
“Tadi aku pulang ngantor jam empat, tapi mampir ke Beer Garden,” kata Dean saat ciumannya dan Winarsih baru berakhir. Ia menangkupkan satu tangan di pipi istrinya itu.
“Ngobrolin apa?” tanya Winarsih, tangannya mengusap-usap dada Dean yang masih mengenakan kaos oblong.
“Enggak ada yang spesial. Ngumpul karena Langit dan Rio besok mau keluar kota. Hari Sabtu Toni nikah ama Wulan. Kita dateng, ya .... Nikahnya yang pertama kamu, kan, nggak ngeliat. Kalo aku pasti kayak deja vu ngeliatnya. Udah pernah. Sama orang yang sama,” ujar Dean terkekeh.
“Iya, aku mau. Bawa anak-anak?” tanya Winarsih.
“Enggak usah, acara sakral. Nanti malah repot. Lagian nggak lama, cuma tanda tangan aja pengesahan.” Tangan Dean turun membelai garis rahang istrinya.
“Nantinya Mbak Wulan tinggal di mana, Mas? Langsung ikut ke rumah Mas Toni?” tanya Winarsih.
“Kurang tau, kayaknya, sih, belum. Mungkin pindah ke apartemen lain. Toni ada tiga apartemen. Setauku dulu dia sewakan, sekarang nggak tau.”
“Pasti udah nggak sabar nunggu Sabtu,” ucap Winarsih, membuka kaos Dean dan menyusupkan tangannya membelai perut suaminya.
“Eh, tapi tadi Tasya dateng. Trus Wulan dateng—” Dean terdiam.
“Ha? Gimana? Tasya dateng? Mantan pacarnya Mas Toni? Terus Mbak Wulan dateng? Gimana ceritanya?” Tiba-tiba Winarsih menjadi bersemangat dan menghentikan kegiatannya mengusap-usap perut suaminya.
“Kamu harus melanjutkan belai-belai aku, kalo mau dilanjutin ceritanya.” Dean membuka pengait celana chinos dan menurunkan resletingnya. “Tangannya masuk ke sini, biar ceritaku lancar.” Ia meraih tangan Winarsih dan menyelipkan tangan istrinya ke dalam sana.
“Mau cerita gitu aja banyak syaratnya,” kata Winarsih. Telapak tangannya sudah menyentuh bagian luar pakaian dalam Dean.
“Cerita ini pemanasannya. Intinya nanti tetap di bawah sana. Ngomong-ngomong, itu masih di luarnya Win. Tangan kamu harus ke dalem. Skin to skin. Agar jantungnya segera memompakan darah dengan cepat sampai ke sana,” tukas Dean.
“Hmmm,” gumam Winarsih. Ia lalu mencari tepian pakaian dalam suaminya dan menyusupkan tangannya ke sana.
Dean memejamkan matanya sejenak. “Iya, gitu ...,” bisik Dean, saat merasakan kehangatan yang melingkarinya di bawah sana. “Ini gemesin banget, Win.” Dean mengitari puncak dada Winarsih dari balik lingerie dengan telunjuknya. Ia menggigit bibirnya saat melakukan hal itu.
“Ceritanya, Mas—ceritanya.” Winarsih kembali mengingatkan tak sabar.
“Si Tasya itu kayak nggak rela pisah sama Toni. Padahal dia yang mutusin. Dia berharap diajak balikan, kali, ya ....”
__ADS_1
“Mungkin Mas Toninya kurang tegas,” jawab Winarsih.
“Semua laki-laki itu sebenarnya sama aja, Win. Enggak ada yang pintar basa-basi dan menyembunyikan maksudnya. Cuma caranya aja yang beda. Toni ngomong lembut bukan berarti nggak tegas, itu cara dia. Kalo ngotot, jadinya malah kasar. Sebisa mungkin nggak perlu ngomong kasar. Karena meski lembut, artinya tetap sama. Meski Tasya merengek segimana pun, ya, Toni nggak akan berubah. Bukan berarti dia ngomong lembut, isi hatinya bisa berubah. Jadi, kita nggak bisa menyamakan cara semua orang. Beda karakter. Gitu, lho, Sayang ....” Dean menunduk dan mengecup leher istrinya.
Winarsih membuka mulutnya untuk kembali bertanya, tapi kecupan Dean di lehernya membuat ia lupa. Ia mengetatkan genggamannya di bagian bawah tubuh suaminya. Napas Dean semakin kasar di telinganya.
Kecupan Dean turun ke dada Winarsih yang masih berbalut tile tipis. Sekejab saja, puncak dada yang masih berlapis kain tipis itu sudah basah karena sesapan mulutnya.
“Ayo, Win ....” Dean berbisik.
“Tapi, aku masih mau denger lanjutan cerita Mbak Wulan tadi, Mas.” Meski dengan mata sayu menatap suaminya, Winarsih keukeuh ingin mendengar lanjutan cerita soal Toni. Ia tahu setelah acara bercinta, Dean akan langsung tidur memeluknya.
“Tapi aku udah tegang, Win.” Dean kembali menyesap puncak dada istrinya dari balik lingerie.
“Iya, aku tau. Makanya kalo mau lanjut, ceritanya dilanjut dulu.” Winarsih meringis.
“Terus Wulan dateng sewaktu Toni sedang nepuk-nepuk pundak Tasya. Wulan berdiri di depan meja Toni—eh, aku buka celana dulu, Win. Enggak enak kalo tangan kamu nggak membelaiku seutuhnya sampe ke bawah.” Dean duduk dan melepaskan semua pakaiannya. “Aku juga mau memuaskan tatapan kamu ke tiap sudut tubuhku,” tambah Dean terkikik. Winarsih mencibir mendengar hal itu.
“Terus?” tanya Winarsih lagi. “Mbak Wulannya gimana? Aku jadi keinget sama cerita dulu. Sama aja ternyata,” kesal Winarsih. Ternyata meski waktu telah lama berlalu, ia masih bisa merasakan kekecewaannya soal Ara di Beer Garden.
“Selanjutnya gimana? Ceritanya kepotong terus,” sungut Winarsih.
“Sabar, Dik Win .... Kelembutan tangan kamu ini buat aku terlena. Ke bawah lagi, Win. Iya, di situ sayang. Aduh .... Ayo, Win. Biarkan Toni menyelesaikan masalahnya sendiri. Wulan juga udah dewasa. Toni itu bakal ngelakuin apa aja biar Wulan nggak ngambek. Wulan itu cerewet dan Toni nggak akan ngejawab omelan Wulan. Kamu konsentrasi di bawah aja dulu,” ucap Dean. Ia mengangkat dress yang dikenakan Winarsih dan menarik turun bawahan wanita itu.
“Bagus kalo gitu. Memang harusnya bapak-bapak cukup diem aja kalo istrinya ngomel. Jangan dijawab,” kata Winarsih.
“Kamu jarang ngomel. Seringnya diem. Kalo aku diem aja, kamu nggak bakal hamil lagi.” Dean tergelak.
“Alasannya,” gumam Winarsih. Ia merentangkan tangannya, membantu Dean melepaskan lingerie yang jarang sekali bisa dikenakannya berlama-lama.
“Semua udah diciptakan berpasang-pasangan. Bayangin kalo istriku bukan kamu. Istriku ngomel, aku ngomel juga. Pasti kayak acara debat pilkada. Itu bukan mahligai yang aku impikan—Win, aku mau ke bawah.” Dean bangkit dan masuk ke bawah selimut.
Sejurus kemudian Winarsih sudah terdiam. Kedua tangannya sibuk meremaas dan mengacak kepala Dean yang sedang menunduk di antara kakinya. Ia memejamkan mata dan menggigit bibir bawah. Ujung-ujung jari kakinya sudah menegang dan tangannya kini berpindah untuk mengusap puncak dadanya sendiri.
__ADS_1
Dean mendongak melihat keseksian Winarsih yang jarang-jarang dilihatnya. Ia mengecup semakin keras. Membuat istrinya mengerang dengan tubuh melenting. Menyadari Winarsih mendapat titik puncaknya hanya dalam waktu singkat, Dean bangkit merayap di atas tubuh wanita itu.
“Cepet banget, Bu Winar ...,” bisik Dean. “Pak Dean langsung, ya. Udah nggak tahan dari tadi,” kata Dean. Ia lalu menyatukan tubuhnya dan Winarsih. Memejam sesaat untuk meresapi kehangatan yang menyambutnya. Lalu, membuka mata untuk melihat raut istrinya. Mulut Winarsih setengah ternganga, lalu menggigit bibir bawahnya.
“Mas ...,” rintih Winarsih.
“Kenapa? Masih sampai ke jantung, kan, rasanya?” Dean tertawa.
Winarsih tak menjawab perkataan suaminya. Namun, kedua tangannya mencengkeram lengan Dean yang bertumpu di kanan kiri tubuhnya.
Dean menciptakan ritme diiringi desaahan dan erangan yang keluar dari mulutnya. Winarsih membenamkan kuku di lengan suaminya. Konsentrasi mereka sedang terpusat. Saling melepaskan rindu singkat yang terburu-buru.
DRRRRT.
DRRRRT.
Pada saat Dean tengah mengayun, suara getar ponselnya di atas nakas mengalihkan perhatiannya. Ia berhenti sejenak untuk mendekap lutut Winarsih di depan dadanya.
“Mas, telfon.” Winarsih berbisik di antara napasnya yang terengah-engah.
Dean melongokkan kepalanya dan melihat nama Toni tertera di layar. “Toni,” ucap Dean.
“Gimana?” tanya Winarsih.
“Ya, biarin aja. Keperkasaanku ini lagi minta dimanjain. Ini jauh lebih penting dari Toni,” kata Dean. Ia menoleh ke bawah, lalu mengusap inti tubuh Winarsih yang seketika membuat wanita itu berjengit dan bungkam.
To Be Continued
Ditunggu lanjutannya segera.
By the way, yang punya voucher Senin gratisan, disimpan aja buat yang mau vote TINI SUKETI launching hari kamis.
Event Give Away ditutup tanggal 30 September.
__ADS_1
Awal bulan njuss umumkan.