
“Jadwal lo lagi kosong banget ya? Cepet banget nyampe di sini,” kata Toni meletakkan kunci mobil dan ponselnya di atas meja.
Dean menyipitkan mata memandang Musdalifah yang mengikuti langkah Toni menuju meja. Sekretaris itu masih berlindung di balik tubuh atasannya, masih dengan sebuah clear holder di tangan.
“Gue gak ada jadwal? Mana mungkin,” jawab Dean. Ia duduk menyilangkan kaki.
“Jadi, kok tumben? Lo gak lama nunggu, kan?” Toni menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya. Ia lalu meraup wajah dan menghela napas panjang. Terlihat lelah secara fisik, juga psikis.
“Mami lo, sehat?” tanya Dean. Ia harus menanyakan hal itu untuk pertama kali. Dalam hidup Toni sekarang, ibunya adalah yang terpenting.
“Sehat. Mami sehat. Meski lo tau sendiri gimana.” Toni mengangkat bahunya. “Lo udah minum? Gue mau pesen lagi ni,” kata Toni seraya memalingkan wajahnya ke arah Musdalifah yang berdiri di sebelahnya.
“Udah—udah. Gue udah minum. Green tea. Yang bisa memperbaiki mood dan memperbaiki suasana hati. Green tea yang bisa meredakan stres dan amarah,” ujar Dean dengan mata tertuju pada Musdalifah. Ia menekankan kata ‘meredakan stres dan amarah’ dalam ucapannya.
Musdalifah hanya mengangguk-angguk setuju saat Dean mengatakan hal itu. Dan Dean merapatkan giginya.
“Green tea ya? Apa aku minum itu juga?” gumam Toni berpikir tentang minuman yang akan dimintanya.
“Buat Bapak jangan green tea. Bapak nggak ada masalah untuk itu. Bapak lebih cocok teh lavender aromatik. Untuk orang-orang yang sulit tidur.” Musdalifah mengatakan hal itu dengan raut serius.
“Oke,” jawab Toni menuruti saran sekretarisnya. “Oya, tadi Tasya ke sini jam berapa? Sebelumnya udah ada buat janji ke kamu?” tanya Toni memandang Musdalifah.
Dean melirik wajah Musdalifah turut menantikan jawaban sekretaris temannya.
“Nggak ada, Pak. Katanya dia sedang ambil cuti jadi main ke sini.” Musdalifah mengangguk pelan kemudian berlalu dari ruangan.
Dean mendengus. Ia sama sekali tak percaya dengan perkataan Musdalifah. Tasya sudah tahu bahwa menemui seorang pemilik perusahaan pasti sulit. Apalagi dengan dandanan begitu rapi dan manis, mustahil itu adalah sebuah kunjungan dadakan Tasya.
“Ton, si Tasya di kantor cabang yang mana? Kenapa mesti diterima kerja di tempat lo, sih? Kan, bisa di tempat lain. Lo kasi info aja, atau rekomendasikan nama dia. Tapi nggak mesti dalam satu atap perusahaan lo. Lo ngomong pengen balikan ama Wulan, tapi kalo si Tasya masih wara-wiri ke kantor lo, gimana? Lo yang repot. Inget kejadian Ara dulu. Padahal gue diem, biar dia ngerti. Tapi kayaknya ada yang nggak ngerti kalo kita diem aja. Jadi laki-laki itu nggak modal kuat di ranjang aja. Lo kadang lemah banget sih! Tegas dikit napa! Jijik gue!”
Musdalifah mengetuk pintu dan kembali datang dengan nampan kecil. Ia mengangsurkan secangkir hangat pada atasannya.
Toni hanya terkekeh mendengar omelan sahabatnya.
“Thanks, Mus.” Toni langsung mengambil cangkir tehnya.
Masih dengan wajah sebal menatap Toni, Dean meraba saku kiri di dalam jas. Ponselnya bergetar. Nama ‘Istriku’ memenuhi layar. Dean meletakkan jari telunjuknya di bibir seraya memandang Toni.
“Ya, Sayang?” sahut Dean. “Ada apa?” tanya Dean langsung.
“Mas, di mana? Masih di kantor?” tanya Winarsih di seberang telepon.
“Di kantor Toni, bantuin dia urus dokumen. Kenapa, Sayang?” tanya Dean lagi.
“Aku mau ke kampus sebentar. Di anter Pak Noto. Ada tugas, aku nggak tau karena Sabtu kemarin nggak masuk. Jadi mau nemuin temenku. Boleh?” tanya Winarsih.
“Sekarang?” Dean melirik jam di pergelangan tangannya.
“Iya, sekarang.”
“Udah sore, nggak usah deh. Minta Irman aja ke kampus kamu buat ambil tugas itu. Sama aja. Atau temen kamu minta ke rumah.”
“Masa, sih Irman yang ke kampus? Urusan kayak gitu aja. Enggak enak sama Papa,” jawab Winarsih.
“Temen kamu aja yang—”
“Kan aku yang perlu, Mas ... masa temenku yang aku minta dateng.”
__ADS_1
“Ya, udah kalo gitu nggak usah. Sabtu aja ke kampus sekalian. Aku yang ngomong ke dosen kamu langsung. Tugas apa, sih, segitu pentingnya. Enggak boleh, ke kampus harus bareng aku pokoknya.”
Winarsih diam di seberang telepon.
“Win?” panggil Dean. “Masih denger aku?”
“Denger ...,” jawab Winarsih.
Dean menarik napas lega. Ia mengira Winarsih diam karena merajuk tak diberi izin pergi ke kampusnya.
“Mas, jam berapa pulang?” tanya Winarsih.
“Jam berapa, ya ... ini masih sama Toni. Mungkin—”
“Selesai urusan sama mas Toni, langsung pulang. Kalau lama, aku kunci kamar. Mas tidur di kamar tamu aja. Atau di kamar halaman sayap kiri, kamarku dulu.”
“Iya—iya, Sayang ...” ucap Dean memelankan suaranya. Ia melirik pada Toni yang sedang santai mengecek ponsel. Namun, Musdalifah berdiri tegak menyimak pembicaraannya, masih dengan nampan di tangan.
Dean merapatkan gigi dan memberi kode dengan dagu agar sekretaris itu pergi ke luar. Musdalifah sedikit terperanjat. Tapi bukannya keluar ruangan, Musdalifah malah mengambil dua helai tisu dari kotak, dan mulai mengelap meja Toni.
“Aku nggak lama ... selesai ngobrol sama Toni, aku langsung pulang. Jangan dikunci kamarnya. Jangan sampe tengah malem aku harus minta Rojak atau Lutfi buka engsel pintu. Sabar, ya, Sayang.”
Winarsih hanya diam di seberang. Dean hanya bisa mendengar suara napasnya.
“Win?”
“Hmmm ....”
“Iya—iya. Satu jam lagi aku langsung pulang,” jawab Dean.
Pembicaraan itu pun selesai. Toni langsung mengangkat pandangannya dari ponsel. Dan Musdalifah masih mengelap meja, tapi dengan mulut mencibir. Atasan dan sekretarisnya itu ternyata sangat mirip. Dean merasa sia-sia jika harus mengadukan Musdalifah pada Toni. Ia yakin, Toni pasti tetap tak akan percaya.
“Kasi aja napa, sih, De! Cuma ke kampus,” kata Toni.
“Nguping lo!” kata Dean.
Toni tergelak sesaat.
“Bini gue? Ke kampusnya sendirian? Enggak, ah!” tukas Dean. “Gue masih inget gimana gue liat dia pertama kali. Dulu aja, gue gitu, apalagi laki-laki liat bini gue yang sekarang. Kalo jalan sendirian, pasti sering digodain. Disuit-suitin,” tambah Dean.
“Kaku amat, lo. Kayak lo jaman muda nggak gitu aja.” Toni kembali mengambil cangkir tehnya.
“Karena gue muda kayak gitu, makanya gue nggak mau bini gue keluar sendirian. Dan ... harusnya lo dari dulu juga gitu. Bukannya gue bilang lo harus kayak gue, Ton. Tapi, lo harusnya jaga Wulan, agar selalu dalam jangkauan. Jangan terlalu dibiarin apa-apa sendiri. Lama-lama dia nggak butuh lo lagi. Kayak sekarang.” Dean meringis menatap sahabatnya.
Toni seketika diam. Rautnya seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Ngomong aja ...,” kata Dean.
“Gue udah cari nomor telfon Wulan yang sekarang, tapi nggak dapet. Gue ke rumahnya yang dulu, tapi katanya udah pindah. Apa mungkin dia tinggal bareng pacarnya, ya?” Toni memandang Dean.
“Kayaknya nggak deh. Ini kita ngomongin Wulan, bukan lo. Dia pindah mungkin untuk menghindari omongan tetangga, Ton. Lingkungan rumahnya yang dulu, cuma perumahan kecil. Dia nikah sebentar, terus bercerai. Omongan orang itu, hal yang paling sulit dihadapi perempuan. Itu menurut gue. Udah coba datengin kantornya?”
“Gue males ketemu pacarnya. Entar ribut lagi. Bisa dipenjara. Pacarnya pasti ada di sana.”
“Takut banget, sih. Kan, ada gue ...,” sela Dean.
“Enggak usah banyak gaya. Entar lagi lo harus balik. Kasian satpam lo, kalo harus buka engsel pintu kamar tengah malem.”
__ADS_1
Kedua orang pria itu langsung tertawa terbahak-bahak.
“Berkas yang dibawa Pak Dean tadi mana, Mus?” tanya Toni memalingkan wajahnya pada Musdalifah yang tiba-tiba berubah menjadi cleaning service dengan membersihkan semua pajangan di atas meja.
Dean mengernyit. Ia baru menyadari kalau Toni sama sekali tak terganggu dengan tingkah sekretarisnya.
Musdalifah mengambil clear holder dari atas meja dan menyerahkannya pada Toni.
Setelah membalik-balik kertas yang berada di dalam map itu, Toni mengangkat wajahnya menatap Dean.
“Udah beres? Segini aja?” tanya Toni.
“Jangan lupa diliat angka yang tertera,” pinta Dean.
Toni menatap tulisan di akhir kertas.
“Oh, ini kuitansinya.” Toni terkekeh.
“Itu cuma biaya perizinan. Tidak termasuk jasa, stempel dan tanda tangan gue. Kalo itu free, buat lo. Termasuk jasa konsultasi Tasya tadi.”
“Njiirr ... gue udah bisa bayangin gimana Tasya keluar dari sini. Kayaknya dia bakal mengundurkan diri dengan sendirinya,” ujar Toni.
“Masa, sih, lo nggak bisa nyari nomor Wulan?” tanya Dean lagi. Ia benar-benar ingin Toni hidup seperti dulu lagi. Teratur, dan lebih bahagia. Ia tak mau Toni menghabiskan waktu dengan wanita demi mengisi kekosongan.
Menurut Dean, Toni adalah pria yang cukup baik. Terbukti, mantan pacarnya selalu bisa kembali meminta ini-itu dengan sahabatnya. Dean menggolongkan Toni sebagai pria bajingan yang murah hati.
“Atau gue harus nyewa jasa agen aja, ya? Buat nyari di mana rumah Wulan dan dengan siapa dia tinggal?” Toni mengusap wajahnya.
“Pak,” panggil Musdalifah.
“Ya, Mus?” Toni mendongak.
“Ini alamat Bu Arista Wulandari. Itu ada nomor teleponnya juga.” Musdalifah menarik selembar kertas dari bagian belakang map yang dipegang Toni.
“Ya ampun, Mus ....” Toni menatap sekretarisnya terpukau. Sedangkan Dean, kembali sebal pada Musdalifah.
Sudah sejak tadi mereka membahas soal Toni yang sedang mencari kontak Wulan. Sudah sejak tadi juga Musdalifah ikut mengupingi pembicaraan mereka. Namun, kenapa wanita itu baru memberitahu atasannya sekarang?
Dean mendengus sebal. “Sok dramatis!” ujarnya menatap Musdalifah.
Musdalifah membalas tatapan Dean dengan cibiran.
To Be Continued
Maafkan jadwal update yang tak menentu, karena juskelapa sedang ikut event menulis di Watt pad yang berjudul MABUK CEO. Setiap part novel itu ditulis dengan bimbingan seorang editor yang membuat juskelapa harus mengoreksi jika ada kesalahan penulisan. Serta, menambahkan masukan-masukan.
Novel itu tidak panjang, mungkin hanya sekitar 27 Bab (Sekarang sudah Bab 12).
Jadi sesudah novel itu selesai, juskelapa akan update dengan teratur. Yang terpenting, njuss selalu berusaha update sehari minimal satu.
Terima kasih karena sudah menunggu.
Terima kasih untuk yang nanya, 'njuss kapan up?'
Makasih dukungan tulusnya :*
Mmuuaahhh ....
__ADS_1