Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Hamil kah...


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Doni bersiap hendak ke kantor. Mereka baru saja habis sarapan dan anak anak juga sudah berangkat ke sekolah diantar oleh supir. Kini di meja makan hanya ada Ibu Ratih dan Cahaya. Cahaya tadinya sudah sarapan bersama yang lain sedangkan Ibu Ratih baru saja sarapan. Karena tadi beliau melakukan yoga terlebih dahulu.


Cahaya pun ikut menemani mertuanya sarapan. Melihat Ibu Ratih makan Cahaya kembali ingin makan. Apalagi kali ini Ibu Ratih sarapan dengan nasi kuning yang dititip beli pada Mbak yuni pembantu mereka. Air liur Cahaya menggenang melihat ada acar timun di dalam Nasi kuning itu.


Ibu Ratih yang melihat pandangan Cahaya terpaku pada piringnya jadi tersenyum simpul. Kemudian Ibu Ratih mendorong piring itu agak menjauh seperti tidak suka dengan makanannya.


" Kok Ibuk jadi tak selera, ya. Sepertinya nasi goreng itu lebih enak. " Ucap Ibu Ratih sembari melirik Cahaya.


" Oh... Ibuk mau nasi goreng ? Biar Aya ambilkan. " Sahut Cahaya bersemangat.


" Kamu mau ini nggak ? Sayang kalau nggak dimakan. Jadi mubazir. " Tanya Ibu Ratih pada Cahaya dengan pura pura memelas.


" Sini Buk, buat Aya saja. Daripada nggak dimakan. " Sambar Cahaya cepat sambil menarik piring nasi kuning itu. Dan tanpa menunggu Cahaya langsung menyuap nasi kuning bersama sambal terasi dan acar timun sekali hap.


" Jingga, kamu makan lagi ? Tadi bukannya sudah sarapan ? " Suara bariton milik suaminya mengagetkan Cahaya yang sedang lahap dengan sarapan keduanya.


" Oh... ini punya Ibuk, tapi Ibuk nggak suka jadi Aya habiskan biar tidak mubazir. " Kemudian Cahaya kembali melahap nasi kuning itu sampai tandas.


" Emang enak banget, ya. Segitu lahap nya makan, padahal tadi juga udah makan nasi goreng. " Tanya Doni sambil terkekeh melihat cara makan Cahaya yang tidak pernah gagal bikin ngiler.


" Enak... apalagi acar nya. Nanti Aya buat acar saja, ya Buk. Untuk makan siang. " Cahaya ternyata belum puas menikmati acar tadi.


" Boleh... jangan lupa kasi sedikit nanas pasti segar. " Ucap Ibi Ratih dengan senyuman yang penuh arti.


" Jangan lupa masukin ke bekal Abang, ya. " Timpal Doni yang tidak mau ketinggalan.


" Tentu saja ingat Abang, kan Aya makannya di kantor nanti sama Abang. " Sungut Cahaya kesal karena Doni bisa bisanya lupa kebiasaan mereka.


" Maksud Abang yang banyak bawanya , Sayang. " Ucap Doni sambil mencubit lembut hidung mancung Cahaya. Keduanya saling melemparkan senyuman penuh kasih.


Senyuman itu juga tidak beranjak dari bibir Ibu Ratih. Sebagai orang tua dia sangat paham kedua anak menantu nya itu sudah terpaut hati satu sama lain. Rasa syukur tak luput Ibu Ratih panjatkan atas anugrah besar ini. Akhirnya anaknya yang sepuluh tahun larut dalam kubangan masa lalu akhirnya keluar dengan meraih bahagia. Apalagi kini Ibu Ratih tengah mencurigai sesuatu yang harus segera dibuktikan.

__ADS_1


" Cahaya, kamu sudah datang bulan , bulan ini ? " Pertanyaan Ibu Ratih menarik ekstensi kedua pasangan suami istri itu. Mereka paham maksud Ibu Ratih menanyakan itu.


" Ibuk... jangan bebani Jingga dengan pertanyaan Ibuk. Aku tidak mau Jingga merasa tertekan dan merasa didesak. " Doni segera menjawab sang ibu karena tidak ingin Cahaya merasa tidak nyaman. Nyatanya Cahaya sedang datang bulan sejak kemarin.


" Ibuk hanya bertanya, Nak . Tidak ada niatan untuk mendesak apalagi menekan Aya. Kamu ini kayak nggak kenal Ibuk saja. Dulu meski Tiara menghabiskan uang hingga milyaran untuk shopping mana pernah Ibuk menekannya. Apalagi hanya masalah keturunan, Ibuk mah se dikasi nya saja. " Rengut Ibu Ratih mendengar ucapan Doni.


" Maafkan Abang ya, Buk. Mungkin Abang hanya ingin menjaga perasaan Aya saja. Aya baru datang bulan kemarin, Buk. Tapi...


" Kenapa, Yang... " Doni terlihat cemas saat Cahaya bicara agak gugup .


" Pagi ini tidak ada... maksud Aya pembalut yang Aya pakai tadi malam....bersih. " Cicit Cahaya.


" Inilah maksud pertanyaan Ibuk sebenarnya. Melihat Cahaya makan tadi, Ibuk berpikir lain. Coba periksa dulu, siapa tahu ada berita bahagia. " Ucap Ibu Ratih penuh keyakinan.


" Apa itu mungkin Buk ? " Tanya Cahaya ragu. Cahaya takut memberikan harapan palsu pada suami dan mertuanya.


" Kemarin pas dapat tamu bulanan, apa kamu dan Doni habis berhubungan intim ? " Pertanyaan fulgar mertuanya membuat wajah Cahaya bersemu.


" Iya, Buk. Kok Ibuk tahu ? " Tanya Doni dengan polosnya. Membuat Cahaya semakin memerah hingga tak sadar meremas tangan Doni di bawah meja.


" Ayo siap siap, Sayang. Kita periksa pagi ini. Siapa tahu Ibuk benar. Jadi kedepannya bisa pelan pelan. " Ucapan Doni dapat cubitan dari Cahaya.


" Loh... kok malu malu, Sayang. Sama Ibuk nggak usah malu. Ibuk sudah pengalaman yang begituan. Udah khatam malah. " Ucap Doni memperjelas hingga Cahaya ingin sembunyi rasanya.


Ibu Ratih terkekeh melihat wajah Cahaya merona dan terlihat malu. " Sudah, jangan godain terus mantu Ibuk. Sekarang sebaiknya memang harus segera di cek saja. Mumpung Doni belum ke kantor , Aya . "


" Aya takut Ibuk sama Abang kecewa. Apa nggak sebaiknya Aya pakai tespack aja dulu . Nanti kalau udah positif baru kita cek ke dokter kandungan. " Saran Cahaya.


" Boleh juga begitu, biar nanti Abang belikan. " Ucap Doni menengahi.


" Tidak usah, Aya sudah beli. Waktu sebelum datang bulan sebenarnya Aya sudah telat tiga hari, jadi Aya titip sama Mbak Yuni. Tapi pas mau di cek ternyata datang bulan, jadinya batal . " Jelas Cahaya.

__ADS_1


" Ok, kita cek sekarang. " Doni langsung berdiri dan menarik Cahaya dengan lembut .


" Tapi Bang... Abang mau kerja, kan. " Sungguh Cahaya sangat gugup jika Doni menemaninya . Ketakutan akan hasil yang tidak sesuai harapan suaminya.


" Abang bisa libur hati ini jika Abang mau, Yang. Perusahaan tidak akan bangkrut jika Abang libur sebulan penuh. " Doni menyakinkan Cahaya. Dia tahu Cahaya hanya mencari alasan. Ada raut kekhawatiran di wajah Cahaya.


" Coba saja, Nak. Kabari Ibuk hasilnya nanti. Ingat. ! Ibuk hanya ingin tahu saja. Apapun hasilnya bagi Ibuk tidak masalah. Jangan merasa tertekan karena hasilnya itu, Aya. Masih banyak waktu. " Ucapan bijak sang mertua membuat hati Cahaya menghangat.


" Terima kasih, Buk. Aya makin sayang deh. " Cahaya memeluk Ibu Ratih dengan erat dari samping.


Doni melihat keakraban istri dan Ibunya iru dengan mata yang berkaca kaca. Hal yang tidak pernah Doni saksikan saat bersama dengan Tiara dulu. Tiara terlalu cuek untuk urusan lain selain urusan Doni dan anak mereka. Tidak pernah ambil pusing memikirkan apa yang orang lain suka ataupun tidak, termasuk pada Ibu mertuanya sendiri.


Tiara hanya sibuk dengan dirinya dan keluarga kecilnya saja. Bahkan Tiara jarang berinteraksi dengan Ibunya. Jika di rumah Tiara lebih suka berada di kamar atau ruang gym. Melakukan fitness atau yoga sendirian. Beruntung Ibu Ratih mertua yang tak cerewet. Jadi rumah mereka bisa adem tanpa perdebatan.


Akhirnya Doni dan Cahaya berada di kamar mereka. Setelah mengambil alat tes kehamilan Cahaya kembali memandang Doni. Terlihat ragu untuk melangkah ke kamar mandi. Dengan senyuman khasnya Doni meraih tubuh Cahaya dan mendekap nya.


" Jangan takut, Abang sama dengan Ibuk. Hanya sekedar ingin tahu. Agar kita bisa tahu cara berolah raga yang aman ke depannya. " Seloroh Doni yang mendapat hadiah cubitan di perutnya.


" Ayolah, kita tes sekarang. " Keduanya melangkah bersama ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Doni keluar dari kamar mandi dengan Cahaya yang berada di gendongan Doni. Keduanya saling tatap dengan senyuman yang mengembangkan sempurna. Dengan langkah hati hati Doni berjalan menuju ranjang dan meletakkan tubuh Cahaya dengan sangat pelan.


Tanpa bicara Doni mengungkung Cahaya tanpa menindih. Dan setelahnya Doni menghujani Cahaya dengan kecupan di seluruh wajah nya. Hingga berakhir di bibir berisi Cahaya. Mereka saling sesap hingga saling sesak dan akhirnya saling melepaskan. Doni mengadu keningnya dengan kening Cahaya sambil menghirup oksigen dengan napas yang sama sama tersengal.


" Terima kasih Sayang, kamu sungguh melengkapi aku. Sumber kebahagiaan yang paling aku syukuri. Datang dikala aku butuh cahaya di hidupku yang gulita. Terima kasih...! Jingga... akh... Abang kehabisan kata, Abang cinta kamu Cahaya Jingga ku. " Doni kembali mengecup bibir Cahaya. Hanya mengecup karena kini pipi Cahaya telah basah oleh air mata.


" Tetaplah seperti ini, Bang. Jangan berubah walaupun nanti Aya terlihat berubah. Mood, kesehatan, perhatian bahkan tubuh Aya akan mulai berubah mulai sekarang. Jangan lelah dengan tingkah Aya nantinya. Jangan Bosan. Dan jangan lupakan Aya. " Isak Cahaya.


Ada kekhawatiran dari setiap kata yang Cahaya ucapkan . Lagi lagi masa lalu mempengaruhinya. Trauma tentang perselingkuhan yang dialaminya saat berbadan dua. Sungguh semua membekas dalam di hati Cahaya.


" Abang bukan bajingan. Ingat itu selalu, Abang bukan pria brengsek yang akan mendua saat istri Abang berjuang sendiri membesarkan buah hati yang sangat Abang inginkan. " Ucap Doni tegas. Doni tak ingin Cahaya terganggu dengan ingatan masa lalu. Maka dari itu Doni akan membuktikan ketakutan Cahaya tidak akan terjadi.

__ADS_1


...****************...


Sorry kemarin tidak update. Love you all💕


__ADS_2