
Seperti janji Dokter Nadya datang pagi pagi sebelum praktek di klinik miliknya. Memberikan beberapa stimulasi pada Cahaya untuk menarik kesadaran nya. Mentransfer semangat lewat kata kata dan sentuhan. Mengajak Cahaya bicara meski hanya komunitas satu arah.
Setelah menilik beberapa saat Dokter Nadya kembali mendekati Doni di sofa. Untuk menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan dan yang tidak.
" Kita harus segera membuatnya sadar, Pak. Saya khawatir dengan kandungan nya. Jika kita kehilangan bayi itu bisa saja akan memperburuk keadaannya. Saya tahu betul Cahaya sangat mencintai anak anaknya. " Ucap Dokter Nadya setelah duduk berhadapan dengan Doni.
" Apa yang bisa saya lakukan , Dok? " Tanya Doni bingung.
" Salah satunya adalah memunculkan sumber trauma nya. Mantan suaminya mungkin ? "
" Apa tidak ada cara lain , Dokter. " Ucap Doni yang kurang setuju.
" Itu salah satunya, Pak. Mungkin bisa menghadirkan anak anaknya. Mungkin Cahaya bisa tertarik ke alam sadarnya. " Ucap Dokter Nadya lagi.
" Kalau begitu saya akan telpon adik saya biar bisa bawa anak anak kemari. "
" Sementara itu terus ajak bicara, Pak. Kita tidak tahu ucapan mana yang mengundang responnya nanti. Support lewat sugesti dan jangan lupa berdoa. Kalau begitu saya pamit, Pak . Ini udah jadwal saya di klinik . " Dokter Nadya pamit, dan seperti biasa Doni mengantar hingga pintu masuk.
" Hai sayang, Abang mau bekerja tapi tidak bisa meninggalkan kamu. Abang mau menemanimu hingga kamu pulih. Sekarang Abang cari sarapan sendiri, nggak ada yang masakin. Abang rindu makan udang saos padang bikinan kamu . Cepat kembali , Sayang. Abang rindu kamu. " Doni terus bicara tanpa direspon oleh Cahaya.
Seperti saran Dokter Nadya tadi, mengajak Cahaya bicara meski tidak ada tanggapan. Mungkin saja nanti ada ucapan yang mengena ke hatinya yang menariknya dari alam bawah sadar. Doni tidak putus asa dan terus berbicara sambil menghabiskan sarapannya.
" Kamu rindu anak anak nggak, Sayang. Abang rindu mereka. Abang belum bisa memenuhi janji pada mereka. Tapi Abang akan menebusnya suatu saat nanti. Mungkin setelah kamu lahiran. Abang nggak sabar anak kita lahir. Abang yakin dia mirip sama Abang. Tapi Abang maunya sifatnya mirip kamu . Kita belum lihat jenis kelamin nya. Cepat lah kembali, Sayang. Kita periksakan jenis kelamin nya dan mempersiapkan perlengkapan bayi. "
Doni terus bicara sambil menatap mata Cahaya berharap ada sedikit respon. Tapi yang Doni lihat hanya tatapan kosong. Sesekali Doni mengusap pipi Cahaya dan membelai rambutnya. Bahkan Doni membingkai wajah Cahaya dengan kedua tangannya sambil memaksa Cahaya untuk menatapnya. Tapi hasilnya tetap sama.
" Apa sesakit itu, Sayang. Apa kamu begitu marah ? Maaf, Abang tidak mendengarkan nasehat mu. Abang tidak mengindahkan larangan kamu. Andai waktu bisa diputar mundur, Abang memilih untuk tidak mempedulikan wanita jahat itu. Dia membuat Abang seolah-olah main dengannya padahal itu hanya rekayasa saja. Tenanglah, pasti ada sela untuk membuktikan kebohongan nya. Abang yakin, tidak ada satupun kebusukan yang bisa disimpan lama. Jingga sayang ... Abang rindu. Abang menunggumu. "
Doni mengusap sudut matanya. Sesak dadanya memacu cairan bening itu jatuh tanpa sanggup dibendung. Rasa kecewa pada dirinya lebih menyesakkan baginya. Dari pada kalah tender milyaran rupiah. Bahkan Doni merasa punya banyak uang saat ini tidaklah berguna baginya jika harus melihat Cahaya hidup seperti ini.
Doni melangkah ke kamar mandi dengan tergesa gesa. Menutup pintu dan menghidupkan kran air dengan deras untuk menyamarkan suara yang akan timbul. Ya... Doni meratap seperti seorang yang kehilangan sesuatu yang berharga. Raungan yang sama seperti dulu saat menemukan potongan tubuh Tiara di lautan dingin.
__ADS_1
Sepuluh tahun lebih, kini untuk pertama kalinya Doni kembali meratap menyedihkan dan sesekali memukuli tembok kamar mandi. Jika seseorang mendengar pilunya tangisan itu pasti mereka menyangka jika Doni ditinggal mati seseorang. Lima belas menit berlalu barulah Doni puas menumpahkan sesak yang menderanya sejak beberapa hari ini.
Tanpa ada yang tahu di sudut mata Cahaya air bening menetes dengan sendirinya tanpa ekspresi. Raungan itu mampu mengetuk pintu batas kesadarannya tapi tak mampu untuk keluar dari tempatnya bersemayam.
Setelah menyegarkan wajahnya Doni keluar seperti tidak ada yang terjadi. Dia tetap tersenyum meski Cahaya tidak akan terpengaruh karenanya. Doni meraih ponsel dan menghubungi Adnan. Menanyakan kabar dan perkembangan penyelidikan Max dan Aryo. Sekaligus menyuruh Adnan membawa keluarganya kembali ke kota.
Tapi rasa kecewa yang Doni dapatkan, Marinda melakukannya semuanya penuh perhitungan. Tidak sedikitpun jejak yang tertinggal. Kini Doni hanya bisa berharap pada hasil tes darah yang keluar esok hari. Semoga ada sedikit titik terang yang bisa melepaskan Doni dari rasa bersalah ini.
*****
Keesokan harinya...
Adnan telah membawa semua anggota keluarga kembali ke rumah. Tapi sesampainya di rumah Ibu Ratih sangat murka setelah kecurigaan nya terhadap penyakit Cahaya akhirnya terjawab. Rania lah yang menjadi sasaran amukan Ibu Ratih karena menutupi semua yang terjadi malam itu.
Aryo dan Max pun telah kembali dengan tangan kosong. Semua tertata rapi oleh Marinda tanpa cela. Hal ini malah memancing kecurigaan Maxim terhadap Doni kembali menyeruak. Mungkin Doni hanya menyesali yang telah terjadi maka nya tidak mengakui perbuatannya.
Siang harinya Doni meminta Rania membawa Binar dan Biru ke rumah sakit. Salah satu cara yang Dokter Nadya sarankan untuk memancing reaksi Cahaya tapi hasilnya nihil. Cahaya sama sekali tak terpengaruh sama sekali.
Sore ini Doni meminta Rania menggantikan nya menjaga Cahaya. Doni akan menemui Aryo dan Max di Club untuk melihat hasil tes darah yang sudah Aryo kantongi.
" Bagaimana, Ar. Bacakan hasilnya. " Ucap Doni tak sabar.
" Kamu siap, Don. Mungkin ini tidak sesuai dengan harapanmu. Walaupun memang ada sesuatu yang pada darahmu. " Aryo menanyakan kesiapan Doni agar Doni menyiapkan dirinya untuk menerima hasilnya nanti.
" Jangan menakuti aku, Bro. Aku sudah sangat lelah, cepat jelaskan. " Balas Doni dengan malas.
" Ini... " Aryo menyerahkan hasil labor itu ke tangan Doni. Dengan sigap Doni membaca baris demi baris.
" Ini... hanya ini ? Tidak ada yang terlewatkan ? Pasti petugas laboratorium itu sangat ceroboh, mana mungkin hanya ini. " Ucap Doni murka.
" Hah... meski Marinda menjebak mu , tapi dari hasil labor ini membuktikan jika kalian telah melakukan penyatuan yang menggairahkan. " Sarkas Max yang sedari tadi diam. Dan Max tersenyum miring seperti mengejek.
__ADS_1
" Tidak... ini tidak bisa membuktikan itu, Max . Aku yakin aku tidak melakukan. Aku tidak sadar.... " Doni terhenti meragukan keyakinan nya.
" Ha... ha... bagaimana ? Kamu sudah paham sekarang. Bagaimana bisa kamu bisa tahan tidak melakukannya dengan kadar Afrodisiak yang termasuk tinggi dalam darahmu. " Ucap Max bernada tinggi.
" Tenanglah Max. Kita harus mencari penyelesaian bukan untuk memojokkan " Aryo berusaha menenangkan Max sambil mengusap bahunya. Sementara Doni terlihat frustasi.
" Tapi aku benar-benar tidak sadar. Apakah pengaruh zat itu bisa membuat orang melakukan tanpa ingat sama sekali. " Doni berkata dengan suara lemah.
" Seharusnya tidak, obat itu hanya membuat kamu bergairah yang tak tertahan. Dan kamu bisa merasakan dan mengingat semuanya jika tidak dicampur dengan alkohol. Tapi sayangnya tidak ada alkohol maupun obat tidur dalam darahmu. " Terang Aryo.
" Bagaimana bisa, aku tidak mengingatnya. " Keluh Doni.
" Dan bersiaplah satu bulan ke depan. Berdoa lah semoga Marinda tidak hamil, jika itu terjadi aku jamin dia tidak akan membiarkan mu lolos . " Max semakin menyerang mental Doni yang kini kehilangan rasa percaya dirinya.
" Apa yang harus aku lakukan. Cahaya terperangkap dalam dunia bawah sadarnya. Entah apa lagi cara untuk membangunkan nya. Semakin lama semakin berbahaya untuk kandungannya. " Doni kini kembali meremas rambutnya kasar. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Kurangi tidur dan banyak pikiran membuat kepalanya tertimpa benda berat.
" Dan jika Marinda hamil, aku harus bagaimana. Aku tidak bisa melepaskan Cahaya. Cahaya pasti juga tidak mungkin bisa menerima semua ini. " Mendengar Doni yang berada di titik terendah membuat Max merasa kasihan.
" Sabar, Don. Kita cari solusinya bersama. Soal Marinda hamil itu sesuatu yang belum pasti. Untuk saat ini fokuslah pada Cahaya . " Usul Aryo menenangkan Doni.
" Apa tidak ada cara untuk mengobati nya. " Max yang tadi sinis kini mulai melunak.
" Tinggal satu cara, menghadirkan pria brengsek yang menyebabkan mental Cahaya sakit. " Ucap Doni pasrah.
" Kamu yakin mempertemukan mereka ? Dengan susah payah menjauhkan, kini harus mempertemukan. " Tanya Aryo memastikan.
" Jika itu satu satunya cara. " Doni menyambar botol minuman yang sedari tadi telah menggodanya.
Botol yang telah lama dia tinggalkan. Tapi malam ini Doni membutuhkan cairan memabukkan itu. Baik Aryo maupun Max tidak ada yang menghalangi Doni . Mereka membiarkan untuk malam ini saja. Agar Doni bisa beristirahat tanpa beban malam ini.
Untuk malam ini saja....
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕