
Tiga bulan sudah berlalu dan empat orang pria berusia 34 tahun menjalani hidupnya dengan sangat normal. Sangat normal dalam versi mereka. Dean yang selama hampir lima bulan merasa kurang tidur karena menjaga Handaru di malam hari, kini sudah bisa kembali sesumbar soal kegiatannya selain menjaga bayi.
Toni yang sedang menikmati tiap detik waktunya menjadi seorang bapak baru tak pernah terganggu ataupun mengeluh. Mesti sebenarnya Tirta pun hampir sama dengan Handaru. Sering terbangun di malam hari mengajak orang tuanya bermain.
Anak Ryan sudah bisa berjalan dan berlarian ke sana kemari. Ryan dan Novi sepakat menunda kehadiran bayi berikutnya dengan menjalankan program pemerintah. Mereka mengkhawatirkan tumbuh kembang anaknya jika kedua orang tuanya terlalu sibuk. Novi mengatakan, mereka akan menambah momongan kalau usia anak mereka sudah lima tahun. Ryan sangat setuju dengan hal itu. Kehidupan atasan mereka yang memiliki empat orang anak sudah menjadi gambaran jelas untuk mereka.
Sedangkan Langit, rutinitasnya yang paling normal adalah bolak-balik Jakarta-Bandung mengurus proyeknya. Kantor yang merupakan warisan orang tuanya itu berkembang semakin pesat. Langit mulai menangani proyek-proyek besar yang kebanyakan terletak di Bandung. Hal itu tak pelak membuat Jingga lebih sering ditinggalkan bersama si kembar. Hal ini juga membuat Langit yang jarang berada di Jakarta akan menghabiskan waktunya lebih banyak bersama keluarganya.
Sedangkan Rio, sibuk pergi dari satu kota ke kota yang lain untuk melakukan training terhadap cabang franchise-nya yang baru. Jennifer yang memiliki peran sebagai pengatur strategi pemasaran dalam usaha suaminya,, terkadang ikut bersama Rio mengunjungi kota yang ia rasa belum pernah dikunjunginya. Kini Raiyo Boba hampir ada di setiap mall. Semua sahabatnya ikut bangga. Tak jarang dari mereka berfoto di outlet Raiyo yang kebetulan mereka jumpai, lalu mengirimkan foto itu kepada Rio.
Lima orang pria sudah merasa berada di titik hidup yang nyaman. Hubungan rumah tangga yang harmonis, anak-anak yang sehat, serta kestabilan finansial di usia muda. Lima pria itu sekarang sedang dalam masa keemasan menikmati waktu bersantai seusai jam kerja.
Namun, dibalik keceriaan lima pria itu, ada satu orang yang sedang mengalami masa jungkir balik menjadi calon seorang ayah baru. Namanya Santoso Thahir.
Ternyata celetukan Asih kebetulan terbukti benar. Tapi tentu saja perkataan Asih tak bisa dijadikan patokan. semuanya memang sudah diatur oleh Tuhan. Bahkan sebelum bertemu Asih pun hampir bisa dipastikan kalau Musdalifah akan cepat mengandung mengingat bagaimana begitu intensnya aksi Santoso setiap malam. Hal itu bukannya tanpa alasan. Santoso ingin ikut merasakan menjadi seorang bapak baru. Selama ini dia selalu tertinggal saat semua pria di mejanya membicarakan anak-istri. Santoso tak mau terlalu lama tertinggal. Sayangnya tahapan kehamilan Musdalifah sedikit berat. Wanita itu mabuk parah di trimester pertama kehamilannya.
“Gimana, So? Lesu banget. Setelah sekian lama kita semua nggak ngumpul, masa muka lo kayak gitu.” Dean mengomentari Santoso yang baru tiba. “Gue kira kinerjanya semakin meningkat sejak menikah. Ternyata … ckckck. Gue yang harus banyak maklum.” Dean menggeleng-geleng dengan wajah prihatin.
“Jadi gimana, De? Mau ganti pegawai?” tanya Langit dengan wajah jahil.
“Yah, kalo kinerjanya menurun, apa boleh buat? Gue juga sebenarnya cukup menyayangkan,” kata Dean.
“Sabar, San,” kata Ryan, menepuk-nepuk pundak Santoso yang duduk di sebelahnya.
“Jangan digodain banget. Kasian. Santoso adalah anak menantu gue. Kalo bapaknya kejam kayak gini,”—Toni menunjuk Dean—“gue sebagai besan bakal memberinya pelajaran. Anak gue yang perempuan soalnya. Hamil itu nggak pernah mudah. Harusnya lo yang lebih tau untuk ini,” kata Toni melempar gulungan tisu pada Dean.
Dean menghindar dari lemparan tisu Toni dengan tepat. Mulutnya mencibir ke arah Toni. Langit terkekeh-kekeh melihat dua sahabatnya. Sedangkan Rio, sejak tadi diam mengamati buku menu baru Beer Garden.
“Ini menu baru—yang ini juga. Terus … kayaknya gue perlu catet ini. Ini kayaknya enak buat dipelajari lebih lanjut contohnya. Jenni pasti mau trial resep ini.” Kepalanya menunduk di atas menu dengan raut wajah serius. Di sebelahnya Ryan ikut melongok dan mengangguk-angguk.
“Ini bukan waktunya kerja, Yo. Dikit-dikit keinget bisnis sendiri. Dikit-dikit—”
“Ini namanya peluang, Lang,” potong Rio, menyentil tangan Langit yang menutup buku menu di depannya.
Sore itu Santoso yang terakhir tiba di Beer Garden. Setelah sekian lama mereka vakum datang ke sana, akhirnya sore itu mereka bisa berkumpul. Tapi sore itu tak terlihat bersemangat bagi Santoso. Pria itu menghela napas pendek berkali-kali.
“Cerita, So—cerita,” kata Dean. “Apakah mual muntah Mus membuat lo lelah? Membuat lo khawatir? Atau membuat lo gelisah karena tak bisa menjalankan rutinitas malam hari?” tebak Dean, memandang Santoso yang berada di depannya.
Santoso kembali menghela napas.
__ADS_1
“Dari helaan napas lo kayaknya penyebab yang terakhir. Mual muntah membuat Bapak Santoso mengalami kesulitan menyalurkan hasr—”
“Apa sih, De? Berisik banget. Ini bukan ruang sidang. Semua-semua dibikin mainan,” ujar Rio
Dean yang tadi menumpukan satu tangannya di dagu dan berbicara dengan Santoso sambil menunjuk-nunjuk pegawainya dengan sedotan seketika terdiam. “Lo sirik aja. Gue lagi menganalisa,” kata Dean.
“Yang beginian nggak perlu dianalisa lagi. Kita semua udah tau penyebabnya apa. Berisik banget. Bilang aja lo kurang hiburan. Apa sekarang mau gantiin Asih?” sambung Rio.
“Eh, iya. Ngomongin Asih, apa kabar dia? Masih sering ke rumah jengukin nyokap lo?” tanya Dean, memandang Toni.
“Asih kuliah ngambil jurusan sekretaris. Lo semua tau nggak kerjaan dia ngapain aja sekarang?” tanya Toni, memandang wajah lima pria di sekelilingnya satu persatu. Kesemua pria itu menggeleng.
“Asih sekarang jadi asisten Musdalifah di kantor Wulan. Tiap pulang kuliah dia ke sana dan bantu Mus tiap ketemuan sama calon investor. Melihat prospek ke depannya gimana. Bagus atau enggak,” jelas Toni, kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan hal yang dilakukan Musdalifah dan Asih
“Dasar licik,” gumam Dean.
“Itu namanya cerdas,” gumam Santoso.
“Rasain,” kata Langit. “Sekarang Musdalifah ada suaminya. Lo hati-hati mengungkapkan pendapat soal dia.” Langit terkikik-kikik melingkarkan tangannya di leher Dean.
“Lepas, ah. Jangan cium gue, Langit,” ucap Dean, melepaskan tangan Langit.
"Asih udah ada pacar, Ton?" tanya Rio dengan raut serius.
"Gue jadi ngerasa kayak bapaknya Asih," ucap Toni meringis. "Enggak ada, sih, setau gue. Emangnya kenapa?" Toni balik bertanya.
"Ya, bagus menurut gue. Kuliah dululah yang bener. Mumpung masih muda. Lo minta Wulan sering-sering ngobrol sama Asih," kata Rio.
"Kalo itu, sih, sering. Asih anaknya mau maju. Mau belajar dan kerja keras. Itu makanya gue nggak ngerasa rugi ngeluarin dana buat dia," sahut Toni.
"Setuju, sih. Ketimbang dia di kampung ngeramal nasib orang dan bagi-bagi jeruk purut sebesar biji. Mending dia kuliah. Bisa langsung kerja di kantor Wulan. Win-win solution," cetus Dean.
Langit yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, ikut terkekeh-kekeh. Ternyata meski sedang asyik membalas pesan Jingga, Langit ikut mendengar percakapan aneh di dekatnya. "Mesti pake perumpamaan biji," gumam Langit.
“Sabar ya, San. Mabok kehamilan nggak lama, kok. Dulu hamil anak kedua, Jenni juga kayak gitu. Dinikmati aja.” Rio menepuk pundak Santoso yang duduk di sebelahnya.
“Yang nggak tahan itu … maunya ngomel terus. Apalagi sejak punya jabatan baru,” ucap Santoso menghela napas.
“Wah, kalo gini gue yang minta maaf. Karena gue gue yang bikin Mus jadi kepala cabang yang megang kantor Wulan,” terang Toni.
__ADS_1
“Tapi hal itu bukan sesuatu yang lo harus minta maaf, Ton. Bukannya bagus kalo Mus nggak jadi sekretaris lagi? Lo aja yang sabarnya ditingkatkan So. Perempuan itu beda-beda,” hibur Rio, kembali menepuk-nepuk bahu Santoso.
“De,” panggil Toni.
“Apa Toni Sayang? Lo dari tadi keliatannya gelisah banget. Mau nanya apa, sih, Toni Sayang? Mau konsultasi jangan malu-malu. Kita di sini terbuka,” tukas Dean, memiringkan kepalanya menatap Toni yang duduk di sisi kanan Langit, sejajar dengannya.
“Dirja dulu nyusunya gimana?” tanya Toni.
“Ya, biasa aja. Kayak gue juga,” jawab Dean asal.
“Beuuh … si anjing jawabannya,” cetus Langit tertawa.
“Abis doi nanya nggak spesifik. Dirja dulu, ya, nyusu kayak biasa. Memangnya kenapa?” tanya Dean lagi.
“Bini lo, kan, langsung hamil anak kedua waktu Dirja—”
“Oh, Wulan hamil lagi? Cie … lewat empat puluh hari Pak Toni pasti siang malam menggempur daerah konflik. Selamat! Sebentar lagi lo nggak bakal bisa nyanyi-nyanyi di kamar mandi. Enggak ada adegan gendong-gendongan lagi di balik pintu,” kata Dean seraya tertawa.
“Sirik aja,” dengus Toni.
"Selamat Papi Toni," ucap Langit.
Rio mengangguk-angguk, "Dari gue juga selamat," kata Rio, menyodorkan kepalan tinjunya pada Toni.
“Lo nggak nambah lagi? Nanggung bener empat,” ujar Toni memandang Dean.
“Enggak. Anak gue stop di empat. Kali ini gue yakin,” sahut Dean.
“Pak De yang yakin. Yang nggak yakin itu kita semua,” jawab Ryan santai.
“Bisa-bisanya lo meragukan atasan sendiri,” omel Dean menatap sekretarisnya.
“Jangan lupa, De. Kata Asih anak lo lima.” Langit langsung menggeser duduknya ke kanan. Merapatkan tubuhnya pada Toni seakan tahu bahwa Dean pasti akan menyerangnya.
“Kali ini lo semua pegang omongan gue. Anak gue berhenti di empat. Gue sekarang udah pake karet. Meski makenya di akhir-akhir sesi,” ujar Dean dengan wajah percaya diri.
“Yah, semoga benar.” Ryan menyeruput jusnya dengan kalem. Mengabaikan tatapan Dean yang menusuk ke arahnya.
To Be Continued
__ADS_1