Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Kebahagian ( bukan) untuk Cahaya


__ADS_3

Perdebatan itu terhenti tanpa ada penyelesaian antara keduanya. Kedua pengantin baru itu semakin larut dengan pikiran masing masing. Tidak ada percakapan yang berarti , hanya sekedar pertanyaan sekitar makan apa atau belum tidur saja. Tidak ada lagi ucapan jahil Doni ataupun jawaban asal dari Cahaya .


Kamar pengantin yang seharusnya hangat makah terasa dingin dan hening. Hingga pagi menjelang keduanya tetap kaku dan canggung. Cahaya juga tidak demam lagi. Merasa suasana yang tak nyaman Cahaya meminta pulang saja untuk keluar dari suasana yang kaku ini.


Doni pun menyetujui tanpa banyak bertanya. Akhirnya keduanya pulang lebih awal dari rencana semula. Doni memboyong Cahaya untuk pertama kalinya sebagai istri ke rumahnya. Rumah yang akan menjadi saksi perjalanan baru mereka.


Dan untuk pertama kali juga Cahaya memasuki kamar yang Doni renovasi tempo hari. Tapi sayang Doni tidak menemani Cahaya saat pertama kali membuka kamarnya. Karena sesampainya di rumah Doni langsung meminta izin untuk ke kantor karena ada pekerjaan penting yang mendesak.


Cahaya masuk dengan hati yang berdebar. Dia tahu ini adalah kamar baru yang Doni maksud. Sementara di rumah ini ada kamar lain yang tak seorangpun boleh mengusiknya. Cahaya hanya bisa mendesah pelan meredakan sesak dadanya. Meski belum ada cinta, tapi entah mengapa Cahaya merasa tidak suka berada di posisinya sekarang. Untuk kedua kalinya pria yang disebut suami memiliki tempat lain selain dirinya.


" Sungguh menyesakkan . " Gumamnya seorang diri.


Kamar mewah ini tidak mampu mengalihkan perasaan gundahnya. Cahaya memasuki sebuah ruang tempat menyimpan pakaian. Tak banyak milik Doni di sini, mungkin belum selesai dipindahkan atau memang tidak boleh dipindahkan Cahaya tidak tahu. Dan di sisi yang lain terdapat milik Cahaya yang telah tersimpan rapi.


Cahaya kembali ke kamar, dan dikejutkan oleh kehadiran seseorang.


" Ibuk... Aya nggak dengar Ibuk datang. " Ucap Cahaya ketika melihat mertuanya duduk di tepi ranjang.


" Ibuk baru saja masuk. Maaf Ibu nyelonong saja. " Senyum di bibir Ibu Ratih begitu tulus. Cahaya bisa merasakannya. Sangat berbeda dengan mantan mertuanya dulu .


" Nggak apa apa Buk, Aya tadi keasyikan lihat lihat ke ruang wall in closet. " Tanggap Cahaya.


" Kamu suka kamarnya ? "


" Suka sekali Ibuk, ini melebihi harapan Aya. "


" Kamu pintar milih perabotan nya. Ibuk suka." Cahaya terperangah.

__ADS_1


" Bukan Aya yang pilih Buk, mungkin Abang. " Ucap Cahaya jujur. Terlihat perubahan raut wajahnya Ibu Ratih namun dia berusaha terlihat biasa.


"Oo gitu ya, Ibu k kira kamu yang pilih. Ini dulu kamar bekas Ibuk dan Ayah. Sejak Ayah tiada Ibuk memilih kamar yang lebih kecil. Ini dulu kamar terbesar di rumah ini sebelum Doni merombak kamar pribadinya atas permintaan Tiara. " Ibu Ratih bercerita tanpa diminta.


Pikirannya terbang pada saat Tiara merengek minta kamar Doni dibesarkan. Dan Doni terpaksa mengorbankan ruang kerjanya. Dan Doni memakai ruang buku di lantai yang sama untuk bekerja kala di rumah. Begitu berharga nya Tiara bagi Doni hingga semua keinginan nya selalu dituruti.


Mendengar cerita Ibu Ratih Cahaya mengambil kesimpulan jika kamar Tiara lebih besar dari kamarnya. Sungguh sedikit pun Cahaya tidak cemburu tapi tetap saja jauh di lubuk hatinya ada rasa kecewa.


" Dan pintu itu adalah pintu menuju ruang kerja Ayah. Kemari lah , kita lihat. Doni memindahkan ruang kerjanya ke sini. Ibu belum melihatnya. " Ibu Ratih menggandeng tangan Cahaya memasuki sebuah ruang kerja Doni.


Saat pintu itu terbuka, kedua wanita itu terperangah memandang sebuah Foto besar tergantung di ruangan itu. Sebuah foto pernikahan itu bukan milik Cahaya melainkan foto Doni dan Tiara. Ibu Ratih terlihat merasa bersalah pada Cahaya, sementara Cahaya berusaha menyimpan rasa perihnya dengan senyuman manisnya.


" Tidak apa apa, Buk. Abang butuh waktu jangan terlalu dipermasalahkan. Aya tidak apa apa. Pernikahan kami juga baru dua hari. Biarkan seperti ini dulu, Buk. " Ucap Cahaya menenangkan sang mertua yang mulai memerah menahan amarahnya.


" Ibuk harus bicara dengan Doni. " Ibu Ratih keluar dari ruang kerja itu dan hendak meninggalkan kamar Cahaya. Tapi Cahaya menahannya .


Ibu Ratih memejamkan matanya, seperti berusaha menahan emosinya. Dan ketika mata itu terbuka nampak senyuman hangat menghiasi bibir keriputnya.


" Kamu memang wanita yang baik. Ibuk tidak salah memilih mu. Semoga kamu bahagia, Nak. " Ibu Ratih meninggalkan Cahaya sendiri dengan air mata menggenang di pelupuk matanya. Tentu saja Ibu Ratih tidak ingin Cahaya melihatnya. Dan Ibu Ratih juga tak sanggup melihat senyum palsu menantunya.


" Aya juga ingin bahagia, Buk. Tapi saat ini seperti mustahil. " Bisik Cahaya dalam hatinya. Cairan bening yang sedari tadi ditahan nya akhirnya luruh tanpa bisa ditahan lagi.


*****


Hingga malam datang Doni masih belum pulang ke rumah. Bahkan saat makan malam bersama Doni tidak ada. Hanya ada Cahaya, Ibu Ratih , Binar dan Biru. Mereka makan sambil berbincang bincang ringan. Anak anak bercerita tentang sekolah baru mereka. Sementara Ibu Ratih terlihat antusias mendengarkan.


Satu hal yang Cahaya syukuri, kebahagiaan anak anak nya dan Ibu Ratih terlihat kontras di matanya. Kedua buah hatinya mendapatkan kamar pribadi masing masing, sekolah yang bagus dan tinggal di rumah besar. Mereka juga pulang pergi dengan mobil yang diantar supir.

__ADS_1


Dan Ibu Ratih terlihat bahagia karena tidak lagi kesepian. Hari harinya dipenuhi suara canda Binar dan Biru. Ibu Ratih juga sibuk mengurusi kedua anak Cahaya itu. Menyiapkan bekal dengan menu favorit mereka. Dan hidupnya terasa penuh warna. Tidak lagi hampa dan sunyi.


Semua yang itu cukup bagi Cahaya. Apapun Cahaya rela lakukan agar anak anaknya bahagia dan Ibu Ratih juga bahagia. Setidaknya tujuan utama pernikahan ini sudah terwujud.


" Jangan serakah Aya. " Cahaya bicara pada dirinya sendiri.


Kini Cahaya termenung sendiri di kamar barunya, sepi. Setelah mengantarkan Binar dan Biru ke kamar mereka di lantai dua, Cahaya kini merasa sepi di kamarnya sendiri. Ingin rasanya Cahaya tidur di kamar Binar tapi dia takut anaknya yang sangat peka itu banyak bertanya.


Tepat pukul sepuluh lewat tiga puluh menit pintu kamar Cahaya terbuka. Doni muncul dengan wajah lelah. Kemejanya pun sudah berantakan. Lengan bajunya sudah digulung hingga siku.


" Abang, baru pulang ? Sudah makan ? " Tanya Cahaya mengejutkan Doni yang tidak menyadari jika Cahaya berada di sofa.


" Eh... iya. Aku sudah makan. Kenapa belum tidur, ini sudah larut. " Ucap Doni sembari membuka kancing kemeja dan menyisakan kaos putih polosnya.


" Belum mengantuk, habis baca ini. " Cahaya memperlihatkan Alquran kecil ditangannya.


" Aku mandi dulu, tidurlah aku mau ke ruang kerja habis mandi. "


" Terlalu malam untuk bekerja, Bang. Apa tidak bisa dikerjakan besok. " Ucap Cahaya sembari memungut kemeja Doni yang di taruh di ranjang.


" Sebentar saja... " Doni pun masuk ke kamar mandi.


Persis seperti yang Doni katakan tadi, selesai mandi dan berpakaian Doni segera beranjak ke ruang kerja. Tak lama kemudian Doni keluar seperti hendak menanyai sesuatu pada Cahaya. Tapi urung dilakukan nya karena melihat mata Cahaya telah terpejam.


Setelah mondar mandir sebentar akhirnya Doni ikut berbaring di samping Cahaya dengan posisi telentang . Doni bukan tidur melainkan menatap langit langit kamar , entah apa yang Doni pikirkan.


...****************...

__ADS_1


Happy Day Readers 💕


__ADS_2