
Ternyata Winarsih yang namanya dipanggil dari teras rumah, langsung muncul menggandeng Widi. Siang itu ia mengenakan terusan lengan pendek berwarna hijau daun. Pagi tadi, Dean mengeluarkan pakaian itu dari lemari saat Winarsih baru saja selesai mandi.
“Pakai dress ini, ya, Win ....”
Selalu seperti itu dan Winarsih tak pernah banyak bertanya. Ia senang melihat ekspresi puas Dean tiap suaminya itu selesai membantunya meresleting atau mengikatkan tali pakaian di belakang tubuhnya.
Biasanya, sesudah melakukan hal itu, Dean akan mematut tubuh istrinya dan tersenyum lebar. Lalu, Dean akan berkata, “Istriku selalu cantik. Sini, cium dulu.”
“Pulang sekolah? Bawa temen?” Winarsih melihat Dean dan tiga orang di belakang suaminya.
“Iya, nih!” Dean menoleh ke belakang. “Kita semua mau minta makan,” ujar Dean, tertawa. Ia lalu mendekati Winarsih dan menangkup wajah wanita itu. Dean mencium bibir istrinya hingga berdecak keras. Tiga pasang mata di sana, seketika melihat lampu kristal besar yang tergantung di langit-langit ruang tamu. Sedangkan raut Winarsih, biasa saja.
“Eh, anak Bapak udah makan? Kok belum bobo siang?” Dean menghampiri Widi dan menggendongnya.
“Kok tumben makan siang ke rumah? Dari mana?” tanya Winarsih, menjajari langkah suaminya.
“Dari perusahaan pengangkutan, Bu Win ...,” sahut Santoso dari belakang.
Winarsih langsung menoleh Santoso, “Oh,” ucapnya, sedikit terkejut karena jawaban langsung datang dari arah belakang.
“Mama mana?” tanya Dean.
“Baru naik sama Dirja. Pulang sekolah cerita macem-macem sama Utinya.” Winarsih menoleh ke belakang. “Ayo, Mbak. Ke sini aja,” ajak Winarsih pada Musdalifah. Ia berdiri menunggu Musdalifah yang melambatkan langkahnya.
“Iya, Bu ...,” jawab Musdalifah. Ia sejak tadi tak lepas memperhatikan bagaimana sikap Dean sejak tiba di rumah. Laki-laki itu jadi berbeda.
“Kalian langsung duduk. Langsung makan,” ujar Dean, menoleh meja makan yang terhampar menu makan siang lengkap. Mbak Tina terlihat baru saja menambahkan nasi dan lauk karena mendengar tuan rumahnya pulang membawa tamu.
“Widi turun dulu, Bapak mau makan. Sama Mbak dulu, ya ...,” kata Winarsih, pada anak bungsunya. Babysitter Widi langsung mendekat dan menggandeng balita itu ke ruang keluarga.
Ryan yang sudah terbiasa berada di sana, langsung menuju meja makan dan menarik kursi. Diikuti oleh Santoso yang menarik kursi di seberang Ryan.
“Mbak Mus,” panggil Santoso. “Ayo, duduk di sini. Jangan biarkan tangan saya pegal sia-sia,” kata Santoso. Menatap kursi dan Musdalifah bergantian.
__ADS_1
Tak ingin hal itu berkepanjangan, dan menjadi bahan baru oleh Dean, Musdalifah segera menduduki kursi yang dipilihkan Santoso. Sedangkan pria itu, kembali memutari meja makan dan duduk di seberang Musdalifah.
“Biasanya makan saya banyak. Tapi belakangan saya ngerasa mau mengurangi berat badan. Jadi saya ingin membuktikan perkataan orang-orang. Katanya, selera makan di depan orang spesial pasti berkurang. Karena udah kenyang liat pesonanya,” ujar Santoso. Lalu ia mulai menyendok nasi ke piringnya.
“Iya. Sayangnya itu nggak benar,” kata Musdalifah. “Itu sudah sendok nasi keempat,” ujar Musdalifah mengingatkan.
“Ini artinya saya terhanyut dengan pesona Mbak Musdalifah,” sahut Santoso, berkilah.
“Tadi kamu ngapain aja?” tanya Dean pada Winarsih. Ia memeluk bahu Winarsih dan mencium pipi wanita itu bertubi-tubi. Mereka masih berdiri tak jauh dari meja makan. “Kamu di rumah aja jadi makin cantik. Enggak terpapar polusi dan radikal bebas.”
Tiga pasang mata yang berada di meja makan, seketika melirik Dean dan Winarsih. Semuanya berpikiran hal yang sama. Soal pujian istri yang makin cantik karena di rumah saja.
“Ngerjain tugas kampus. Terus nemenin Dita berenang. Awalnya nangisin Mas-nya berangkat sekolah. Mau ikut. Ujung-ujungnya malah minta berenang.”
“Ibunya nggak berenang, kan? Kamu jangan lari-larian ngejer anak-anak ya, Win ....” Dean menunduk kembali mencium kepala, lalu membenamkan hidungnya di pipi Winarsih.
Kali ini, pemandangan itu hanya Musdalifah yang melihatnya. Mulut Dean memang licin sekali, pikir Musdalifah. Tapi semua bisa dimaafkan, mengingat bagaimana tampilan pengacara itu. Dean bermesraan dengan istrinya seolah tidak segan dengan kehadiran mereka di sana.
Lalu, Musdalifah melirik Santoso. Kepiawaian mulut pria itu dan atasannya hampir sama. Tapi membayangkan Santoso memiliki keagresifan seperti Dean, membuat Musdalifah bergidik. Musdalifah melirik lengannya. Rambut-rambut di tangannya benar-benar meremang karena pikirannya barusan.
“Biarin aja nggak apa-apa. Biar Mama ada temen. Papa, kan, baru pulang besok.”
Ryan sudah mulai makan dan Santoso yang tadi mengatakan ingin mengurangi berat badan, ternyata benar-benar terlena dan tenggelam. Ia tenggelam dalam kenikmatan kuah kari yang dituangkannya berulang kali ke piring.
“So, tadi kita ke mana?” tanya Dean menepuk bahu Santoso yang tengah menunduk di atas piringnya.
Santoso langsung menegakkan tubuhnya, “Dari pasar induk ngecek gudang, terus ke pengangkutan ngecek pengiriman ke Situbondo. Ada pengiriman tiga ton.” Ia lalu kembali menunduk meneruskan makannya.
“Yup. Bagus!” Dean terkekeh. Ia menarik kursi tunggal yang berada di tengah. Winarsih berdiri di sebelah Dean menyendokkan nasi ke piring.
“Lagi makan, Mas ... ganggu aja,” kata Winarsih. Dean terkekeh.
“Pulang ke rumah nggak ngomong dulu. Nasinya masih panas,” kata Winarsih.
__ADS_1
Dean melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Winarsih dan membenamkan wajahnya di sana. “Enggak apa-apa, aku tunggu. Aku peluk kamu dulu,” kata Dean. Memutar tubuh Winarsih dan meletakkan pipinya di perut istrinya.
“Ada temen-temennya,” kata Winarsih, sedikit beringsut. Dean semakin mengetatkan pelukannya dan malah memejamkan mata.
“Biar aja, Bu Win ... efek samping dari hal ini bukan tanggung jawabku. Aku mau peluk sebentar. Dengerin bayi laki-laki yang di dalem,” sambung Dean lagi.
Suasana di meja makan menjadi khidmat. Musdalifah makan dengan tenang tanpa menoleh ke kursi Dean. Di dalam hati ia sekarang memaklumi kenapa Dean bisa memproduksi anak secepat itu. Ia lalu melirik wajah Winarsih. Wanita yang dipeluk dan dicium suaminya berkali-kali, kini sedang merapikan rambut suaminya.
Usai makan siang, mereka duduk di ruang keluarga. Dean memegang remote televisi sambil memandang teras samping tempat di mana Winarsih menyuapkan potongan buah ke mulut Widi yang berlarian dan menghampiri ibunya tiap selesai menelan makanannya. Bagi Dean, itu adalah pemandangan paling indah selain melihat istrinya tanpa busana. Winarsih di rumah dan merawat anak-anak mereka.
“Pak ... yang di gerai ponsel tadi bener?” tanya Ryan.
“Bener. Mereka nggak lanjut nikah karena Rey yang kasar. Ini dijadikan bahan pendukung aja. Kok, bisa ya ... udah tau cowonya kasar. Tapi bisa jalani hubungan selama itu. Padahal sifat itu, kan, pasti keliatan. Maklum, sih, maklum. Tapi nggak selama itu juga harusnya.” Dean menukar saluran televisi.
“Mungkin terlena, Pak ...,” ujar Santoso.
“Atau menikmati sesuatu yang bisa dinikmati.” Ryan menimpali.
“Ah, baru inget. Bener, menikmati sesuatu. Mengingat apa kata si Mahda tadi—” Dean merendahkan suaranya melirik Winarsih “—Mahda bilang, Rey itu baik dan setia. Menurut gue, Rey royal. Cowo royal itu bikin cewe betah,” lanjut Dean.
“Saya dulu juga pernah kenal dengan orang kayak Mahda ini. Sebenarnya dia sadar ada sesuatu yang salah. Tapi karena dia menikmati sesuatu yang bisa dinikmatinya, ya tetep jalan terus. Apalagi kayak Pak De bilang, wanita suka pria yang royal. Pria royal, karena service wanitanya juga royal. Benar begitu, kan?” Ryan memandang atasannya yang melempar tatapan kesal. Itu adalah sindiran Ryan yang mengingatkan Dean soal Disty di masa lalu.
“Iya, Ryan ... iya. Gue—” Dean terdiam karena Winarsih masuk ke ruang keluarga.
“Jadi, dari gudang tadi, apa yang bisa Bapak ambil kesimpulannya? Gudang kosong? Barang sudah diangkut oleh pihak pengangkutan? Banyak juga ya, sampai tiga ton.” Santoso langsung menimpali percakapan mereka yang sempat terjeda.
Ternyata Winarsih hanya melintas menggandeng putrinya masuk ke dalam. Dean mengikuti istrinya dengan pandangan.
“Jadi, barang apa yang kira-kira dikirimkan ke Situbondo? Apa hal ini bisa dijadikan bahan pertimbangan oleh—”
“Udah, So! Udah,” kata Dean.
Ryan melihat Winarsih menghilang ke sisi kiri rumah menuju lift. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Santoso. “Cukup—cukup. Penjiwaan lo memang luar biasa,” kata Ryan.
__ADS_1
To Be Continued