
Enam tahun yang lalu, gedung perkantoran tempat di mana Danawira’s Law Firm berada, belum seramai sekarang. Masih ada lantai-lantai kosong yang belum disewa oleh perusahaan.
Hari itu adalah hari pertama Ryan bekerja, sekaligus menjadi hari yang takkan dilupakan olehnya seumur hidup.
“Coba kamu liat, cewe tadi. Masih ngeliat nggak?” tanya Dean, terus berjalan lurus menuju jajaran mobil.
Cafe tempat mereka makan tadi, berdinding kaca transparan. Wanita bernama Feby tadi hanya perlu menggeser duduknya sedikit saja untuk melihat ke mana mereka berjalan.
Ryan berpura-pura membenarkan letak ranselnya dan menoleh ke belakang.
“Enggak keliatan lagi, Pak. Ketutupan dinding sudut cafe.”
“Oke. Bisa nyetir? Mobil saya sedan matic model terbaru. Bukan hasil kerja sebagai pengacara, tapi hasil jadi anak bungsu. Kalo bisa nyetir, kamu yang bawa.” Dean menyodorkan kunci mobilnya.
“Bisa, Pak.” Ryan mengambil kunci mobil dari tangan atasannya. “Mobilnya yang mana?” tanya Ryan.
“Sedan hitam di depan, sisi kanan.” Dean menuju sisi kiri mobilnya.
Ryan mengarahkan benda kecil yang dipegangnya ke arah mobil.
“Pssst!” panggil Dean. Ryan menoleh atasannya. “Ini mobil mahal. Kuncinya bisa tetep kamu kantongi dan kamu langsung buka pintunya dari sana. Sensor otomatis,” ucap Dean.
“Baik, Pak.” Ryan memutari mobil dan langsung meraih pegangan. Benar saja, pintu bagian supir seketika terbuka otomatis. Membuka seluruh pintu mobil itu.
“Kita ke mall, ya. Beli sedikit pakaian untuk kamu. Nanti kalo kerja kamu bagus, saya bakal tambah.”
“Terima kasih, Pak. Benar-benar kesempatan langka,” ungkap Ryan.
“Bener itu. Benar-benar langka. Makanya kamu harus pergunakan kesempatan untuk kerja dengan orang seperti saya.” Dean menurunkan sun visor mobil dan mengecek penampilannya.
Benar, pikir Ryan. Kalau saja ia berhasil bekerja bersama orang seperti Dean, maka selanjutnya tipe atasan lain pasti akan terasa receh.
Jarak dari gedung perkantoran ke salah satu mall mewah, tidak jauh. Mereka hanya perlu memutari satu komplek perkantoran untuk tiba di mall dan menyerahkan kunci mobil pada petugas valet.
Ryan yang sebelumnya hanya seorang mahasiswa pas-pasan, jarang sekali masuk ke mall itu. Ia tak tahu ke mana harus melangkah. Yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan atasannya jalan lebih dulu, dan ia mengikutinya dari belakang. Sekarang ia merasa benar-benar seperti seorang supir.
“Kita ke toko sebelah sana. Kamu harus keren, tapi nggak boleh lebih keren dari saya.” Dean melangkah masuk ke outlet pakaian pria yang terlibat mahal.
“Enggak mungkin kalo itu, Pak. Susah menandingi kerennya, Bapak.” Ryan tersenyum sumringah menatap atasannya.
__ADS_1
“Terima kasih. Tapi pujian kamu nggak akan buat saya nambah budget untuk belanjaan kamu,” tukas Dean, berjalan mengelilingi sederet kemeja pria di hanger besi.
Ryan cemberut, tapi tetap mengikuti atasannya. Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam di mall itu. Dan Ryan mengambil satu kesimpulan lainnya soal Dean. Meski ucapannya terkesan ketus dan pedas, tapi atasannya itu cukup royal. Untuk pertama kalinya ia memiliki beberapa kemeja mahal.
Tak ayal lagi, keluar dari toko pakaian itu, Ryan sudah tampil berbeda. Ia merasa cukup necis untuk berjalan di sebelah Dean. Namun, sepertinya penampilan itu masih dirasa kurang oleh atasannya.
“Kita mampir ke barber shop sebentar. Saya rela nunggu demi bisa mengubah model rambut kamu. Saya agak geli dengan cambang-cambang dan berewok nggak jelas itu. Laki-laki jantan nggak dinilai dari itu aja.” Dean kembali mendahului langkah kaki Ryan menuju lantai lainnya.
Di dalam barber shop, Ryan merasa seperti seorang anak kecil yang sedang dipilihkan model rambut oleh bapaknya. Beberapa saat lamanya Dean berkonsultasi dengan penata rambut. Ryan hanya pasrah saat kepalanya ditunjuk-tunjuk dan ia diminta berputar-putar.
Ryan menuruti semua perkataan atasannya tanpa banyak bicara. Dean sepertinya tipe orang yang tidak suka dibantah. Dari cermin ia melihat atasannya duduk menyilangkan kaki dengan elegan, sambil melihat-lihat ponselnya.
Setelah selesai menata rambut, Dean menyilangkan tangannya di depan dada dan menyipitkan mata menatapnya.
“Coba kamu ngaca,” pinta Dean. Ryan kembali memutar tubuhnya menghadap cermin. “Gimana? Kagum, kan?” tanya Dean, matanya masih menatap cermin menatap pantulannya.
“Kagum, Pak. Saya kagum—”
“Sudah seharusnya kamu kagum dengan uang. Betapa uang bisa merubah penampilan seseorang yang tadinya biasa aja, menjadi lumayan.” Dean berdecak-decak memandang cermin.
Kurang ajar sekali, pikir Ryan. Kagum dengan uang? Dan ia yang biasa saja menjadi sekedar lumayan? Padahal ia merasa ketampanannya berlipat ganda, tapi Dean hanya mengatakannya sekedar ‘lumayan’.
“Kita langsung ke klub,” kata Dean saat mereka kembali berada di mobil.
“Ckckck, kamu memang sudah selayaknya merasa beruntung kerja dengan saya. Hari ini kamu akan mengenal dunia lembah abu-abu untuk pertama kalinya.”
“Lembah hitam maksudnya?”
“Abu-abu aja, Ryan. Kita nggak perlu nyemplung sampe harus ikut jadi hitam. Liat di layar LCD, di sana ada alamat klub yang udah saya save. Kita ke sana.”
“Klub X3?” tanya Ryan, memastikan.
“Yup. X3 Night Club. Bukanya jam tiga sore, tapi itu KTV-nya aja. Ruang karaoke. Nah itu biasanya diawali dengan lagu-lagu normal. Yah ... kayak karaoke biasa. Tapi biasanya berubah seiring kesadaran penghuni di ruangan itu. Kalo mabok, biasanya operator yang akan ambil alih. Lagu disco diputer sama operator pusat ke ruangan itu. Jadi, lo jangan heran kalo liat cewe-cewe jam lima sore keluar dari sana pakaiannya seksi-seksi. Mereka baru dari dalem.” Dean menjelaskan soal klub malam yang akan mereka datangi.
Ryan sama sekali belum pernah ke tempat seperti itu. Ia sama sekali tak tahu kalau di atas hotel bintang lima itu ada sebuah klub malam.
“Kamu harus hapal di mana tempat kita parkir.” Dean turun dari mobil dan merapikan jasnya.
“Saya juga masih belum hapal banget. Ini tadi lantai tujuh atau berapa—”
__ADS_1
“Mulai saat ini, kamu harus pasang mata pasang telinga. Jangan sampai ada yang terlewat.” Dean berjalan meninggalkan mobilnya menuju lift di lantai parkir.
Ryan buru-buru mengikuti bosnya merapikan jas di depan kaca mobil. Ia lalu setengah berlari menuju lift.
Lift berdenting terbuka sesaat kemudian. Pemandangan pertama yang menyambut Ryan adalah deretan wanita berpakaian seksi sedang berdiri di pusat pengisian daya ponsel. Ada sederet kursi di sana, namun sebagian besar orang memilih berdiri.
Dean berbelok ke kiri. Ryan mengikuti langkah percaya diri atasannya memasuki sebuah lobi yang terhampar seperangkat sofa empuk. Di kanan kiri ruangan itu ada empat bilik yang terlihat seperti toilet. Beberapa orang mengantri dengan wajah setengah sadar dan peluh di dahi.
Baru pukul tujuh malam dan orang-orang sudah mabuk di dalam sini, pikir Ryan. Di belakang sofa terdapat dua pintu di kanan kiri yang letaknya cukup berjauhan.
Dari balik pintu tertutup, lagu Lullaby – R3HAB, Mike Williams, terasa menghentak keras menghantam pintu. Padahal, mereka belum masuk ke dalam. Tapi Ryan sudah merasa jantung dan adrenalinnya ikut terpompa.
Dean menuju pintu sebelah kiri dan menarik handlenya. Telinga mereka langsung disuguhi hantaman musik tadi. Ternyata itu adalah balkon yang dikelilingi pagar setinggi pinggang. Di depan pagar itu tersusun meja-meja dengan kelompok orang yang mengerubunginya. Ada yang berdiri sambil bergoyang, ada yang duduk menunduk ke bawah dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dean ...,” sapa seorang wanita dengan jeans ketat dan sebuah tanktop berwarna merah. Sepatunya tinggi sekali sampai Ryan merasa khawatir wanita itu bisa terjungkal sewaktu-waktu.
Dean sedang berpegangan pada pagar balkon saat wanita itu datang memeluk pinggangnya.
“Hei, cantik ... gimana? Di mana atasan kamu?” tanya Dean, membalas pelukan wanita itu. Dean sedikit berteriak untuk mengimbangi suara musik.
Ryan terbelalak saat melihat tangan Dean melingkari pinggang dan terus turun memegang, serta memijat bokong wanita itu.
“Kamu nanya atasan aku terus. Dia lagi di ruangan sudut kiri sana!” Wanita itu sedikit merajuk. Tangannya mengusap-usap dada Dean.
“Soal atasan kamu dulu diberesin. Trus—” Dean mengusap bokong wanita itu. “Trus aku beresin kamu .... Gimana? Mau?” Dean menekan tubuh wanita itu ke pagar balkon.
Ryan bergidik. Ia merasa atasannya mirip seekor bunglon. Cepat sekali berubah sesuai tempatnya.
To Be Continued
Hai ... maaf update hari ini terlambat. Kegiatan di alam nyata sedikit padat berhubung tanggal satu. Di part ini njuss masih ingin menceritakan soal ikatan antara Dean-Ryan yang belum pernah diceritakan di CINTA WINARSIH.
Untuk yang nanya TINI SUKETI, harap bersabar ya. Enjuss selesaikan project di Watt pad yang sebentar lagi berakhir. Run! akan segera diupdate kembali. Dalam menulis novel ringan dan membuat tersenyum itu, njuss perlu mengumpulkan bahan untuk menyesuaikan. Jadi joke di novel ini, pasti berbeda dengan joke di novel TINI SUKETI nanti.
Nah, untuk itu ... juskelapa juga mau ngasi info soal GIVE AWAY yang masih berjalan. Novel ini nggak akan melebih bulan September selesainya. Jadi, juskelapa akan mengambil RANKING 1,2,3 JUARA UMUM PODIUM di akhir periode untuk hadiah TOTE BAG exclusive GDA (sablon sublim timbal balik). Dan karena novel GDA belum selesai, juskelapa tambahin hadiah GIVE AWAY untuk yang menduduki ranking 4 dan 5 di akhir periode untuk hadiah kaus exclusive GDA. Dan satu tambahan kaus untuk pemenang jalur amal yang nanti juskelapa pilih sendiri. Jadi, buat yang udah follow juskelapa mungkin bisa tiba-tiba juskelapa follow dan njuss chat yaaaa...
Semua souvenir ini juskelapa buat sebagai kenang-kenangan. Kemungkinan besar, selanjutnya, tiap novel njuss bakal bagiin kayak gini. Souvenir juskelapa tidak diperjualbelikan. Jadi, suatu hari, pembaca setia mungkin bakal kecipratan tiba-tiba.
__ADS_1