
Musdalifah tengah mengeluarkan tas-tas souvenir untuk para tamu anak-anak. Kantong souvenir berisi mainan kecil dan jajanan itu dipesannya atas permintaan Toni sendiri. Seminggu terakhir sebelum acara itu, Toni menyisakan waktunya untuk mengobrol soal apa-apa saja yang perlu ia persiapkan untuk menghargai kehadiran keluarga sahabat-sahabatnya. Belakangan ini, atasannya itu merasa telah merepotkan banyak orang karena urusan pribadinya.
“Isinya apa aja, Mus?” tanya Toni, melongok isi satu bingkisan yang diambilnya dari tangan Musdalifah.
“Isinya semua menuruti saran Mas Rio,” jawab Musdalifah.
“Oke, bagus. Aku ambil satu, ya.” Toni mengangkat satu bingkisan yang akan disimpannya untuk Wulan. Wanita yang sangat menyukai desserts dan makanan manis. Ia bisa membayangkan wajah senang Wulan jika diberi bingkisan itu.
“Kok, cuma satu?” tanya Musdalifah. Ia mengangsurkan satu bingkisan lagi kepada Toni. “Makannya harus berdua. Biar lebih seru,” kata Musdalifah.
“Thanks, Mus.” Toni mengambil bingkisan satunya dari tangan Musdalifah.
Dirja, Kalla dan Zurra langsung mendekati Musdalifah. Bocah berusia nyaris sama itu langsung menyadari hal yang kerap mereka lihat saat salah seorang teman mereka berulang tahun di sekolah.
“Antri, ya … pelan-pelan,” kata Jingga, duduk di sofa dengan sebuah piring di tangannya.
“Mas minta tiga,” kata Dirja pada Musdalifah. Toni langsung menoleh dan membungkuk menatap Dirja.
“Tiga untuk siapa aja?” tanya Toni ingin mengetes jawaban bocah laki-laki itu.
“Untuk Mas, Dita, Widi.” Dirja mengatakan hal itu dengan raut sangat serius.
“Denger, Mus? Kira-kira caranya ngomong mirip siapa?” tanya Toni bercanda.
“Ngomong yang langsung to the point ini ya mirip siapa lagi,” sahut Musdalifah, menyerahkan tiga bingkisan pada Dirja. “Bisa bawanya?” tanya Musdalifah.
“Bisa, dong. Mas udah besar,” jawab Dirja, mengelurkan tangannya.
“Oh, baik. Sudah besar,” balas Musdalifah. Ia lalu meletakkan bingkisan itu di genggaman tangan Dirja. “Coba senyum,” pinta Musdalifah pada Dirja. Bocah laki-laki itu langsung merekahkan senyuman dengan matanya yang nyaris segaris.
“Ganteng, ya, Mus?” tanya Toni.
“Ganteng. Gemesin banget,” ucap Musdalifah.
“Makasih, Mus …,” sahut Dean yang tiba-tiba muncul. “Kamu dipanggil sama Pak Rio di ruang tamu. Mungkin dia butuh referensi restoran yang bagus untuk makan malam dengan istrinya,” kata Dean.
“Ini—”
__ADS_1
“Ini biar Toni dan Oma yang bagi-bagiin,” ujar Dean, mengambil beberapa bingkisan dari tangan Musdalifah dan menjejalkannya ke tangan Toni. “Lo aja yang beresin ini,” pinta Dean pada Toni.
Musdalifah langsung beranjak dari ruang makan tanpa banyak bertanya. Wanita itu langsung menuju ruang tamu seperti informasi Dean tadi.
“Rio, Langit ngapain, sih?” tanya Toni, memandang punggung Musdalifah yang menjauh.
Dean menoleh sejenak pada Mami Toni yang sedang makan disuapi oleh seorang perawat. “Eh, gue mau ngomong. Sinian dikit,” kata Dean, bergeser sedikit menjauhi Mami Toni.
“Apa?” Toni sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres dari cara Dean berbicara.
“Lo memang tau si Asih di sini? Sejak kapan dia di sini? Lo kok nggak ada ngomong?” tanya Dean.
“Hah?!” pekik Toni. “Gue nggak tau. Emang ada? Beneran? Di mana?” tanya Toni, membulatkan matanya.
“Ada, di teras samping. Jalan-jalan di taman udah kayak dinas tata kota.” Dean melirik Winarsih. Istrinya sedang menyuapi Widi dan Dita bergantian dari satu piring.
“Gue harus gimana, De? Gue yang tanya dia mau ngapain ke sini? Gue nggak ngerti Mami maunya apa. Tapi yang lebih nggak bisa gue ngerti itu orang yang tau nyokap gue sakit, tapi masih menjejalinya dengan ini -itu. Pusing gue,” keluh Toni.
“Gue beneran sebel ama perempuan itu. Padahal kalo dia nggak sinting, dia itu cukup manis gue rasa,” kata Dean.
“Harusnya,” sahut Dean. “Jadi? Lo ngasi otorisasi buat melakukan tindakan?”
“Bahasa, lo ....” Toni tergelak.
“Yah, lo tuan rumahnya. Lagian itu di bawah meja gue ada ngeliat bunga kayak di makam. Malu ama Winarsih yang dari desa kecil, tapi malah nanya itu untuk apa. Jangan sampe Wulan tau aja. Enggak bakal mau masuk ke sini dia entar,” kata Dean.
“Ya, udah, sana terserah.” Toni menunduk melihat tangan Kalla dan Zurra yang terulur padanya dengan wajah cemberut. “Eh, maaf—maaf, ini semua karena Om Dean berisik terus dari tadi. Awas jatuh, ya ....” Toni mengacak-acak rambut Kalla. Bocah itu langsung menjengukkan kepala ke dalam bingkisannya, tak lagi mendengarkan perkataan Toni.
“Win, aku ke ruang tamu sebentar ngobrol bareng Rio dan Langit, ya .... Kamu di sini bareng Jingga dan Jenni.” Dean berdiri di sebelah istrinya dan mengusap bahu wanita itu.
“Jen, titip istriku, ya. Kalian bertiga ngomongin nanti mau arisan apa dan berapa perorang. Yang menang dapet apa,” kata Dean pada Jennifer yang meringis.
“Ini arisan, De. Bukan judi. Siau ,lu. (Sinting, lo.)” Jennifer tertawa. Dean kembali berjalan meninggalkan ruang makan. Ia mengira Musdalifah sudah menemui Asih sejak tadi, ternyata wanita itu masih duduk manis di sofa ruang keluarga bersama Rio dan Langit sambil berbicara berbisik-bisik.
“Kok belum didatengin?” tanya Dean dengan suara rendah.
“Kan, nunggu persetujuan Toni dulu. Dia tau nggak, Asih di sini? Bagaimana juga Asih ini tamu ibunya Toni. Kita juga nggak bisa sembarangan ngomong.” Rio memandang Dean menunggu persetujuan ucapannya.
__ADS_1
Dean mengangguk-angguk, lalu menatap keluar teras. Asih terlihat duduk di bangku taman yang terbuat dari besi. Ia mengenakan rok panjang semata kaki dan kaos lengan panjang yang longgar. Penampilan itu mengingatkan Dean akan Winarsih saat baru tiba di tempatnya dulu.
Yang pertama harus mereka lakukan adalah mengecek tujuan Asih. Kemudian, soal apakah wanita itu tahu kalau Mami Toni sedang sakit. Mengusirnya dari sana secara membabi-buta juga bukan merupakan tindakan yang tepat. Tapi, bagaimana cara memutus kontak dan kepercayaan Mami Toni dengan hal-hal tak masuk akal itu yang lebih penting.
“Mus, mari kita akhiri perang dingin di antara kita,” kata Dean. “Bagaimana kalau kita menyatukan kekuatan untuk memindahkan ketergantungan ibu atasan kamu dari hal-hal mistis ini kepada orang lain yang bisa dia percaya. Kamu ngerti maksudku?” tanya Dean.
Musdalifah mengangguk.
“Nah, aku tau kamu pasti ngerti. Sekarang kamu ngobrol sama si Asih. Pasti kamu udah tau latar belakangnya dari Rio dan Langit barusan, kan?”
Musdalifah kembali mengangguk.
“Bagus. Kamu cukup pastikan, bahwa Asih nggak akan tinggal di sini nemenin Mami Toni. Enggak boleh. Apa pun caranya.” Dean menegaskan lagi.
“Apa pun caranya?” Musdalifah kembali menegaskan.
“Apa pun,” tegas Dean.
“Yang penting jangan tinggal di sini,” ulang Musdalifah.
Dean mengangguk. “Oke, kamu ke sana sekarang.” Dean menunjuk Asih.
“Jadi bapak-bapak ini ke mana? Nungguin saya sampai selesai?” tanya Musdalifah.
“Ya, enggak mungkin. Kita semua mau makan. Kamu ngobrol aja dulu yang santai,” ucap Dean.
“Katanya mau mengakhiri perang dingin. Belum apa-apa udah memulai perang yang baru,” gumam Musdalifah, berjalan keluar teras menuju bangku taman tempat Asih duduk bersantai.
“Nanti aku kirimkan bala bantuan,” seru Dean.
“Jangan berani-beraninya melakukan hal yang Bapak pikirkan,” ujar Musdalifah, menoleh ke belakang.
“Waaah, hebat dia.” Dean memegang dadanya. “Bagaimana bisa dia membaca pikiran gue yang akan mengirimkan Santoso?” Ia kemudian terkikik. Rio dan Langit menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.
To Be Continued
Langsung lanjut next part. Jangan ketinggalan Like-nya ya ....
__ADS_1