
Sore harinya, demam Cahaya mulai turun. Menyisakan rasa pegal dan penat pada tubuhnya. Cahaya memilih berendam air hangat untuk menyegarkan tubuh lelahnya. Dengan bantuan essential oil dan lilin aroma terapi Cahaya merasa tubuhnya kembali bugar.
Cahaya keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama lengan panjang dengan celana panjang. Rambutnya yang basah masih tergulung dengan handuk. Cahaya duduk di pinggir tempat tidur sambil mengecek ponselnya. Ada rindu yang tiba tiba menyeruak di hatinya pada kedua malaikat kecil nya.
Doni yang sedari tadi masih setia di depan laptopnya. Konsentrasi nya sedikit pecah ketika menghirup aroma segar dari kamar mandi saat Cahaya keluar dari sana. Tapi Doni harus bertahan dengan layar datar di hadapan nya karena sedang memeriksa laporan penting. Meski sesekali matanya mencuri pandang pada wanita yang kini telah menjadi istrinya.
Wajah sendi Cahaya tertangkap boleh indra penglihatan Doni. Raut muram itu terlihat sedih menahan air mata. Hati Doni merasa tak nyaman melihat istrinya sedih sambil mematut layar pipih di tangan nya. Siapa yang membuat Cahaya sedih? Pertanyaan itu menggaung di kepala Doni.
Doni berusaha untuk tidak terpengaruh agar cepat menyelesaikan pekerjaan nya. Entah mengapa Doni sangat jengkel pada urutan angka angka itu sekarang. Pada hal dulu Doni sangat mencintai pekerjaan nya itu. Bahkan hingga larut malam pun Doni sering melakukannya.
Cahaya kembali menaruh ponselnya dan beranjak ke kursi meja rias nya. Dengan telaten Cahaya mengeringkan rambut hitamnya. Semua gerakan Cahaya tak luput dari pandangan Doni. Hingga akhirnya Doni menutup semua lembaran yang bertebaran itu dalam sebuah map. Dan tak lupa pula menutup laptopnya.
Terlalu asyik dengan hairdryer nya yang bising membuat Cahaya tidak menyadari kalau Doni sudah berada tepat di belakang nya. Ketika merasakan ada sebuah tangan yang menahan tangannya barulah Cahaya mendongak ke arah cermin yang memantulkannya bayangan Doni di sana.
" Biar aku bantu. " Ucap Doni sembari mengambil alih hairdryer dari tangan Cahaya. Tidak ada penolakan dari Cahaya. Doni melakukan tugasnya dengan teliti dan hati hati. Dan Cahaya dengan setia mematut bayangan tampan itu dari cermin.
" Kenapa melihatku seperti itu ? Baru sadar jika suamimu ini sangat tampan, hmm ? " Senyuman jahil Doni terlihat menggoda.
Cahaya spontan membuang pandangan nya ke arah lain. Wajahnya merah menahan malu karena tertangkap tangan memandang kagum pada sosok pria sempurna di belakang nya.
" Sempurna... ? " Cahaya kembali mempertanyakan sebutan itu untuk Doni. Cahaya belum bisa meraba hati pemilik tubuh atletis itu. Cahaya belum bisa memahami karakter asli pemilik perusahaan besar yang kaya raya ini. Semua masih abu abu.
" Rambut kamu cantik dan wangi. " Doni mengambil sejumput rambut Cahaya dan menghirup aroma wangi yang menyegarkan dari helaian indah itu.
" Terima kasih, Abang sudah membantu mengeringkan. " Ucap Cahaya
" Aku suka melakukan ini sejak dulu... " Suara Doni tercekat menyadari kesalahannya. Pandangannya beradu dengan Cahaya di pantulan cermin. Doni menatap Cahaya dengan rasa bersalah, sementara Cahaya terlihat sendi tapi ditutupinya dengan senyuman palsu.
" Maaf...
__ADS_1
" Tidak masalah...
" Aku tidak akan mengulanginya. "
Cahaya membuang pandangannya pada sisir yang terletak di meja rias. Cahaya memilih pura pura sibuk menyisir rambut sembari menetralisir perasaan nya dari pada menggubris ucapan Doni.
Suasana menjadi canggung dan kaku. Doni masih setia menatap perubahan mimik wajah Cahaya dari pantulan cermin. Dia bisa menangkap pandangan mata kosong Cahaya. Dan raut sendu yang coba Cahaya sembunyikan sudah terlanjur Doni tangkap.
" Jangan lakukan apapun padaku yang mengingatkan mu pada mantan istri kamu, Bang. Tidak ada wanita yang suka menjadi objek pengganti . Aku juga begitu. Meski pernikahan ini hanya hubungan simbiosis mutualisme. " Ucapan Cahaya bernada lembut namun ada aura tegas terpancar dari dari sorot matanya .
" Aku tidak bermaksud begitu. " Ucap Doni tak jujur. Dia memang tiba tiba ingin melakukannya tadi karena dia memang merindukan saat saat mengeringkan rambut Tiara.
" Kadang mulut bisa bicara apa saja, tanpa tahu rasa orang yang mendengarnya. Tapi sorot mata seseorang sulit untuk berbohong. Dan sangat gampang untuk dibaca " Cahaya melemparkan seulas senyuman manis. Setelah menyelesaikan menyisir rambutnya Cahaya bangkit dari duduknya menuju ranjang untuk menghindar dari tatapan Doni.
Doni masih terpaku mengartikan ucapan Cahaya. Mematut wajahnya sendiri sembari menanyai hatinya. Apa yang Cahaya pikirkan tentang nya. Kenapa makna ucapan Cahaya begitu dalam. Apakah dia telah sangat menyakiti Cahaya .
Semua itu hanya mengambang begitu saja tanpa berani Doni tanyakan. Karena Doni merasakan ada sesuatu yang membuat Cahaya berkata demikian. Dan Doni tidak tahu apa itu.
" Peran pengganti, benda pengganti, atau mungkin objek fantasi. Sementara kamu hanya mengingat satu nama saat melakukan apapun dengan ku . " Ucap Cahaya menjelaskan dengan tegas.
" Aku tidak pernah berniat begitu ? " Terdengar suara Doni mulai dingin dan penuh penekanan.
" Niat dan kenyataan itu bisa saja berbeda . Jika kamu ingin mengisi kamar dengan ranjang baru, kamu harus mengeluarkan ranjang yang lama. Niat kamu mungkin ingin tidur di ranjang yang baru. Tapi kenyataan nya kamu merasa berat untuk membuang ranjang yang lama. " Ucap Cahaya dengan tenang.
" Apa kamu meminta ku melupakan dan membuang semua kenangan ku dengan Rara ? " Doni menatap Cahaya dengan senyum miring seakan meremehkan.
" Deg " Hati Cahaya berdenyut mendengar panggilan penuh cinta buat Tiara dari mulut suaminya.
" Tidak ! Tapi jika kamu memaksa ranjang baru itu masuk tanpa mengeluarkan yang lama, bisa dipastikan kamu akan kesulitan sendiri . Bahkan bisa saja menyakitkan atau mungkin menyakiti. " Cahaya tetap berusaha untuk tenang, meski pembicaraan ini cukup menguras emosinya.
__ADS_1
" Aku bisa membuat kamar yang baru untuk ranjang yang baru. Dan aku masih bisa menyimpan ranjang yang lama. " Ucap Doni dengan senyum penuh kemenangan merasa jawabannya sudah tepat.
" Itu yang ingin aku dengar. Jawaban dari hatimu atau gambaran dirimu apa adanya . " Cahaya tersenyum miris setelah bisa sedikit memahami seperti apa Doni sebenarnya ." Itu hanya ranjang soal ranjang dan kamar , Bang. Kamu bisa memindahkan kemana kamu mau. Kamu juga bisa memilih untuk tidur dimana. Dan kamu bisa memajang nya di ruang tamu jika itu pantas menurut mu ." Cahaya menjeda ucapannya.
" Tapi tidak dengan hati dan pernikahan . Jika kamu tidak mengosongkannya maka jangan berharap kamu bisa mengisinya dengan yang baru. Dan rumah tangga ini akan berjalan tanpa rasa... dan hambar. " Suara Cahaya yang tadinya tegas kini terdengar lemah . Raut wajahnya pun terlihat muram.
" Aku tidak meminta hati mu utuh, cukup memberikan sudutnya saja. Aku juga tidak ingin serakah dengan mengusir penghuninya . Aku hanya tak suka jika kamu membayangkan aku adalah dia. Semua yang kamu lakukan padaku hanya untuk mengenang nya. Semua yang kamu berikan padaku adalah karena kamu merasa itu untuknya. Maaf... walaupun aku hanya seonggok tulang belulang bagimu tapi aku cukup menghargai diriku sendiri. "
Suara Cahaya kini mulai bergetar. Ada kepiluan yang tersirat dalam setiap deret kata yang dia ucapkan. Dan setelah kata terakhirnya Cahaya membuka ponselnya mengalihkan pandangan nya dan menepis rasa sesak yang menerjang jantungnya.
" Maaf jika kamu merasa begitu. Aku tidak akan melakukan apapun padamu jika kamu tak ingin. " Doni salah memaknai maksud Cahaya.
" Sepertinya kamu salah memahami maksudku, Bang. "
" Entahlah... aku rasa kamu yang salah memahami aku . Mengartikan semua perlakuanku. Aku memang belum bisa melepaskan Tiara dari hatiku. Tapi aku mencoba menerima kamu. Apa itu salah menurut mu. "
" Kamu tidak salah, akulah yang salah. Menerima seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Baiklah... kita akan kembali pada mode awal. Pernikahan ini hanya untuk membahagiakan orang orang yang kita sayangi. Seperti ucapan kamu waktu itu. " Cahaya melempar senyuman lebat seakan dia bahagia. Sementara harapannya baru saja dia hancurkan sehancur hancurnya.
" Kamu terlalu banyak berpikir, kenapa tidak kita nikmati saja semua ini tanpa berpikir tentang sesuatu yang tidak penting. Aku suami kamu dan kamu istri ku. Kita jalankan peran kita masing masing maka semua akan bahagia. Apa itu sulit bagimu ? " Bagi Doni semua bisa berjalan baik baik saja jika semua berjalan pada jalurnya masing masing.
Tanpa perlu memikirkan tentang rasa, perasaan, pikiran, bayangan ataupun hati . Karena semua itu biarlah menjadi rahasianya dengan Pembolak balik hati. Tanpa seorang pun yang tahu agar tidak menyakiti yang lainnya.
Tapi bagi Cahaya dia hanya akan dianggap sebagai boneka, tanpa rasa tanpa warna. Cahaya hanya tersenyum hambar nyaris pahit. Salivanya pun terasa sulit untuk dia telan.
" Tidak ! Ayo kita jalani semua sesuai yang kamu inginkan. Kamu nahkoda nya aku hanya bagian yang tidak penting untuk kamu pikirkan. Penumpang utamanya adalah Ibuk, anak anak dan Rania.
Doni kembali terdiam. Kata kata Cahaya membuatnya berpikir ulang. Apa yang salah ?Mengapa wanita yang dia sebut istri merasa seakan tersakiti dalam perjalanan baru ini. Apa yang Cahaya inginkan, kenapa begitu sulit untuk memahami ucapannya.
...****************...
__ADS_1
Happy Reading 💕