
Dikira sudah kembali ke Jakarta, pasangan Santoso dan Musdalifah ternyata muncul saat rombongan Dean, Langit dan Rio baru selesai makan malam.
“Ke mana aja? Mojok lo?” tanya Dean pada Santoso. Saat mengatakan hal itu, Dean menoleh pada Musdalifah yang sepertinya melambatkan langkah agar lama tiba di meja mereka.
“Kami berdua tadi makan di cafe deket-deket sini. Selain ngopi,” jawab Santoso.
“Main tunggal aja, ya, San.” Rio mencolek lengan Santoso yang berdiri di sebelahnya.
“Ini sekarang mau ke mana?” tanya Langit.
“Langsung balik ke Jakarta,” jawab Santoso.
“Mbak Mus, sini, dong.” Jennifer memanggil Musdalifah.
Padahal Musdalifah sudah sengaja memegangi patung pajangan dengan raut serius agar tak dipanggil. Ternyata, istri Rio menyadarinya. Dengan enggan ia mendekati meja tempat di mana para sahabat atasannya berkumpul. Belum apa-apa jantungnya sudah berdebar. Ia sedang mempersiapkan hatinya untuk komentar-komentar Dean yang tak pernah kehabisan ide.
“Jadi, dokter ngomong apa aja? Berapa lama sembuhnya?” tanya Rio, memandang pergelangan tangan kiri Santoso yang terbebas perban.
“Kalo retak bisa tiga bulan. Tapi udah bisa lepas perban sebelum itu. Kecuali bekas luka patah kayak gue dulu,” jawab Dean mewakili Santoso.
Ketika mendengar jawaban Dean yang bernada simpatik, Musdalifah menghela napas lega. Pengacara itu sedang dalam kondisi tak ingin meledek siapa pun sepertinya.
“Jadi, sekarang mau langsung pulang? Bawa mobil?” tanya Langit, mendongak menatap Santoso yang memegang-megang balutan lukanya
“Iya, langsung pulang ke Jakarta, Mas. Menikmati perjalanan malam,” sahut Santoso.
“Semakin macet semakin baik, ya, So.” Dean terkekeh-kekeh.
__ADS_1
Musdalifah yang sedang berdiri di dekat kursi Jennifer mulai merasa tak enak. Jawaban Dean sudah mulai janggal.
“Jadi, serius bawa mobil? Tangan lo masih luka gimana nyetirnya?” tanya Rio.
“Santoso nyetir tangan kanan, Mus yang pegang tongkat persneling. Pasti gitu,” tukas Dean. “Cieee, kerja sama yang baik, ya, So.” Dean menaikkan alisnya dengan raut jahil.
Santoso mengulum senyum simpul saat atasannya mengatakan hal itu. Benar saja dugaan Musdalifah tadi. Mana mungkin Dean anteng tanpa melewatkan menggoda mereka. Pengacara itu pasti demam kalau melewatkan harinya tanpa menggoda orang lain. Ingin menyangkal perkataan laki-laki itu, tapi tak bisa. Karena, memang benar adanya.
Sudah dua hari ini, Musdalifah berkendara bersama Santoso menggunakan mobilnya. Pria itu mengajarkan Musdalifah soal memasukkan persneling sedan manual. Sekarang, Musdalifah semakin mahir. Dan perjalanan mereka ke Bogor adalah perjalanan terjauh dalam mereka mencoba kemahiran Musdalifah.
“Oh, ya. Ada salam dari Mas Ryan. Istrinya sudah masuk rumah sakit, tapi belum lahiran.”
“Wah, dia nggak bilang ke gue. Dasar si Ryan,” kesal Dean.
Lima belas menit lagi menuju pukul sembilan, Santoso meninggalkan resor bersama Musdalifah.
“Ayo, Win. Udah jam sembilan malem. Bogor dingin dan aku udah kenyang. Nanti belum apa-apa, aku malah ketiduran. Bisa rugi,” tukas Dean, melingkarkan tangannya di sekeliling bahu Winarsih.
“Ya, rugi. Kan udah beberapa hari aku absen. Aku nggak mau istriku lupa rasanya,” jawab Dean tertawa, lalu mencium kepala istrinya.
Rio dan Jennifer pergi berkendara keluar resor untuk melihat suasana kota Bogor malam hari. Sedangkan Langit, sudah menyeret Jingga ke kamar karena tak ingin menyia-nyiakan momen berdua mereka tanpa disela oleh teriakan si kembar.
“Toni udah berkali-kali. Aku sekali juga belum, Win.” Dean tersenyum, membayangkan Toni yang sedang mengejar target punya anak seperti rencananya.
Sebelum acara ke Bogor, masing-masing pria yang mengaku perkasa, sudah membekali Toni dengan berbagai pelajaran. Rio dengan ilmu romantis dan ketenangan. Langit yang membekali soal memanfaatkan waktu agar bisa bercinta cepat. Serta Dean yang membekali Toni dengan ilmu keterbukaan soal urusan ranjang. Bagi Dean, komunikasi adalah hal utama. Laki-laki itu tak akan berhenti bertanya soal apa yang dirasa istrinya.
Sementara itu, Toni yang disangka teman-temannya sudah berkali-kali melancarkan serangan remidi malam pertama, nyatanya masih asyik menikmati Wulan yang melepas rindu dengan sekejur tubuh suaminya.
__ADS_1
Wulan sedang mengetatkan pegangannya pada keperkasaan Toni, di bawah tatapan pria itu.
“Kangen,” bisik Wulan.
“Aku juga,” sahut Toni, menyelipkan ibu jarinya ke celah bibir Wulan yang setengah terbuka. Ia merasakan menikmati sensasi panas dan basah pada ibu jarinya. “Yes,” lirih Toni, memandang puas saat Wulan mengatupkan mulutnya. Bagian tubuhnya di bawah sana semakin tak sabar. Ia membayangkan bagian bawa tubuhnya memasuki mulut istrinya. Toni beringsut gelisah.
Apa yang mereka lakukan, benar-benar seperti pertama kalinya. Keingintahuan Wulan soal bagian tubuh suaminya, serta ketidaksabaran Toni untuk mewujudkan rencana-rencananya.
Mengerti dengan kegelisahan Toni yang mengetat di genggamannya, Wulan bangkit untuk duduk. Melepaskan satu persatu kancing dress yang ia kenakan dan mencampakkannya ke samping.
“Oh,” erang Toni, saat kehangatan mulut Wulan menyelubunginya.
Bibir Wulan naik turun, dari puncak hingga ke bagian dasar tubuh Toni. Menyesapnya perlahan, dengan gerak lidahnya yang melingkar. Pinggul Toni terangkat dari ranjang, dan tak sengaja ia menggeram dengan parau.
Wulan melayangkan kecupan-kecupan kecil di sepanjang bagian itu. Toni memejamkan mata mengeluarkan desisan nikmat merasakan sensasinya. Itu adalah hal termanis yang pernah dirasakannya dalam beberapa tahun terakhir. Bercinta bukan semata hanya karena kebutuhan, tapi dada yang penuh sesak akan kebahagiaan dan saling mendamba.
Saat Wulan mengulumnya lagi, Toni mendorong lebih dalam. Gerakan mundur bibir Wulan nyaris membuat Toni tak bisa menahan dirinya. Toni setengah bangkit, menjulurkan tangan melakukan hal yang telah lama ia inginkan.
Toni merasa percaya diri, bahwa hari itu ia akan sanggup melakukannya berkali-kali tanpa jeda. Seperti yang dinikmati Wulan selama pernikahan mereka.
Tanpa malu-malu Toni mengawasi bibir penuh Wulan bergerak naik dan turun disana. Gesekan basah dan kuat itu hanya sebagian kecil dari kenikmatan yang ia rasakan. Wulan benar-benar memanjakannya. Membelainya, memberinya kenikmatan dan yang paling menggairahkan adalah, tangan istrinya yang meraba punggung dan melepaskan pengait branya.
Tony telah lama mendambakan ini. Malam-malam kemarin ketika ia berada di sisi Wulan dan begitu ingin memasuki tubuh wanita itu. Memilikinya kembali dengan cara yang sama utuhnya dengan yang pernah ia lakukan.
Tangan Toni turun membelai tubuh Wulan, hingga sampai ke bagian bawah. Toni meraba kulit paha Wulan yang terbuka. Istrinya mengerang dan membuka kedua kakinya. Wanita itu masih menunduk mengungkung kedua kaki Toni dibawahnya. Toni menyambut undangan itu dengan membelai semakin tinggi. Hingga ia menangkup bagian antara dua paha Wulan yang lembab dan hangat. Menyelipkan jemarinya di bagian itu, membelainya atas ke bawah, sampai Wulan bergetar dan menurunkan pinggulnya.
Toni merasa Wulan sedang memohon padanya. Memohon akan sentuhan jemarinya yang nakal. Yang bergerak perlahan kian dalam, terus-menerus, masuk dan keluar sampai Wulan bergerak gaduh. Membuat Wulan semakin melumaat bagian bawah tubuh Toni hingga ke dasar.
__ADS_1
To Be Continued
Tombol like-nya diklik, lalu scroll ke bawah untuk lanjutannya.