
Sepulangnya dari klinik Dokter Nadya , Doni mengantarkan Cahaya kembali ke rumah. Dan setelah makan siang Doni ke kantor untuk bekerja. Tapi sesampainya di kantor Doni malah duduk termenung menghadap ke arah jendela kaca yang menampilkan penampakan pusat kota yang padat.
Ucapan Dokter Nadya masih terngiang di telinga Doni. Sedikit gambaran kejadian malam neraka yang Cahaya alami sampai trauma yang memicu Anxiety Disorder bagi Cahaya.
Doni sedikit penasaran dengan ucapan Dokter jiwa itu tentang keluarga Fakhrul yang menutupi kasus yang Cahaya alami. Padahal kasus itu termasuk penganiayaan berat. Apalagi terkait dengan kasus narkotik. Tapi Fakhrul bisa bebas setelah tiga bulan di penjara. Sungguh luar biasa.
Dan wanita yang menjadi awal bencana rumah tangga istrinya. Amelia, siapa wanita itu dan dimana dia berada ? Mengapa orang sehebat keluarga Fakhrul tidak mampu menemukan wanita kedua Fakhrul itu. Pasti ada tangan lain yang menyembunyikan nya.
Tapi dari sekian info yang Doni dapatkan, Doni lebih tertarik pada trauma yang Cahaya alami. Doni tidak menyangka jika Cahaya memiliki trauma terhadap malam. Ketakutan Cahaya akan kambuh ketika malam. Termasuk ketukan pintu di malam hari. Berdua di kamar dengan pria di malam hari. Bau minuman beralkohol di malam hari. Suara pecahan kaca di malam hari.
Semua yang Cahaya rasakan adalah dampak kekerasan yang dia alami dimalam hari. Dan yang lebih mengejutkan Cahaya mengalami trauma terhadap hubungan xxx di malam hari. Oleh sebab itu Dokter Nadya menganjurkan agar Doni lebih sering mendekati Cahaya di siang hari.
 Perlahan tapi pasti, jika Cahaya merasakan kenyamanan di siang hari, kemungkinan Cahaya bisa melewati nya di malam hari. Inti dari semua itu adalah rasa aman dan nyaman. Dengan begitu Cahaya lebih cepat untuk sembuh. Untuk itu besarnya peran Doni dalam hal ini.
Mengingat ucapan Dokter Nadya, Doni memutuskan untuk pulang. Selagi masih siang Doni ingin memanfaatkan hari ini dengan sebaik mungkin. Dengan harapan Cahaya bisa memberikan respon yang positif.
Setibanya di rumah Doni menemukan Cahaya di taman bunga milik ibunya. Tapi Cahaya bukannya berkebun. Melainkan duduk di bangku panjang menghadap ke kolam renang. Cahaya terlihat sedang membaca sebuah buku.
Doni melangkah mendekat tanpa terdengar. Sekilas Doni mencuri tahu buku yang Cahaya baca. Seketika senyum terbit di wajah tampan itu. Istrinya membaca buku tentang menyenangkan suami. Suami mana yang tidak bahagia jika istrinya belajar untuk menyenangkan nya.
Doni merasa di atas awan sekarang. Ingin rasanya Doni menggendong Cahaya ke kamar sekarang jika saja Cahaya adalah wanita normal tanpa kerusakan secara psikis. Tapi Doni harus sedikit menahan diri agar Cahaya nyaman dengan nya.
" Bacaan yang bagus, tinggal kita praktekan saja. " Ucap Doni menggoda Cahaya. Tentu saja membuat Cahaya tersentak kaget.
" Abang... kok disini. Bukannya tadi katanya ke kantor. " Tanya Cahaya mengalihkan topik.
" Mau bagaimana lagi sampai kantor, Abang rindu. Makanya pulang. " Doni yang tadi berdiri di belakang Cahaya, kini beranjak ke arah depan. Dan merebahkan kepalanya di paha Cahaya.
" Ada masalah ? " Tanya Cahaya ketika melihat Doni menutup matanya.
" Nggak ada, hanya lelah. Pijat kan kepala Abang, Jingga . " Ucap Doni sembari menutup mata.
__ADS_1
Cahaya meletakkan bukunya di samping tubuhnya dan memijat lembut kepala suaminya. Mata Cahaya tidak beralih dari wajah tampan Doni. Rahang tegas, hidung yang cukup tinggi. Kulit Doni berwarna sedikit lebih gelap dari Cahaya. Alis yang tebal sangat cocok membingkai mata elangnya.
Cahaya terus menatap Doni yang setia menutup mata. Pijatan lembut Cahaya membuat Doni rileks dan enggan untuk menghentikan. Hingga beberapa waktu berlalu Doni tetap menutup mata dan tak bergerak sedikitpun.
" Abang tidur...? " Melihat Doni yang memejamkan mata sekian lama membuat Cahaya memberanikan diri untuk bersuara. Tapi Doni tak kunjung menyahut.
" Beneran tidur kiranya. " Gumam Cahaya pelan. Dengan beraninya Cahaya membelai wajah Doni lembut. Dari pipi hingga rahang Doni yang sering membuat Cahaya ingin menyentuh tapi tak berani. Senyuman kecil terbit di bibir tebalnya karena bisa melakukan hal itu.
Doni tetap diam tak bergeming dan tak bereaksi apapun. Meyakinkan Cahaya jika Doni memang tertidur.
" Tampan... " Ucap Cahaya sangat lirih namun terdengar sangat jelas oleh seseorang.
" Tapi tetap saja aku takut... " Lanjut Cahaya. Tangannya semakin berani dan terus membelai ringan. Hingga telapak tangan Cahaya menangkup pipi kiri Doni secara utuh.
" Kenapa harus takut ? " Tiba tiba Doni bicara tanpa membuka mata, hanya saja telapak tangan nya kini menyatu dengan punggung tangan Cahaya di pipinya.
Cahaya sontak menarik tangannya di pipi Doni, tapi terlambat karena Doni telah lebih dahulu mengunci jemari lentik itu dalam genggamannya. Dan Cahaya semakin gugup saat Doni membuka matanya menatap dari bawah sana.
" Jangan takut padaku, aku tidak akan pernah menyakiti. Aku bukan pemangsa ataupun psikopat yang tak punya hati. Bahkan aku tidak pernah melayangkan tanganku pada seorang wanita. " Doni bicara lirih tapi penuh penekanan. Dengan menyebut dirinya dengan sebutan " aku " berarti Doni menegaskan dan bersungguh sungguh . Cahaya hanya termangu membeku.
" Bagus... nanti Abang belikan yang banyak buku seperti ini. " Doni tersenyum penuh maksud pada Cahaya. Membuat Cahaya membuang pandangan jauh dari Doni. Menyembunyikan wajahnya yang merona.
" Jadi menurutmu, Abang tampan ? " Doni menggoda Cahaya dengan senyuman tengilnya.
" Abang pura pura tidur. " Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Cahaya dengan wajah dibuat kesal.
" Yang bilang Abang tidur siapa ? Abang hanya menikmati pijatan kamu yang menenangkan. Lain kali Abang ingin dipijat di bagian yang lain, boleh ? " Tanya Doni penuh maksud.
" Aya nggak pandai memijat. " Jawab Cahaya sungkan.
" Bisa... mana ada istri yang tidak bisa memijat suami. Asalkan kamu mau saja, pasti bisa. "
__ADS_1
" Baiklah, lain kali Aya coba. "
" Bagus... sekarang ikut Abang. " Doni menarik tangan Cahaya lembut, dan Cahaya menurut saja.
Ternyata Doni membawa Cahaya ke kamar mereka. Sesampai di sana Doni mengambil sesuatu di meja rias .Yang ternyata adalah sebuah botol kecil yang berisi minyak zaitun milik Cahaya.
" Sekarang pijat punggung Abang, badan Abang pegal terlalu banyak duduk menghadap laptop. " Doni meletakkan botol minyak Zaitun di tangan Cahaya dan kemudian membuka kemejanya.
" Ayo, Jingga. Jangan bengong di situ. " Cahaya tersentak dari kebekuannya dan ternyata Doni sudah tidur tengkurap di ranjang menunggu untuk dipijat.
Dengan rasa sungkan dan canggung Cahaya mulai mendekat dan duduk di sisi Doni. Meneteskan beberapa tetes minyak di punggung lebar suaminya itu. Kemudian mulai memijat. Gerakan tangan Cahaya yang lembut membuat Doni tidak bisa tidak memejamkan mata. Gerakan dari pundak ke punggung hingga pinggang Doni yang terasa menenangkan sekaligus menyenangkan.
" Abang mau dipijat seperti ini sering sering, Jingga. Ini enak, Abang tidak pernah merasakan dipijat seenak ini. " Ucap Doni apa adanya.
" Jangan berlebihan memuji, pasti pijatan Mbak Tiara lebih enak. " Tanpa sadar mulut Cahaya berkata sesuatu yang ada di hatinya.
Doni sontak membuka mata. Ucapan Cahaya menggambarkan jika perlakuan Doni yang selalu tentang Tiara di awal pernikahan membekas jelas di hati Cahaya. Membuat Cahaya tidak yakin dengan kesungguhan yang Doni lakukan atau katakan untuknya.
Doni membalikkan tubuhnya menjadi telentang. Dengan sekali sentakan Doni menarik Cahaya jatuh di atas dadanya. Tatapan keduanya bertaut beberapa saat dan Cahaya yang memutuskan terlebih dahulu. Dengan lembut Doni melepaskan belitan pasmina instan di kepala Cahaya . Menyisakan rambut panjang bergelombang yang diikat satu di atas tengkuk Cahaya.
" Kenapa selalu membawa nama Tiara saat kita berdua. Apa nama itu begitu membekas di hatimu. " Suara lirih Doni terdengar sedikit serak.
" Tidak, maaf. Aya tidak bermaksud menyindir atau menyinggung. Tadi Aya spontan saja. Maaf... " Cahaya merasa Doni marah karena menyebut nama orang terkasih nya.
" Kenapa minta maaf, Abang hanya bertanya. Harus nya Abang yang minta maaf, karena sikap Abang kamu jadi merasa jika Tiara selalu ada di setiap langkahku. " Doni menarik kepala Cahaya agar rebah di dadanya. Doni merasa bersalah pada istrinya ini, karena dirinya Cahaya sulit untuk menerima ketulusannya.
" Jingga, jangan sebut nama Tiara saat kita sedang seperti ini. Abang sedang menggantinya dengan namamu. Dan membiarkan nama Tiara di tempat yang semestinya. Bantu Abang !! " Ucap Doni sungguh sungguh sambil terus memeluk Cahaya di dadanya.
" Iya, Aya akan bantu. " Cahaya membalas pelukan Doni dengan segenap rasa hatinya. Mencoba untuk menerima dan menyerahkan dirinya pada suaminya ini. Doni sedang berusaha dia juga. Tidak ada salahnya mencoba untuk mulai percaya.
Keduanya larut dalam harapan yang mulai mereka rangkai.
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕