GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
32. Cerita Teman Hidup


__ADS_3

Dean tiba di rumah hampir pukul sepuluh malam. Sebuah gerobak sate Madura sudah berada di dekat pos satpam. Dan penjualnya tengah bercakap-cakap dengan Rojak yang bertugas malam itu.


Dean melewati gerobak sate dan memarkirkan mobilnya di depan teras.


“Pak!” panggil Rojak saat Dean baru keluar mobilnya. “Ini—” ujar Rojak menunjuk gerobak sate.


“Di sini aja,” panggil Dean menunjuk gerobak sate.


Rojak dengan tangkas langsung membantu pedagang membawa gerobaknya, hingga tiba di depan lobi rumah.


“Di siapin aja, Pak. Saya mau panggil istri saya dulu. Ini masih banyak?” tanya Dean pada pedagang itu.


“Enggak banyak, Pak. Mungkin sekitar 15 porsi lagi,” sahut pedagang sate.


“Aman kalo gitu,” cetus Dean. “Ya, udah. Disiapin aja. Saya naik dulu,” kata Dean.


Ia langsung menaiki tangga besar dan menuju pintu kamarnya. Di depan pintu kamar, ia menyempatkan diri membenarkan letak dasi, dan menaikkan helai rambutnya yang sudah mulai kehilangan efek minyak rambut.


Dean sudah memasang senyum termanisnya. “Win …,” panggil Dean menekan handle pintu kamarnya. Terkunci. Senyum di wajahnya sirna seketika. “Udah tidur, ya?” tanya Dean lagi.


“Winarsih, Sayang …,” panggilnya dengan manja. “Udah nunggu aku pake baju tidur pesenanku, kan?” tanya Dean lagi. Tak ada suara. Ia menoleh jam di pergelangan tangannya.


Waktu berjalan terus dan Dean tak ingin membuang waktu percuma. Tak ingin kehabisan akal, ia lalu pergi menuju kamar ibunya.


“Ma …,” panggil Dean. Ia mengetuk kamar Bu Amalia berkali-kali. “Mama ...,” panggilnya lagi.


Terdengar langkah kaki mendekati pintu, dan wajah Pak Hartono muncul.


“Kenapa, De?” tanya Pak Hartono, dengan wajah sembab karena baru terjaga dari tidurnya.


“Mama mana, Pa? Ibunya Dirja perlu bantuan Mama katanya.” Dean melongok ke dalam kamar orangtuanya. Ia melihat ibunya sudah ikut terjaga.


Mendengar ucapan Dean, Bu Amalia bangkit dari tidurnya dan mengambil tongkat. Wanita tua itu berjalan tertatih menuju pintu kamar.


“Bantuan Mama aja?” tanya Bu Amalia lagi.


Dean mengangguk. “Iya, Mama aja. Mungkin urusan wanita.” Dean mengatupkan bibirnya. Ia tahu sesaat lagi pasti akan disemprot oleh ibunya.


“Kenapa ibunya Dirja?” gumam Bu Amalia, keluar kamar dan berbelok ke kiri menuju kamar Dean dan Winarsih.


“Panggil aja, Ma,” bisik Dean. Ia melambatkan langkahnya agar Bu Amalia tiba lebih dulu di depan pintu kamarnya.


“Win! Win!” seru Bu Amalia menekan handle pintu. “Katanya manggil Mama, kok kamarnya dikunci?” tanya Bu Amalia.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu dan kunci kamar itu pun langsung diputar dari dalam.


“Ada apa manggil Mama?” tanya Bu Amalia pada menantunya yang muncul di ambang pintu.


“Ha?” Winarsih melemparkan tatapan bingung.


Dean melangkah cepat-cepat mendekati pintu dan menyelinap masuk menerobos tubuh istrinya. Winarsih terperanjat dan melemparkan tatapan kesal.


“Makasih, Mama …. Bapaknya Dirja yang perlu bantuan. Bukan ibunya.”


PLAKKK.


Bu Amalia memukul lengan anaknya. “Ganggu orang tidur aja! Pasti baru pulang kelayapan. Cocoknya memang tidur di luar. Sana sekalian temenin Rojak tidur di pos!” sergah Bu Amalia dengan wajah kesal.


“Wah …. Dean kayaknya memang perlu tes DNA. Benarkah Bu Amalia Lim, ibu kandungku?” ucap Dean dari balik tubuh Winarsih.


“Suruh di luar aja, Win. Jangan dikasi masuk!” ujar Bu Amalia.


Dean memeluk pinggang Winarsih dari belakang. “Win … aku udah bawa gerobak sate untuk kamu. Kamu bisa makan sepuasnya. Itu tukang sate kenangan kita dulu,” ucap Dean.


Dean menunduk dan berbicara menyembunyikan wajahnya di belakang kepala Winarsih. “Mama juga boleh ikut makan. Masih banyak,” sambung Dean.


Winarsih memandang wajah ibu mertuanya dengan tatapan penuh penyesalan. Ia tak menyangka kalau Dean akan mengganggu waktu istirahat ibunya hanya untuk membantu membukakan pintu.


Winarsih melepaskan cengkeraman tangan Dean di pinggangnya dan berbalik. Dean mundur dua langkah, karena melihat tatapan Winarsih.


“Aku, kan, udah bilang … minta kamu pake baju tidur yang bahannya kayak kelambu bayi.” Dean menatap Winarsih dari ujung kaki hingga kepala. Malam itu istrinya mengenakan training olahraga lengkap yang diresleting sampai ke bawah dagu. “Bener-bener nggak ada celah di seragam tidur kamu ini,” sambung Dean.


“Kelamaan pulang. Males. Janjinya satu jam lagi. Ini udah jam berapa? Anak-anaknya udah tidur semua. Nanya bapaknya mana, tapi nggak pulang-pulang.” Winarsih mengomel dengan suara rendah sambil menutup pintu kamar.


“Aku bener-bener pergi nemenin Toni. Kasian aja kalo pergi sendirian. Langit dan Rio lagi di luar kota. Cuma ada aku. Mungkin besok-besok, Toni bakal minta temenin mereka. Jadwalku juga padat mulai besok. Jangan ngambek ya … aku lemes kalo kamu ngambek. Jiwaku jadi tersisa setengah aja. Perekonomian keluarga kita bisa terguncang, kalo aku lemes dan nggak masuk kantor, karena kamu ngambek. Inget Win … masa depan keluarga kita, semua ada di tangan kamu.” Dean kembali memeluk istrinya. Ia memeluk Winarsih, hingga setengah tubuh istrinya terangkat.


“Bisa aja kalo ngomong …,” sergah Winarsih menggeliat di pelukan suaminya.


“Kalo ngomong ya bisa aja, Win … yang lain aku juga bisa. Tapi jangan sekarang. Tukang satenya udah di bawah. Ayo, kita makan dulu. Aku juga belum makan. Nanti abis makan, aku liat anak-anak ke kamar mereka. Yang penting, ibunya duluan diamankan.” Dean menunduk dan menciumi telinga Winarsih.


“Ya, udah, lepasin. Katanya mau ngajak makan.” Winarsih menghindari ciuman-ciuman Dean.


“Nah … gitu dong. Kamu cantik banget kalo nggak ngambek. Nanti aku mau ngajak olahraga, tapi seragamnya nggak kayak gini. Dituker ya, Sayang …,” ucap Dean.


“Males, ah.” Winarsih melepaskan pelukan Dean. Ia lalu memutar tubuh untuk membuka kancing jas suaminya. “Dibuka dulu jasnya … pasti gerah seharian. Mandinya nanti aja, kasian tukang satenya kalo kelamaan nunggu.” Apalagi yang bisa dilakukannya selain mengurus Dean, anak-anak dan kebutuhan mertuanya di rumah itu.


Winarsih memang memiliki stok kesabaran berlimpah untuk suaminya. Terkadang ia memang benar-benar kesal dengan Dean. Sebelum suaminya tiba di rumah, biasanya ia sudah memiliki berbagai macam rencana untuk melancarkan agresi. Namun, setiap kali Dean pulang, rencananya pasti buyar.

__ADS_1


Biasanya tekad agresi Winarsih mulai pudar saat melihat raut memelas sekaligus manja suaminya. Kemudian saat suaminya mulai melancarkan kalimat-kalimat manis, rencana ngambeknya langsung buyar dan menguap.


Malam itu, hampir pukul sebelas malam, Winarsih digandeng suaminya menuruni tangga ke teras depan rumah. Benar kata suaminya tadi. Sebuah gerobak tukang sate langganan mereka dulu, sedang berada di teras. Asap pembakaran satenya mengepul, dan Dean menggenggam tangan winarsih untuk duduk di tangga teras.


“Pak, satenya dua ya. Komplit seperti biasa,” ucap Dean.


“Baik, Pak Dean …,” sahut bapak penjual.


“Kamu inget nggak, dulu … banget. Waktu aku belum tau kamu lagi hamil Dirja, kita makan sate bapak ini pertama kali. Di depan kita, duduk orang yang lagi pacaran. Mesra banget. Cewenya manja-manja gitu. Waktu itu, aku pengen banget kamu kayak gitu. Meluk lengan aku, sandaran—”


“Kayak gini?” tanya Winarsih merapatkan duduknya dan melingkarkan tangan di lengan Dean.


“Iya … kayak gitu." Dean menatap kepala istrinya.


"Jangan jauh-jauh dari aku, Bu …. Aku nggak pernah gombalin kamu. Yang aku bilang, semuanya bener. Cintaku itu, udah habis untuk kamu dan anak-anak. Kalo nilai totalnya seratus, bagian kamu makin sedikit karena harus dibagi dengan anak-anak kita.” Dean menoleh pada Winarsih yang tengah memeluk lengan kirinya dan menempelkan hidung di sana.


“Jangan kelamaan main di luar. Di kantor udah seharian. Anak-anak jarang ketemu bapaknya. Jangan sampe Mas nggak deket dengan anak-anak.”


“Aku tadi emang bareng Toni. Aku pengen dia balik lagi ama Wulan. Tapi, Wulan ada pacarnya. Nyebelin banget. Aku aja kesel, apalagi Toni. Tapi … tadi dia berhasil nyium Wulan kayaknya. Toni mau bohong. Dia nggak tau aku udah profesional soal mengacak lipstik Bu Winar. Gak kebayang kalo tadi dia naik mobilnya sendiri, trus balik ke kantor dengan tampang kayak gitu. Itulah pentingnya sering-sering ngaca.”


“Hmmm—” sahut Winarsih.


“Win …,” panggil Dean.


“Ya?” Winarsih mendongak memandang wajah suaminya.


“Makasi, ya … udah jadi istri yang luar biasa pengertian untuk aku. Dari dulu, sampe sekarang, aku tau mendampingi aku itu nggak mudah. Makanya … istriku itu, harus kamu. Kamu harus sehat-sehat, dan panjang umur. Nasib penerus keluarga Hartono, ada di tangan kamu.”


Winarsih tertawa kecil, kemudian mencium lengan Dean yang dipeluknya. “Bapaknya Dirja juga sehat-sehat dan panjang umur. Siapa lagi yang merepotkan seisi rumah ini, kalau bukan bapaknya Dirja.”


Dean cemberut. “Kamu ini … sejak jadi sekutu Mama, makin berani.”


“Tapi … bapaknya Dirja juga makin cinta, kan?”


“Pasti itu—pasti. Nanti ganti dengan yang bahan kelambu bayi ya … pake yang warna ungu. Waduh, Win, kamu pasti seksi banget.” Dean menunduk mengecup dahi istrinya. “Aku mau dua kali,” bisik Dean, kemudian tergelak.


To Be Continued


Like-nya jangan kelewat ya ... Biar gak jomplang dengan bab sebelumnya. Hehehee ...


Yang nanya "Mabuk CEO" di Watt pad, sabar ya ... tengah malam baru bisa di update. Nunggu masuk hari baru.


Sayang semuanya .... :*

__ADS_1


__ADS_2