
Ruangan gelap itu sangat kacau. Dean terlihat sangat jelas berada di dalam kegelapan karena setelan jasnya yang berwarna krem. Ryan bisa melihat atasannya kembali duduk di sofa dan menendangi semua hal yang berada dalam jangkauan kakinya. Satu tangannya berada di kerah kemeja Pak Valentino.
Ryan tak melihat berapa kali Dean memukul pria itu. Tiga pria yang dalam kondisi mabuk berat, membuat mereka susah bangkit saat mendapat tendangan kaki atasannya.
Ryan berdiri memunggungi pintu. Di saat bersamaan Dean mengangkat tangannya untuk kembali memukul Pak Valentino, Ryan memekik.
“Stop, Pak!” Ryan merasa tubuhnya terdorong. Petugas keamanan masuk ke ruangan. Dan ia melihat kalau Dean mengempaskan tubuhnya di sofa. Sepertinya Dean masih menyadari situasi sekitarnya.
“Berenti! Berenti!” teriak pihak keamanan. “Gawat ini,” ucap petugas itu kemudian. Ia menyadari keberadaan orang-orang penting di dalam ruangan itu. Tentu saja orang penting itu adalah Pak Valentino dan bos-bos lain yang menjadi langganan klub.
Enam tahun yang lalu, Dean hanya seorang pria nekad berusia 27 tahun. Orang belum mengenalnya karena ia baru di Indonesia dua tahun belakangan. Ryan buru-buru menghampiri atasannya. Ia ingat apa yang dikatakan Dean sebelumnya. Ia tak boleh mabuk. Pasti karena ada hal penting yang harus dikerjakannya. Atasannya juga bilang kalau malam itu menentukan, panjang atau tidaknya masa ia bekerja.
“Saya akan buat laporan.” Ryan seperti mendapat keberanian dari sebotol minuman energi yang tadi diteguknya.
“Ini keributan biasa di klub,” ujar petugas. “Bisa diselesaikan di kantor manajemen.”
Tak lama seorang pria berdasi ikut menyeruak kerumunan. “Iya, ini sudah biasa. Keributan orang mabuk,” kata pria itu.
“Tidak bisa. Ini klien saya. Dia ke sini mau menemui Pak Valentino. Tapi tiba-tiba malah dipukul. Kalian yang telfon polisi, atau saya? Saya tunggu itikad baik klub ini sekarang juga.” Ryan berbicara lantang setelah menyandarkan atasannya agar duduk tegak.
“Eh, Ryan ... gue mual—gue mual.”
“Bapak berhak diam sampai kita menemui pihak berwajib,” ucap Ryan.
“Keren ...,” gumam Dean, dengan mata yang setengah memejam.
“Kita saja yang hubungi. Sebentar—sebentar, nyalakan lampu!” pinta pria berdasi, yang ternyata memakai badge nama bertuliskan, ‘Manajer Operasional’.
Saat lampu menyala, Ryan sedikit terperanjat. Pakaian Dean yang tadi begitu cemerlang, kini kotor bermotif tapak sepatu. Sudut bibir atasannya berdarah karena pukulan pertama tadi. Dean tertidur bersandar di sofa.
Itu adalah pengalaman hari pertama bekerja Ryan. Ia berperan sebagai pengacara atasannya yang dikeroyok di klub malam. Atasannya yang memulai keributan, namun berhasil menyandang status sebagai korban. Beberapa orang digelandang akibat positif menggunakan obat terlarang.
Ryan mengemudikan mobil ke kantor polisi untuk pertama kalinya. Ia melengkapi berkas laporan Dean sebagai korban.
Lewat tengah malam, usai dari kantor polisi, Dean tidur di mobil setelah muntah beberapa kali. Ryan menawarkan untuk mengantar atasannya itu pulang. Tapi atasannya bersikeras bahwa dia harus pulang dalam keadaan sadar. Alasannya cukup sederhana.
__ADS_1
“Gue nggak mau diomeli nyokap gue. Gue tidur sebentar. Lo diem aja di situ.”
Dean yang terlihat begitu angkuh dan garang ternyata takut pada ibunya. Sebelum tidur ia mewanti-wanti untuk tak menjawab semua telepon masuk. Dan dua jam berikutnya Ryan duduk termangu-mangu di dalam mobil yang masih terparkir di halaman kantor polisi.
Ryan berhasil mengantarkan atasannya pukul dua dini hari. Malam itu ia tertidur di kamar tamu rumah keluarga Hartono.
Dua hari kemudian, Dean tersenyum-senyum memandangi tablet di tangannya.
“Yan! Sini lo,” panggil Dean.
Setelah ia mendekat, Dean menunjukkan berita yang tadi ditatapnya dengan penuh senyuman.
Nama firma hukumnya mencuat. Danawira’s Law Firm yang membela hak nasabah asuransi hingga menyebabkan keributan di klub malam.
“Selamat, Pak.” Ryan tersenyum tulus memandang atasannya. Sedikit banyak ia kagum. Dean begitu bekerja keras membuktikan siapa dirinya, meski ia bisa bersantai menikmati kekayaan orang tua.
Dalam enam tahun perjalanannya mendampingi Dean, tak sedikit kisah jatuh bangun yang mereka jalani bersama.
Ryan menyaksikan bagaimana Dean pernah tertawa bangga karena kemenangan kasusnya. Pernah melemparkan gelas pada seseorang yang mengolok-oloknya. Dean sering bertengkar dengan wanita-wanita yang mendatangi kantornya. Dean juga pernah muram menatap keluar jendela yang belakangan Ryan tahu penyebabnya adalah, pembantu rumah tangga atasannya itu berhenti bekerja.
Ryan pernah dibangunkan dini hari hanya untuk mencari kalung mungil untuk modal menikah atasannya. Laki-laki yang dikenalnya sebagai bunglon itu, akhirnya menikah dengan pembantunya sendiri. Pembantu yang Ryan yakin pasti sudah diincar atasannya sejak hari pertama bekerja. Ryan puas melihat bagaimana atasannya bertekuk lutut, manut, pada seorang wanita sederhana.
Pikiran Ryan kembali ke dalam ruangan tempat di mana Dean masih terkekeh menepuk-nepuk pundak Santoso untuk menyemangati pria itu menggombali sekretaris Toni.
“Pak,” panggil Ryan. Dean masih sibuk dengan Santoso. “Pak!” seru Ryan, meninggikan suaranya.
“Ih, apa, sih! Teriak-teriak.” Dean menutup sebelah telinganya.
“Ini mau apa? Saya banyak kerjaan,” ujar Ryan.
“Mau apa? Ya, mau kasi semangat buat Santoso.” Dean kembali terkekeh.
Ryan melemparkan tatapan sebal. Waktunya terbuang percuma hanya untuk melihat Santoso dan Musdalifah yang saling melemparkan tatapan berlawanan arti.
“Saya balik ke ruangan, ya.” Ryan bangkit.
__ADS_1
“Jangan, sebentar lagi kita berangkat.” Dean melirik jam di pergelangan tangannya. “Ton! Berangkat sekarang aja?” tanya Dean pada sahabatnya.
“Ke man—oh,ya! Ke sana ya?”
“Ke mana, Pak?” tanya Ryan.
“Nemuin mantan pacarnya si Rey. Gue udah cerita ke Toni, dikit. Lengkapnya entar aja. Lo harus ikut. Santoso dan si Mus juga harus ikut. Cinta itu ada karena terbiasa.” Dean terkikik.
“Ngaco! Hih!” Musdalifah memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Hati-hati jadi overthinking ...,” gumam Dean. Musdalifah berpura-pura tuli mengaduk-aduk isi tasnya.
“Mau nemuin seorang aja, cewek pula. Kenapa harus sekompi kayak gini?” protes Ryan. Ia merasa Dean hari itu memiliki energi berlebih untuk bersenang-senang. Sedangkan ia sendiri harus kembali menumpuk pekerjaan demi meladeni atasannya bermain-main.
“Harus ikut semua. Nanti pasti kebagian kerjaan. Perasaan lo makin tua makin rewel ya, Yan ....” Dean sudah berdiri. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan menatap Ryan dari atas ke bawah. “Ckckck ... aura bapak-bapak lo lebih keliatan dari gue.”
Ryan mendengus dan bangkit malas-malasan.
“Eh, tunggu. Gue bales pesan Wulan dulu.” Toni menunduk di atas ponselnya dan mengetik cepat.
“Cie ... udah chat-chat-an aja. Ngomong apa dia? Kangen ‘Sayang’?” Dean menjulurkan kepalanya, mengintip pesan Toni.
Toni yang merasa sedang diintip, memutar duduknya. Setelah mengetik pesan, Toni langsung berdiri. “Ayo, buruan. Wulan nggak enak badan. Gue mau mampir ke rumahnya bawain makan siang.”
“Enggak enak badan? Enggak mungkin. Pasti lo yang chat dia duluan. Nanya, ‘Sayang udah makan?’. Lagak lo, Ton .... Gue udah hafal tingkah lo sejak balita.”
Toni tak peduli perkataan Dean. “Ryan .... Gue selalu kagum ama lo karena bisa bertahan sejauh ini. Lo adalah ujung tombak Danawira’s Law Firm yang sesungguhnya.”
Toni merangkul pundak Ryan dan melenggang keluar ruangan. Santoso ikut menyusul di belakang Ryan.
Dean yang tertinggal bersama Musdalifah saling pandang.
“Apa? Pengen dirangkul juga? Sana jalan duluan,” pinta Dean, pada Musdalifah.
“Semoga Pak Toni panjang umur. Sehat-sehat selalu, Pak Toni ...,” gumam Musdalifah. Ia lalu melangkah meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Dean menatap Musdalifah dan mencibir.
To Be Continued