
Cahaya telah di rumah sakit. Infus telah terpasang di tangan kanannya. Tubuh lemah itu masih tetap sama, menatap kosong dan tak bisa menelan apapun . Akhirnya dokter memberikan nutrisi dan obat obatan lewat infus.
Seperti kata dokter yang sakit bukan tubuhnya melainkan hatinya. Yang membuat tubuhnya menolak apapun yang masuk. Juga alam bawah sadarnya menolak untuk kembali. Cahaya sedang berada di fase ingin bersembunyi dari rasa sakit. Melindungi dirinya dari kecewa yang berlebihan.
Kondisi ini sangat berbahaya bagi Cahaya dan janin di dalam kandungan nya. Jika dibiarkan Cahaya bisa terperangkap selamanya dalam ilusi nya. Dan tentu saja kondisi seperti ini membuat bayi dalam kandungan nya bisa kekurangan nutrisi.
Doni tak hentinya mengutuk dirinya. Sikap sok hero nya malah mengorbankan istri dan anaknya. Penyesalan yang tak sanggup Doni tanggung seorang diri. Melihat Cahaya tidak meresponnya saja hati Doni rasa hancur.
Doni masih duduk di sisi ranjang tempat Cahaya rebah setengah berbaring. Matanya terbuka tapi tak ada binarnya. Doni meraih tangan dingin Cahaya dan mengecupnya berkali-kali. Berharap hangat bibirnya bisa meresap ke dalam hati Cahaya yang kini tengah beku.
" Sayang, lihat Abang. " Doni kini mengusap pipi Cahaya lembut, kemudian terus ke bibir Cahaya dan terakhir mengelus mata bulat yang kini redup tapi Cahaya hanya mengedip beberapa kali. Tidak ada respon yang lain.
Doni tidak bisa menahan sesak dadanya. Dia kehilangan banyak hal karena kebodohannya. Senyum Cahaya, suara manjanya. juga tatapan memuja yang selalu Cahaya berikan padanya. Cahaya layaknya seperti patung hidup saat ini. Tidak punya rasa, ekspresi, maupun respon apa apa.
" Jangan hukum Abang seperti ini, Sayang. Pukul saja Abang maki sesuka hatimu. Atau jika kamu mau ambillah semua hartaku, tapi kembali lah menjadi Cahaya Jingga ku. Abang minta maaf, tapi Abang bersumpah tidak pernah mengkhianati mu. Semua hanya jebakan , Sayang. Kembali lah... " Doni larut dalam tangisnya. Suaranya semakin lirih seiring rasa lelah yang mendera tubuh dan hatinya.
Suara ketukan memaksa Doni untun bangkit sembari mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya sekedarnya.
" Dokter, silahkan masuk. Saya sudah menunggu anda sejak tadi. " Ucap Doni ketika melihat Dokter Nadya yang berada di balik pintu.
" Maaf, Pak Aksa. Saya ada pasien di klinik yang udah reserv beberapa hari lalu. Rasanya nggak mungkin tinggal begitu saja. "
" Tidak apa, Dokter. Saya mengerti. Hanya saja kondisi yang mendesak membuat saya harus memaksa anda untuk datang. " Balas Doni.
__ADS_1
Dokter Nadya masuk ke ruang rawat Cahaya. Matanya langsung tertuju pada sosok rapuh yang terpaku di atar ranjang. Dokter Nadya terus mendekati Cahaya tanpa ada respon apapun dari Cahaya.
" Cahaya... apa kamu mendengarkan aku. Aku Dokter Nadya... Cahaya. " Cahaya sama sekali tidak terpancing oleh suara Dokter Nadya.
"' Sudah berapa lama dia begini, Pak ? " Tanya Dokter itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Cahaya.
"Ini malam kedua, Dok. " Jawab Doni.
" Inilah kondisi yang paling saya takutkan. Saya selalu berpesan pada keluarga pasien untuk hati hati dengan penderita Anxiety Disorder . Ini titik terakhir dari rasa lelah pasien , Pak. Mereka seperti menyerah kalah. Dan tidak ingin berjuang, dan memilih untuk bersembunyi dari luka, rasa sakit dan penderitaan. " Jelas Dokter Nadya.
" Tapi Dokter, seperti yang saya katakan. Ini semua hanya salah paham. Bagaimana dulu Cahaya bertahan dengan kejamnya mantan suaminya. Perselingkuhan, KDRT dan kekerasan seksual. Apa yang membuatnya bisa bertahan. " Keluh Doni putus asa.
" Waktu perselingkuhan itu terjadi Cahaya belum mengidap Anxiety Disorder . Tapi saat semua terbongkar sebenarnya Cahaya telah menyiapkan diri sebelumnya . Jadi efek nya tidak begitu terasa walaupun sudah mulai menciptakan luka. " Terang Dokter Nadya.
" Oh... mungkin anda tidak tahu, Pak. Sebenarnya Cahaya sudah mengetahui perselingkuhan mantan suaminya jauh sebelum terjadinya KDRT itu. Tepatnya setelah Cahaya melahirkan Binar. Perilaku suaminya yang berubah, jarang pulang, pesan yang tak sengaja terbaca . Baju kotor yang bernoda lipstik. Hingga kotak k*nd*m dan suaminya yang berbohong . Cahaya sudah mengetahui semua itu . " Ucap Dokter Nadya yang membuat Doni menganga tak percaya dengan kenyataan yang baru dia dengar.
" Dan dia bertahan selama itu ? " Ucap Doni tanpa sadar.
" Anak adalah alasan utama Cahaya bertahan. Dan yang kedua karena Cahaya bergantung sepenuhnya pada pria itu. Cahaya yatim piatu, tidak memiliki saudara ataupun kerabat. Membuatnya gamang dan memilih untuk bertahan dan belajar menerima, selagi suaminya tidak membencinya sudah cukup baginya. Cinta dan kepercayaan itu sudah mulai terkikis dan habis , hingga akhirnya Cahaya menjadi mati rasa. Sewaktu semua terbongkar Cahaya tidak lagi merasa sakit ataupun kecewa. " Dokter Nadya melanjutkan penjelasan.
" Kenapa dengan saya dia terlalu cepat menyerah tanpa mendengarkan penjelasan. " Ucap Doni mengusap wajahnya kasar. Dokter Nadya tersenyum sambil meraih tangan Cahaya dan mengelus nya lembut .
" Dia telah menyerahkan cinta dan kepercayaan pada anda secara utuh . Dan sewaktu dia melihat kenyataan yang sulit buat dibantah dengan mata kepalanya sendiri,, disanalah goncangan itu terjadi, Pak. Dia tergoncang hebat, dunianya terasa hancur dan memilih untuk berada di alam bawah sadarnya yang dia bingkai sendiri. Untuk menghindari rasa yang teramat sakit. " Dokter Nadya menatap Cahaya penuh kasih.
__ADS_1
" Jadi sekarang apa yang bisa kita lakukan, Dokter. Kembalikan Cahaya ku, Dokter. Aku mohon !! " Doni kembali terisak tanpa rasa malu di depan Dokter Nadya.
Doni benar-benar frustasi, dia tidak ingin Cahaya menderita seperti ini. Ada janin yang harus mereka perjuangkan juga.
" Sabar, Pak. Kita akan berusaha untuk itu. Cahaya sudah seperti adik bagi saya. Saya masih ingat terakhir dia datang. Dengan wajah yang berbinar menceritakan tentang kehamilan nya. Dan tentang betapa perhatian dan protektif nya anda. Nampak jelas semu wajahnya yang tidak bisa berbohong jika Cahaya sangat mencintai anda, Pak. "
Doni menatap wajah Cahaya yang kini muram tanpa rona. Mata yang tadi sayu, kini telah terpejam menandakan Cahaya telah tertidur. Dengan lembut Doni membenarkan posisi Cahaya agar tidur dengan nyaman. Dan kemudian menarik selimut hingga atas dada Cahaya.
Semua tidak luput dari perhatian Dokter Nadya. Senyum kecil terbit dari bibirnya menyakini jika pria disampingnya ini sangat mencintai istrinya.
" Mulai besok saya akan ke sini tiap pagi sebelum praktek, Pak. Akan kita lakukan tahap demi tahap. Banyaklah berdoa, katanya rayuan di sepertiga malam adalah obat yang paling mujarab. Tidak ada salahnya dicoba. " Ucap Dokter Nadya sebelum pamit undur diri.
Setelah sedikit berbincang mengenai tahap konseling yang akan Cahaya lalui, akhirnya Dokter Nadya pamit. Doni mengantarkan Dokter itu hingga pintu keluar. Dan setelahnya kembali menarik kursi dan duduk dekat dengan Cahaya.
Dengan penuh kasih sayang , Doni membuka hijab instan milik Cahaya. Doni membiarkan rambut se punggung itu terurai agar Cahaya nyaman. Dengan lembut Doni membelai rambut itu berkali-kali dan berakhir dengan kecupan di kening Cahaya.
" Selamat malam, Sayang. Selamat tidur. Tidurlah dengan nyenyak, Abang akan menjagamu. Abang menyayangi mu, Jingga. Mencintai mu dengan gila . Rasanya Abang gila tanpa melihat senyumanmu . Abang ikut sakit melihatmu begini. Maaf... Abang salah tapi Abang tidak berkhianat. Abang bukan pengkhianatan. Abang tak akan mungkin sanggup , bahkan memikirkan nya saja Abang jijik. Percayalah... I love you... "
Doni berbisik di telinga Cahaya dengan harapan semua ucapan nya masuk ke alam bawah sadar Cahaya dan membawanya kembali sadar saat membuka mata.
SEMOGA....
...****************...
__ADS_1
Happy Readingđź’•