GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
39. Aku Masih Seperti Yang Dulu


__ADS_3

“De, itu Toni nggak apa-apa?” tanya Rio. Mereka sudah berada di luar Polsek.


“Enggak apa-apa. Emang kenapa?” Dean balik bertanya.


“Apa nggak sebaiknya kita ikut nunggu sampai Santoso atau Pak Mustafa dateng? Biar Mbak Ifa bisa pulang sekalian. Gimana?” Rio meminta pendapat.


“Itu cuma nunggu, kan?” tanya Dean pada Rio.


“Iya,” jawab Rio.


“Trus kalo lo ikut nunggu di situ, Santoso bakal lebih cepet datengnya?” tanya Dean lagi.


“Enggak, sih.” Rio mengernyit.


“Pak Mustafa bakal dateng lebih awal?” Dean bertanya lagi.


“Enggak,” jawab Rio.


“Ya, udah … napa lo pusing banget. Wulan juga entar lagi nyampe. Kita harus cepat kabur dari sini. Untuk selanjutnya, masa sih Toni harus diajarin. Mending kita makan, atau lo bedua bisa pulang. Udah dari siang ama Toni. Enggak baik, kan, keluar rumah terlalu lama. Apalagi ninggalin istri. Kasian … istri seharian udah capek ngurus anak-anak.” Dean mengusap-usap bahu Winarsih.


Langit dan Ryan mendengus tanpa suara, saat mendengarkan ucapan Dean. Sedang Winarsih, berada di gandengan Dean dan melontarkan senyum tertahan, saat suaminya mengatakan hal itu.


Rio dan Langit langsung pulang, Langit berjanji akan menemani Toni esok hari, jika ada pemeriksaan lanjutan. Sedangkan Rio, akan berangkat ke Semarang untuk meeting bersama pembeli franchise-nya di sebuah café.


Ryan ‘diusir’ oleh atasannya. Ia memutuskan langsung kembali ke rumah dan membiarkan mobilnya di kantor. Sedangkan Dean, mengendarai mobilnya dan pergi makan malam dengan Winarsih.


“Mas,” panggil Winarsih. Ia baru saja menghabiskan sepiring menu yang dipesankan Dean untuknya.


“Ya … napa Dik Win?” sahut Dean, mengangkat gelas air putih dan meneguknya.


“Kenapa dengan pacarnya mbak Wulan? Ada yang salah?” tanya Winarsih.


Dean mendongak menatap istrinya. “Mmmm … Aku juga laki-laki. Kamu tau sendiri, aku temperamen. Kamu pernah ketemu diriku versi yang itu, dulu. Aku juga nggak mau nginget-nginget, karena selalu ngerasa bersalah. Untuk keadaan sekarang, seandainya aku ribut di ruang bilyar resor, dan kamu dateng … megangin aku, aku pasti berenti. Aku nggak mau, kamu liat aku kayak orang gila. Di Sukabumi, punggung Wulan, dua kali nabrak meja tinggi, karena didorong pacarnya. Dua kali … dan itu, bukan karena nggak sengaja. Aku juga bukan laki-laki baik banget. Tapi aku bisa memastikan, aku nggak pernah kayak gitu ke perempuan. Terutama, wanita yang aku sayang. Sederhana aja.” Dean nyengir seraya meraih ujung tangan Winarsih.


“Itu aja?” tanya Winarsih.

__ADS_1


“Lainnya ... karena dua-duanya masih saling sayang. Berpisah mereka sakit, namun bersama lebih terluka. Aku kenal Toni, dan aku tau alasan Wulan ninggalin Toni.”


“Kenapa?”


“Wulan kasian sama Toni yang setiap hari disibukkan memilih harus ngurusin siapa lebih dulu. Maminya? Atau istrinya? Wulan pasti cemburu. Suami pulang kerja, tapi ngilang dan ngeladeni Maminya berlama-lama. Wulan juga manusia biasa.”


“Bukannya bisa mengulang kesalahan yang sama? Kalau mereka balikan lagi.” Winarsih merasa benar-benar ingin tahu alasan Dean yang begitu ngotot mempersatukan Toni dan Wulan.


“Mereka udah pisah empat tahun. Dulu, Toni usianya 29. Usia yang sama waktu aku gebukin orang cuma karena suit-suitin kamu. Dua-duanya udah makin dewasa, kan? Kalau mereka nggak mau balikan, nggak ada yang bisa maksa. Makanya kita liat aja. Dulu Toni nggak sabaran. Sekarang udah berubah, jadi lebih kalem dan penyabar. Kayak aku … dulu harus langsung dua kali, sekarang aku bisa nyicil. Satu malem, satu subuh.” Dean mengusap-usap tangan istrinya.


Winarsih mengernyitkan hidungnya. “Ckckck ….” Kali ini, Winarsih yang berdecak.


“Kalo aku yang kayak Toni, kamu gimana?” Dean menautkan alisnya menatap winarsih.


“Ha?” tanya Winarsih. Ia bingung dan tak pernah memikirkan kondisi itu. “Mas nggak mungkin gitu,” kata Winarsih.


“Mungkin aja …,” jawab Dean.


“Kalau Mas kayak gitu, sekarang aku pasti di Desa Beringin, besarin Dirja sendirian. Enggak mungkin jadi empat,” sahut Winarsih. “Mas nggak pernah ragu. Mas nikahi aku, itu artinya Mas nggak bakal nyakitin aku. Karena, Mas yang mau. Bener nggak?” tanya Winarsih.


“Anak magang? Usia 20-an?” tanya Winarsih. Dean mengangguk. “Mmm—cari yang usianya mendekati pensiun aja. Sekalian kerja yang ringan-ringan nemenin aku. Kata Novi, di kantor ada pegawai wanita yang masuk usia pensiun. Gimana, Mas?” Winarsih membalas genggaman tangan suaminya.


“Oh, yang mendekati usia pensiun? Boleh—boleh … nanti aku sampein ke Ryan.” Dean meringis. Ia melirik cincin berlian tiga karat yang melingkari jari manis istrinya. Ia tahu betul itu cincin siapa. Ternyata diam-diam di kediaman Hartono telah terjadi pemindahan kekuasaan. Sekarang ia paham kenapa jawaban Winarsih begitu percaya diri.


Di Polsek, Musdalifah harus mengingatkan Pak Mustafa untuk duduk membelakangi pintu masuk dan menunggu kedatangan Santoso dalam mode senyap. Sudah jelas perintahnya. Ia hanya menemani Pak Mustafa membuat laporan dengan didampingi Santoso. Selanjutnya, dia tak diperkenankan berimprovisasi dan ia bisa pulang.


Namun, bekerja dengan karyawan tipe lama seperti Pak Mustafa, Musdalifah harus memiliki kesabaran ekstra. Saat mereka sedang menjelaskan kronologis kejadian dengan Santoso yang baru tiba, ia terperangah. Ia nyaris melompat girang dan mengguncang-guncang tubuh kurus Pak Mustafa. Wulan muncul di depan pintu Polsek dengan tentengan yang sepertinya berisi makanan.


“Ngadep sini … ngadep sini!” pinta Musdalifah pada Pak Mustafa.


“Ha? Kenapa?” tanya Pak Mustafa bingung. Laki-laki itu malah menoleh ke kanan-kiri melihat hal yang sedang dipandang Musdalifah.


“Ihh … diminta ngadep ke sini aja, banyak nanya. Sukur udah tua. Kalo masih muda aku jewer,” kesal Musdalifah. Ia memegang pundak Pak Mustafa dan kembali mengarahkan wajah laki-laki itu ke dinding.


“Aku cuma mau liat, Mus …,” sungut Pak Mustafa.

__ADS_1


“Pak Mus santai. Lakukan perintah lebih dulu, penjelasan belakangan,” tegas Musdalifah.


“Bu Wulan, ya?” tanya Pak Mustafa, dengan wajah girang.


“Iya. Semoga ya, Pak Mus …,” gumam Musdalifah.


“Iya, Mus. Semoga …,” sahut Pak Mustafa.


“Ehem!” Santoso berdeham. Ia memandang dua orang di depannya dengan raut serius. “Baik … untuk permulaan, saya mau nanya lagi. Dua-duanya, kan, bernama Mus. Ini—yang Musdalifah mana? Yang Mustafa mana?” Pengacara dari Danawira’s Law Firm itu sedang bercanda. Tapi wajahnya datar sekali.


Musdalifah mendengus. “Ternyata sama aja. Mau atasannya, mau pegawainya.” Musdalifah mengomel.


“Saya bercanda, lho, Mbak ….” Santoso menatap Musdalifah dengan wajah biasa saja.


“Ya, udah. Buruan, deh. Saya mau pulang,” kata Musdalifah.


“Nanti bisa saya anter. Wanita cantik sendirian di malam hari, itu bahaya ….” Santoso menatap Musdalifah. Beberapa saat lamanya mereka beradu pandang.


“Mulutnya juga sama ternyata. Apa training kantornya kayak gitu, ya?” gumam Musdalifah.


Di ruangan lain.


TOK! TOK!


Wulan mengetuk pintu ruangan dua kali. Toni yang sedang menunduk menggulir ponselnya, mengangkat wajah.


“Lan,” ucap Toni.


Wulan mendekat dan meletakkan bungkusannya di atas meja. “Kamu udah makan?” tanya Wulan.


“Belum … dari siang belum sempet makan,” sahut Toni.


Wulan masih berdiri. Mengeluarkan semua makanan yang dibawanya ke atas meja. Toni tak berani menatap wajah mantan istrinya. Ia hanya menatap tangan Wulan yang begitu cekatan menyiapkan makan malamnya. Dalam hati Toni menyadari, bahwa tarif Dean sudah mulai berjalan.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2