
Toni dan Wulan saling pandang. Walau memang tak mau sampai berbuat macam-macam, tapi Wulan tak menolak jika dipeluk dan diciumi oleh Toni. Langit sudah benar-benar gelap. Dan di cuaca sesejuk itu, semua orang pasti lebih memilih meringkuk dalam kungkungan orang tercinta.
"Aku pake baju dulu," ujar Toni, bangkit dari tepi ranjang dan berjalan ke meja rias.
Kali ini Wulan sudah bangkit dari tengkurapnya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang seolah tak tahu harus melakukan apa selain memandangi Toni yang sedang memakai kemejanya. Matanya kembali menatap bokong dan paha Toni.
Seakan tahu apa yang sedang dipandanginya, Toni berbalik. Wulan tersentak dan mengalihkan pandangannya.
"Katanya mau mandi ... ayo, mandi sekarang. Kita turun sama-sama. Aku nggak ninggalin kamu sendirian," kata Toni.
Wulan mengangguk-angguk salah tingkah. Ia terpaksa mengalihkan pandangannya dari Toni yang sedang mengancingkan kemeja. Paha pria itu masih terbuka. Wulan lalu membuka tas pakaian dan mengambil pakaian gantinya.
"Enggak mau ganti di sini?" tanya Toni. "Aku, kan, juga mau liat."
Wulan melengos masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Toni yang melemparkan tatapan gemas dengan sorot mata berbinar.
Pukul tujuh lewat, Toni menggandeng Wulan berjalan mendatangi satu set sofa lobi resor, tempat di mana tiga pasang suami istri berada.
"Ngomongnya baru dateng besok," tukas Toni saat bertemu pandang dengan Langit.
"Keganggu, ya ...." Langit terkekeh-kekeh. Ia bangkit dari sofa dan pindah ke sebelah Rio.
Toni menggandeng Wulan menuju ruang kosong yang disisakan Langit di sebelah Jingga. "Santoso gimana kabarnya, De?" tanya Toni, duduk di sebelah Wulan.
"Gegar otak ringan, tulang pergelangan kirinya sedikit retak. Karena dia menangkis kayu panjang itu. Bayangin, Ton. Kalo pergelangan tangan lo yang retak. Lo nggak akan bisa bertumpu," ucap Dean pelan, tersenyum penuh arti. Ia menoleh pada Winarsih yang duduk di sebelah kirinya dengan sedikit menyerong ke arah Jennifer.
"Sinting," gumam Toni, melirik Wulan yang sedang asyik berbicara dengan Jingga.
Langit dan Rio saling pandang. Mau menyambut ucapan Dean. Tapi, menyadari kalau Jenni dan Winarsih berbicara dengan suara yang lembut sekali.
Secara umum, mereka semua sama. Tak akan sembarangan melontarkan candaan kasar dan mesum ketika berada di dekat pasangan mereka. Yang berani melakukan itu sesekali, hanya Dean. Itu pun seringnya ia mendapat tepukan dari Winarsih.
"Santoso nggak dateng, dong. Sayang banget kalo sampe nggak dateng," ujar Toni.
"Si Mus ngomong apa ke lo? Dateng nggak dianya?" tanya Dean.
__ADS_1
"Katanya, mudah-mudahan bisa sampai di sini pada waktu yang tepat. Enggak ngerti gue maksudnya apa," jawab Toni.
Dean tertawa. "Bahkan jawaban Si Mus juga udah ambigu sekarang," ucap Dean.
"Ayo, kita ke restoran. Bawaannya ditinggal di resepsionis aja dulu. Entar bawa ke kamar sekalian istirahat," kata Toni.
"Lo, kok, buru-buru amat nyuruh kita abis makan langsung istirahat?" tanya Langit, menjajari langkah Toni di depannya.
"Baru juga nyampe. Udah disuruh tidur," gumam Rio. "Sejak gue terlempar semeter karena tendangan preman kemarin, gue jadi insecure, Ton. Kayaknya gue kurang olahraga." Rio berbicara dengan suara rendah. Para wanita berada beberapa meter di belakang mereka.
"Bokong lo, kegedean. Yang ada di mana-mana bokong bini digedein. Penampakan dari belakang, lebih indah. Bukan bokong lo," sahut Dean, tertawa.
"Tapi nggak gede, kok. Normal, sih, ini." Toni mundur selangkah, memegangi bahu Rio dari belakang. Ia lalu menunduk menatap bokong Rio dengan raut serius. Dean dan Langit melakukan hal yang serupa.
Hal yang mereka lakukan itu, mengalihkan perhatian empat wanita di belakang. Jennifer mengernyit.
"Ada apa dengan bokong Rio?" gumam Jennifer. Tiga wanita lainnya tertawa kecil. Tak ada ide yang terlintas di kepala mereka semua soal topik pembicaraan yang melibatkan para lelaki itu harus mengamati bokong temannya.
Keluarga Wulan sudah tiba lebih dulu di restoran dan mulai makan malam lebih dulu. Mereka semua sepertinya memang tidak mau mengganggu acara berduaan Wulan dan Toni. Berbeda sekali dengan tiga laki-laki yang berpura-pura tidak peka.
"Malem ini kita ngumpul di coffee bar ya ...." Dean mengedarkan pandangan pada tiga laki-laki di depannya. Langit dan Rio mengangguk. Sedangkan Toni, mengangguk dengan lambat nyaris tak terlihat.
"Boleh, ya, Bu Wulan ...." Rio menyela pembicaraan Wulan dan ketiga wanita yang sepertinya juga tengah berlangsung seru.
"Oh, boleh-boleh. Dibawa aja," sahut Wulan, menghentikan pembicaraannya dan membalas gurauan Rio.
"Entar sampein ke Diky, nggak boleh panggil Genk Duda Akut lagi. Enggak ada yang duda," kata Rio.
"Iya, bener. Enggak boleh. Ih, amit-amit," tambah Dean.
Usai makan malam mereka berpindah dari restoran ke coffee bar. Dean baru saja kembali dari mengantarkan Winarsih ke kamar. Wanita itu mengeluh pinggangnya pegal dan ingin berbaring.
"Jadi ... namanya diganti apa?" tanya Toni. "Bapak-bapak ganteng?" Toni melontarkan ide yang membuat dirinya sendiri tertawa.
"Jangan, ah. Enggak asik," jawab Dean. "P3K aja," ucap Dean kemudian.
__ADS_1
"Apa emangnya?" Langit menyandarkan punggungnya di sofa coffee bar yang empuk.
"Perkumpulan Pria Perkasa dan Kaya." Dean lalu tertawa terkekeh-kekeh.
"Sok perkasa," dengus Langit pada Dean.
"Dirja, Dita, Widi. Itu satu lagi di dalam perut, sedang diperam bini gue. Kurang perkasa dari sisi yang mana?" tanya Dean sarkas.
"Sok kaya kalo gitu," balas Toni mencibir Dean.
"Harta gue memang bisa habis buat tujuh turunan, kalo turunan-turunan gue nggak sukses. Kalo sukses, mereka juga bisa kaya. Lo pesimis banget, sih. Optimis lo! Besok udah bisa kawin seharian." Dean tertawa terbahak-bahak.
"Dia cemberut karena kita ganggu. Pasti aslinya mau dua-duaan sama Wulan," tambah Langit.
"Udah nyiapin gaya apa aja, Ton? Inget kualitas, Ton! Jangan kuantitas," cetus Rio.
"Jangan lupa konsumsi jamu nyonya nyengir. Jangan cepet keluar! Jangan sampe bini lo masih di bumi, lo udah ngopi di matahari. Lady is first, Dude! Jangan sampe lo yang duluan." Dean memukulkan nampan bill ke lengan Toni.
"Ckckck, baik--baik. Akan saya camkan nasehat dari para tetua. Berasa masih perjaka gue," balas Toni.
"Yah, kali-kali aja lo lupa. Mau eksekusi buru-buru." Langit terkikik.
"Kayaknya pernikahan kedua under pressure banget, deh. Gue merasa tertekan dengan target mengejar pencapaian lo betiga." Toni mengusap dadanya.
"Santai, Bro ...." Rio memijat pundak Toni bak pelatih tinju yang sedang menyemangati."
"Oke. Mari angkat gelas masing-masing." Dean mengangkat gelas tinggi ramping berisi white wine. "Untuk Toni yang bakal menikah besok. Semoga langgeng, banyak anak, selalu kaya dan bahagia."
Empat pria mendentingkan tepi gelas mereka masing-masing dan meneguk isinya. Besok pagi, mereka bertiga kembali akan menyaksikan Toni melepas masa kesendiriannya.
Kamar Toni yang sudah didekor oleh pihak hotel, membuat ia sayang merusak cantiknya kamar itu. Malam seusai minum-minum bersama sahabatnya, Toni tertidur di sebelah Wulan. Saking ngantuknya, ia tak sadar menarik dan memeluk Wulan bagai sebuah guling. Wulan terkejut karena dipeluk tiba-tiba, mencampakkan tangan Toni dengan mata terpejam.
Seperti kebiasaan manusia pada umumnya. Hari yang ditunggu-tunggu membuat waktu tidur lebih singkat. Wulan yang merasa kurang tidur, malah terbangun lebih awal. Saat berbalik mengubah posisi tidurnya, tak sengaja ia menepuk wajah Toni yang tertidur di sebelahnya. Pria itu gelagapan dan membuka matanya.
Sesaat berpandangan dan menyusun ingatan mereka, akhirnya keduanya membulatkan mata.
__ADS_1
"Ayo, siap-siap ...." Toni mengusap pipi calon istrinya.
To Be Continued