Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
She is mine ...


__ADS_3

Pagi hari seperti biasanya semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Ibu Ratih duduk sambil tersenyum melihat Binar dan Biru bercanda saling ejek. Tak lama kemudian Doni datang dari arah kamar sudah rapi dengan pakaian kantornya. Dan duduk mendekati kedua anak tirinya.


" Kenapa kamu mengejek kakak kamu, hmm ." Doni ikut menyela di tengah perbincangan kedua kakak beradik itu sambil mengusap kepala Biru lembut.


" Aku tidak mengejek kok, Pa . Memang Kak Binar saja yang sok kecakepan. " Ucap Biru membela dirinya.


" Kak Binar memang cakep kok, Biru aja yang nggak tahu, iya kan Oma ? " Bela Doni yang membuat Binar tersenyum malu.


" Iya, Kak Binar itu memang cantik sama persis dengan Bunda. " Ucap Ibu Ratih.


" Wah... Kak Binar banyak fansnya. " Ucap Biru menggoda Binar.


" Udah, ah...Biru . Ya udah Kak Binar jelek deh, biar Biru senang. " Ucap Binar pura pura merajuk.


" Nggak kok, kakak memang cantik. Kan kakaknya Biru. " Bujuk Biru dan keduanya saling melemparkan senyuman. Senyum yang menular pada Doni dan Ibu Ratih.


" Pintar anak, Papa. Yang akur ya, Nak. Itu baru anak Papa. Bagaimana kalau liburan sekolah nanti kita jalan jalan? " Ucapan Doni .


" Hore!! Biru mau ke gunung, Pa. Camping gitu, pasti seru. " Tanggap Biru antusias.


" Enakkan ke pantai lihat laut dan bisa berenang. Nginap nya di Villa terus malam hari kita barbeque deh... " Binar pun terlihat bersemangat.


" Tenang saja Papa akan penuhi semuanya. Kita akan cari tempat yang ada gunung nya sekalian ada pantainya. Bagaimana kalau weekend ini kita diskusi cari tempat yang cocok. " Usul Doni menengahi kedua anaknya.


" Ok, Papa. " Jawab Biru.


" Kalau begitu, ayo tos dulu. " Doni mengacungkan kedua telapak tangannya ke arah kedua bocah itu. Dan keduanya membalasnya serempak.


Pemandangan yang tak lepas dari pandangan Ibu Ratih dan Cahaya dari balik pantry. Ada rasa haru yang menggelayut di hati Cahaya. Doni begitu hangat pada anak anaknya. Bahkan Binar yang kaku dan dingin saja mencair bila bersama Doni.


Nasi goreng seafood dengan ayam goreng telah tersedia di meja makan. Semua sarapan dengan lahap diiringi pembicaraan ringan dan gelak tawa. Hingga waktunya anak anak berangkat ke sekolah dengan diantarkan oleh Cahaya ke mobil yang telah menunggu di halaman.


Ketika hendak masuk ke rumah, Cahaya mengurungkan niatnya setelah melihat mobil mewah yang terlihat asing memasuki halaman rumah. Dan seorang pria berusia sekitar dua puluh lima tahun berbadan tegap turun dari mobil itu.


" Permisi Nyonya , saya Kenzo supir Pak Doni yang baru. Boleh saya bertemu beliau ? " Sapa Kenzo memperkenalkan diri.

__ADS_1


" Oo, tunggu sebentar. " Cahaya berbalik hendak kembali ke dalam tapi tertahan karena Doni sudah berada tepat di belakang nya.


" Aah... ini suami saya sudah di sini. " Ucap Cahaya akhirnya.


" Selamat pagi, Pak. Kenalkan saya Kenzo. " Kenzo pun memperkenalkan diri pada Doni sambil mengacungkan tangan untuk bersalaman.


Doni menyambut tangan Kenzo dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Begitulah Doni dengan bawahan nya, berbeda bila bersama keluarga nya. Kemudian Doni mendekap Cahaya dari samping setelah melepaskan tangan Kenzo.


" Ken, mulai sekarang kamu bekerja menjadi supir pribadi istri saya. Namanya Cahaya, kamu boleh memanggilnya dengan Ibu Cahaya. " Ucap Doni menjelaskan posisi Kenzo.


" Baik, Pak. Saya mengerti. " Balas Kenzo sedikit membungkuk memberi hormat.


" Abang.. kok Aya pakai supir pribadi. Kan ada supir yang biasa. " Tanya Cahaya heran.


" Kamu lihat mobil itu ? Itu mobil baru keluaran terbaru. Mobil itu hadiah pertama Abang buat kamu. Makanya Abang kasi supir sekalian karena kamu belum bisa nyetir sendiri. " Doni menunjuk mobil yang tadi Kenzo bawa.


Doni tidak berbohong, itu memang hadiah untuk Cahaya karena Doni tidak punya alasan memberikan Cahaya pengawal yang berkamuflase sebagai supir. Lagi pula Doni memang berniat memberikan mobil untuk Cahaya . Sebagai seorang istri pemilik Aksa Group Doni ingin Cahaya bisa terlihat tidak disepelekan karena kesederhanaannya.


" Abang pemborosan, kan banyak mobil yang bisa Aya pakai. Kenapa harus beli lagi ? " Cahaya merasa Doni berlebihan. Cahaya bukannya tidak tahu berapa kisaran harga mobil itu. Tipe yang lebih bagus dari milik Fakhrul dulu. Meski merek yang berbeda.


" Masak ngasih hadiah yang bekas, Sayang. " Doni berdalih agar Cahaya tidak menolak. " Dan itu warna kesukaan kamu kan ? " Doni benar , putih adalah warna yang Cahaya suka.


" Kok Abang tahu ? " Cahaya menatap Doni penuh tanya.


" Casing ponsel kamu putih dan jam tangan kamu juga putih. Jadi Abang berpikir kamu suka putih. " Ucap Doni sambil tersenyum.


Cahaya merasa sangat di perhatikan dan tentu saja merasa tersanjung dengan perlakuan Doni.


" Terima kasih, Abang. Buat hadiahnya dan perhatian nya. Semoga Abang dilimpahkan rizqi yang banyak. " Ucap Cahaya dengan rasa bahagia.


" Berterima kasihlah dengan benar, Sayang. Abang tunggu nanti di kantor. " Bisik Doni sambil mencuri satu kecupan di pipi Cahaya .


Cahaya menatap Doni dengan melotot kan mata besarnya. Tentu saja Cahaya malu ada Kenzo yang masih berdiri kaku tanpa ekspresi. Sedangkan Doni tertawa renyah melihat reaksi Cahaya yang lucu menurutnya.


" Baiklah, Ken. Mulai sekarang kamu selalu standby di mana Ibu Cahaya berada dan mengantarkan kemanapun dia hendak pergi. " Instruksi pertama Doni pada Kenzo.

__ADS_1


" Ok, siap Pak.


" Jingga, Abang ke kantor dulu. Ingat janji kamu. Nanti siang. " Ucap Doni pamit dengan kerlingan nakalnya.


Cahaya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd suaminya. Setelah menyalami suaminya dengan takzim Cahaya dihadiahi kecupan di kening. Seperti nya Doni sengaja melakukan nya seakan menegaskan Cahaya adalah istrinya.


*****


Tanpa Cahaya tahu semua aktivitasnya bersama Doni terpantau jelas oleh Fakhrul yang telah memantau sejak pagi tadi. Bukan tanpa alasan Doni memperlihatkan kemesraan nya dengan Cahaya di teras rumah. Karena Doni telah menangkap dengan matanya mobil yang kemarin mengikuti Cahaya kembali parkir di seberang rumahnya.


Dan sementara di dalamnya Fakhrul sudah menggeram menahan amarahnya. Perlakuan Doni terhadap Cahaya terlihat jelas dengan teropong kecilnya. Tingkah Cahaya yang tersipu dan melihat Cahaya menerima perlakuan Doni tanpa merasa risih membuat perih hati Fakhrul.


Tanpa Fakhrul pikirkan bagaimana rasa hati Cahaya saat mengetahui pengkhianatan nya. Lagi lagi sifat egois Fakhrul terlihat jelas.


" Keluarlah dari sangkar mu, Aya. Aku akan menangkap mu bila ada kesempatan. " Gumam Fakhrul.


Fakhrul menunggu hingga siang menjelang. Seperti permintaan Doni Cahaya kembali datang dengan berbagai menu makan siang. Tentu saja sesuai request suami tercintanya . Tercinta kah... iya , Cahaya mulai merasakan getaran itu mulai mengganggu hatinya. Cahaya tidak bodoh sekedar menafsirkan rasa yang dirasanya. Pesona Doni begitu kuat menjerat hatinya.


Tapi kali ini Cahaya pergi dengan persiapan lebih. Satu set pakaian lengkap sudah Cahaya siapkan di mobil barunya. Tentu saja tidak ada yang tahu. Cahaya telah menyiapkan nya di bagasi. Jantung Cahaya berdegup kencang jika membayangkan apa yang bakal terjadi nantinya.


Dengan di antar supir pribadinya Cahaya menuju kantor Doni dengan rasa hati yang tak menentu. Cahaya panas dingin sendiri yang membuatnya gelisah. Kenzo yang terlatih dengan segala situasi tentu saja merasa ada yang tidak beres dengan Nyonya Bos nya.


" Apa Ibu baik baik saja ? " Tanya Kenzo memastikan.


" Aa.. tidak... aku tidak apa apa. Bisa sedikit lebih cepat, jam makan siang suamiku sebentar lagi. " Jawab Cahaya sambil menetralisir kegugupan nya.


" Baik, Bu. " Kenzo menambah kecepatan dalam batas wajar. Meski matanya tetap awas terhadap sebuah mobil yang menjaga jarak dengannya.


Kenzo sudah dibekali dengan berbagai informasi dan tujuannya sebenarnya. Oleh sebab itu Kenzo sudah paham dengan situasi yang dia hadapi. Tapi sejauh ini semua masih terlihat aman . Penguntit itu masih dalam batas menguntit belum bertindak. Hingga mobil mewah model terbaru itu terparkir cantik di tempat khusus.


Sementara di lantai teratas gedung itu Doni memantau kedatangan Cahaya. Seperti pesan dari Kenzo, Fakhrul masih saja mengikuti Cahaya hingga kantor Aksa Group. Doni menatap mobil yang terparkir sedikit jauh dari tempat kemarin. Tersungging senyum miring di bibir Doni.


" Baiklah, aku akan membuat kamu kebakaran jenggot. Dan akhirnya melakukan kebodohan karena cemburu. Kamu salah mencari lawan, aku akan melindungi milikku bagaimana pun caranya. "


...****************...

__ADS_1


Buat yang setia 👉double up 💕


__ADS_2