
Sabtu pagi memang waktu yang tepat untuk bersantai bagi pekerja kantoran yang sudah menghabiskan lima hari di luar rumah. Begitu pula dengan Langit. Pagi itu ia melupakan soal rencana pukul sebelas siang di rumah Toni.
Pukul enam pagi ia terbangun dan meraba sisi tempat di mana Jingga berbaring, namun ia tak mendapati istrinya di sana. Dengan mata menyipit dan remang lampu kamar, ia melihat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi.
“Ngapain?” tanya Langit dengan suara parau.
“Pipis,” jawab Jingga, duduk di tepi ranjang dan mengecek ponselnya.
“Sini tidur lagi,” ajak Langit.
“Udah terang. Sebentar lagi anak-anak pasti bangun,” sahut Jingga. Matanya tak beralih dari ponsel untuk mengecek satu persatu pesan di grup dan pesan pribadinya. “Arisan bareng istrinya Mas Rio jadi, kan?” tanya Jingga, menoleh Langit yang menjulurkan tangan memanggilnya.
“Jadi. Ada proposalnya. Nanti aku kirim ke kamu biar bisa liat di mana tempatnya. Ada-ada aja,” gumam Langit. “Ayo, Mima. Sekali aja sebelum Kalla dan Zurra bangun.” Langit bergerak maju dan menggaruk punggung istrinya.
“Jangan lama-lama. Liat ke luar, udah terang benderang.” Jingga kembali menaiki ranjang dan menghempaskan tubuh di dalam tangan Langit yang terentang.
“Mmmm—masih dingin banget,” gumam Langit, memeluk Jingga dan menggaruk-garuk punggung wanita itu. Tangannya mengangkat piyama Jingga dan meraba-raba pengait bra. “Buka kancingnya,” pinta Langit, mencium puncak kepala Jingga yang tenggelam di sela lehernya.
“Harusnya dibukain,” kata Jingga, menegakkan tubuh dan mulai melepaskan kancing piyamanya.
“Kan, harus kerja sama.” Langit meremaas pinggul istrinya. “Kalo gitu … Mima yang kerja, ya … Didi lagi pengen dimanja,” kata Langit.
“Curang banget. Dia yang pengen padahal,” rajuk Jingga. Tapi, tangannya membuka kancing piyama Langit cepat-cepat. “Ya, udah. Buruan. Nanti anak-anak bangun,” tukasnya lagi.
“Memancing aku nggak lama, kok. Mima tinggal bantu dikit aja,” ucap Langit, terkekeh pelan. Mengusap kepala istrinya yang mengerucutkan mulut. “Mima juga dibuka semuanya. Biar ringkas.” Ia membantu meloloskan celana satin pendek yang dikenakan istrinya.
Jingga tak lagi menghiraukan langit terang saat menurunkan piyama suaminya dengan tergesa. Sejurus kemudian ia sudah mendengar suara Langit yang mengerang pelan, seraya mengacak rambutnya. Gerakan kepalanya yang naik turun tak berlangsung lama. Setelah erangan kedua, Langit menarik lengannya untuk bergerak ke atas.
Tangan Langit membelai lutut dan menyusuri paha Jingga sampai berhenti di tempat kepemilikannya. Merasakan tempat itu apakah sudah bersiap untuknya atau belum. “Sekarang, ya?” Pertanyaan Langit itu tak memerlukan jawaban. Karena ia langsung menuntun panggul Jingga untuk menekan tubuhnya. Desaahan panjang meluncur dari mulut Langit. Mata dan mulutnya setengah memejam ketika kedua tangannya mencengkeram pinggang istrinya, untuk mengikuti gerakan yang ia ciptakan.
Kepala Jingga menunduk. Rambutnya yang terurai seolah nmenciptakan tirai bagi pandangannya dan Langit untuk saling mengunci. Kedua telapak tangannya menekan dada Langit. Membantu membagi beban untuk kenikmatan yang sedang mereka gali bersama. Beberapa saat berada di atas tubuh suaminya mulai membuat gerakan Jingga tak teratur. Kedua lututnya lemas seiring himpitan hasrat yang menekannya ke titik puncak. Jingga merunduk. Memberi puncak dadanya kesempatan untuk dikulum oleh bibir Langit yang basah. Itu adalah salah satu adegan favoritnya. Saat Langit berlama-lama di puncak dadanya.
Langit yang sudah mengerti dengan hal yang diinginkan istrinya, segera menyambut. Ia menyesap dan melumaat puncak dada itu sedikit keras. Ia ingin menyempurnakan pelepasan yang sedang dilakukan istrinya. Lalu, ia merasakan Jingga membenamkan kukunya lebih dalam. Dadanya pasti terluka karena goresan kuku Jingga. Namun, tak apa. Langit tersenyum puas melihat Jingga yang semakin merunduk dan mengecupi telinganya. “Mima … kamu curang. Pagi ini harusnya aku yang diutamain,” keluh Langit.
__ADS_1
Jingga mengangkat wajahnya dari ceruk leher Langit. Menatap suaminya dengan sorot mata sendu seakan mengantuk. Tungkai kakinya sudah lemas dan lututnya terasa bergetar. Tapi, ia menyadari kalau tugasnya pagi itu belum selesai. Ia menjatuhkan dirinya di sisi ranjang. Untuk menyambung sebagai leader permainan pagi itu, ia tak sanggup.
“Didi aja, ya? Aku lemes,” ucap Jingga.
“Udah enak, baru lemes.” Langit bangkit setengah mengomeli istrinya yang kini hanya pasrah merentangkan tangan dengan kakinya yang sudah ia tekukkan. Jingga hanya nyengir saat Langit mengatakan hal itu.
Kemudian, Langit tak menoleh langit yang menoreh jingga di luar sana. Ia mengayun di atas tubuh istrinya. Geraman dan cengkeraman berlaku nyaris bersamaan. Hingga ketika ia merasa dirinya akan meledak di dalam sana. “Mima … lagi?” tanya Langit pada istrinya. Menawarkan apakah wanita itu ingin menjemput titik puncak keduanya bersamaan. Jingga mengangguk. Dan Langit semakin mempercepat ritmenya.
Tapi ….
“Mima ….” Suara Zurra terdengar dari luar pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Didi ….” Kali ini, suara Kalla terdengar setelah ketukan pintu. Tak diragukan lagi memang. Tenaga balita laki-laki itu lebih kuat menciptakan ketukan yang membuat kedua orang tuanya nyaris terlonjak.
“Aduh,” pekik Langit.
“Udah, buruan. Konsentrasi,” bisik Jingga. Ia memijat dadanya sendiri dengan kedua tangan. Menciptakan pemandangan untuk memprovokasi agar Langit cepat menuntaskan tujuannya. Ketukan-ketukan tak beraturan semakin ramai terdengar di pintu. Ia merasa harus menuntaskan keinginan suaminya pagi itu. Kalau tidak? Malam nanti Langit bisa membuatnya terjaga karena sikap jahil suaminya.
“Mima … Didi …,” panggil Zurra.
“Ahhh ….” Langit menunduk. Kedua tangannya mencengkeram bantal yang sejak tadi ia jadikan tumpuan. Saat ia membuka mata, ternyata Jingga baru saja bergidik. Wanita itu ternyata sempat mencuri kesempatannya yang kedua.
“Udah, kan?” tanya Jingga.
“Mima …!” pekik Kalla.
“Iya—iya, sebentar Mima buka pintunya,” sahut Jingga. Ia buru-buru bangkit menyingkirkan tubuh Langit yang masih menunduk mengamati keperkasaannya di bawah sana. “Udah, Didi ke kamar mandi, cuci muka dulu. Liat jam!” seru Jingga. Terpincang-pincang mengenakan pakaiannya kembali.
“Hah?!” Langit tersentak saat Jingga mengatakan soal jam. Hari sabtu pukul sebelas siang di kediaman Toni. Jarak rumah mereka cukup jauh. Bisa menghabiskan satu jam lebih di perjalanan kalau lalu lintas lancar. Kalau macet? “Pantes anak-anak udah bangun. Udah jam segitu ternyata. Aku mandi duluan,” kata Langit berusaha menyelamatkan diri.
“Tunggu—tunggu. Didi cuci muka aja dulu. Main bareng mereka sebentar. Aku nyiapin makanannya.” Jingga memutar handle pintu dan mendapati dua wajah polos yang cemberut memandangnya. “Waah …. Si ganteng dan si cantik Mima udah bangun. Kok pada cemberut?” sapa Jingga. Ia melihat suaminya melesat ke kamar mandi dengan selembar handuk yang disambarnya dari hanger besi. Jingga berdecak. Padahal ia sudah mengatakan jangan mandi dulu.
__ADS_1
Harusnya Langit dan keluarganya berangkat dari rumah paling lama pukul sepuluh pagi. Tapi, pukul 10 pagi, ia masih sibuk mengancingkan kemeja putranya dengan terburu-buru.
“Didi, aku mau bawa mainan ini ya!” Kalla mengangkat sebuah mobil-mobilan berukuran besar yang dilengkapi dengan remote.
“Iya, oke.” Langit mengangguk dan meneruskan dengan menggulung lengan kemeja balita yang nyaris berusia empat tahun itu.
“Yang ini juga,” kata Kalla, mengangkat sebuah robot yang terbuat dari ratusan balok kecil-kecil.
“Yang itu jangan. Kalau jatuh dan berantakan, Didi pasti semalam suntuk menyusun balok-balok itu. Satu mainan aja, ya?” Langit selesai menggulung kemeja Kalla dan memegang bahu mungilnya. “Nanti di rumah Om Toni, bakal banyak temen. Dirja juga dateng,” bujuk Langit.
“Ayo—ayo, Mima? Udah selesai?” panggil Langit, tergesa-gesa menuju garasi dan menyalakan mobilnya. “Ayo, Kalla sini sama Didi,” ajak Langit pada putranya. Lalu, ia menaikkan balita itu ke kursi penumpang.
“Aku ama Zurra udah selesai, ya ...,” ujar Jingga, dari depan pintu.
“Oke, Zurra sini.” Langit menggandeng tangan Zurra dan menaikkan satu balita dulu.
“Jam 10.30,” bisik Jingga. “Mbak ... kunciin pintunya dong,” seru Jingga dari luar pintu penumpang. Ia lalu masuk ke mobil dan mengisi jok penumpang bagian depan.
Langit baru saja memutari bagian depan mobil untuk pergi ke balik kemudi, saat ponselnya bergetar tak henti-henti.
“Lagi di mana, Mas Langit?” tanya Dean di seberang telepon.
“Udah di jalan, nih. Udah deket, kok.” Langit meringis saat mengatakan hal itu.
“Kalo kalimatnya udah di jalan, artinya lo masih di rumah. Untung lo nggak bilang masih di rumah. Bisa-bisa itu lo lagi mandi,” omel Dean.
“Berisik lo,” sungut Langit, masuk ke dalam mobil.
“Pasti ehem-ehem kesiangan. Hahaha! Buruan! Gue udah mo nyampe!” seru Dean.
“Ya, udah. Kalo nyampe duluan, lo bantu-bantu Toni nyiapin acara. Kasian, dia pasti sendirian. Lagian, kan, elo yang bilang Wulan nggak usah ikut. Kalo ada Wulan, Toni pasti sigap kerjanya.” Langit memasukkan persneling dan membawa mobil melewati pintu garasi dan pagar rumahnya.
"Udah, buruan! Biar anak gue ada temennya," pinta Dean. Lalu pembicaraan itu berakhir.
__ADS_1
To Be Continued