
Doni telah selesai mandi, dan kini sedang memakai stelan kantornya. Dengan senyum yang masih merekah di bibir tebalnya sambil memandang jahil pada Cahaya yang merengut kesal karena ulah suaminya.
 Bagaimana tidak selesai pada sesi pertama Cahaya dengan yakinnya masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Perutnya sangat lapar karena belum makan siang. Tapi baru saja membasahi tubuhnya di bawah shower suami mesumnya telah menempel di punggungnya.
Acara sabun menyabun berubah menjadi remas meremas. Alhasil Cahaya harus rela berpegang pada bathup untuk menopang tubuhnya karena Doni menyerang dari belakang. Meski Doni melakukannya dengan aman dan rengkuhan tangan kokohnya. Nyatanya kegiatan itu berhasil membuat kaki Cahaya goyah dan lemas tak bertenaga.
Dan lihatlah, Doni tersenyum puas sementara Cahaya hanya mampu duduk bersandar di tempat tidur setelah Doni membantunya mandi dan berpakaian. Bahkan makan siangnya kini disediakan di ranjang saja.
" Abang...!! Pekik Cahaya manja karena kesal.
" Apa Sayang. "
" Jangan senyum senyum gitu, Aya kesal lihatnya. " Rengek Cahaya dengan bibir monyong dua centimeter.
" He... he... Abang lagi senang, boleh dong. " Doni malah terkekeh melihat Cahaya yang kesal karena ulahnya.
" Aya capek, pinggangnya pegal dan kaki Aya lemas, tauk. " Omel Cahaya tak terima.
" Nanti malam Abang pijitin ya, sekarang Abang harus segera meeting. Randi dan Max sudah menunggu. " Doni mengecup kening Cahaya lama dan dalam.
Hatinya diliputi rasa bahagia bukan hanya karena Cahaya memberinya jatah siang ini. Tapi karena Cahaya masih bersamanya setelah peristiwa yang menakutkan bagi Doni. Ketakutan akan Cahaya menghilang darinya baik fisik maupun kesadarannya. Doni sungguh sangat takut.
" Tunggu Abang kembali, setelah makan tidurlah. Maaf Abang membuatmu lelah. Itu bukan sekedar nafsu , Sayang. Tapi kerinduan . " Doni mengecup bibir Cahaya yang hangat. Setelah itu Doni berdiri setelah mengambil ponsel dan kunci mobil di nakas.
" Abang ketemu Maxim ? " Tanya Cahaya tiba-tiba. Doni pun urung melangkah.
" Iya... kenapa ? "
" Bukankah Amelia adalah sekretarisnya ? " Cicit Cahaya.
" Hmm... benar. Tapi jangan khawatir Abang tidak berinteraksi dengannya. " Ucap Doni khawatir Cahaya overthinking terhadapnya.
" Bukan itu... Aya ingin bertemu dengannya. " Ucapan Cahaya membuat Doni kembali mendekat dan duduk di sisi Cahaya.
__ADS_1
" Kenapa ? Ada yang mengganggu pikiran mu ? " Tanya Cahaya dengan hati hati.
" Kehadirannya di sekitar kita , keterlibatannya dalam masalah Marinda . Semua mengusik pikiran Aya. Dokter Nadya menyarankan untuk bertanya langsung padanya, tentang apa niatnya kembali berada di sekitarku. " Cahaya mencoba terbuka untuk mengurangi tekanan dalam hatinya.
" Baiklah, sekarang tenangkan dirimu. Abang akan atur pertemuan kalian. Jangan banyak berpikir dulu, kasihan bayi kita. Diajak susah dari kemaren kemaren. " Doni mengusap kepala Cahaya hingga pipi dan berakhir di dagunya. Kecupan kecil berakhir di bibir seksi merah jambunya.
" Pergilah... Abang sudah sangat terlambat. " Ucap Cahaya akhirnya.
" Baiklah, Abang pergi. Habiskan makanan nya dan istirahat. " Cahaya menganggukkan kepalanya. Dan Doni meninggalkan Cahaya sendiri di ruangan pribadinya.
Jika saja pertemuan ini tidak penting Doni lebih memilih bersama Cahaya. Istrinya terlihat membaik tapi masih menyimpan trauma yang mengusik jiwanya. Doni berpikir untuk menemui Dokter Nadya setelah ini. Doni perlu tahu tindakan yang tepat untuk menghadapi Cahaya.
Doni ingin Cahaya sembuh dari segala kesakitan masa lalunya. Kadang Cahaya terlihat baik baik saja tapi jiwanya tetap saja rapuh. Sedikit benturan bisa berakibat fatal. Pengalaman kemarin adalah bukti betapa rusaknya mental Cahaya dan butuh perhatian khusus.
Mulai saat ini Doni akan fokus pada Cahaya.
*****
Setelah menerima beberapa wejangan dari Dokter Nadya , Doni menyetujui untuk mempertemukan Cahaya dengan Amelia. Menurut Dokter Nadya Cahaya menyimpan banyak pertanyaan dalam hatinya sejak dulu. Maka biarkan Cahaya melepaskan apa yang tersimpan lama agar rasa penasaran dan mungkin ungkapan kekecewaan bisa terungkapkan.
Dan disinilah kini Cahaya., di lobi hotel milik Randi bersama dengan Doni tentunya.
" Kamu gugup ? " Doni menggenggam jemari Cahaya yang dingin.
" Sedikit. " Jawab Cahaya singkat.
" Jika kamu butuh obat, Abang sudah siapkan. " Tanya Doni sambil membaca gerak mata Cahaya yang mulai gelisah.
" Tidak, Aya masih bisa mengatasinya. Nanti saja kalau diperlukan. " Cahaya berusaha untuk tersenyum.
" Ayo mereka sudah menunggu di atas. " Doni membawa Cahaya ke arah lift menuju lantai lima.
Setibanya di depan pintu kamar hotel mewah itu, Doni memeluk Cahaya. Seakan menguatkan sang istri yang kini sedang berjuang untuk melawan trauma nya.
__ADS_1
" Its ok, dia hanya wanita biasa. Jangan takut padanya. Abang berada tidak akan jauh darimu. " Ucap Doni mensugesti Cahaya.
" Bang... cantikan mana, Aya atau dia ? " Doni terperangah , sungguh pertanyaan yang tidak Doni sangka. Tapi nyatanya Cahaya menunggu jawabannya. Insecure nya kambuh.
" Tentu kamu lebih cantik, Sayang. Kami baik, pinter masak dan yang pasti pintar menyenangkan suami. Bahkan kamu mampu mencairkan hatiku yang beku selama sepuluh tahun lebih. See... kini Abang bucin habis sama kamu. " Gombalan Doni mampu membuat Cahaya memerah hingga telinga.
" Abang gombal iiih. "
" Itu kenyataan. Jangan merasa lebih buruk Jingga. Setiap orang punya kelebihan masing-masing. Dan setiap orang punya selera berbeda. Kamu cantik dengan apa adanya dirimu. Banggalah pada dirimu sendiri, ok. "
Cahaya mengangguk mengiyakan ucapan Doni. Dan akhirnya Cahaya membuka pintu itu dengan penuh keyakinan . Ada Max yang duduk di bersama Amelia menunggu kedatangan Cahaya. Tapi Max dan Doni segera meninggalkan mereka berdua dan menuju ruangan yang lain.
Doni tidak mau meninggalkan Cahaya berdua saja dengan Amelia. Dia lebih memilih untuk untuk tetap di kamar itu meski posisi mereka lumayan jauh. Kamar hotel itu memiliki fasilitas seperti Apartemen. Memiliki dua kamar, ruang tamu dan mini bar. Juga terdapat balkon yang lumayan luas. Dan balkon lah tempat yang Doni dan Max pilih agar lebih fresh dan berangin.
" Hai Cahaya. " Amelia memilih menyapa duluan sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Tapi Cahaya tidak menyambutnya dan lebih memilih untuk duduk.
Amelia memaklumi reaksi Cahaya. Seorang wanita yang suaminya pernah Amelia kuasai dengan mencuri malam malam indah bersama. Bahkan Amelia memiliki waktu lebih banyak dan lebih sering berada di ranjang karenanya.
" Kenapa kamu kembali, Amelia ? Berada di sekitar ku dan mengusikku dengan kehadiran mu. Apa belum cukup semua yang kamu lakukan dulu. Apa lagi yang ingin kamu rebut dariku. " Cahaya langsung bicara pada tujuanya. Membuat Amelia terperangah dengan pertanyaan Cahaya. Meski Amelia sudah memprediksi semua itu.
" Maaf... mungkin ini terlambat. Tapi aku tulus minta maaf padamu. Meski maaf ini tidak mampu membayar rasa sakit mu, atau mengembalikan apa yang pernah aku rampas darimu. " Amelia juga langsung pada tujuannya sesungguhnya.
" Tidak ada yang perlu aku maafkan. Seperti katamu semua telah berlalu dan tidak ada yang tersisa dari masa lalu itu. Baik rasa benci maupun rasa cinta. Aku hanya ingin kamu menjauh Amelia. Kamu begitu menakutkan bagiku. " Cahaya mulai tremor. Tapi dia berusaha mengendalikan dirinya.
" Maaf mengganggu ketenangan mu, sungguh aku tidak bermaksud. Tanpa sengaja aku diterima di perusahaan Tuan Maxim tanpa aku tahu dia sahabat suamimu. Tapi takdir membawaku bertemu denganmu di pulau itu. Dalam kondisi yang mengingatkan aku akan dosa ku padamu. Sungguh tidak ada rekayasa, karena aku tidak memiliki niat apapun terhadap mu. "
" Kenapa kamu membantuku mengungkapkan kebohongan Marinda. " Tanya Cahaya penasaran.
" Marinda kakak tiriku. Dia anak dari suami ibuku. Kami pernah tinggal satu atap tapi tidak lama. Karena aku memilih untuk hidup mandiri karena tidak tahan hinaan. Ketika melihatnya melakukan hal yang pernah aku lakukan terhadap mu, membuatku memiliki kesempatan." Terang Amelia.
" Kesempatan...? " Pernyataan Amelia membuat kening Cahaya mengkerut.
" Kesempatan untuk mengembalikan kebahagiaan mu yang pernah aku rampas. Karena aku yakin Marinda memanipulasi keadaan sebenarnya. "
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕