
Ryan duduk di sofa tengah menyimak pembicaraan yang ia nilai tak berguna sama sekali. Dean memintanya meninggalkan pekerjaan hanya untuk menyaksikan dua orang laki-laki mengunggulkan pegawainya masing-masing.
Tak mengerti acara apa itu. Katanya tadi itu adalah diskusi membicarakan kasus Toni. Tapi sejak tadi, Ryan hanya mendengar Santoso mengeluarkan gombalan garing dengan wajah datarnya.
Ryan adalah sekretaris paling lama yang pernah bekerja bersama Dean. Bisa dikatakan, ia melihat sebagian besar sejarah perjalanan Dean saat mengawali Danawira’s Law Firm.
Kembali ke masa enam tahun yang lalu. Saat itu Ryan seperti Santoso. Baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana hukum-nya. Bedanya, enam tahun lalu Ryan menyelesaikan magister hukumnya di usia 24 tahun.
Untuk melamar pekerjaan di kantor di Danawira’s, Ryan mendapat informasi dari salah seorang temannya yang bekerja di gedung yang sama.
Teman Ryan saat itu mengatakan kalau pemilik Danawira’s Law Firm baru saja memecat sekretaris untuk kelima kalinya dalam satu setengah tahun sejak didirikan.
Ryan sempat gentar saat mendengar hal itu. Namun, kebutuhannya akan pekerjaan lebih mendesak ketimbang rasa khawatirnya akan seorang atasan menyebalkan.
Pagi itu, Ryan memakai pakaian terbaiknya dan menyandang sebuah ransel di bahu. Meski itu dibilang pakaian terbaiknya, tampilan Ryan masih biasa sekali. Ia termasuk mantan mahasiswa perantauan yang miskin.
Kantor Danawira’s masih lengang. Pegawainya saat itu hanya ada delapan orang. Satu orang perempuan berusia sekitar akhir 50-an. Dan tujuh orang lainnya adalah pria-pria muda.
Ryan menghampiri meja yang paling dekat dengan tempat masuknya.
“Mbak, saya mau nganter lamaran ke mana, ya?” tanya Ryan. Tak ada seorang pun yang peduli padanya saat itu.
Wanita tua itu mendongak menatapnya. “Oh, kamu ... langsung aja masuk ke dalem. Bilang kamu sekretaris baru,” ucap wanita tua itu, kembali menunduk.
Ryan sedikit bingung. Ia merasa belum ada mengantarkan lamaran. Dan ia tak pernah melamar menjadi seorang sekretaris. Meski begitu, ia tetap berjalan menuju ruangan yang tadi ditunjukkan padanya. Ia baru mengetuk pintu sekali, dan jawaban langsung terdengar dari dalam.
“Kamu sekretaris baru?” tanya pria bermata sipit yang memandangnya dengan raut datar.
“Saya baru mau ngelamar kerja hari ini, Pak. Ini lamarannya ....” Ryan mengangkat amplop cokelat yang sejak tadi tergenggam di tangan kirinya.
“Dasar pegawai jaman sekarang! Disuruh dateng jangan terlambat, tetep terlambat. Apa enggak tau sepuluh menit itu artinya besar." Pria bermata sipit itu mengomel, lalu menoleh ke arah Ryan. "Kamu sini!” perintah pria bermata sipit itu.
Ryan maju mendekati meja dengan lamaran di tangannya. Ia buru-buru menyodorkan lamaran itu dengan kedua tangan terulur.
“Duduk,” ucap pria di depannya. “Nama?”
“Ryan,” jawabnya singkat.
“Baru lulus magister hukum ... dan sekarang pengangguran. IPK kamu lumayan. Panggil saya, Pak Dean.” Dean meletakkan lembaran isi amplop cokelat milik Ryan di atas mejanya.
“Baik, Pak Dean.” Ryan mengangguk. Ia duduk memangku ransel usang yang dipakainya sejak masa kuliah.
__ADS_1
“Oke, Ryan .... Selamat datang di Danawira’s Law Firm. Mulai hari ini, kamu jadi sekretaris saya. Itu pekerjaan kami, dan kamu bisa mulai kerja sekarang. Cepat. Saya harus berlomba dengan waktu kalo mau kantor ini tetap berdiri.” Dean menunjuk seperangkat sofa yang mejanya dipenuhi tumpukan berkas.
“Saya? Langsung kerja, Pak? Sekretaris?” Ryan ingin memastikan soal apa yang baru saja didengarnya.
“Iya, kamu sekretaris. Kurang jelas? Atau kamu menolak? Pintu di sebelah sana,” ujar Dean. Matanya kembali menatap layar komputer build in yang menyala di depannya.
“Mau, Pak. Bisa, baik. Saya mulai kerja. Dari mana—dari tumpukan itu?” tanya Ryan.
“Itu semua adalah surat tuntutan nasabah asuransi yang polisnya tidak bisa dibayar. Danawira’s Law Firm mewakili para nasabah itu untuk melakukan tuntutan. Ini kasus besar. Saya nggak mau gagal. Kamu harus dampingi saya. Kalo kamu keberatan dan nggak sanggup, mending bilang dari sekarang.” Dean kembali menatap Ryan.
“Sanggup, Pak. Saya mau,” sahut Ryan.
“Berapa umur kamu? Saya nggak baca di CV.” Dean mengibaskan tangannya ke atas meja.
“24 tahun, Pak.”
“Oke, Ryan. Silakan bekerja. Kalo kamu selesai magister, kamu pasti tau jenis tuntutan apa yang sedang kita layangkan.” Dean kembali mengibaskan tangannya. Mengusir Ryan untuk pergi menuju ke tumpukan berkas.
Dean berdiri dari kursinya dan ikut berjalan menuju tumpukan berkas.
“Kamu baru terjun ke dunia pekerjaan di bidang hukum yang bener-bener?” tanya Dean.
“Iya, Pak. Selesai S1 saya langsung nyoba S2 dan keterima kuliah murah. Sayang kalo saya nggak langsung ambil. Jadi selama ini saya cuma kerja serabutan aja untuk kebutuhan sehari-hari.”
“Ada, Pak. Dua-duanya masih ada di kampung. Pekalongan. Saya anak sulung, adik saya ada tiga lagi.” Ryan meletakkan ranselnya dan mulai memilah berkas. Semua yang ada di sana adalah catatan pembayaran polis dari tiap nasabah yang melakukan tuntutan.
“Kasus gagal bayar polis asuransi jiwa, banyak nasabah yang putus asa sampai harus menempuh jalur hukum untuk mendapatkan haknya. Meski, perusahaan yang mengelola dana nasabah telah dinyatakan pailit. Kalo kamu liat, seorang nasabah jumlahnya menurut saya, tidak besar. Secara pribadi, itu tidak besar. Oh, ya, orang tua saya pengusaha tambang di Kalimantan. Namanya Hartono. Pemilik Hartono Coil yang berada di bawah naungan Grup Cahaya Mas. Saya punya 25% saham di sana. Intinya, saya tidak miskin. Oke, kembali lagi ke soal nasabah. Dana nasabah yang tidak sanggup dibayar perusahaan asuransi itu tidak besar. Seorangnya hanya sekitar ... yah, 35 juta sampai 100 juta. Kalo cuma seorang, saya enggak akan mau ambil kasus ini. Tapi lain hal kalau yang menuntut ratusan orang. Saya bukan cuma menyelamatkan dana nasabah yang ditelan perusahaan asuransi, tapi saya juga akan mendapat nama yang cemerlang di bidang saya.”
“Kenapa harus buka kantor sendiri kalo orang tua Bapak punya perusahaan besar? Bapak bisa jadi tim legal di perusahaan orang tua. Enggak perlu repot-repot dengan jumlah yang—bapak bilang nggak besar ini.”
“Mmm—mental kamu itu mental minta-minta ya ternyata. Kalo mau kerja di perusahaan orang tua saya, saya nggak perlu kuliah ngambil hukum. Kenapa saya nggak kuliah manajemen bisnis? Saya bisa duduk di jajaran direksi. Atau saya bisa jadi CEO yang pasti jadi impian wanita-wanita di luar sana. Dengan tampilan saya yang nyaris tanpa cela ini, hal itu mudah. Apalagi saya lulusan University of California Berkeley. Perusahaan besar pun bakal menerima saya dengan senang hati. Tapi ini bukan soal uang Ryan ....”
Pada saat itu, di hari pertamanya bekerja, Ryan sudah bisa mengambil kesimpulan sedikit soal tingkat rasa percaya diri atasannya itu.
Pemilik firma hukum itu memang tampan. Wajahnya terlihat memiliki darah Tionghoa. Namun namanya yang begitu ‘Jawa’ ternyata didapat dari ayahnya.
TOK! TOK! TOK!
Terdengar ketukan di pintu dan mereka bersamaan menoleh.
“Masuk,” pinta Dean.
__ADS_1
Seorang wanita cantik masuk ke ruangan. Memakai satu set jas berwarna merah jambu lembut dengan dalaman berwarna putih. Wanita itu memegang sebuah tas sandang berwarna putih dan berjalan mendekati mereka tempat mereka dengan anggun. Sepasang sepatu tinggi putih menambah kesan elegan wanita itu.
“Saya sekretaris baru, Pak. Inge, yang kemarin sudah melewati tahap akhir seleksi.” Wanita yang bernama Inge itu tersenyum. Ryan terkesima akan kecantikan wanita yang sudah lolos seleksi menjadi sekretaris.
“Kamu? Siapa tadi?” tanya Dean lagi.
“Inge, Pak ... ya ampun, kemarin baru dari sini. Bapak sendiri yang bilang saya bisa masuk kerja mulai hari ini.” Inge berdiri memegang tasnya.
Dean menatap wanita itu dari atas ke bawah. Lalu, “Kamu tau ini jam berapa? Memangnya kamu kerja sama siapa? Orang tua kamu? Kamu nggak jadi saya terima kerja di sini. Pulang aja sana. Saya udah ketemu sekretaris baru,” ujar Dean, mengibaskan tangannya dengan gesture mengusir.
Ryan terperangah. Ia merasa bersalah pada wanita cantik yang sedang berdiri di hadapan mereka. Secara tak langsung, ia telah merebut posisi Inge saat itu.
“Jadi, Pak?” tanya Inge, rautnya tak percaya.
“Jadi apa?” tanya Dean. “Jadi kamu pulang sekarang. Enggak ada tempat di dunia pekerjaan bagi orang-orang yang sepele sama waktu. Ya, udah, sana keluar. Saya sibuk.” Dean mengambil satu berkas dari atas meja dan membacanya.
Entah apa yang dirasakan wanita itu, Ryan pun tak tahu. Wanita cantik yang bernama Inge tadi langsung berbalik menuju pintu. Ryan melirik atasannya yang meletakkan kedua tangannya di telinga.
BRAKKK!!
Ryan tersentak. Inge baru keluar dan membanting pintu sekuat tenaganya.
“Kaget nggak? Makanya ... lain kali kamu harus terbiasa dengan hal itu kalo kerja lama dengan saya. Bakal banyak perempuan yang keluar dari ruangan ini dengan membanting pintu kayak tadi.” Dean terkekeh-kekeh.
“Tapi cantik,” ucap Ryan saat itu, tak sengaja. Ia menyayangkan wanita secantik itu tak jadi bekerja di sana. Seandainya Dean lebih bermurah hati, Inge tetap bisa menjadi sekretaris dan ia rela bekerja di bagian lain.
“Cantik aja nggak cukup buat kerja bareng saya. Lagian, yang lebih cantik dari itu banyak. Nanti kamu liat sendiri,” kata Dean.
“Liat di mana, Pak?” tanya Ryan dengan polosnya.
Dean menoleh pada jam di pergelangan tangannya. “Nanti malam, jam 20.00 saya ajak kamu ke suatu tempat. Ini masih berkaitan dengan kerjaan. Mau, kamu?”
“Mau, Pak!” jawab Ryan.
“Tapi, nanti kamu ganti pakaian, ya ... saya malu kalo sekretaris saya enggak keren. Nanti ketimpangan di antara kita terlalu terlihat. Saya cuma kasian sama kamu kalo ketutupan dengan aura saya.”
“Baik, Pak! Sekeren apapun saya, pasti nggak bisa menandingi kerennya Pak Dean,” ucap Ryan.
“Itu udah pasti,” sahut Dean.
Ryan tersenyum menang di dalam hatinya. Ternyata menjadi penjilat itu tak sulit, pikirnya.
__ADS_1
To Be Continued
like-nya jangan kelewatan ya.... hihihihi