
Asih masih terbengong-bengong di depan pintu rumahnya saat melihat kedatangan Musdalifah dan Santoso. Hal pertama yang ditanyakan oleh gadis itu adalah, “Bu Anderson baik-baik aja, kan?”
“Baik-baik aja. Sekarang sedang masa pemulihan,” jawab Musdalifah.
Ternyata gadis itu diam-diam masih mengkhawatirkan soal kesehatan Bu Anderson, Mami Toni. Memang tak pernah ia lupakan bagaimana ibunya berpesan soal balas budi dan merawat Bu Anderson yang sedang sakit.
“Maaf, Mbak Asih masih ingat saya, kan?” tanya Musdalifah kembali memastikan.
Mereka semua masih berdiri di ambang pintu. Asih tersadar dari lamunannya karena pertanyaan Musdalifah. Ia sibuk melihat penampilan dua tamunya sembari mengingat-ingat soal pertemuan mereka terakhir kali. Satu pria tak pernah ditemuinya. Tapi, hanya dengan sekali lihat saja, Asih bisa mengambil kesimpulan siapa pria yang memegang bahu wanita di depannya.
“Oh, saya inget. Tentu aja saya ingat,” kata Asih. “Ini Mbak yang nganterin saya pulang ke teras belakang. Sekretarisnya Pak Toni, kan?” tanya asih berbasa-basi. Ia sudah mengenali Musdalifah. Pertanyaan itu hanya untuk mengisi kecanggungan.
“Iya, saya sekretarisnya Pak Toni. Kami berdua ke sini juga atas permintaan Pak Toni dan istrinya,” tukas Musdalifah.
“Selamat atas pernikahan Pak Toni. Saya kemarin dikabari sama Pak Toni, tapi nggak bisa datang karena jauh banget. Enggak ada temen juga ke sana,” ucap Asih pelan.
Musdalifah dan Santoso saling pandang. Muncul rasa tak enak di hati keduanya. Benar juga, mengundang Asih tanpa mengingat soal kesulitannya mencapai tempat resepsi sama saja seperti basa-basi.
“ Toni pasti mengerti,” sahut Musdalifah. “Boleh kami masuk dulu? Saya ingin ngobrol lebih santai,” tukas Muzdalifah, sedikit menjenguk kepalanya ke dalam. Ia penasaran juga soal aktifitas Asih selama sendirian di rumah.
“Oh, boleh—boleh. Silakan masuk,” Asih sedikit beringsut, mempersilahkan kedua tamunya masuk dan menempati seperangkat kursi kayu yang bantalannya telah memudar. Di dalam tak ada siapa-siapa.
Rumah Asih terlihat sangat kusam dan muram. Kain jendela yang bersih dengan corak ketinggalan zaman. Lemari hias kayu yang isinya gelas-gelas klasik yang menelungkup. Tak ada yang baru di sana. Hanya pintu ruang tamunya saja yang terlihat berbeda.
Pandangan Musdalifah tertumbuk pada pintu kayu yang terlihat berbeda. Dinding rumahnya papan tipis, tapi kenapa pintunya tebal dan mahal? Dahi Musdalifah mengernyit. Rupanya, Asih memperhatikan wajah penasaran Musdalifah.
“Itu pintu baru, Mbak. Pak Toni yang gantiin. Pintu sebelumnya rusak, lepas.” Asih tersenyum memandang pintu rumahnya. Ia belum lupa bagaimana empat orang laki-laki menjebol pintu rumahnya secara tak sengaja.
__ADS_1
“Apa Pak Toni yang bikin rusak?” tanya Musdalifah masih penasaran.
Asih tertawa. “Rame, Mbak,” sahut Asih menahan senyum.
“Rame? Bisa jadi empat laki-laki yang selalu nongkrong di Beer Garden. Aku udah bisa memastikan hal itu,” sahut Santoso tiba-tiba.
Musdalifah menoleh suaminya, masih dengan raut penasaran. Di benaknya timbul pertanyaan soal tujuan empat laki-laki tipe metropolitan itu berada di rumah seorang gadis yang berada di tengah hutan.
“Kok, dateng ke sini nggak ngomong-ngomong, Mbak? Kalau saya enggak ada di rumah, mbaknya bisa kecewa,” ujar Asih duduk menempati satu kursi di hadapan Musdalifah dan Santoso.
“Saya juga punya ilmu penerawangan, lho. Bukan kamu aja,” sahut Musdalifah tertawa.
Asih ikut tertawa mendengar perkataan Musdalifah, “Jadi, ada apa ya, Mbak? Saya nggak pernah kedatengan tamu. Biasanya yang dateng pasti ada keperluan tertentu. Apa Mbak dan Mas ini, mau saya terawang juga?” tanya Asih dengan senyum simpul.
“Jangan—jangan. Kalau untuk itu jangan. Saya nggak suka di terawang. Biarkan semuanya terjadi dan mengalir tanpa saya tau,” jawab Musdalifah.
Musdalifah langsung melirik ke arah Santoso. Di dalam hatinya ia langsung mengakui bahwa ternyata ilmu penerawangan asih tidak main-main. Ia bahkan tidak memberitahu kepada asih soal pernikahannya dengan Santoso.
“Diramaikan? Seramai apa?” Musdalifah sontak bertanya. “Apa seramai bapak-bapak yang diramal lima kemarin?” tanya Musdalifah sedikit cemas.
“Bapak-bapak siapa, Mus? Apanya yang lima?” tanya Santoso.
“Ada, Mas,” jawab Musdalifah tanpa menoleh. Matanya masih menatap Asih. “Enggak gitu, kan, Mbak?” tanya Musdalifah lagi.
“Enggak—enggak. Bapak yang itu belum terkalahkan,” jawab Asih terkekeh.
Musdalifah menarik napas lega, tak sadar tangannya memegang lengan Santoso.
__ADS_1
“Kami berdua datang ke sini, maksudnya mau mengajak Asih kembali ke kota. Pak Toni berniat membiayai pendidikan Mbak Asih, kalau Mbak Asih menghendakinya—”
“Panggil Asih aja, Mbak,” potong Asih.
Musdalifah kembali melanjutkan, ”Seperti kata Bu Wulan, istri Pak Toni, kamu masih terlalu muda untuk menikah atau tinggal sendirian di daerah ini. Kalau kamu berkenan, kamu bisa tinggal di rumah Pak Toni atau di mana aja yang membuat kamu nyaman. Mau di rumah Pak Toni, atau lokasi yang dekat dengan tempat kamu berkuliah. Gimana? Masih ada niat untuk melanjutkan pendidikan?” tanya Musdalifah.
Asih diam sejenak. Matanya menelusuri seluruh ruangan yang mereka tempati saat itu. Pikirannya kembali kepada kenangan saat terakhir bersama sang ibu di rumah. Selama sang ibu tiada, ia lebih sering berada di industri rumah tangga yang dimiliki oleh salah satu orang kaya di desa mereka.
Sebenarnya Asih kesepian. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Uang yang diberikan oleh Bu Anderson lumayan banyak di tabungannya. Ia pernah berniat melanjutkan kuliah, tapi di kota ia tak mempunyai siapa-siapa yang dikenalnya.
Haruskah ia mengambil kesempatan dengan mengiyakan tawaran ini? Sebagai seorang wanita muda, Asih menginginkan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Ia masih 21 tahun dan masa depannya masih panjang. Soal pernikahan, ia belum ada memikirkannya sama sekali.
Bagi Asih, tujuan hidup seorang wanita tak melulu soal menemukan jodoh. Saat ini, yang terpenting adalah menemukan kebahagiaan menjadi dirinya sendiri.
Asih menatap Musdalifah, senyumnya mengembang, “Saya mau, Mbak. Saya mau menerima tawaran Pak Toni membiayai saya melanjutkan pendidikan. Tapi, saya tidak mau tinggal di rumah Pak Toni. Bukan karena saya tidak mau mengurus Bu Anderson. Tapi, saya beranggapan lebih bijaksana jika seorang wanita muda tidak berada satu rumah bersama sepasang pengantin baru yang berada di puncak kebahagiaan. Sebentar lagi, seorang nyonya rumah akan memiliki bayi laki-laki yang luar biasa ganteng. Pak Toni pasti ingin Bu Anderson memusatkan perhatian pada cucunya. Saya akan datang sesekali menjenguk beliau,” jelas Asih.
Musdalifah kembali bertukar pandang dengan Santoso. Tak peduli bagaimana wanita muda itu bisa menerawang atau tidak. Yang jelas, ia menganggap Asih begitu bijaksana di usianya yang masih teramat muda. Musdalifah lalu mengangguk. “Baik kalau begitu. Kami berdua akan menunggu kamu membereskan pakaian. Kita langsung berangkat kalau kamu udah beres.”
Malam itu, Santoso dan Musdalifah berhasil mengantarkan Asih menemui Toni dan Wulan di kediaman mereka. Tugas Musdalifah belum selesai. Ia menunjuk salah satu staf administrasi di kantor T&T untuk mendampingi Asih mengurus segala hal soal pendidikannya. Untuk malam itu, Asih menginap di kamar tamu kediaman Anderson. Esok pagi-pagi, seorang supir dan seorang staf administrasi wanita akan menjemputnya untuk mencari tempat tinggalnya selama berkuliah.
Sementara itu di kediaman rumah yang lain, seorang pria masih terjaga tengah malam. Wajahnya sudah terlihat mengantuk, tapi sebuah buku tergenggam di tangan kanannya. Pria itu duduk di kursi pijat sambil memangku seorang bayi laki-laki.
“Kamu ini kayaknya mau ngerjain Bapak, ya? Tadi udah tidur, Bapak taruh di box, kamu bangun lagi. Udah jam dua pagi, Bapak besok kerja. Kamu tidur dong,” rengek pria itu pada anaknya.
Mata pria itu lalu melirik ke arah ranjang. Tempat di mana istrinya bergulung tidur dengan nyaman di bawah selimut.
To Be Continued
__ADS_1