
" Nia, bisakah kita batalkan saja pernikahan ini...." Ucap Cahaya tiba tiba dengan wajah pucat.
" Apa yang kamu katakan, tinggal satu hari lagi, Aya. Kenapa kamu berpikir ingin membatalkan. " Rania terlihat kecewa dengan ucapan Cahaya.
Cahaya menarik Rania menjauh dari utusan dari klinik kecantikan yang sedang bersiap siap. " Nia, aku tiba tiba insecure, aku lupa jika tubuhku penuh bekas luka. Dan Kakak kamu seorang yang..., akh! Intinya bagaimana jika dia jijik melihatku. Aku tidak berpikir panjang saat menerima lamarannya. Nia... aku tidak bisa , aku takut mengecewakan. Tolong aku Nia. Aku harus bagaimana sekarang. " Cahaya terlihat pucat ketakutan. Sungguh dia benar benar insecure.
" Hei... tenanglah. Jangan paranoid dulu. Dengarkan aku, Kak Doni tahu apa yang menimpa kamu, Aya. Tidak mungkin dia akan menghina atau apalah itu... ! Aku kenal dia dari orok, Kak Doni tidak pernah merendahkan orang. Percayalah padaku semua akan baik baik saja. Kamu jangan Khawatir dunia kecantikan sudah modern, tanpa oplas pun kulit burik bisa glowing. Cahaya uang suami kamu banyak, nanti aku ajarkan cara menghabiskan nya, Ok !? " Rania mencoba untuk menghilangkan ketegangan yang Cahaya rasakan.
" Tapi, Nia bagaimana...
" Tidak akan apa apa... sekarang nikmati saja hari ini jangan banyak berpikir, tu lihat keriputnya muncul. Ayo kita mulai... " Rania kembali membawa Cahaya ke bed yang disediakan untuk perawatan pra wedding.
Cahaya mengikuti semua yang Rania sarankan dan mencoba menikmati pijatan pijatan yang terapis itu lakukan. Sudah sangat lama Cahaya tidak lagi melakukan ini. Tanpa sadar Cahaya mulai rileks dan tenang .
Perawatan lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak terasa mereka menghabiskan waktu hingga sore hari. Dengan jeda di waktu makan dan sholat saja. Kini tubuh kedua wanita itu terasa ringan dan segar.
" Mataku jadi mengantuk. " Celutuk Cahaya tiba tiba dengan mata yang berat.
" Setelah ini kita makan malam bersama anak anak dan Ibuk. Habis itu kamu boleh tidur. " Jawab Rania.
" Bang Doni dan suami kamu nggak ikut makan ? " Tanya Cahaya.
" Mas Adnan nanti pulang agak malam karena harus menyiapkan sedikit pekerjaannya. Besok kan off. Tapi kalau Kak Doni dilarang sama Ibuk, katanya tidak boleh ketemu sama kamu sampai SAH. " Ucap Rania dramatis di kata terakhirnya.
" Ish... " Cahaya pura pura jijik melihat ekspresi menggelikan Rania. Dan kedua sahabat itu terkikik bersama.
*****
Siang ini terjadi kesibukan yang kentara di kamar tempat Cahaya tidur semalam. Para petugas MUA tengah bersiap siap untuk melukis wajah Cahaya. Ada juga yang mondar mandir membawa pakaian untuk Cahaya kenakan. Beberapa menyediakan peralatan make-up dan pretelan nya. Semua bekerja seperti dikejar waktu.
__ADS_1
Cahaya baru saja selesai mandi. Dengan bantuan beberapa orang Cahaya mengenakan semi kebaya yang digunakan untuk acara akad nikah. Kebaya berbahan brokat kwalitas super berwarna Rose Gold . Berpadu dengan rok mengembang dari kain batik selaras yang berlipit teratur. Terlihat pas ditubuh Cahaya yang kurus dan tinggi.
" Wah... Kebaya nya terlihat pas di tubuhmu, Mbak. Mbaknya seperti model Catwalk, kurus dan tinggi . " Ucap seorang MUA yang membantu Cahaya.
" Bukannya terlalu kurus ya, Mbak. " Tanya Cahaya tidak percaya diri.
" Sedikit... coba Mbak sedikit berisi pasti lebih seksi. " Ucap MUA itu apa adanya .
Cahaya memang bertubuh kurus. Apalagi posturnya yang tinggi membuatnya terlihat lebih kurus. Kesibukannya selama ini membuat Cahaya kurang memperhatikan asupan nya.
" Tapi nggak jelek kok, apalagi nanti jilbabnya dibuat menjuntai agar menutupi bagian dada dan bagian tubuh atas . Mbaknya bercadar, kan? " Ucap MUA itu menenangkan Cahaya . Dan Cahaya mengangguk.
" Baiklah, kita mulai make over... " Wajah cahaya mulai dirias. Beruntung wajah Cahaya sudah cantik dan mulus.Jadi MUA itu tidak terlalu bekerja keras untuk mengaplikasikan setiap cream dan warna di wajah Cahaya.
Sentuhan akhir pada bagian kepala Cahaya akhirnya selesai. Tiga pasmina dengan warna dan ukuran berbeda terpadu cantik di kepala Cahaya. Terlihat modis tapi tetap sesuai yang Cahaya inginkan tertutup sempurna. Sebuah hiasan kepala berbentuk mahkota kecil sudah terlampir dengan pas. Hanya tinggal cadar saja yang belum Cahaya pakai.
Cahaya masih menatap wajah nya di cermin. Wajahnya terlihat berbeda meski make up nya tidak terlalu berlebihan. Cahaya memang meminta agar tidak terlalu tebal karena Cahaya tak ingin terlihat aneh.
Semoga.
*****
Di Ballroom hotel semua persiapan telah matang sempurna. Tamu sudah mulai berdatangan. Penghulu pun telah duduk di tempat yang telah disediakan. Begitu juga dengan saksi . Hanya menunggu Pengantin prianya yang belum terlihat. Sementara keluarga Doni dan anak anak Cahaya telah duduk di bagian depan dekat pelaminan. Hanya Rania yang kini menemani Cahaya di ruangan yang telah disiapkan.
Ada raut khawatir di wajah Ibu Ratih karena Doni tak juga terlihat .
" Adnan, coba kamu telpon Doni. Ada dimana dia. " Bisik Ibu Ratih.
" Baik, Bu. " Tanpa membuang waktu Adnan langsung mendial nomor Doni. Tapi tidak ada jawaban. Tapi mata Adnan menangkap pergerakan Aryo yang terburu buru keluar dari Ballroom.
__ADS_1
Adnan mengenal sebagian besar teman Doni. Pertemanan yang terjalin lama menyebabkan mereka sering bertemu dan saling mengenal satu sama lain. Di setiap acara baik acara keluarga bahkan urusan bisnis mereka saling bersinggungan.
Menyadari ada yang tidak beres, Adnan minta izin pada Ibu Ratih dengan alasan ke toilet. Adnan mengikuti arah Aryo pergi tadi. Sesampainya di luar tepatnya di lobi hotel terlihat Doni sedang bersitegang dengan seseorang. Ada Aryo dan Randi yang menahan seseorang itu dibantu oleh beberapa security.
" Lepaskan aku , aku tidak akan membiarkan semua ini. Lepas...! " Pria itu berteriak keras sambil meronta .
" Pergilah, kau tidak akan bisa mendapatkan mereka lagi. Mulai hari ini mereka di bawah pengawasan ku. Pergi... sebelum aku berbuat kasar. " Doni masih terlihat tenang meski terlihat ketegangan di wajahnya.
" Cahaya milikku dan akan selalu milikku. Kau tidak bisa merebutnya begitu saja. Lepaskan aku, ayo kita lihat siapa yang berhak terhadapnya... " Ternyata Fakhrul baru saja, mendapatkan kabar bahwa Cahaya menikah di hotel ini. Dan Fakhrul tidak bisa menerima kenyataan ini.
Beruntung Doni sudah waspada sebelumnya dengan meletakkan beberapa pengawal samaran atas bantuan Aryo. Mereka di bekali dengan foto Fakhrul. Dan ketika Fakhrul mendekati hotel Doni langsung mendapatkan kabar dari salah seorang pengawal itu.
" Aku tidak merebutnya, Cahaya janda bagaimana mungkin dikatakan itu merebut. Aku tahu kau tidak bodoh untuk tahu maksudku, kan ? Dan kau... tidak punya hak sama sekali. " Doni berdiri dengan berkacak pinggang. Tiba tiba rasa kesalnya memuncak melihat tingkah Fakhrul.
" Biarkan saja Aryo yang urus dia, waktunya telah lewat. Semua orang menunggu, kembalilah ke dalam Kak . " Ucap Adnan tepat di belakang Doni. Tentu saja Fakhrul mendengar.
" Sialan, berhenti... " Fakhrul teriak lagi melihat Doni berbalik dan berjalan menjauh. " Aku pastikan akan merebutnya darimu. Aku tahu dia masih mencintai aku. Dia hanya marah sesaat. Suatu hari nanti Cahaya ku pasti sadar akulah yang dia inginkan. " Fakhrul berkata dengan keyakinan. Sementara Doni hanya tersenyum miring dan kemudian melanjutkan langkah nya diikuti Adnan.
Fakhrul terpaksa mengalah kali ini. Dia sadar datang tanpa persiapan tapi dengan percaya diri Fakhrul pastikan hatinya untuk mendapatkan Cahaya kembali. Dengan cara apapun.
Doni berjalan dengan wajah kaku dan tegang. Ada rasa marah mendengar Fakhrul akan merebut Cahaya darinya. Jika bukan karena waktu yang mendesak mungkin tadi Doni sudah memukul mulut pria sialan itu. Tapi Doni masih waras untuk tidak merusak hari sakralnya ini.
" Dia mantan Cahaya, ya Kak ? " Tanya Adnan.
" Hmm... " Doni hanya menjawab dengan deheman singkat.
Adnan yang menyadari mood kakak iparnya lagi hancur terpaksa diam mengekori Doni.
Sementara di ruang khusus Cahaya dan Rania diliputi kegelisahan. Sudah tiga puluh menit waktu terlewat dari jadwal yang sudah ditentukan . Cahaya bahkan sudah mulas dari tadi antara gugup dan takut.
__ADS_1
...****************...
Happy Readingđź’•