
"Belanjanya cukup di sini aja?" tanya Toni pada Wulan.
"Iya, Mas. Di sini juga udah cukup. Yang kemarin juga udah banyak. Aku cuma tinggal cari beberapa yang kurang. Kemarin aku browsing dan ketemu merk pompa asi yang baru. Kayanya bagus." Wulan berjalan memasuki departemen store khusus pakaian bayi dengan tangan Toni yang berada di bahunya.
Perut Wulan semakin besar. Ia sedang berada di puncak antusias dalam fase kehidupannya. Hari kelahiran bayinya semakin dekat. Mungkin hanya dalam hitungan hari, jam atau bahkan bisa kapan saja. Mereka memang sengaja untuk tidak membeli barang kebutuhan bayi mereka terlalu cepat. Wulan bahkan mengatakan kalau perlu, ia akan berbelanja sehari sebelum melahirkan bayinya.
Karena masa tunggu mereka terhadap kehadiran seorang bayi cukup lama, membuat mereka sangat berhati-hati meletakkan harapan.
Tiga hari terakhir, Wulan sudah merasakan kontraksi ringan di perutnya. Toni bersikeras mengajak istrinya ke rumah sakit. Tapi, bahan bacaan Wulan yang begitu melimpah soal ibu kehamilan, membuat Wulan meyakini kalau itu adalah kontraksi palsu, karena timbulnya hanya sesekali.
Dan hari itu adalah hari Senin, di mana harusnya Toni masuk ke kantor seperti biasa. Wulan bersikeras untuk mengajak suaminya berjalan-jalan agar ia banyak bergerak dan memudahkannya melakukan persalinan.
"Mas, jangan jalan cepet-cepet." Wulan menahan lengan Toni saat mereka berjalan di lorong perlengkapan stroller.
"Kenapa? Udah sakit?" Toni menoleh wajah Wulan yang pucat pasi.
"Sakit tiba-tiba. Tunggu sebentar, jangan jalan dulu. Mungkin sebentae lagi sakitnya ilang," ucap Wulan dengan wajah meringis.
"Ilang gimana? Memangnya bisa ilang? Ayo, ke rumah sakit langsung. Aku nggak bisa liatnya," kata Toni, mengambil tas dari bahu Wulan dan memakainya.
"Aku jalan aj--" Perkataan Wulan terhenti. Toni menyelipkan tangan di bawah ketiaknya dan mengangkat tubuhnya dengan mudah.
"Enggak bisa. Aku nggak sabar. Mau ditunggu sampe gimana sakitnya? Kita berangkat sekarang. Nanti belanjaan ini diurus belakangan," omel Toni sepanjang mengangkat tubuh istrinya melalui deretan rak departemen store.
Hari Senin, pusat perbelanjaan pakaian bayi tiga lantai itu tak terlalu ramai. Untungnya, mereka sedang berada di lantai dasar dan mobil diparkir tak jauh dari lobi. Meski Wulan sedang hamil besar, mengangkat tubuh istrinya bukan merupakan kesulitan bagi Toni. Beberapa pasang mata melihat bagaimana ia berjalan menuju pintu keluar sambil membopong tubuh istrinya.
Supir kantor yang ikut datang mengantarkan mereka tadi, langsung tergopoh saat melihat atasannya datang.
"Rumah sakit yang biasa," pinta Toni saat supirnya membuka pintu. Ia langsung mendudukkan Wulan di kursi dan masuk ke dalam mobil. "Gimana? Masih sakit?" tanyanya sambil merapikan rambut Wulan yang berantakan.
Wulan diam menarik napasnya. Tangannya meraba-raba dada suaminya.
"Kenapa? Kenapa, Sayang?" Toni meraih tangan Wulan dan menciumnya. Wajahnya ikut panik.
"Tasku, Mas. Jangan dipake. Mas jadi aneh," ucap Wulan dengan wajah meringis.
Toni melihat bahu kirinya. Tas tangan Wulan masih tersangkut di sana. Ia melepaskannya dengan raut serius dan dahi mengernyit gelisah.
__ADS_1
Setelah supir kantor meninggalkan kartu nama pada supervisor departemen store, mobil meninggalkan pelataran parkir dan berangkat ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Musdalifah menelepon Toni untuk memberi kabar bahwa ia sudah mengirim staf untuk menebus barang belanjaan yang ditinggalkan dan belum sempat dibayar.
"Lebih cepat mengemudinya, ya, Pak. Tapi jangan ngebut. Hati-hati," pesan Toni pada supirnya.
Supir kantor itu mengangguk mantap, meski dalam hati ia bingung bagaimana mengemudikan mobil cepat tanpa ngebut.
"Aduh, ini beneran kontraksinya. Ini bener-bener sakit, Mas. Aduh …." Wulan memeluk erat lengan Toni dan membenamkan wajahnya di sana. Kedua tangannya mencengkeram erat lengan Toni yang hanya bisa mengusap punggungnya dan melontarkan pandangannya ke arah jalan sesekali.
"Sabar, ya, udah mau nyampe." Toni memperkirakan bahwa mereka akan tiba di rumah sakit paling lama sepuluh menit lagi.
"Mas Toni …," panggil Wulan, mendongak menatap wajah suaminya.
"Iya, Sayang. Kenapa?" tanya Toni, mengusap dahi Wulan yang berkeringat.
"Sakit bang--nget," rengek Wulan. "Winar, kok, bisa sampe empat. Aku kagum," ucap Wulan setengah menangis.
"Aduh, kamu jangan nangis. Aku harus gimana?" Toni memeluk istrinya. "Pak--Pak! Cepat!" pinta Toni pada supirnya untuk kesekian kali.
Parkiran rumah sakit ternyata cukup padat. Supir menghentikan mobil di depan gedung IGD dan Toni langsung mengambil salah satu dari kursi roda yang tersusun di depan pintu masuk.
Praktek dokter spesialis dimulai pukul dua siang. Mereka tiba di rumah sakit hampir pukul tiga sore. Dan seorang perawat di bagian klinik ibu dan anak langsung membawa Wulan ke lorong di mana ruangan operasi dan ruang bersalin berada.
Toni berdiri mematung. Setelah supir mengantarkan tas perlengkapan bayi yang berada di bagasi belakang, Toni diam tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya berdiri di dekat kepala ranjang menonton Wulan yang sedang diganti pakaiannya. Tangannya cuma bisa merapikan rambut dan membenarkan tali seragam ibu melahirkan yang diikatkan di bagian belakang tubuh.
Baginya Wulan terlihat sangat menderita. Banyak pertanyaan yang sudah ia lontarkan pada dokter. Apa yang harus ia lakukan agar istrinya tidak terlalu merasakan sakit saat proses kelahiran bayi mereka. Jawaban Wulan hanyalah ingin melahirkan dan merasakan hal yang sama dengan seorang ibu pada umumnya.
Memiliki seorang anak adalah kebahagiaan bagi pasangan menikah mana pun. Dengan kehadiran seorang anak, sebuah keluarga akan sangat bahagia. Ia pun sangat bahagia karena memiliki bayi hasil buah cintanya. Tapi, Wulan begitu kesakitan.
Hati Toni bertanya-tanya. Jika saat mereka kembali menikah, dan Wulan belum juga hamil, apakah ia akan meninggalkan wanita itu? Apa rasa cintanya pada Wulan akan berkurang? Toni menjawab tegas dalam hatinya. Cintanya pada Wulan tanpa syarat. Ia mencintai istrinya dengan atau tanpa seorang bayi.
"Pak, bisa bantu pegang tangan ibunya? Digenggam aja." Suara perawat ruang bersalin mengembalikan pikiran Toni pada suasana ruang bersalin.
Toni segera menangkap tangan Wulan yang sibuk mencengkeram tepi ranjang berpindah-pindah.
"Lan, makasi, ya. Makasi karena mau hamil anakku," ucap Toni.
"Anak kita, Mas--anak kita," sahut Wulan dengan wajah seputih kertas.
__ADS_1
"Makasi," bisik Toni di telinga istrinya.
"Ibunya jangan nangis, ya." Seorang bidan kemudian masuk mendekat dan memeriksa alat pendeteksi detak jantung bayi.
Kontraksi hampir tiga jam. Waktu terasa merangkak saking lamanya. Toni berdiri, duduk, dan berdiri lagi. Kelahiran normal yang diimpikan istrinya ternyata memakan waktu yang lama.
Bidan yang baru saja mengecek pembukaan Wulan, melepas sarung tangannya dan pergi menuju pesawat telepon. "Sudah buka delapan, Dok," ucapnya di pesawat telepon.
Lagi-lagi Toni terdiam memperhatikan semua pergerakan yang terjadi di ruangan bersalin itu. Wulan membenamkan kuku di lengannya, meremaas tangan dalam genggamannya, dan mencengkeram bagian belakang lehernya begitu kuat. Toni hanya meringis tanpa suara.
Dan tepat pukul 19.30 malam, tangisan seorang bayi memenuhi ruangan itu.
"Mana? Mana bayinya? Sehat, Dok? Ada yang kurang? Lengkap?" Wulan setengah bangkit menoleh ke bagian bawah tubuhnya. Suaranya terengah-engah menanyakan keadaan bayi yang baru saja ia lahirkan ke dunia.
"Sabar, Sayang …. Sebentar. Lagi dibersihkan," kata Toni, melongok ke bagian baby warmer tempat bayi mereka menggeliat dan menangis.
"Mas … kita punya anak," isak Wulan.
"Iya, kita punya anak." Toni berdiri tegak menantikan makhluk kecil yang sudah dibungkus selimut berwarna biru.
"Pak Toni, Bu Wulan, selamat atas kelahiran bayi laki-laki tampannya. Bayinya sehat, dan lengkap." Dokter Azizah menoleh dan tersenyum pada Wulan.
"Makasih, Dok." Toni tak sempat memandang wajah dokter wanita yang menyodorkan bayi laki-laki mereka. Ia langsung mendekap bayi itu ke dalam pelukannya.
"Sini, Mas. Aku duluan yang liat," kata Wulan mengulurkan tangannya. "Mas, beratnya berapa? Panjangnya, Mas?" tanya Wulan sambil mencoba membenarkan letak bayi dalam pelukannya.
"Dok, beratnya--"
"Lahir dengan berat 3800 gram, panjang 53 senti," sahut bidan dari sisi kanan Wulan. Ternyata ia menyimak kerepotan Wulan soal informasi bayi laki-lakinya.
"53 senti. Bakal tinggi kayak Papi, ya?" tanya Wulan memandang wajah bayinya. "Ganteng, Mas. Anakku ganteng," bisik Wulan, mengelus pipi bayinya dengan jari telunjuk.
"Namanya siapa? Terserah kamu. Aku ikut aja. Yang penting kamu seneng," kata Toni.
Wulan tersenyum memandang bayinya. "Namanya Tirta," bisik Wulan. "Tirta William Anderson."
To Be Continued
__ADS_1