
Di Beer Garden, hari Senin pukul empat sore. Empat orang pria sedang tekun menunduk di atas ponsel masing-masing.
“Wah, club yang ini boleh juga,” kata Langit, menyodorkan ponselnya ke tengah meja agar bisa dilihat bersama-sama. Delapan taon lalu, gue pernah diundang ke pesta lajang temen kampus. Di club ini,” ujar Langit, mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Dean menarik lengan Langit dan menggeser layar untuk melihat-lihat foto tempat di akun sosial media club itu.
“Emang nggak bahaya, ya, club gini ada sosmednya?” tanya Rio dengan raut serius.
“Ya, enggak dibikin di sosmednya dong, Papi Rio. Ya, kali di sosmed dibikin ‘tersedia penari gembel’.” Dean mendengus, lalu menyentil jemari Rio yang berada di dekatnya.
“Dulu, penarinya cakep-cakep. Enggak kebuka semua, sih. Cuma atasan doang, bawahnya tetep pake celana.” Langit terkekeh-kekeh.
“Itu, kan, dulu. Delapan taon yang lalu lo bilang. Sekarang penarinya udah pensiun. Lagian club-nya daerah sana. Kejauhan. Entar kalo diminta pulang tiba-tiba, kita repot. Cari yang lain,” ujar Dean.
“Kalo yang ini?” tanya Toni, ikut menyodorkan ponselnya ke tengah meja. “Gue pernah ke sini bawa tamu dari luar negeri, trus dikasi liat album foto. Lumayan sih, nggak cantik-cantik banget. Tapi bolehlah,” tambah Toni.
“Ya, iya. Kalo cantik banget pasti jadi model.” Dean menarik tangan Toni mendekat untuk mengamati foto club’ lebih jelas. “Eh, tunggu. Gue tau club ini. Dulu namanya bukan ini, Ton. Ini club yang pernah kebakaran dan banyak nelan korban. Banyak cewe-cewe dan tamu-tamu keracunan CO2 karena enggak bisa nemuin pintu darurat. Trus alat-alat pemadamnya nggak berfungsi. Berujung ke tuntutan di pengadilan. Club sebelumnya bangkrut. Gue ngikutin kasusnya,” ujar Dean.
“Ih, serem banget. Meski udah renovasi, tetep aja serem. Gue pernah juga dulu diajak ke tempat begituan. Kuliah tingkat akhir. Perpisahan gitu ceritanya. Patungan ngambil paket penari. Tiga orang cewe. Seru juga,” ujar Rio tertawa.
“Gue kira lo suci banget, Yo!” Langit menepuk pundak Rio.
“Semua laki-laki normal yang tinggal di kota besar gue rasa pasti pernahlah sekali dua kali tau yang begituan.” Rio membela diri.
“Apalagi kalo ada duit, ya, Yo!” sindir Dean menonjok lengan Rio.
“Biasa lo banyak referensi. Mana?” tanya Toni pada Dean. “Gue nggak tau lagi. Mau nanya ke rekan gue gengsi, dong!” tukas Toni.
“Iya, jangan. Kesannya kita cupu banget. Begituan aja nanya. Kayak nggak ada pengalaman. Di depan sesama laki-laki, sangar itu penting.” Langit menggeleng tak setuju kalau mereka harus bertanya pada orang lain soal info mencari club yang bagus.
Ketiga laki-laki lainnya yang mendengar hal itu, mengangguk-angguk setuju.
“Gue pernah dibawa klien ke club begituan. Cakep-cakep, sih. Tapi ....” Dean melengkungkan bibirnya dan mengangkat bahu.
“Tapi kenapa?” tanya Rio tak sabar.
“Liat, nih!” Dean meletakkan ponselnya ke tengah meja. Ketiga orang lainnya sibuk menunduk di atas ponsel itu.
“Wah, seminggu yang lalu ditutup karena penggerebekan?” Toni memandang Dean.
Dean mengangguk lemah.
“Itu tamunya diangkut semua?” tanya Rio.
Dean kembali mengangguk.
“Masuk ke berita, dong? Mukanya kena shoot kamera?” tanya Langit.
Dean masih mengangguk.
“Yaah ... padahal kayaknya club bagus, ya.” Langit berdecak menyayangkan.
“Agak susah nyari yang begituan sekarang,” cetus Toni.
Dean kembali mengangguk. “Bener. Sekarang banyak berubah jadi tempat SPA plus-plus. Cewe berpakaian sensual sambil ngasi pijatan terus layanan tambahan. Kalo mijet plus-plus, mending ama bini. Kita, kan, mau ngeliat cewe nari. Bukan mau ngapa-ngapain.” Dean tertawa-tawa.
__ADS_1
“Kenapa kita nggak sewa Batavia Dancer aja kalo gitu?” sindir Langit.
Mendengar hal yang dikatakan Langit, tiga laki-laki lainnya tertawa terbahak-bahak.
“Ngobrolin apa, sih? Seru banget, Genk Duda Akut.” Diky, bartender Beer Garden datang mendekati meja dengan sebuah nampan berisi minuman yang mereka pesan saat tiba beberapa saat yang lalu.
“Baek-baek lo nyebut nama Genk Duda Akut. Duda yang cuma seorang ini,”—Dean menepuk bahu Toni—“sebentar lagi bakal sold out,” tutur Dean.
“Oh, ya? Sama yang mana? Yang anak kuliahan?” tanya Diky, berdiri memegang nampan yang telah kosong.
“Sama mantan yang rasanya selalu dirindukan,” jawab Dean. “Ya enggak, Ton?” Dean memijat-mijat bahu Toni.
“Diem, lo!” sergah Toni, menyingkirkan tangan Dean dari bahunya.
“Mbak Wulan?” tanya Diky memastikan.
“Iya, sama Wulan. Toni kembali ke pangkuan ibu Wulandari. Memang rasa nggak pernah bohong,” tambah Dean lagi sambil terkikik sendirian.
“Si anjing dari tadi ngeledek orang terus.” Langit mengambil tisu dan merematnya. Saat ia melemparkan tisu pada Dean, dengan cepat sahabatnya itu bersembunyi di balik tubuh Toni.
“Oh, kirain sama yang kuliahan itu. Karena kemarin—”
“Kenapa?” tanya Toni, Rio dan Langit serempak.
“Kemarin Mbak yang itu dateng ke sini. Duduk dan makan kayak biasa. Sama temennya juga, cewe. Tapi ngeliat ke meja ini, sih. Kirain ada janji ketemuan sama Mas Toni.” Diky mengangkat bahunya.
“Tasya ke sini?” tanya Toni. Diky mengangguk. “Enggak, kok. Kebetulan aja kali memang lagi pengen ke sini,” jawab Toni.
Diky tertawa sambil mengibaskan nampannya. “Gue balik,” kata Diky, menunjuk ke arah bar yang didatangi pelanggan.
Rio dan Langit saling berpandangan. Sedangkan Dean diam berpikir. Rasanya tak mungkin Tasya datang jauh-jauh hanya untuk makan di tempat itu.
“Iya—iya, gue juga mikirnya gitu.” Langit mengangguk setuju. “Tipe Tasya gitu, lho. Melankolis sentimentil. Tiap berantem ngembaliin barang-barang. Foto muka Toni dirobek-robek, padahal dia sendiri yang nyetak fotonya.” Langit memang tak percaya kalau Tasya datang ke tempat itu bersama temannya hanya untuk makan. Pasti ada yang dicari wanita itu.
“Ngembaliin barang-barang?” tanya Dean. “Kaus? Kacamata? Tapi mobil nggak dikembaliin, ya ....” Dean berdecak.
“Kayak si Disty ngembaliin mobil aja. Mantan lo juga kabur bawa mobil,” kata Langit.
“Dia konsisten ngerampok gue. Disty nggak pernah ngambek pake acara ngembaliin barang-barang,” kata Dean.
“Karena dia tau kalo dia ngembaliin, bakalan bener lo tarik lagi semuanya. Dia paham betul soal itu Dean,” cetus Toni.
“Asal jangan minta balikan, Ton.” Rio bersuara. “Apa Tasya denger lo mau nikah lagi, terus dia pengen ngomong sesuatu, gitu?” Rio menatap Toni.
“Enggak tau. Gue nggak ada perkiraan. Tapi kalo soal kebetulan makan di sini, gue percaya. Karena Wulan juga sebentar lagi mau mampir. Dia baru ketemu temennya di gedung deket-deket sini,” kata Toni.
“Gue juga nggak percaya Wulan ketemu temennya deket-deket sini. Yang gue percaya, Wulan emang pengen ketemu lo aja. Kangen misalnya,” tukas Dean, mengangkat bahunya.
“Ah, masa sih?” Toni balik bertanya. Setengah tak percaya, namun senang memikirkan tentang Wulan yang mencari alasan hanya untuk bertemu dengannya.
“Cieee .... Wulan kangen. Cieee,” ejek Langit, menyentil-nyentil jemari Toni di depannya.
“Tapi kayaknya ada yang lebih kangen,” ujar Rio tiba-tiba. Pandangannya mengarah ke pintu masuk. Seketika semua menoleh melihat objek pandangan Rio.
“Mampus,” tukas Dean. “Persis seperti dugaan gue. Tasya pasti panas denger selentingan lo beneran mau balikan sama Wulan. Pasti dia nyari lo ke sini. Telfon sama chatnya pasti lo abaikan, ya?” tanya Dean, menatap Toni. Toni meringis, lalu mengangguk.
__ADS_1
Tak diperlukan waktu lama, Tasya sudah berdiri di dekat meja mereka.
“Mas Toni, aku mau ngomong sebentar.” Tasya memeluk sling bagnya di depan. Wajahnya terlihat gusar saat tiga orang laki-laki di sana memandangnya tak lekang.
“Oke, ayo.” Toni berdiri kemudian berjalan ke sudut cafe dan memilih meja persegi kecil dengan dua kursi berhadapan.
“Ngapain lagi, sih. Apa lagi yang mau diomongin?” Langit mengikuti Toni dan Tasya dengan pandangan.
“Tadi Toni bilang Wulan udah di deket sini, kan?” Rio kembali menoleh ke arah pintu masuk.
“Kalo nggak cepat diselesaikan, Toni akan mengulang cerita gue. Bedanya, gue bisa rayu bini di kamar. Kalo Toni, bakal terancam batal sekamar.” Dean terkekeh-kekeh.
“Padahal mau ngomongin club. Ada aja yang merintangi niat setan kita ini,” tambah Langit ikut terkekeh.
“Semoga nggak lama. Mana Wulan mau dateng. Gue juga jadi penasaran, nih, ngeliat Batavia Dancer.” Rio juga tertawa akan hal konyol yang baru dikatakannya.
“Kira-kira ngomongin apa, ya?” Langit penasaran dan menoleh ke tempat Toni dan Tasya duduk berhadapan.
“Paling-paling Tasya nggak nyangka Toni beneran balik nikah sama Wulan setelah empat tahun. Padahal udah pacaran lama sama dia. Dia belum merelakan. Trus dia sedih karena Toni nggak izin atau ngomong ke dia. Yakin gue,” kata Dean.
Dan yang dikatakan Dean benar adanya. Seperti itulah Tasya. Merasa bahwa ia lebih mengenal Toni dan keinginan pria itu selama ini. Ia merasa Toni tak menghargai hubungan mereka di masa lalu. Harusnya Toni bertanya atau setidaknya memberitahunya lebih dulu.
“Mas tega banget, ih. Selama dua tahun itu, Mas bener-bener cuma nganggap aku sekedar pacar. Mas nggak pernah niat bawa hubungan kita lebih serius. Kalo memang mau balikan dengan mantan istri, ngapain pacaran denganku selama itu?” Tasya menatap Toni dengan pandangan berang.
“Tapi kita udah putus beberapa lama, Tasya. Dan yang mutusin kamu. Bukan aku,” kata Toni.
“Mas Toni nggak ada usaha,” ujar Tasya.
“Karena menurutku mungkin itu yang terbaik untuk kita. Kamu, kan, masih muda. Dan ini udah sering kita bahas. Kamu jangan gini lagi, dong. Aku nggak ada jahatin kamu.” Toni memandang Tasya putus asa. Ia sudah lelah mengulang percakapan yang intinya selalu sama. Toni melirik jam di pergelangan tangannya dengan resah.
Di meja lain.
Dean tiba-tiba membulatkan matanya memandang pintu.
“Habis Toni. Habis,” desis Dean.
Langit dan Rio ikut memandang pintu masuk.
“Kayaknya kita memang nggak ditakdirkan ngeliat penari-penari tua atau pun muda,” gumam Langit.
“Panjang, deh, urusannya.” Rio memandang Wulan yang berjalan lurus melewati meja mereka. Wanita itu langsung menuju meja di mana Toni dan Tasya berada.
“Mas!” panggil Wulan.
Toni sedang menepuk-nepuk lembut bahu Tasya yang sedang menangis, kemudian mendongak. Wajahnya seketika pias. Wulan meminta penjelasan melalui tatapan. Ia mengenali Tasya. Selama di Sukabumi, ia mengamati Toni dan Tasya yang bertengkar di pintu restoran. Dan saat itu Wulan harus menerima ejekan dari Rey soal hubungan percintaan Toni yang selalu kacau.
“Lan,” jawab Toni, tangannya langsung menjauhi bahu Tasya.
Tasya masih menunduk mengusap air matanya.
“Heh! Kamu! Mau apa lagi emangnya?” tanya Wulan sinis.
Ketiga pria di meja lain saling pandang. Khayalan mereka soal penari gembel buyar seketika.
To Be Continued
__ADS_1
Oh, ya. Ini visualnya ya .... Mohon jangan diprotes berlebihan bagi yang tidak sepakat. Visual tidak mengikat karena semua orang pasti punya imajinasi masing-masing.