
Apa yang membuat Musdalifah jatuh cinta pada seorang Santoso? Jika boleh jujur, Musdalifah pasti akan mengatakan kalau ia sebenarnya belum merasakan cinta seperti sepasang kekasih.
Musdalifah belum pernah merasakan cinta sejak terakhir kali patah hati ditinggal mati kekasihnya. Seorang pria yang mendekatinya selama tiga tahun, namun baru berpacaran dengannya selama enam bulan.
Pria itu adalah temannya semasa duduk di bangku kuliah. Enam bulan menjalin hubungan dan jatuh cinta dengan sebenarnya kepada pria itu, namun Musdalifah mengetahui kenyataan bahwa kekasihnya menderita penyakit leukimia.
Dua bulan terakhir ia habiskan waktunya menemani sang kekasih untuk menjalani pengobatan. Transfusi demi transfusi, hingga suatu sore, pria yang terbaring di ranjang rumah sakit memanggilnya mendekat.
Musdalifah duduk di tepi ranjang dengan wajah canggung. Ia menyadari sesuatu yang aneh soal kekasihnya. Sejak kemarin, pria itu mengatakan bahwa dia telah lama jatuh cinta dengannya.
“Aku udah lama suka sama kamu. Tapi, kamu cuek banget. Sampai-sampai semua surat-surat kecil yang aku titipkan, dikembalikan.” Pria itu tertawa parau.
Musdalifah tak menyahuti apa-apa. Tangannya hanya menggenggam erat tangan kekasihnya yang selalu dingin seperti tak dialiri darah.
“Untungnya, kamu akhirnya nerima aku. Aku sayang kamu, Fa .... Janji, ya ... kamu bakal jadi sekretaris hebat kayak cita-cita kamu. Kamu wanita pekerja keras, Fa. Aku bangga dan bahagia bisa jadi pacar kamu. Andai aku punya waktu yang lebih panjang, aku pasti lamar kamu.” Pria itu mencoba mengeratkan genggaman tangannya. Tapi, tangannya tak sampai mengeluarkan seperempat tenaga saat kondisinya sehat.
“Kamu bisa lamar aku sekarang,” pinta Musdalifah. “Kita bisa menikah. Kenapa nggak?” tanya Musdalifah waktu itu.
“Enggak, Fa—enggak. Aku nggak mau egois. Kamu pasti menemukan laki-laki sehat, yang baik, dan mencintai kamu. Yang bakal hidup lama, dan menjadi sahabat kamu sampai tua.” Laki-laki itu mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Musdalifah.
Bahu Musdalifah berguncang menumpahkan air matanya. Seprai putih tipis ranjang rumah sakit, sekejab saat basah kuyup. Dua bulan ia sudah menahan tangisnya. Mencoba kuat dan menepis kenyataan bahwa pria yang baru dicintainya itu bisa meninggal sewaktu-waktu.
Musdalifah menyesal. Penyesalan yang akan selalu diingatnya seumur hidup. Menyia-nyiakan perhatian seorang pria baik yang sedang mencoba merebut hatinya. Saat ia menyadari dan membalas cinta pria itu, ternyata waktunya tak cukup. Musdalifah merasa sudah membuang banyak waktu.
Pagi berikutnya, pria berkulit putih dengan bentuk wajah oval sempurna itu, tak terbangun lagi. Musdalifah kehilangan kekasihnya.
Sebenarnya masih terlalu muda untuk patah hati yang terlalu dalam. Terlalu dini untuk merasa trauma menjalin hubungan baru. Musdalifah bukannya ingin menepis para lelaki yang mencoba mendekatinya. Ia hanya ingin berlama-lama menikmati masa berduka yang ia sendiri tak tahu kapan bisa diakhiri.
Sampai Musdalifah bertahun-tahun bekerja di T&T Express dan bertemu dengan seorang direktur yang baik hati. Yang hubungan pernikahannya setali tiga uang dengan hubungan pacaran yang pernah ia jalani.
__ADS_1
Direkturnya yang lama berpacaran, namun hanya menikah selama enam bulan. Musdalifah sangat menyesalkan rumah tangga atasannya. Ia merasa sepasang suami-istri itu sama-sama saling cinta. Tapi, tak mungkin ia memberi wejangan soal bagaimana menjalin hubungan baik, sementara ia sendiri belum berumah tangga.
Musdalifah mencampur perannya sebagai sekertaris dan sahabat yang mengamati sahabatnya dari jauh. Atasannya ganteng. Semua orang pasti tahu bahwa pemilik T&T Express adalah seorang pria blasteran tampan berstatus duda cerai.
Teman-temannya pun sempat menyarankan kepada Musdalifah untuk mendekati atasannya. Siapa tahu jodoh, kata mereka. Tapi, perasaannya pada pemilik T&T Express yang bernama Toni itu, tak lebih dari sekedar bawahan dan atasan.
Jika wanita lain yang datang ke kantornya akan berlama-lama demi menoleh ke ruangan Toni. Musdalifah malah sudah sedikit bosan dengan wajah atasannya yang memang ia nilai terlalu ganteng dan terlalu tidak mungkin. Tidak mungkin melirik dirinya.
Musdalifah menyebutnya seperti itu bukan tanpa alasan. Atasannya itu masih kerap mencari informasi soal mantan istrinya. Siapa pacarnya, apa yang sedang dikerjakannya, apa usahanya. Walau sikap atasannya itu tidak terlalu kentara, tapi Musdalifah tahu bahwa pasangan itu pasti bisa kembali bersama kapan saja.
Walaupun, terkadang Musdalifah men-cap atasannya itu sebagai pria berengsek. Pria normal yang berengsek. Tak enak didengar, tapi begitulah pria normal. Atasannya tampan dan banyak uang. Mendapat wanita pengganti selalu mudah seperti berganti pakaian. Untungnya, wanita yang dipacari atasannya itu tak banyak. Sedangkan untuk wanita yang berkencan dadakan dengan pria itu, Musdalifah tak sempat menghitungnya.
Dari kesemuanya itu, atasannya adalah atasan terbaik yang pernah dikenalnya. Seorang anak laki-laki yang begitu berbakti pada ibunya. Dan sekarang, Musdalifah sedang berangkat ke sebuah daerah atas perintah atasan dan istrinya.
Seorang pria yang telah menikahinya hampir dua minggu yang lalu sedang menyetir dengan raut serius. Pria yang awalnya tak begitu ia lirik, namun mengejarnya mati-matian.
Namanya Santoso Thahir. Lulusan magister hukum sebuah universitas negeri bonafid di dalam negeri. Pria cerdas dan gigih yang doyan berbicara dengan padanan kata unik.
Pria sipit itu lebih mudah tertangkap mata karena selain fisiknya yang menonjol, juga karena bicaranya yang selalu kontroversi. Entah kenapa, pria itu selalu bisa menemukan kata-kata yang mengesalkan, sekaligus tidak bisa disalahkan.
Secara tak sadar, ia menjadi lebih mau tahu soal laki-laki itu. Sudah menikah, ternyata. Tapi, ia memang tak berharap apa pun. Mustahil sekali pikirnya. Itu adalah teman atasannya. Dan dari melihat gaya pria itu, bisa menjadi asistennya saja sudah luar biasa. Pria itu seperti berduri.
Apesnya, keisengan Musdalifah mengamati pria itu, tertangkap tangan. Pria licin itu bernama Dean. Seakan ingin menghukumnya karena terdeteksi melebihkan perhatian, tingkah Dean semakin menyebalkan. Pria itu terus menekannya dengan sikap otoriter yang tak dibuat-buat.
Hal positif yang bisa dipetik Musdalifah dari kejadian itu adalah, ia jadi lebih ingin mengetahui soal sosok perempuan yang sanggup mendampingi laki-laki itu.
Setelah mengorek info ke sana kemari dalam mode senyap, Musdalifah mendapat informasi yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Wanita yang terlihat begitu dipuja oleh pria itu ternyata dulu hanya seorang pembantu rumah tangga di kediaman keluarganya.
Musdalifah takjub. Sikap seorang manusia dewasa bisa berubah sesuai suasana hati, namun sifat yang sudah terbentuk tak akan mudah mengubahnya. Bahkan, nyaris mustahil.
__ADS_1
Dari sosok pria yang begitu ketus dan selalu dipenuhi dengan komplain-komplain, lantas berubah menjadi sosok begitu lembut di depan istrinya, itu pastilah bukan sesuatu yang mudah. Ada sosok wanita kalem, namun begitu berpengaruh bagi hidup pria egois itu.
Akhirnya, ia malah mengagumi sosok istri pria itu. Bukan pria itu lagi. Musdalifah memilih tak mau memandang pria itu berlama-lama. Jantungnya berdebar tak beraturan, kuduknya meremang dan tekanan darahnya pasti melonjak.
Wajah pria itu tetap selalu mengesalkan baginya.
“Rumahnya ini daerah sulit sinyal, Mus ....”
Perkataan Santoso kembali membawa Musdalifah ke suasana di dalam mobil.
“Iya, Mas. Pak Toni juga udah ngomong tadi. Mas Santoso, udah laper?” tanya Musdalifah melirik jam di layar LCD mobil yang masih berbalut plastik tipis.
“Nanti aja, kita ajak Asih sekalian makan. Itu kalo dia mau langsung ikut kita,” ujar Santoso. “Aku ikut seneng buat Asih. Mendengar cerita kamu, Asih memang cocok dikuliahkan lagi. Dia masih terlalu muda dan pilihan-pilihan hidupnya masih banyak.”
Musdalifah mengangguk menyetujui perkataan suaminya. “Pak Toni dan Bu Wulan baik, ya, Mas. Mereka masih inget pesan Bu Anderson. Padahal, Bu Anderson lagi nggak inget sama Asih.” Musdalifah melirik tangan suaminya yang sedang berada di atas tongkat persneling.
“Iya, mereka orang baik. Pak Dean juga baik. Atasan kita, baik semua, Mus.” Santoso menoleh sekilas ke arah istrinya.
Musdalifah mengatupkan mulutnya dan mengangguk kecil. Perlahan tangannya terangkat dan ia letakkan di atas tangan Santoso.
Sedikit terkejut, Santoso menoleh ke arah istrinya. Musdalifah tak pernah lebih dulu menyentuhnya.
“Mas Santoso juga baik,” ucap Musdalifah. Ia harus mengatakan hal itu lebih awal. Ia tak mau kehilangan waktu untuk mencintai orang-orang yang mencintainya.
Hidup ini terlalu singkat untuk menyia-nyiakan hal yang didapatnya dengan gratis. Sesuatu yang jika sedikit saja dirasakannya lebih peka, pasti bisa dengan mudah disyukurinya. Perasaan dicintai tanpa pamrih apa pun oleh seseorang.
Santoso tersenyum, membalik telapak tangannya dan merentangkannya untuk Musdalifah. Tangan mungil Musdalifah menaut ke atas tangan suaminya. Mereka lalu bergenggaman erat.
Mungkin itulah sebabnya istilah suami istri lebih sering dikatakan sebagai teman hidup. Seseorang yang pada akhirnya akan menjadi sosok teman sepanjang hidup.
__ADS_1
To Be Continued