
Di ruangan Cahaya,Aryo dan Maxim datang berkunjung sore harinya. Dan dengan maksud untuk menjelaskan duduk masalah nya pada Cahaya agar tidak lagi salah paham pada Doni. Untuk itu Aryo datang dengan membawa hasil tes darah Doni setelah peristiwa itu.
" Ini adalah hasil tes labor Doni setelah hari itu ,Cahaya. Di situ dijelaskan jika Doni diberikan Afrodisiak dalam kadar yang cukup tinggi. Jadi sangat jelas jika Doni memang dijebak. " Ucap Aryo.
Tapi tetap mendapat tatapan dingin dari Cahaya. Ketiga pria itu saling pandang dan memahami apa yang Cahaya pikirkan saat ini.
" Bukti itu malah semakin membuktikan jika Abang telah melakukannya dengan Marinda. Meski dengan bantuan obat. Tidak ada yang bisa merubah kenyataan jika Marinda telah mendapatkan yang dia mau. Dan bisa saja Sebulan lagi Marinda akan minta pertanggung jawaban. " Suara Cahaya bergetar menahan sesak dan nyeri hatinya.
Doni ikut sakit melihat mata Cahaya penuh penderitaan. Suaranya mewakili rasa sakit yang dia rasakan. Doni yang duduk di samping Cahaya meraih tangan istrinya yang beku. Tapi Cahaya menolak dengan menepis halus.
" Dengan kondisi mereka saat kita temukan pasti pemikiran itu yang ada di kepala setiap orang. Tapi siapa yang tahu kebenarannya. Doni bahkan tidak sadarkan diri. " Ucap Aryo mencoba membela Doni.
Maxim hanya diam mengikuti pembicaraan itu.
" Dan itu bukan jaminan Abang tidak melakukannya bukan ? Aku rasa kita semua paham fungsi obat itu . Tanpa kesadaran pun pasti bisa membuat wanita terpuaskan dengan bekerja sendiri. " Cahaya sungguh canggung bicara seperti itu. Tapi luapan emosinya memangkas kewarasannya untuk sesaat. Dan kemudian Cahaya tidak bisa menutupi pipinya yang memerah karena malu.
" Cahaya benar, kita tahu betul dengan dosis setinggi itu mampu membuat milik kita menegang dengan sendirinya. Tidak mungkin Marinda menyia nyiakan kesempatan itu bukan? Tapi sayang hanya dia yang merasa puas, sementara Doni tertidur nyenyak. " Ucapan nyeleneh Maxim semakin membakar hati Cahaya. Sedangkan Doni dan Aryo menatap tajam penuh ancaman.
" Loh... kenapa, kenyataan nya memang begitu kan ? " Mendapat tatapan penuh amarah bukannya membuat Maxim berhenti, malah semakin memanasi Cahaya.
Sedangkan Cahaya tidak bisa lagi mengendalikan diri. Dia terisak sambil membekap mulutnya. Maxim merasa sangat bersalah. Wanita depresi itu tersedu karena ulahnya. Maxim bangkit dari duduknya mendekati Cahaya.
" Maaf Cahaya, aku tidak bermaksud untuk membuatmu lebih terpuruk lagi. Aku tahu kamu kecewa aku juga merasakan nya. Mencintai itu memang kadang menyakitkan. Tapi tenanglah Cahaya kamu tidak sendiri, aku akan bersama mu dan aku bisa menganggap anakmu seperti anakku sendiri... akhhh..!! "
Sebuah pukulan mendarat di bahu Maxim dan sebuah cubitan di lengannya. " Kalian suami istri yang kompak. Mengapa kalian marah dan menyakiti aku. Aku kan berniat baik. " Ucap Maxim tanpa dosa dan malah merasa terzolimi oleh perbuatan Cahaya dan Doni yang spontan.
" Niat baik dengkulmu, kamu ingin menikung ku. Aku meminta kalian kesini untuk meluruskan masalah bukan mengambil kesempatan. " Doni terlihat sangat murka.
" Maaf, Bro. Aku hanya ingin keadilan untuk Cahaya, apanya yang salah. " Tetap dengan wajah tanpa dosanya Max berkata.
__ADS_1
" Aku tidak akan melepaskan Cahaya apapun yang terjadi, bahkan jika Marinda hamil sekalipun. " Bentak Doni dengan wajah tegang penuh amarah.
" Jika memang itu terjadi aku yang mundur, Bang. " Ucapan Cahaya membuat Doni terperanjat. Tatapan nya berubah sendu ke arah Cahaya.
" Tidak sayang, jangan lakukan itu. Abang mencintai kamu, Jingga. " Doni berusaha meraih tangan Cahaya tapi tetap tak berhasil karena Cahaya menghindarinya.
" Aya nggak mau poligami. " Ucap Cahaya tegas meski sedari tadi air matanya tak berhenti menetes.
" Abang tidak akan menikahi Marinda apapun yang terjadi. " Maxim tersenyum sendiri melihat kedua suami istri itu. Dan itu tak luput dari pantauan mata elang Aryo.
" Terus Abang akan biarkan anak itu lahir tanpa ayahnya . Dan Aya juga bukan wanita yang sanggup berbesar hati merawat anak Abang dari wanita lain. " Cahaya kembali menegaskan kalau Doni hanya punya satu pilihan.
" Jingga, Abang...
" Sudah, jangan bertengkar karena hal yang belum pasti. Dan kamu Max apa yang kamu sembunyikan. Kamu terlihat sangat menikmati perkelahian mereka. Apa rencana mu Max. " Aryo merasa kalau Maxim sengaja membuat kedua suami istri itu gaduh.
" Ah ...kamu ini tidak bisa lihat aku bahagia. Ok ...baiklah sekarang mari kita dengarkan ini. Habis itu baru kalian pikiran mau berpisah atau bertahan. " Maxim mengeluarkan ponselnya dan membuka rekaman suara yang Amelia kirimkan tadi pagi.
Suara 2 " Bukan, Marinda meminta barang yang membuat orang kehilangan kesadaran. Sebenarnya untuk jaga jaga saja. Karena dia telah menyiapkan obat untuk menaklukkan mangsanya. Tapi ternyata Doni tidak meminum air yang telah Marinda isi obat. Akhirnya cara terakhir menyemprotkan parfum ajaib itu. "
Suara 1 " Apa yang bisa didapatkan dari pria yang tertidur. He... he... Aku kira dia telah berhasil tidur ternyata dia hanya halu. "
Suara 2 " Tapi dia telah mencekoki Doni dengan obat yang dia siapkan. Tapi sayang Doni malah tertidur pulas tanpa menegang sedikitpun. Aku juga sudah meneliti dan menganalisa kembali parfum pesanan Marinda itu. Ternyata dia bisa menetralisir obat obatan kimia. Termasuk Afrodisiak. "
Suara 1 " Kamu luar biasa Laura. Bisa membuat berbagai parfum dengan tujuan tertentu. Ya... meskipun harganya lumayan. "
Suara 2 " Sekolahku mahal Amelia. Dan fasilitas laboratorium ku juga mahal. "
Suara 1 " Oke lah aku mengerti, tapi bagiku pribadi yang penting fungsinya. Jadi Marinda hanya berhalusinasi atau berfantasi saat melihat Doni tanpa busana. Ha... ha... "
__ADS_1
Suara 2 " Setidaknya semua orang melihatnya dengan cara dan pemikiran yang sama. Dan tidak bisa mengelak dari kenyataan Doni telah tidur dengan Marinda . Termasuk istri Doni. "
Suara 1 " Iya... kamu benar, bahkan kabarnya dia sampai depresi padahal lagi hamil. Kasihan sekali. "
Suara 2 " Yah mau bagaimana lagi, Marinda sudah menyukai Doni sejak masa kuliah. Dulu dia kalah dengan Tiara, kini dengan Cahaya. Cinta memang bisa membuat orang kehilangan akal. "
Suara 1 " Kamu benar, aku juga pernah seperti itu. Sekarang bagiku hanya hidup tenang dan nikmati kesendirian. "
Suara 2 " Terus untuk apa parfum nya. "
Suara 1 " Oh... tentu saja itu bagian dari menikmati hidup. Sebagai wanita dewasa pasti kamu tahu maksud ku bukan. "
Rekaman itu pun berhenti, Max menutup ponselnya dan memasukkan nya kembali ke sakunya. Ketiga orang itu masih berusaha mencerna apa yang mereka dengar. Dan sesaat kemudian kedua suami istri itu sudah saling berpelukan sambil berurai air mata.
Hanya suara ratapan Cahaya yang jelas terdengar, sementara Doni hanya menangis dalam diam. Tangisan bahagia dan penuh rasa syukur. Sebagai luapan emosi yang tertahan beberapa hati ini.
Apa yang mereka takutkan nyatanya tidak terjadi. Cahaya bersyukur suaminya masih untuknya dan Marinda tidak berhasil merasakan suaminya. Memikirkan itu saja membuat Cahaya kesal bagaimana jika sungguh terjadi. Cahaya sudah siap untuk mundur saja.
" Sudah aku katakan pada kalian, aku tidak mungkin melakukannya. Aku tahu rasa tubuh setelah melakukan. Maka nya aku seyakin itu. Tapi penemuan obat itu dalam darahku kembali membuat aku ragu. Sialan Marinda, aku tidak akan memaafkannya. " Ucap Doni yang ditujukan pada kedua sahabat nya.
Setelah puas meluapkan rasa pelukan keduanya berlahan terlepas. Doni menatap mata bulat Cahaya yang basah. Membuat hati Doni ikut basah. Dengan lembut Doni menghapus air mata istrinya sembari berkata...
" Abang hanya akan jadi milikmu. Dan akan selalu begitu, jangan pernah ragukan lagi. "
Cahaya tak sanggup mengeluarkan suara sepatah pun. Hanya anggukan yang mewakili jawabannya. Dengan pelan Doni merebahkan Cahaya dan membiarkan Cahaya untuk istirahat. Semua yang terjadi pasti membuat Cahaya tertekan dan lelah lahir dan batin. Hingga beberapa saat Doni masih menemaninya sambil mengusap kepala Cahaya dengan lembut. Hingga Cahaya benar benar tertidur.
Tanpa Doni sadari kedua temannya sudah tidak lagi berada di sana. Doni hendak menemui keduanya. Banyak hal yang belum jelas yang harus Doni tanyakan. Ada sesuatu yang mengganjal tapi tidak bisa dia tanyakan dekat Cahaya.
Akhirnya Doni memutus untuk menemui keduanya yang kini sedang berada di kantin rumah sakit.
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕