GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
69. Hasil Rapat


__ADS_3

Dua orang asisten rumah tangga sedang bergantian mengangkat piring kotor sisa makan siang tamu tuan rumah mereka. Jenni datang dengan sebuah tablet di tangannya. Dalam membangun usahanya bersama Rio sejak mereka di bangku kuliah, Jennifer bertindak sebagai tim perencana dan pemasaran. Ia sudah terbiasa merencanakan dan menyusun suatu acara. Bukan hanya menjalankan itu sebagai tuntutan dari bisnisnya. Jennifer sudah hobi melakukan hal itu sejak di bangku sekolah.


“Jadi? Gimana? Sekarang?” tanya Jenni, menarik sebuah kursi merapat ke sebelah suaminya.


“Ya, udah, kalo mau ngomong sekarang aja. Gue ada janji jam tiga. Elo aja, yo!” seru Dean dari kursinya.


“Ini bahas yang ke acara Mami Toni aja, kan?” tanya Rio.


“Memangnya ada yang lain?” Dean balik bertanya.


“Ada, dong. Arisan untuk bini lo. Gimana?” tanya Rio.


“Astaga … acara arisan Bu Win juga udah masuk agenda yang dibahas dalam rapat?” Langit tergelak, mendorong bahu Dean dari balik tubuh Ryan yang duduk di antara mereka.


“Berisik! Diem, lo!” umpat Dean. Langit semakin tertawa melihat wajah sebal Dean.


“Heran gue. Mau-maunya Bu Win di rumah terus. Nurut aja,” sambung langit.


“Karena dia cinta suaminya. Suaminya mencukupi semua kebutuhannya lahir batin,” balas Dean.


“Ah, masa, sih? Bukannya Bu Win cuma kasian ama lo? Muka lo pasti mengenaskan kalo nggak dituruti. Cemberut, ngambek. Kebayang dulu waktu Mbak Anggi bawa anak pertamanya ke Indonesia. Padahal keponakannya masih bayi. Dean cemburu sampe dikeplak nyokapnya. Inget nggak, Ton, Yo? Hahaha.” Langit tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Dean yang semakin kesal menatapnya.


“Iya—iya, gue inget. Dia masuk sekolah uring-uringan. Terus nginep di rumah gue, katanya semua yang di rumah nggak sayang dia lagi. Malemnya dijemput sama emaknya. Dijemput, tapi dikeplak. Hahaha.” Toni ikut tertawa terbahak-bahak.


“Untung anaknya masih boleh dapet ASI. Kalo nggak … ckckck,” decak Langit.


“Puas, lo?” tanya Dean.


"Belom," sahut Langit terkikik. "Titik kepuasan gue lama," sambungnya Langit.


"Emang bisa lama?" sindir Dean, ikut tertawa.


“Udah? Kita balik ke pokok pembahasan utama.” Rio mengetuk meja dua kali untuk memusatkan perhatian dua orang yang sedang adu mulut.


Dean mengarahkan tinjunya ke Langit dari belakang tubuh Ryan. “Minggir, Yan,” pinta Dean.


“Jangan, Yan. Inget, member Platinum Gym gue yang ngasi.” Langit tertawa-tawa di sebelah tubuh Ryan.


“Member receh! Lo kerja sama gue bakalan sepanjang hidup, Yan. Minggir biar gue sleding kepalanya,” kata Dean.


Ryan menghela napas panjang, lalu menumpukan kedua sikutnya di atas meja. Memberikan ruang cukup luas di belakang tubuhnya agar Dean dan Langit bisa puas untuk saling tonjok dan cubit.


Tok. Tok. Tok.


Toni mengetukkan sebuah sendok ke atas meja. “Udah—udah, jangan kayak anak kecil. Nggak malu apa sama Santoso dan Musdalifah yang duduk bengong merhatiin lo bedua.”


“Cieee … yang udah dewasa dan sebentar lagi menikah, cieee,” kata Dean pada Toni.

__ADS_1


“Cieee … Toni malam pertama dua kali, cieee,” sambung Langit. Rio dan Jenni tertawa-tawa dari sudut meja.


“Anjiir … tadi berantem. Urusan menghina seketika bisa bersatu,” ucap Toni. Ia menyesal telah melerai Dean dan Langit yang tiap bertemu selalu diwarnai saling sindir satu sama lain. Tapi saat mereka berada di pihak yang sama, duet sindiran Dean dan Langit benar-benar senjata yang membuat panas telinga siapa saja.


“Ehem! Udah bisa dimulai belom, nih?” tanya Rio lagi.”Anak-anak gue entar lagi pada pulang sekolah. Maminya pasti beresin anak-anak dulu.” Rio menoleh jam besar di sudut ruang makan.


“Iya, serius, nih. Sekarang bisa dimulai. Gue suka serem kalo Papi Rio udah serius,” tukas Dean.


“Iya, mulai, gih!” seru Langit.


Musdalifah menatap Langit, Ryan, dan Dean bergantian. Lalu, ia menatap wajah Toni, dan mengedarkan pandangannya pada Rio dan istrinya. Mereka semua sepertinya terlahir saat cuaca cerah dan bumi bermandi sinar matahari. Lalu ia menoleh ke sisi kanannya, menoleh sekilas pada Santoso. Musdalifah lalu menghela napas panjang. Saat ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan, matanya bersitatap dengan Dean.


“Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan,” kata Dean.


“Apa emangnya?” Musdalifah balik bertanya.


“Helaan napas panjang itu menjelaskan semuanya,” kata Dean.


“Sok tau,” cibir Musdalifah.


“Jadi … akhir minggu depan. Mami Toni ulang tahun. Kita bawa keluarga kita semuanya ke rumah Toni. Nah, yang jadi pertanyaan, apa tetap kayak rencana semula? Wulan nggak usah diajak?” tanya Rio, memandang Dean.


“Menurut gue diajak aja, sih,” ucap Langit.


“Menurut gue nggak usah dulu. Kita bantu kampanye soal pentingnya kehidupan berkeluarga, setelah itu gue bantu ngobrol santai sama Mami Toni. Lo jangan ngomong apa-apa dulu, Ton. Lo memelas aja, nggak usah bahas-bahas soal Wulan. Selain karena cerita masa lalu, gue liat Mami lo sekarang sensitif banget. Kita cari tau suasana hati dan pendapat Mami lo sekarang tentang Wulan. Itu yang menurut gue harus diduluin. Gimana?” Dean mengedarkan pandangannya.


“Yah, jawabannya jelas mau. Kalo Wulan ikut dia ada alasan ngajak wulan ke rumahnya. Pasti, deh,” ujar Dean, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dam melipat kedua tangannya di depan dada.


Musdalifah ikut memandang atasannya saat Dean mengatakan hal itu. Sebenarnya ia merasa bosan di sana. Tapi, persoalan yang dibahas adalah masalah atasannya. Soal kelangsungan masa depan pria baik yang selalu menandatangani macam-macam surat permohonan kreditnya.


“Bener, sih, kata Dean.” Toni nyengir.


“Jadi gimana, nih? Vote, atau kita tanya pendapat Jenni sebagai seorang wanita.” Rio menatap istrinya.


“Oke, pake phone a friend kalo gitu,” sambung Dean.


“Terserah, lo …,” balas Langit.


“Ini yang bedua nggak bisa diem dulu apa?” Ryan akhirnya bersuara. Setelah hampir dua jam tubuhnya didorong dan terkena pukulan nyasar dari dua laki-laki di kanan kirinya, Ryan sekarang mendelik menatap Dean dan Langit bergantian. “Disimak dulu. Mbak Jenni mau ngomong. Biar cepat kelar. Mana soal arisan belom dibahas.” Ryan mengingatkan atasannya yang seketika mengangguk-angguk.


“Oke, Mi?” Rio menatap Jenni, mempersilakan istrinya itu untuk berbicara.


“Menurut gue, ya, Wulan nggak usah ikut dulu, deh. Biar Toni fokus ke acara keluarga dan bercengkerama dengan tamu. Maminya pasti liat, gimana suasana yang terbangun. Dari sana, Dean bisa singgung-singgung soal kabar Wulan. Buat tau isi hati Mami Toni. Sebelum Toni ngajak Wulan untuk ketemu maminya lagi, setidaknya Toni udah siap dengan apa yang bakal disampaikan maminya. Toni nggak akan menyakiti wanita yang mana pun. Karena … jadi suami dan anak yang baik di waktu bersamaan itu memang sedikit sulit kalau ada satu pihak yang nggak ikut mendukung. Gimana?” Jenni mengedarkan pandangannya ke tiap penghuni meja makan siang itu.


“Gue, sih, yes.” Dean mengangkat bahu menatap Toni. “Kalo Mas Langit?” tanya Dean, menatap Langit di sisi kirinya.


“Gue ngikut aja. Yang penting jangan ada perubahan rencana tiba-tiba. Soalnya, gue udah ngomong ke Jingga.”

__ADS_1


“Oke, kalo gitu, Sabtu siang pekan depan, pukul sebelas kita udah nyampe di rumahnya Toni, ya ….” Rio kembali menegaskan pada semua teman-temannya. Ucapannya disambut oleh anggukan.


“Soal arisan?” tanya Rio, memandang istrinya yang sedang mencoret-coret tabletnya dengan stylus pen.


“Untuk arisan, aku udah bikin proposalnya dalam bentuk power point. Aku kirim ke email bapak-bapak semua. Untuk Toni juga aku kirimin. Kalo Wulan ngikut biar tambah rame,” kata Jenni.


“Nikah dulu, deh. Biar pembicaraannya nyambung. Entar yang lain ngomong pake kata, ‘Suamiku’. Masa Wulan ngomong pake kata, ‘Pacarku adalah Mantan Suamiku’.” Dean memandang Toni, lalu segera bersembunyi di balik tubuh Ryan saat melihat Toni mengambil sebuah sendok.


Langit memegang ponselnya sambil berdecak. Ia sedang mengecek email dari Jenni yang baru saja masuk. “Bener-bener pake proposal,” gumam Langit.


“Kamshia (Makasih) ya, Jen. Nanti aku cek,” kata Dean.


“Dan Dean benar-benar menanggapi proposal arisan perdana Bu Win dengan serius.” Rio terkekeh-kekeh.


Kemudian Rio menoleh pada Jenni di sebelahnya. Wajah istrinya pun ternyata sama serius dengan Dean. “Sefrekuensi ternyata,” sambung Rio, mengacak rambut istrinya dengan raut gemas.


Ruang makan itu mulai terasa agak gerah. Musdalifah mengibaskan tangannya mengipasi leher. Melihat hal itu, Santoso bergegas berdiri dari duduknya dan menuju remote AC yang menempel di dinding.


“Mulai panas , ya, Mbak?” tanya Santoso berbalik menatap Musdalifah. Wanita itu mengangguk. “Saya kencengin AC-nya. Saya nggak suka Mbak Mus berkeringat, karena sebab yang nggak saya idamkan,” kata Santoso.


“Mati—mati gue!” Langit mendorong tubuh Ryan di sebelahnya hingga tubuh Ryan beradu dan mendorong tubuh Dean.


“Ada-ada aja,” kata Musdalifa, mencebikkan bibirnya.


“Iya, tau, nih. Ada terus bahannya,” sambung Toni.


“Iya, kagum. Keren. Ada terus. Ini training pegawainya gimana, De?” tanya Jenni, terkikik menatap Santoso.


“Beberapa saat yang lalu masih ada. Tapi, sekarang udah nggak ada lagi bahannya,” kata santoso kembali duduk di sebelah Musdalifah.


“Kenapa nggak ada lagi?” tanya Dean.


“Karena semuanya udah ada pada diri Mbak Musdalifah,” tukas Santoso.


“Hahaha,” gelak Dean. “Besok gue kasi kasus baru. Lo bisa nanganin dua kasus sekaligus. Kasus baru, income baru. Ckckck, luar biasa.” Dean menggelengkan kepalanya berkali-kali, menatap kagum pada Santoso di depannya.


Di bawah meja, Musdalifah sudah mencabik-cabik sebungkus tisu hingga berbentuk serpihan kecil.


To Be Continued


Hai ... maaf frekuensi bales komen masih random dan sekenanya aja. Tapi, njus happy karena di Facebook ada yang bilang, setelah baca part GENK DUDA AKUT jangan lupa baca komen-komennya yang juga lucu dan mood banget.


Makasi yaaaa .... ceneng cekayiii.


Mmmuaaahh ....


Sehat-sehat semuanya :*

__ADS_1


__ADS_2