangan lo, jangan gue juga. Gue lebih suka kita fokus ke Rey aja. Minta Santoso dateng sekarang.” Dean berbisik-bisik dengan sekretarisnya beberapa langkah dari Musdalifah.


“Aku dipanggil, lalu aku disia-siakan.” Musdalifah bergumam pelan, namun terdengar jelas di telinga Dean.


Musdalifah mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nama Wulan.


“Halo? Dengan ibu Arista Wulandari?—Bukan, ini bukan dari kantor PLN. Malam ini saya dari kantor Polisi.”


Saat Musdalifah mengatakan hal itu, Dean menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Salah instruksi lagi, pikirnya.


“Saya cuma mau mengabarkan kalau Pak Toni sekarang berada di kantor polisi. Polsek yang di dekat kantornya. Sendirian dan terlihat sedih.—Enggak Bu, nggak ada teman-temannya. Itu, kan, judulnya aja teman. Dalam keadaan sulit belum tentu. Semua orang baik itu pasti ada kepentingannya,” ujar Musdalifah, melirik Dean yang sedang menyipitkan mata menatapnya.


“Baik, Bu. Terima kasih. Saya cuma informasi aja. Pak Toni nggak apa-apa, kok, sendirian. Dia sudah biasa sendiri. Sudah terlalu lama sendiri. Selamat malam, Bu ….” Musdalifah mengakiri pembicaraan.


“Oh, yang ini licin juga." Dean mengangguk menatap Musdalifah. "Gimana? Berapa persen kemungkinannya?” tanya Dean.


“Delapan puluh persen,” jawab Musdalifah.

__ADS_1


“Kira-kira berapa lama lagi Mus satu nyampe?” tanya Dean lagi pada sekretarisnya Toni.


“Sekitar 15 menit,” jawab Musdalifah, patuh sambil melirik kembali pada Winarsih yang tengah memandangi mereka.


“Santoso, Yan?” tanya Dean pada sekretarisnya.


“Sekitar satu jam paling lama,” sahut Ryan.


“Oke … kalo gitu, Mus dua tunggu Mus satu di sini. Setelah tiba, tunggu Santoso untuk pendamping Mus satu buat laporan. Teknisnya nanti, lo paparkan di jalan aja, Yan.” Dean menatap sekretarisnya.


“Baik, Pak.” Ryan mengangguk.


“Kamu … di sini dulu. Sampe selesai pembuatan laporan. Jangan jauh-jauh dulu. Ikuti apa kata Pak Santoso. Untuk sementara, jangan berimprovisasi,” ujar Dean pada Musdalifah.


“Baik, Pak.” Musdalifah mengikuti gesture Ryan yang mengangguk. Tak lupa ia melirik Winarsih sesaat.


Dean berjalan mendekati istrinya. “Tunggu di sini sebentar, ya …. Aku ajak Rio dan Langit balik sekalian. Trus kita makan. Aku nggak mau kamu kelamaan di sini. Belum makan malem.” Dean mengecup puncak kepala Winarsih dan kembali ke dalam ruangan.


“Yuk, Lang, Yo, balik! Bini gue belum makan,” kata Dean.


“Emang udah bisa? Toni gimana?” tanya Rio.


“Udahlah, biarin aja si Toni di sini. Sekali-sekali nggak pulang. Yuk, gue kangen anak-anak gue ama ibunya.” Langit berdiri meraih ransel dan menyampirkan ke pundaknya.


“Lah, gue De?” tanya Toni.


“Pokoknya, kalo ada yang dateng bawain lo makanan, itu artinya tarif gue udah mulai berjalan. Lo harus di sini. Paling lama sejam lagi. Dan seterusnya, lo pasti tau harus apa. Nanti ada pengacara dari kantor gue bakal ke sini. Namanya Santoso. Biasa orang denger namanya aja, udah bergidik.” Dean menepuk bahu Toni lalu beiringan dengan Rio dan Langit keluar ruangan.


“Emang siapa yang bakal dateng, De?” tanya Rio saat mereka tiba di dekat Musdalifah dan Ryan.


“Wulan,” jawab Dean.


“Emang yakin pasti dateng?” tanya Rio.

__ADS_1


“Kata Mus dua, kemungkinannya 80%. Kalo Wulan nggak dateng, atasan dia yang digigiti nyamuk dan menderita di ruangan itu. Kita, kan, udah nyampe rumah. Yuk, ah,” ujar Dean. Ia meraih tangan Winarsih dan mengajak istrinya keluar.


To Be Continued


__ADS_2