GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
54. Tamu Makan Siang


__ADS_3

Dean mengamati Mahda yang menjentikkan ujung kukunya berkali-kali. Kuku yang tak terlalu panjang menandakan wanita itu memotongnya demi kenyamanan menggunakan keyboard komputer. Jarang sekali wanita pekerjaan kantoran yang sering menggunakan keyboard bisa memanjangkan kukunya.


"Cerita aja, aku dengerin." Dean merendahkan suaranya dan membuat tatapan teduh untuk memandang Mahda.


“Rey itu dulu cemburuan banget. Kita sering ribut cuma karena hal-hal kecil. Aku dilirik cowo lain, dia bilang aku yang kegenitan. Dia liat aku ngobrol dengan temen kerja cowo, katanya aku tebar pesona. Hal-hal kecil itu semakin sering. Sampai akhirnya suatu malam, dia jemput aku dan aku masih siap-siap. Aku ketiduran karena kecapekan. Dia mulai ngomel dan teriak-teriak. Dia bilang, aku nggak memprioritaskan soal dia. Dia ngamuk di kamarku. Ngancurin barang-barang dan aku dilempar dengan lampu meja. Padahal … Mama lagi di luar. Mama marah. Dan itu sebenarnya bukan kemarahan Mama yang pertama. Mama minta Rey pulang dan Mama ngomong akan mempertimbangkan kembali soal pertunangan kami. Mama nggak setuju. Dan … di sinilah aku. Meski malu karena kerabat udah tau aku bakal nikah, tapi aku ngerasa lebih lega sekarang. Sebenarnya … Rey itu baik. Rey royal dan sangat setia. Rey juga sopan dengan orang tua. Tapi … dia sering nggak bisa mengendalikan amarahnya. Beberapa kali dia … menjitak kepalaku. Sakit. Aku pasti nangis kalo berantem sama dia.” Mahda tertawa sumbang.


Dean mengangguk tanda mengerti. “Sebenarnya itu adalah manipulasi. Manusia itu 99% nggak berubah. Di saat seorang pria baik, kemudian tiba-tiba jadi pemarah dan mulai memukul, wanita akan menganggap itu fase. Wanita akan mengatakan, bahwa pria-nya akan kembali berubah baik dan lembut. Kekasaran itu hanya khilaf. Tapi … nggak semudah itu. Karena seseorang yang nggak baik, pasti akan mengulang. Ngomong-ngomong, kamu mau minum boba? Ini usaha temen aku,” kata Dean, menunjuk stand minuman milik Rio yang mereka tempati.


“Enggak apa-apa, nanti aja. Aku udah sering jajan ini,” kata Mahda.


“Mmm—kalo boleh tau, kamu usianya berapa?” tanya Dean, meletakkan tangan di bawah dagunya dan menatap Mahda.


“27 tahun,” jawab Mahda. “Usia segitu harusnya udah nikah, kan?” Mahda balik bertanya.


“Masih muda dan ini kota besar. Orang nggak akan sempet mikirin soal itu. Nikmati hidup selagi bisa,” ujar Dean.


“Pacar kamu—”


“Istri,” jawab Dean.


“Oh ….” Mahda mengangguk-angguk. “Usianya? Sorry—”


“25 tahun, sedang hamil.” Dean kembali tersenyum dan membuat matanya menjadi segaris.


“Anak pertama, ya? Pasti lagi mesra-mesranya,” imbuh Mahda.


“Anak keempat. Dan bener, lagi mesra-mesranya. Harus selalu kayak gitu,” tukas Dean, tertawa pelan.


Mahda membentuk huruf ‘O’ cukup lama dengan mulutnya. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Ia lalu mengamati penampilan Dean dengan lebih teliti.


Beberapa saat yang lalu ia hanya menilai penampilan lawan bicaranya sekilas. Ia penasaran dengan usia pria di depannya. Tapi, ia tak mungkin kembali membicarakan soal usia. Istrinya berumur 25 tahun? Anak keempat? Alis Mahda bertaut karena memikirkan soal itu.


“Jadi … temen kamu itu pacaran dengan Rey?” tanya Mahda.

__ADS_1


“Mungkin besok udah enggak,” jawab Dean.


“Sebenernya, kasihan kalo tiap cewe yang deket ama dia harus putus. Tapi … kata Mama, kekasaran Rey pasti bisa lebih menjadi setelah menikah. Karena dia ngerasa menjadi lebih punya hak. Seperti yang kamu bilang tadi. Itu semacam manipulasi.” Mahda memandang jemari pipih Dean yang sedang menopang dagu. Ia lalu menunduk memandang jemarinya sendiri. Dalam hati ia meringis. Ia merasa kalah saing. Hal itu membuatnya penasaran dengan wanita berusia 25 tahun, yang sedang hamil anak keempat pria di depannya.


“Enggak usah pikirin soal itu. Bukankah semua hal di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan? Bisa aja Rey dapat istri seorang pegulat atau karateka nantinya. Permasalahannya pasti bakal terpecahkan. Bener nggak?” Dean mengangkat alisnya.


Mahda tergelak dan tertawa cukup lama.


Di dalam mobil, Santoso mengangkat dahinya dari kaca. “Customer service itu sudah tertawa. Artinya Pak De sudah closing. Sebentar lagi jabat tangan dan senyum dengan satu sudut bibirnya.”


Hal yang dikatakan Santoso langsung terbukti. Tak lama kemudian, Dean sudah berjabat tangan dengan Mahda dan beranjak dari sana.


Ryan menepuk-nepuk pundak Santoso. “Hebat. Tapi belum bisa naik gaji.”


“Baik,” sahut Santoso.


“Gimana—gimana? Gue udah bisa ke tempat Wulan?” tanya Toni. Saat itu Dean baru saja menghempaskan tubuhnya di jok depan.


“Lo tuh, ya! Gue baru tarik napas mau ngomong. Berisik banget,” omel Dean.


“Lo kira Wulan doang yang makan tiga kali sehari? Lantas kita-kita yang di dalam mobil ini nggak lo pikirin? Wah … ternyata kayak gini sakitnya. Baru kali ini gue kerja tanpa DP dan nggak digubris.” Dean memukul pelan dada kirinya.


“Lebay! Ini mau gue anter ke mana? Kantor lo?” kata Toni.


“Enggak—enggak. Enggak usah ke kantor. Anter ke rumah gue aja. Kita makan siang di sana. Ini udah deket ke rumah,” kata Dean.


Lalu, teringat akan sesuatu, Dean menoleh ke belakang. “Inget ya … jangan ngomong yang enggak-enggak ama bini gue. Sepik sekecil apapun tidak dibenarkan. Terutama kalo ada nyokap gue. Sanksi akan berat. Soal wanita di gedung POPO ponsel, tidak pernah terjadi.” Dean memperagakan gesture mengancing mulutnya.


Sebagai tanggapan, Ryan hanya berdeham serta memperbaiki duduknya. Santoso mengulang gesture mengancing mulut. Sedangkan Musdalifah mengatupkan mulutnya.


“Oke, tadi gue ke gedung POPO ngapain, So?” tanya Dean pada Santoso.


“Siapa? Siapa yang ke gedung POPO? Memangnya kita ke sana? Bukankah kita dari pengangkutan lalu langsung ke rumah Pak Dean untuk makan siang?” Raut Santoso terlihat sangat menjiwai.

__ADS_1


“Bagus. Lulus!” ujar Dean, kembali menghadap depan. “Lo liat, kan?” tanya Dean ke arah Toni.


“Luar biasa. Agen FBI akan menangis karena minder melihat Santoso,” ujar Toni, dengan raut serius.


“Enggak gitu juga, Ton. Enggak gitu juga.” Dean melengos kembali menatap jalan.


"Takut banget, sih." Toni mencibir melirik Dean.


"Aib digital gue masih di tangan nyokap, Ton .... Lo kenal Bu Amalia itu gimana. Beliau pernah meminta kepala sekolah untuk memecat kita berdua. Ibu mana yang meminta anaknya dipecat?" Dean menggelengkan kepalanya.


"Anak kandung rasa menantu, ya?" Toni tergelak.


"Kecemasan gue semakin bertambah waktu ngeliat cincin Bu Amalia sudah berpindah ke jari Bu Winarsih. Bayangkan .... Kuliah di luar negeri 7 tahun, ilmunya nggak kepake di rumah."


“Tapi anak lo mau empat. Setidaknya ilmu lo yang itu masih kepake." Toni tertawa terbahak-bahak.


Musdalifah bergidik mendengar percakapan dua pria di depannya. "Pak, saya ke rumah Pak Dean juga?" tanya Musdalifah.


"Iya, ikut ke rumah Pak Dean aja, ya … aku ke rumahnya Wulan sebentar.” Toni tampaknya tak perlu menunggu persetujuan dari sekretarisnya, karena ia langsung melesatkan mobil ke rumah keluarga Hartono.


Tak sampai lima belas menit kemudian, Toni sudah menghentikan mobilnya di teras lobi. Di kejauhan terlihat Pak Lutfi satpam yang bertugas hari itu masih berdiri di sebelah pagar menunggu mobil Toni kembali keluar.


“Terima kasih, Pak … saya bayar pake kartu, bisa?” Dean membuka resleting clutch-nya.


“Diem, lo!” sergah Toni, lalu menoleh ke belakang. “Mus, aku menitipkan kamu di sini. Jangan nakal. Makan yang banyak, ya … jangan mau diintimidasi oleh tiga pengacara ini. Kita bayar, nggak gratis. Jadi kamu jangan sungkan,” pesan Toni pada sekretarisnya.


Mendengar hal itu, Dean menyipitkan mata. “Lo jangan lupa ngasi kabar. Kebiasaan lo kalo udah enak langsung senyap,” kata Dean.


“Cuma lo doang yang udah enak masih berisik,” balas Toni, terkekeh.


“Pergi sana! Shuh!” usir Dean. Ia lalu berjalan menaiki tangga masuk ke rumah. Di belakangnya Ryan, Santoso dan Musdalifah mengikuti dengan hening.


“Wiiin … aku pulang sekolah bawa temen. Mau kerja kelompok. Tapi mau minta makan siang dulu. Boleh, ya …,” teriak Dean mulai dari ruang tamu.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2