
Setelah mengemudi secepat yang ia bisa akhirnya Dean tiba di rumah. Winarsih sudah berada di ruang keluarga, duduk meringis sambil mengusap perut. Dirja dan Dita beserta Widi, mondar-mandir di dekat kaki ibunya.
“Ayo, Win. Tasnya mana?” tanya Dean meraih lengan Winarsih dan membantu istrinya berdiri.
“Tasnya sudah di mobil yang dibawa Pak Noto. Kamu naik itu aja. Mama mau ikut,” ujar Bu Amalia tertatih-tatih dengan tongkatnya. Wanita itu langsung menuju ke teras.
Dean memeluk pinggang istrinya dan berjalan perlahan mengikuti langkah kaki wanita itu yang terkadang berhenti untuk menahan nyeri di perutnya.
Untungnya hari itu masih termasuk pada jam kerja. Pukul tiga sore, jam kerja belum berakhir. Dan jalanan belum terlalu padat. Hari itu Dean telah melakukan perjalanan pulang pergi ke tempat yang sama. Ia baru saja dari rumah sakit untuk memberi dukungan kepada mami Toni yang sedang menjalani operasi.
Dean lalu kembali ke rumah untuk menjemput istrinya dan membawa kembali ke rumah sakit yang sama. Selanjutnya di dalam perjalanan ia kembali mengulangi hal yang beberapa kali ia lakukan. Menghibur Winarsih yang ketika kontraksi, tidak peduli ada siapa di dekatnya.
Bu Amalia ternyata juga sudah begitu. Beberapa kali menemani Winarsih, ia sudah terbiasa mendengar rengekan menantunya. Winarsih hampir dikatakan tidak pernah mengomel jika di rumah. Biasanya wanita itu hanya diam jika tidak menyukai sesuatu. Sebagai seorang mertua yang tinggal serumah dengan menantunya, Bu Amalia tidak pernah melihat Winarsih mengomeli Dean di depannya. Dan anehnya, Winarsih juga kadang ikut cemberut jika suaminya diomeli. Padahal jelas suaminya kadang memang layak diomeli. Dan karena hal itu, Bu Amalia sudah jarang mengomeli Dean di depan istrinya.
Winarsih tak pernah lama mengalami rasa sakit kontraksi. Masa kontraksinya paling lama terjadi pada saat kelahiran Dirja anak pertama. Saat itu Dirja seperti sedang menunggu bapaknya yang baru tiba dari luar kota. Sedangkan anak kedua dan ketiga, Winarsih kontraksi tak lebih dari empat jam.
Sepertinya kali ini pun begitu. Baru saja Winarsih dipapah naik ke atas ranjang, napasnya tertahan saat memandang ke bagian bawah tubuhnya.
“Mas, pecah. Ketubannya sudah pecah,” pekik Winarsih, mencengkram erat lengan Dean yang masih memegangi tangannya.
“Sus, dokternya ada, kan?” tanya Dean dengan wajah panik. Ia memandang rembesan di bagian bawah tubuh Winarsih.
“Ada, Pak. Dokter Azizah sedang menuju ke sini.” Perawat dengan cekatan mengeluarkan pakaian ganti.
“Sabar, ya, Sayang .... Dokternya sedang menuju ke sini. Sebentar lagi anaknya lahir, sakitnya ilang.” Dean berkali-kali merapikan rambut Winarsih. Cuma itu saja yang bisa ia lakukan.
Itu bukan kali pertama Dean melihat istrinya melahirkan. Harusnya ia sudah mulai terbiasa. Tapi, setiap melihat Winarsih meringis, memekik dan mencengkeram erat tangannya sekuat tenaga, jantungnya ikut berdebar tak karuan. Dean mau bayi mereka segera lahir, dan rasa sakit yang dialami istrinya segera berakhir.
__ADS_1
Dokter Azizah sangat mengenal Dean. Ia sudah tidak menawarkan lagi kepada Dean untuk melihat kelahiran bayinya langsung. Pria itu lebih memilih membenamkan wajahnya di dekat kepala sang istri.
“Mas, sakit .... Sakit banget. Udah ngomong ke ibuku?” tanya Winarsih.
“Udah. Udah aku kabari waktu pakaian kamu digantiin tadi. Sabar, ya, Sayang .... Kata dokternya sedikit lagi pembukaan sempurna. Aku kalah di tikungan ini, Win. Harusnya kalo aku sempet bantu buka jalan lahir, pasti lebih cepat.” Dean mengatakan hal itu seraya menunduk di telinga istrinya.
“Mas, bercanda terus ....” Winarsih semakin menguatkan cengkeramannya di tangan Dean.
“Iya, nggak apa-apa. Aku udah biasa babak belur tiap anakku lahir,” ucap Dean meringis. Ia mengusap dan mencium pipi istrinya. “Maaf, ya, Win. Kamu jadi sakit gini.” Dean sudah kehabisan kata-kata menghibur Winarsih.
Penderitaan Winarsih berakhir satu jam kemudian. Seorang bayi laki-laki lahir dengan bobot hampir empat kilogram. Walau perasaannya tidak tertekan seperti saat anak pertamanya lahir ke dunia. Di mana saat itu Dean mendapat banyak ujian hidup. Kelahiran anak keempat pun ternyata dia masih meneteskan air mata. Dean terlihat cepat-cepat mengusap sudut matanya saat menerima bayi dari tangan dokter.
“Namanya siapa, Mas?” tanya Winarsih. Ia sudah tidak berani lagi berspekulasi, bahwa anak keempat akan mirip dengannya. Winarsih sama sekali tidak ada bekal soal nama.
“Sebentar.” Dean menggendong bayinya dengan tangan kiri, lalu merogoh saku celananya.
“Tunggu—sabar, aku masih mau gendong. Tadi katanya nanya nama, aku liat dulu di catatan. Kemarin Papa, kan, titip nama. Jadi aku catet sekalian nama yang dari aku.” Dean terus menggulir layar ponselnya.
“Masa nggak diinget, sih. Padahal nama anak sendiri,” sungut Winarsih.
“Khawatir salah penyebutannya. Sabar, Bu Win—nah ini dia ketemu.” Dean lalu memandang wajah anaknya. Tatapannya teduh menelusuri bibir mungil dan mata bayi yang kali itu tidak sipit. “Matanya nggak sipit, Win. Tapi, tetep nggak mirip kamu. Maaf, kamu belum beruntung, Win.”
“Aku mau gendong, Mas,” rengek Winarsih. Dean lalu mengangsurkan bayi laki-laki itu ke pelukan istrinya.
“Namanya Darsa Handaru Hartono. Darsa-nya dari aku artinya keinginan. Handaru-nya dari papa artinya kebahagiaan. Jadi, dia adalah kebahagiaan yang kita inginkan.” Dean mengusap pipi anaknya dengan jari telunjuk. Ia lalu memeluk istrinya dan menciumi kepala wanita itu.
“Hai, Daru ... ini Ibu. Terima kasih sudah lahir dengan sehat dan menjadi anak laki-lakinya ibu. Kamu punya tiga kakak yang sedang menunggu kamu di rumah.” Winarsih menyentuhkan hidungnya pada dahi Handaru yang sedang membuka mulut mungilnya.
__ADS_1
“Bapaknya nggak dikenalin, ya ... cuma ibunya aja. Padahal jelas di sini bapaknya yang paling berjasa,” ujar Dean.
Winarsih tertawa, “Oh, ya, Nak. Ini bapak kamu yang nggak bisa membiarkan ibu tenang setiap malam. Makanya Bapak yang paling berjasa atas kehadiran kamu di dunia,” cetus Winarsih tersenyum memandang bayinya. Dean mencubit pelan pipi istrinya saat mendengar hal itu.
Dokter Azizah baru saja pamit dari ruangan setelah mengucapkan selamat atas kelahiran bayi yang keempat. Tak lupa dokter itu bercanda bahwa ia akan selalu siap untuk membantu kelahiran bayi berikutnya. Dean menanggapi hal itu dengan tawa kecil. Ia tak menampik sedikit pun soal kemungkinan itu.
Tok Tok Tok
“Oh, iya! Mama!” seru Dean, baru menyadari soal kehadiran ibunya di luar ruang VK. Ketika ia membuka pintu, ibunya muncul bersama Toni dan Wulan.
“Eh, udah di sini aja. Nyokap lo?” tanya Dean pada Toni.
“Mami stabil, De!” sahut Toni.
“Nanti kalau sudah dipindah ke ruang rawat, Tante mau jenguk. Dean kalau jenguk nggak pernah mau ngajak,” ujar Bu Amalia.
Dean dan Toni saling pandang. “Iya, Tante.” Toni harus menutup pembicaraan itu agar tak berbuntut soal bapak-bapak yang doyan nongkrong. Topik omelan Bu Amalia yang belum mengalami perubahan. Hanya diulang saja.
“Mas,” panggil Wulan. Ia sudah berdiri di dekat Winarsih dengan Handaru yang berada di gendongannya. Toni berjalan mendekati dan mengusap kepala bayi laki-laki yang sudah terlelap.
Sepasang suami istri itu berdiri merapatkan tubuh dan menunduk memandangi Handaru. Mereka berbicara sambil berbisik-bisik. Melihat hal itu Bu Amalia memutuskan untuk mengalah. Ia duduk di kursi menunggu giliran melihat wajah cucunya.
Tak lama kembali terdengar suara ketukan di pintu. Wajah Santoso muncul saat Dean membuka pintu.
“Belum dipindah ke ruang rawat harusnya besok aja,” bisik suara seorang wanita yang belum terlihat dari luar pintu.
“Apa sih, Muuuss?” Dean membuka pintu lebih lebar. “Ayo, masuk liat bayi. Siapa tau abis ngeliat jadi pengen,” kata Dean.
__ADS_1
To Be Continued