
Restoran kecil yang dipilih Wulan untuk menjamu keluarga dekat dan melangsungkan sumpah keduanya dan Toni untuk kembali mengarungi bahtera rumah tangga, pagi itu terlihat sangat anggun dan cantik.
Jalinan bunga bakung, lily, hydrangea, dan tulip, terangkai indah dalam vas-vas yang disusun di atas meja panjang.
Semua keluarga terlihat segar dengan sorot mata antusias yang tak bisa disembunyikan. Orang tua Wulan duduk paling depan mengenakan model pakaian sederhana, namun berkesan mahal.
Deretan sahabat duduk dengan canda tawa dan pakaian bertema serius soal pernikahan. Itu adalah janji mereka sebelum berangkat. Meski Toni mengingatkan soal acara pernikahan sederhana yang hanya dilangsungkan di hadapan keluarga, tetapi para sahabat ingin hari itu tetap dikenang sebagai hari yang sangat spesial.
Kebahagiaan sahabat mereka dalam melengkapi hidupnya.
Dean mengenakan satu set jas terbaiknya dengan sisipan bunga di kantong jasnya. Begitu pula Rio dan Langit, sangat gagah dengan balutan jas berwarna abu-abu.
Para wanita mengenakan dress berwarna nude yang diorganisir oleh istri Rio. Jennifer memang paling bersemangat dalam hal seperti itu. Anak-anaknya yang sudah beranjak besar, membuat langkahnya lebih gesit mengurus segala perintilan yang mereka butuhkan untuk acara Toni.
Empat petugas wedding organizer terlihat hilir mudik merapikan sentuhan terakhir seraya menunggu kehadiran Toni dan Wulan di tempat itu.
“Baiklah, seluruh keluarga dan sahabat dimohon untuk berdiri menyambut calon pengantin yang sesaat lagi akan memasuki tempat acara.” Seorang MC mengumumkan kedatangan calon pengantin dengan sebuah mic.
Serempak, para seluruh keluarga berdiri dari duduknya. Kecuali, ibu Wulan yang kurang sehat.
Semua sahabat ikut berdiri dan bertepuk tangan dari sebelah istri masing-masing.
“Yeee ...!” seru tiga orang pria bersamaan. Disusul dengan, “Cieee ....” Masih dengan tangan yang bertepuk riuh. Padahal cuma mereka bertiga yang bersorak. Tapi, karena restoran itu kecil, suara mereka terdengar sangat berisik.
Toni yang melintas, hanya menoleh sekilas dan meringis mendengar sorakan para sahabatnya.
Pagi itu Toni menggandeng Wulan dengan gagah. Rambut cokelat gelapnya diset dengan sisiran ke satu sisi dan terlihat mengkilap. Jas model three-piece suit berwarna navy, membuat tampilan Toni seperti bangsawan Inggris klasik.
Wulan mengenakan dress putih sederhana dan menggenggam sebuket bunga rustic; bunga yang memiliki konsep nuansa pedesaan dan terkesan vintage (antik). Dengan sepasang sandal bertali bertumit 12 senti, tinggi Wulan berhasil mencapi bahu calon suaminya.
“Maaf—maaf.” Setelah Toni dan Wulan duduk, suara mengucapkan maaf berulang kali terdengar dari arah pintu.
Santoso dengan perban membebat pergelangan tangan kirinya datang terlambat bersama Musdalifah. Sepasang manusia itu langsung duduk di dereta kursi paling belakang.
Pasangan pengantin sampai menoleh ke arah pintu karena suara Santoso sangat keras. Dean, Langit dan Rio saling pandang. Rio hanya menoleh sekilas, lalu mengembalikan pandangannya ke arah depan. Sedangkan Dean dan Langit, bertukar pandang penuh arti. Kedua laki-laki itu sedang mengingat percakapan di balik tirai ranjang IGD.
Dean baru saja mau terkekeh, tapi ia merasakan rematan tangan Winarsih di pahanya. Seketika ia langsung mengatupkan mulut.
Sekarang Dean tak mau mengatakan apa pun pada Musdalifah. Ia khawatir wanita itu akan berubah pikiran. Karena paham betul dengan apa yang diinginkan Santoso, Dean merasa harus ikut meyakinkan Musdalifah bahwa menjalani hubungan bersama pegawainya adalah keputusan yang tepat.
Lebih dari empat tahun yang lalu, Toni dan Wulan sudah pernah melalui hari itu. Duduk berdampingan menghadapi satu map berkas yang harus mereka tanda tangani. Kini mereka kembali mengulang.
Di depan hadapan keluarga dekat dan sahabat, Toni dan Wulan kembali mengikat janji. Mendeklarasikan kepemilikan atas satu sama lain.
“Untuk Wulan .... Mungkin, beginilah jalannya. Justru keramaian mengajarkan aku apa itu kesepian. Rindu yang datang di tengah keramaian ternyata lebih menusukku. Bagai sebuah luka, yang aku tau bahwa cuma kamu, obatnya. Luka rindu ini tak akan sembuh, sampai kamu datang menyambut uluran tanganku dan berjanji tak akan pernah melepaskanku lagi. Kamu adalah hati yang aku pilih. Yang akan membuatku tak mau beralih. Izinkan aku menjadi suami, orang pertama yang akan kamu tatap setiap pagi.” Toni membacakan sebait kata-kata yang sudah ia persiapkan sejak seminggu yang lalu.
Kemudian, Wulan menarik napas dan membaca secarik kertas yang dipegangnya.
“Dear, Mas Toni. Maaf, kalau aku pernah melupakan janjimu. Hal yang tak mudah kuucapkan, tapi ... aku memang merasa sepi tanpamu, aku selalu rindu padamu. Selalu begitu. Sekarang aku telah memilih jalanku yang benar : mencintaimu. Dan aku akan terus melanjutkannya sesulit apa pun. Mas Toni, maaf kalau aku lalai mencintaimu kemarin. Sekarang, temani aku kembali mewujudkan mimpi. Terima kasih sudah memintaku kembali menjadi istri.” Wulan tercekat dan menelan ludahnya pelan-pelan. Bulir air mata sudah turun ke pipinya.
Ternyata rasa haru itu bukan hanya Wulan yang merasakannya. Toni mengatupkan mulutnya dan mengangguk ke arah Wulan. Pria itu menangis. Toni menghapus sudut matanya yang basah karena mendengar janji Wulan padanya.
__ADS_1
Lalu, Toni dan Wulan menunduk untuk membubuhkan tanda tangan. Toni memakaikan seuntai kalung dengan liontin bertulisan ‘promise’ yang berarti janji kepada istrinya. Toni merasa pernikahannya kembali bersama Wulan adalah pengukuhan atas janji yang dulu pernah ia ucapkan. Berjanji untuk tak akan berhenti mencintai wanita itu.
Dalam kesempatan itu, Wulan mengecup tangan suaminya. Lalu, Toni membalas dengan kecupan yang sama. Semua yang hadir di sana sebagian ada yang bertepuk dan menghela lega. Tapi, semua wanita di sana ikut menyeka sudut matanya.
Pukul 12 siang pihak wedding organizer telah menyingkirkan meja kecil tempat di mana Toni dan Wulan duduk. Lagu ‘Sayap Pelindungmu' yang dinyanyikan The Overtunes mengalun memenuhi ruangan.
Saat kau jatuh
Lukai hati
Di mana pun itu
I'll find you
Saat kau lemah
Dan tak berdaya
Lihat diriku
Untukmu
Kapanpun mimpi terasa jauh
Oh ingatlah sesuatu
Ku akan selalu
Jadi sayap pelindungmu
Dan kau merasa hilang
Ku akan selalu
Jadi sayap pelindungmu
“Kepada seluruh keluarga dan kerabat, sudah bisa berdiri dan memberikan selamat pada kedua pengantin. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, prosesi pernikahan telah selesai dan kita memasuki acara bersantai. Tapi, baru saja kita menerima permintaan dari pengantin wanita. Mbak Wulan akan menyerahkan buket bunganya pada—”
“Ya, ampun. Diserahkan ke siapa? Jangan sampe aku, ya, Win. Istriku cukup kamu aja.” Dean berbisik di telinga Winarsih. Hasil bisikannya itu, kembali mendapat rematan di pahanya. Ia meringis, namun terkekeh-kekeh.
Wulan berjalan menyeberangi deretan kursi untuk langsung menuju Santoso dan Musdalifah yang ternyata sedang menunduk berbisik-bisik.
“Mbak Mus,” panggil Wulan. Musdalifah mendongak dan terperanjat saat melihat Wulan sudah berada di depannya. “Untuk Mbak Mus,” kata Wulan, menyodorkan buket bunga ke pangkuan Musdalifah.
“Terima kasih karena sudah menjadi orang kepercayaan Mas Toni selama ini,” sambung Wulan, tersenyum pada Musdalifah yang terlihat bingung bercampur rona merah di wajahnya.
“Cieee .... Laksanakan, So! Keraskan semuanya!” seru Dean.
“Apanya yang dikeraskan?” tanya Winarsih memandang suaminya yang sangat tampan hari itu. Dengan jarak lima senti, ia melihat wajah suaminya yang mulus tak bernoda selain sudut bibirnya yang masih terluka.
“Kerjanya, usahanya. Itu maksudnya. Memangnya kamu mikir apa?” Dean nyengir. “Entar malem aku pengen disayang-sayang, ya, Win .... Toni yang nikah lagi, aku ikutan gemes. Lagian aku udah tiga hari libur nggak nyolek-nyolek kamu.”
__ADS_1
“Alesan aja,” cetus Winarsih.
“Kamu cantik banget pake dress warna ini. Perutnya makin gede, bikin makin gemes.” Dean mencium telinga istrinya.
Di kursi lain ternyata pembicaraan yang berlangsung hampir sama.
“Mi, aku gemukan, ya?” tanya Rio pada istrinya.
“Enggak. Siapa yang bilang? Papi seksi. Apalagi bokongnya. Jangan kurus-kurus. Nanti nggak ada yang bisa aku remaas tiap pagi.” Jennifer terkekeh-kekeh, menggamit lengan suaminya dan menaruh dagu di sana.
“Entar malem, Mi?” tanya Rio, tersenyum nakal.
“Hayuk,” sahut Jennifer, mengerucutkan bibirnya menanti kecupan kilat dari Rio.
Pria di sebelah Rio ternyata tak mau kalah. Sejak tadi Langit sudah memeluk pinggang istrinya dan mengecup telinga Jingga yang sedang tersenyum-senyum melihat Musdalifah dan Santoso.
“Mima .... Mumpung nggak ada si kembar. Kita harus reka adegan untuk menyemarakkan malam pertama pengantin ulangan, Toni dan Wulan.” Langit meremaas pinggang istrinya.
“Heran ... yang nikah siapa, yang semangat siapa.” Jingga menoleh suaminya yang sedang melemparkan tatapan genit. Langit langsung memonyongkan bibirnya membalas tatapan Jingga.
Toni kembali menggandeng Wulan ke tengah ruangan. Ia mengambil segelas jus yang disodorkan kru acara padanya.
“Sayang,” panggil Toni, menyodorkan minuman pada istrinya.
“Makasi,” sahut Wulan, meminum jus itu hingga tuntas segelas. “Tau aja, tenggorokanku kering banget. Canggung, deg-degan. Padahal udah pernah,” ucap Wulan, tertawa kecil.
“Jadi?” tanya Toni.
“Apa?” Wulan balik bertanya. Ia memandang wajah Toni yang semakin ganteng. Meski dengan luka di pelipis dan sudut bibirnya, hari itu Toni tetap terlihat sangat sempurna. Gagah sekali, pikirnya.
“Udah kebayang?” Toni memeluk pinggang istrinya.
“Dari kemarin,” jawab Wulan, tertawa dan membalas melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh suaminya.
“Sejak kapan?” tanya Toni lagi.
“Sejak ngeliat dari pantulan ponselku,” jawab Wulan.
Lalu, mereka tertawa. Toni kembali mencium pipi Wulan dan merengkuh tubuh wanita itu menempeli tubuhnya.
To Be Continued
Sabar-sabar yang komen MP-MP ya ....
Harus nikah dulu, baru MP
Nanti kalau nggak nikah, dikecam :P
juskelapa nggak pernah pake drama-drama memundurkan MP biar terus ditagih-tagih. Ini hanya mengikuti outline dan jalan cerita.
Jadi, santai ya ....
__ADS_1
Kita nikmati sama-sama alurnya :*