
Santoso mencermati perkataan Ryan beberapa saat. Yang dikatakan Ryan benar. Sejak tiba tadi, mereka belum ada mengucapkan kata maaf. Ia merasa bodoh. Selama ini Dean telah mengajarkannya banyak ilmu bernegosiasi. Melunakkan hati lawan bicara dengan banyak metode. Salah satunya, meminta maaf sebagai kata pembuka. Menyetujui perkataan lawan bicara di awal untuk memulai argumen halus.
Semua sudah berhasil dipraktekkannya. Tapi, kenapa saat berhadapan dengan atasannya itu, semuanya menjadi buyar?
“Kami berdua minta maaf. Terutama saya, Santoso Thahir, sebagai pegawai tetap Danawira’s Law Firm. Harusnya saya menganggap kalau perusahaan di mana saya bekerja adalah keluarga kedua saya. Tempat di mana saya mencari rejeki, sekaligus menimba ilmu. Saya minta maaf karena kurang pertimbangan. Alasan sederhana kami cuma nggak mau merepotkan orang lain. Ditambah kondisi bapak mertua saya masih dalam pemulihan. Bukan begitu, Mus?” tanya Santoso pada istrinya.
“Iya—iya, begitu aja. Saya nggak mau ngerepotin Pak Toni yang ibunya juga masih sakit. Saya tau Pak Toni belakangan harus membagi perhatian ke ibu dan istrinya yang sedang hamil. Kalau saya minta izin, Pak Toni pasti melakukan sesuatu untuk membantu saya. Saya nggak mau merepotkan. Karena ... selama ini Pak Toni udah sangat banyak membantu saya.” Musdalifah yang tadi berbicara pada Dean, kini memiringkan tubuhnya untuk menghadap Toni.
“Makasih bantuannya selama ini, Pak Toni.” Musdalifah mengangguk pada Toni yang sedikit terperangah menatap sekretarisnya.
“Kok, jadi ucapan terima kasih? Kayak penganugerahan award aja. Tadi, kan, sidang ....” Langit protes karena merasa keseruannya berakhir.
“Eh? Iya—iya. Sama-sama, Mus. Aku juga Makasi karena selama ini udah banyak bantu. Mami, Wulan, dan terutama aku, banyak berutang waktu dan tenaga ke kamu,” ujar Toni.
“Utang waktu dan tenaga dari mana? Kan, digaji ...,” gumam Dean tanpa seorang pun yang mendengar, kecuali Ryan. Sekretarisnya itu tak sengaja mendelik menatap atasannya. Ryan khawatir ocehan Dean merusak suasana haru.
“Cuma nggak mau merepotkan,” tambah Musdalifah.
“Tadi katanya malu ... nggak jelas,” gumam Dean lagi.
Ryan yang tadi sudah memutar tubuhnya ke arah Toni, kembali berjengit dan menoleh atasannya. Suasana sudah mencair, dan ia cemas Dean kembali merusaknya.
“Eh, jadi gimana? Nikahnya di tempat Mbak Mus, ya?” tanya Langit. “Cerita dong—cerita dong,” sambung Langit antusias. Langit sudah lupa fungsinya sebagai hakim tadi. Ia sudah menikmati kesenangannya yang baru.
“Iya, Mas. Di tempatnya Mus. Bapaknya masih di rumah sakit. Kemarin sakitnya lumayan berat kayak maminya Pak Toni. Sekarang juga masih di rumah sakit. Jadi, nggak ada acara apa-apa. Istri saya anak sulung. Dalam keluarganya belum ada yang menikah. Jadi, saya memutuskan untuk melamar Musdalifah. Semuanya serba buru-buru,” ujar Santoso.
“Selamat, ya, San.” Rio mengulurkan tangannya untuk menjabat Santoso. “Sebagai hakim, gue udah memutuskan kalian berdua nggak salah. Cinta nggak pernah salah. Kalian harus menjaga hati satu sama lain. Saling percaya dan mendukung,” tukas Rio, memandang Dean yang melipat tangan di depan dada, masih dengan raut cemberut.
Rio yang memulai rumah tangga lebih dulu dibanding sahabat-sahabatnya, mendukung penuh atas keputusan Santoso untuk mengakhiri masa lajangnya. Baginya tak masalah di mana pasangan itu menikah. Yang penting sudah menikah.
“Jadi, orang tua kamu keadaannya gimana, Mus?” tanya Toni. Ia lebih terfokus pada keadaan orang tua Musdalifah ketimbang berita pernikahan itu sendiri.
“Sekarang masih di rumah sakit, Pak. Belum terlalu stabil, tapi setidaknya orang tua saya ... tau kalau saya sudah menikah dan bersuami.” Musdalifah mengatupkan mulut. Suaranya pelan sekali hingga nyaris menenggelamkan ujung kalimatnya.
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Dean melunak. Ia menurunkan alis hitam yang sejak tadi terangkat tinggi menatap pegawainya.
“San! Datengin Pak De,” pinta Ryan, mencolek lengan Santoso yang duduk menyerong dan berbicara dengan tiga pria lainnya.
Santoso mengerling Musdalifah sekilas, lalu berdiri dan melangkah berhati-hati melewati meja panjang.
Melihat Santoso beranjak dari tempat duduknya. Dean buru-buru mengambil tablet dan menggulir layarnya.
__ADS_1
“Pak,” panggil Santoso kemudian.
“Hmmm,” sahut Dean.
“Soal yang tadi—”
“Gue udah denger,” potong Dean.
“Jadi, dimaafin?” tanya Santoso.
“Masih kesel. Tapi ....” Dean membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan dua buah sensor kunci mobil yang masih terikat menjadi satu. Salah satu sisi sensor itu masih ditempeli stiker yang bertuliskan plat nomor kendaraan. “Nih, ambil. Entar kalo kelamaan di gue, kasian Pak Noto kerjaannya nambah buat manasin mobil itu tiap pagi.” Dean menyodorkan kunci mobil pada Santoso.
“Untuk saya? Mobil baru?” tanya Santoso, menatap Dean sedikit tak percaya. Tadinya ia sudah berpikir akan diomeli atasannya itu habis-habisan.
“Ya, iyalah. Mobil baru. Semenit lagi nggak lo ambil, gue tarik lagi.” Dean menatap kunci mobil di atas mejanya.
Secepat kilat Santoso meraup kunci di atas meja. “Makasi, Pak. Enggak mungkin nggak diambil. Mobil keluaran mana, nih?” Santoso membulatkan matanya melihat merek mobil yang diberikan Dean.
“Yang jelas harganya lebih mahal dibanding mobil yang pernah gue kasi ke mantan pacar gue dulu. Itu artinya level lo jauh lebih penting,” tukas Dean.
“Ungkapan itu lebih berharga buat saya. Amarah memang tak bisa menutupi hati yang mulia. Terima kasih, Pak.” Santoso menatap kunci mobil di telapak tangannya.
Dean kembali mengalihkan tatapannya pada tablet. “Oh, ya. Selamat!” kata Dean sedikit melirik Santoso.
Musdalifah bangkit dan berjalan mendekati meja Dean.
“Kado dari Pak Dean,” ujar Santoso, menunjukkan kunci mobil pada Musdalifah.
“Mobil baru? Ya, ampun. Makasih, Pak! Atasan kamu memang luar biasa, Mas. Aku nggak nyangka ternyata Pak Dean bisa semurah hati ini,” seru Musdalifah dengan mata berbinar. Ia merasa harus menghibur atasan suaminya yang ternyata sangat moody itu. Apa lagi yang bisa meluluhkan hati Dean selain pujian, pikirnya.
“It’s okay. Cuma mobil. Murah,” sahut Dean dengan raut sombongnya.
Santoso dan Musdalifah saling pandang. Wajah Dean sudah kembali seperti biasa.
“Mus, aku mau ngomong sebentar,” seru Toni dari tempat duduknya.
Dean yang pura-pura sibuk dengan tabletnya, kini ikut penasaran dengan hal yang akan diberikan Toni pada sekretarisnya.
“Dipanggil Toni, tuh!” ucap Dean, menunjuk ke arah sofa dengan dagunya.
Pasangan pengantin baru itu berbalik dan kembali berjalan menuju sofa. Dean bangkit perlahan dan berdeham pelan. Ia berharap tak ada yang menyadari kalau langkahnya mendekati gerombolan teman-temannya yang sedang tenggelam dalam cerita pernikahan Santoso dan Musdalifah.
__ADS_1
“Duduk di sini,” tukas Ryan tiba-tiba. Ia bangkit dan memberi tempatnya pada Dean.
“Siapa yang mau duduk? Gue mau keluar,” ujar Dean.
“Gengsi banget,” gumam Ryan. “Yakin nggak mau?” Ryan menatap atasannya yang memasang wajah acuh tak acuh.
“Oke, kalo lo maksa.” Dean menarik kursi dan mendudukinya.
Ryan melengos menuju ke sebelah Santoso. Ia sudah tak heran dengan tingkah atasannya yang terkadang seperti ABG labil. Ia meminta Santoso bergeser dan duduk di sofa panjang. Ia pun tak sabar mau mendengar apa hadiah Toni untuk Musdalifah.
“Mus, langsung aja. Aku mau ngasi tau dua hal. Yang pertama, rumah KPR kamu bakal aku lunasin. Itu hadiah dari aku. Aku tau kamu mau jadi anak dan kakak yang peduli ke adik-adiknya. Rumah yang kamu cicil selama ini, sebagai rumah buat adik kamu yang kuliah di sini, kan? Agar orang tua kalian kalo berkunjung ada tempat tinggalnya?” tanya Toni.
Musdalifah mengangguk. “Iya, bener, Pak.
“Oke, bener kalo gitu. Yang kedua, aku mau ngasi ini.” Toni merogoh kantong celananya dan mengeluarkan dua buah kartu dan menyerahkannya pada Musdalifah.
“Itu kunci akses apartemen. Aku tau kamu selama ini masih ngekos, dan rumah Santoso jauh dari pusat kota. Aku kasi satu dari apartemenku. Bukan apartemen mewah dan besar. Tapi, untuk tinggal di pusat kota, itu lebih dari lumayan.” Toni mengulas senyuman pada sekretarisnya.
Dean mengangguk ke arah Toni, tapi mencibir ke arah Musdalifah. Hal itu hanya dilihat oleh Ryan.
“Pake rahasia-rahasia, padahal mau dikasi kado sama atasannya.” Dean bergumam tanpa ada yang menyadari, kecuali Ryan.
Ryan menyadari betapa Dean masih mendongkol soal pernikahan Santoso.
“Makasi, Pak Toni. Saya jadi terharu,” ucap Musdalifah menyusut sudut matanya.
“Enggak apa-apa, Mus. Itu juga saran Wulan. Dia titip pesan, katanya terima kasih karena sudah bersabar dan mau mendampingi suaminya selama ini di perusahaan.” Toni mengangguk-angguk pelan pada Musdalifah.
“Ini sudah lebih dari cukup. Saya nggak tau mau ngebales pake apa,” kata Musdalifah.
“Loyalitas dan meningkatkan kepercayaan terhadap atasan,” sambung Dean tanpa menoleh.
Langit menutup mulutnya. "Astaga, lo bener, De!" sambungnya kemudian terkekeh.
“Oh, iya. Aku jadi keinget sesuatu,” ujar Toni. “Aku mau minta tolong ke kamu, Mus.” Toni memajukan letak duduknya.
“Apa itu, Pak?” tanya Musdalifah.
“Aku mau minta tolong. Kamu cari Asih dan bawa dia ke rumah,” ujar Toni.
“Hah?!” Kecuali Santoso dan Toni, semua pria di ruangan itu terperangah menatap Toni.
__ADS_1
To Be Continued