
Usai Winarsih mengatur letak duduk Dita dan balita itu makan dengan tenang. Ia segera menggandeng Widi yang masih sedikit terisak menghabiskan sisa tangisnya. Beriringan mereka naik ke lantai dua.
"Win, ayo cepet. Udah jam 10," ujar Dean mengingatkan. Ia masih menggendong Handaru yang terus menggeliat.
"Iya, Mas. Rumah Mas Toni, kan, enggak jauh. Cuma sepuluh menitan dari sini. Kasian tadi Dita kalau enggak dibikinin nasi goreng. Belakangan lagi susah makan. Semua-semuanya enggak mau. Aku juga yang pusing. Makanya pas lagi minta aku bikinin langsung," jelas Winarsih.
"Iya, Bu Winar, Sayang …. Yang ini juga kayaknya haus. Dari tadi mukanya digaruk-garuk terus. Kayaknya bosen liat muka bapaknya," kata Dean memandang Daru.
"Alesan bapaknya aja, karena udah capek gendong. Sini, biar disusuin. Mas bujukin yang satu ini. Kan, mirip sama bapaknya. Mirip doyan ngambek," ujar Winarsih mengusap air mata Widi.
"Aku taruh di sini, ya." Dean meletakkan Handaru di atas ranjang. "Yang ini sekarang mau apa?" tanya Dean pada Widi.
"Mau sama adik," jawab Widi, menunjuk Handaru yang mulai disusui oleh ibunya.
"Ayo, mandi dulu. Kita mau pergi. Ikut pergi, kan?" tanya Dean, mengangkat Widi ke gendongannya. "Mandi sama Mbak, ya?" tawar Dean pada putrinya.
Widi mengangguk, lalu melingkarkan tangannya di leher Dean.
"Yang itu memang harus sama Bapak," gumam Winarsih dari atas ranjang, memandang Widi yang bergelayut manja di pelukan bapaknya.
"Aku anter Widi ke mbaknya dulu. Terus aku mandi. Daru selesai nyusu, kamu nyusul aku ke kamar mandi ya." Dean mengedipkan mata pada istrinya.
"Ngapain?" tanya Winarsih pura-pura tak mengerti.
"Jangan nanya gitu, Win. Aku jadi sedih. Udah beberapa malem aku jagain Daru sampe pagi. Aku butuh asupan tenaga yang sebenarnya. Udah, cepet susuin. Nanti anter ke mbaknya juga." Dean pergi keluar kamar membawa Dita.
Handaru ternyata memang haus dan mengantuk. Tak sampai dua puluh menit usai disusukan ibunya. Bayi itu tertidur, lalu diangkat ke dalam box-nya yang berada di sisi kanan ranjang.
Dean sudah masuk ke kamar mandi dan berkali-kali melongokkan kepalanya dari dalam memanggil Winarsih agar segera bergabung bersamanya.
"Enggak ada sabarnya yang ini," sungut Winarsih saat masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku enggak sabar, Bu. Bayangin, udah lima malem aku disia-siakan," jawab Dean yang sudah tak mengenakan yang sudah tak mengenakan apa pun lagi. Tubuhnya sudah basah.
"Udah selesai mandi?" tanya Winarsih pada suaminya.
"Mandi basah-basah dikit aja. Aku mau nungguin kamu. Mau minta gosok punggungku. Kayaknya udah lama banget kamu nggak bantu. Hamil anak pertama kamu sering mandiin aku, Win. Aku kangen masa-masa itu," kata Dean, memeluk Winarsih dari belakang dan mencium lehernya. Mereka berada di depan cermin kamar mandi dan Winarsih masih mengenakan pakaian lengkap.
"Anak pertama, Mas. Ini anaknya udah empat. Gimana mau mandiin Mas. Mandiin anakku aja kadang masih repot." Winarsih membuka kancing bagian depan dress yang dikenakannya.
"Itu artinya cinta Winarsih dan cinta Dean berlimpah. Hasilnya empat." Dean terkikik. "Ayo, cepet. Ini dibuka." Dean ikut membantu melucuti pakaian istrinya.
"Di mana?" tanya Winarsih.
__ADS_1
"Ya, ampun. Bu Winar udah profesional banget kayaknya. Langsung nanya tempat. Di bath tub aja, Win." Dean menyeret lengan istrinya untuk melangkah ke dalam bath tub yang pancurannya masih menyala tapi sumbatannya masih terbuka.
"Ya, menjelang siang ini aku khawatir dicariin anak-anakku. Jangan lama-lama. Pegel kalau nggak di ranjang," kata Winarsih.
"Duduk dulu di sini. Aku dipanasin dikit lagi," ucap Dean, mendudukkan Winarsih di ujung bath tub. Sejurus kemudian ia sudah mengusap bibir bawah Winarsih yang sedang mendongak menatapnya. "Kamu seksi banget kalo kayak gini. Bikin aku cepet keluar," bisik Dean seraya meringis. Tatapan matanya sudah sayu penuh naffsu.
Kehidupan yang diramaikan banyak anak-anak adalah impian Dean sejak dulu. Sejak ia merasa selalu kesepian berada di rumah besar yang nyaris tak berpenghuni. Ia tak mau anak-anaknya merasakan hal yang sama. Meski kadang kerepotan dan lelah ketika harus membagi waktunya antara kantor dan menjadi suami serta bapak bagi anak-anaknya, Dean sangat menikmati kehidupannya.
Winarsih yang tadinya sedikit enggan dan malas-malasan diajak bercinta di waktu-waktu mepet, lima menit kemudian sudah lupa niat awalnya. Ia sudah mendesaah panjang saat Dean memasuki tubuhnya ketika membungkuk. Pijatan tangan Dean di dadanya membuat ASI-nya seketika terasa semakin penuh. Gigitan-gigitan kecil Dean di punggung dan pundaknya membuat kamar mandi terasa semakin gerah.
Dean terus memacu diiringi erangannya yang teredam suara pancuran air. Lima belas menit kemudian, ia telah meringis dan melepaskan bagian tubuhnya.
"Win, dibantu Mas-nya." Dean nyengir kembali meminta Winarsih duduk dan membantunya mencurahkan kehangatan. "Di luar aja. Bahaya kalau Daru belum apa-apa udah punya adik lagi."
Menuruti apa kata suaminya, Winarsih mulai memberi perhatian penuh pada kejantanan suaminya dengan gerakan yang sudah berpengalaman selama lima tahun belakangan. Tiga menit dibantu olehnya, Dean meringis dan mengerang panjang seraya meremaas dadanya.
Persiapan menuju arisan akbar itu kembali gaduh. Semua anak-anak dibawa. Hari itu mereka membawa tiga orang babysitter untuk menemani mereka. Pak Noto ikut membantu menaikkan semua bawaan ke bagian belakang mobil Vellfire putih milik Winarsih yang merupakan hadiah dari Pak Hartono, ayah mertuanya.
"Semua udah ikut naik, kan? Sebentar aku absen dulu. Dirja, Dita, Widi, Daru, ditambah tiga orang, lalu aku dan ibunya. Oke, udah lengkap. Berangkat, Pak!" seru Dean dari belakang Pak Noto.
Arisan itu benar-benar besar. Dihadiri oleh teman-teman dekat dan keluarganya. Keluarga Wulan juga berada di sana, tapi sebagian sudah ada yang pulang. Hanya tertinggal keluarga inti yang sedang bersantai di ruang keluarga.
Sedangkan para teman, baru saja tiba satu persatu. Yang paling awal tiba adalah pasangan Musdalifah dan Santoso. Musdalifah terlihat sibuk membantu Wulan mempersiapkan berbagai cemilan untuk anak-anak. Ruang tengah yang tadinya hanya ada seperangkat kursi, kini sudah disulap dengan beberapa mainan yang disusun sedemikian rupa.
"Banyak banget, Lan." Dean menurunkan Widi dari gendongannya. Balita itu segera berlari mencoba seluncuran mini berwarna merah jambu.
"Biar anak-anak puas main. Lagian Tirta juga pasti perlu mainan. Ruangan ini jadi tempat main anak-anak aja. Winar …. Sini!" seru Wulan memanggil Winarsih.
Winarsih mendekat dengan seorang babysitter yang sedang menggendong Handaru.
"Mbak Wulan udah sehat?" tanya Winarsih, memberikan pelukan dan cium pipi kanan-kiri pada ibu baru itu.
"Udah, Win. Tirta udah tiga minggu. Aku sama Mas Toni mau menjalankan program yang sama dengan kamu dan Mas Dean," tukas Wulan tertawa.
Dean berjengit saat mendengar hal itu. Program yang sama apa? Banyak anak? Ia melirik Toni yang berada di dekatnya. Mengerti dengan apa yang dimaksud sahabatnya, Toni meringis dan mengangkat bahu.
"Mau banyak," bisik Toni, melirik Wulan yang sedang mengintip Handaru di dalam gendongan babysitter.
"Tirtanya mana, Mbak?" tanya Winarsih pada Wulan.
"Itu," sahut Wulan, memandang seorang babysitter yang berdiri menggendong bayi di dekat meja makan. "Baru tidur, sebentar lagi diletak ke dalam box-nya. Tadi udah capek digendong gantian sama keluarga. Semua mau pada mau pegang," ujar Wulan dengan mata berbinar.
"Minta bikin yang banyak, Lan. Kalo cuma satu pasti dijadikan rebutan. Diramein sekalian sampe Papi Toni nggak bisa duduk tenang," tutur Dean, memandang jahil pada temannya.
__ADS_1
"Curhat lo?" tanya Toni dengan senyum mengejek.
Dean tertawa dan menonjok lengan sahabatnya.
"Ayo, ngobrolnya di dekat meja buffet. Jangan di sini," seru Ryan dari ruang tengah.
"Eh, Pak Ryan udah dateng," tukas Dean, berjlan mendekati sekretarisnya. "Anak lo juga nggak mau sama ibunya?" tanya Dean, memegang lengan bayi laki-laki di gendongan Ryan.
"Ayo, bapak-bapak dengan balita! Ke sini aja," panggil Langit yang berjalan melintas.
Jennifer dan Jingga berjalan menggandeng anak-anaknya masuk ke ruang bermain.
"Gio main di sini, ya. Ada Cece juga duduk di sana," kata Jennifer pada putra bungsunya. Giovani berlari masuk ke ruang main mendekati kakak perempuannya nomor dua.
"Yang sulung mana, Mbak?" tanya Winarsih pada Jennifer.
"Yang sulung mau pergi sama omanya. Kalo udah gede, rasa susah diajak, Win. Udah tau mau ngikut yang mana," jawab Jennifer.
Jingga mengantarkan Kalla dan Zurra duduk di atas permadani. Di sana sudah ada Dita yang sedang menyusun balok warna-warni dengan tekun.
"Mbak Dita, Kalla dan Zurra ikut main, ya …." Jingga mencolek pipi Dita yang rautnya sedang serius.
"Iya, boleh." Dita menoleh sekilas pada Jingga kemudian lanjut memandang mainan di tangannya.
"Jingga, ayo! Kita duduk di sana aja," ajak Wulan, menunjuk sofa yang berad di ruang makan. "Musdalifah mana, ya?" gumam Wulan memandang sekeliling ruangan.
"Itu Mbak Mus," kata Winarsih, menunjuk Musdalifah yang sedang berdiri mengambil makanan seraya berbisik-bisik dengan Santoso.
Wulan mengajak Winarsih, Jingga, Jennifer, Novi dan Musdalifah untuk menempati seperangkat sofa di sudut ruang makan. Wulan sedang asyik menceritakan kegiatannya sebagai ibu baru. Sekarang ia bahkan lupa akan perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah dan menimbulkan banyak cerita dalam hal kepemilikannya.
"Mus, udah hamil?" tanya Wulan tiba-tiba pada Musdalifah.
Pertanyaan itu dilontarkan Wulan tak sengaja di kala ruang makan hening. Sontak orang-orang yang berada di sana menoleh ke arah Musdalifah. Sepertinya semua orang yang berada disana memiliki pertanyaan yang sama dengan Wulan.
Musdalifah sedikit terperangah. Ia menoleh sekeliling, tapi belum menjawab apa-apa. Tak hanya para ibu-ibu, para bapak-bapak pun terlihat sama penasarannya. Usai mendengar Wulan menanyakan hal itu, Dean langsung mencolek pinggang Santoso.
Dalam keheningan beberapa detik yang terasa sangat lama, Asih masuk ke ruangan dengan semangkok salad yang dibawanya dari belakang.
"Mbak Mus, selamat ya …," ucap Asih tersenyum pada Musdalifah.
To Be Continued
Detik-detik Genk Duda Akut TAMAT ya, ibu-ibu :*
__ADS_1