
Marinda menatap kedua suami istri itu dengan wajah memerah. Antara amarah dan gerah melihat kemesraan yang mereka perlihatkan. Rasa tidak percaya jika Doni bisa begitu memuja istri yang notabene nya hasil perjodohan. Dulu Doni memang se bucin itu dengan Tiara, tapi Marinda tidak pernah melihat kemesraan mereka yang se intim ini.
" Bang... ada tamu...
Sontak Doni terhenti dan mengitari ruangan dengan matanya. Tatapannya bertemu dengan tatapan penuh kesal dari Marinda yang berada di belakangnya.
" Eh... kamu Rin...maaf aku tidak tahu ada tamu, tadi Winda tidak mengatakan nya padaku. " Ucap Doni setelah sadar dari keterkejutan nya.
" Maaf jika aku mengganggu, aku kesini hanya untuk menyampaikan undangan Max. Malam ini dia ulang tahun, jadi dia mengundang kita semua di tempat biasa. " Marinda berusaha untuk terlihat tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja dia lihat.
" Oh iya, hampir aku lupa. Tapi aku tidak bisa janji buat datang. Biar nanti aku kabari Max langsung. Terima kasih telah repot kesini Rin , padahal kamu bisa saja menyampaikan lewat pesan. " Ucap Doni basa basi.
" Nggak apa apa, aku juga sengaja ingin main. Tapi sepertinya kamu sibuk. Kalau begitu aku pamit saja. " Marinda meraih tas yang tadi dilempar ke sofa dan melangkah meninggal kedua pasangan kasmaran itu.
" Maaf, Rin kedatangan kamu sia sia. Tapi sekali lagi terima kasih atas pengertian nya. " Sempat sempat nya Doni mengucapkan kata-kata seperti itu. Semakin membuat Marinda semakin kesal.
Setelah punggung Marinda hilang di balik pintu, Doni mengunci pintu ruangannya. Dan menekan kode di Intercom.
" Win, jangan ada yang mengganggu , saya ingin istirahat. Kamu boleh langsung pulang saat jam kantor usai, tak perlu izin dulu. " Belum sempat Winda menjawab Doni telah menutup terlebih dahulu.
" Dasar mantan duda karatan, tapi wajar sih, istrinya cantiknya pakai banget. " Gerutu Winda sendirian.
Doni menatap ke arah Cahaya yang masih termangu melihat semua yang Doni lakukan. Pikiran Cahaya telah terbang pada yang iya iya jika situasinya sudah begini. Tapi pertanyaan yang Doni tanyakan membuat Cahaya terperangah.
" Kamu tidak apa apa ? Apa ucapan Marinda tadi mengganggu mu ? " Tanya Doni menunggu reaksi Cahaya.
" Abang mendengarnya ? Jadi tadi itu Abang sengaja ? " Cahaya terkejut tentunya tapi dia juga bahagia Doni sengaja membantunya membalas Marinda. Setidaknya mulut Marinda langsung bungkam.
" Tentu saja, Abang tidak akan membiarkan kamu melawan pelakor seorang diri. " Ucap Doni dengan bangga.
" Tapi pelakor nya seksi, apa Abang nggak menyesal. " Canda Cahaya.
" Masih seksi kamu, Sayang. " Sekarang Doni menjelma menjadi perayu ulung. Sejak pertama kali buka puasa panjangnya Doni seakan berubah menjadi pribadi yang lain menurut Cahaya. Atau Doni memang begini jika sudah jatuh cinta.
" Jatuh cinta... ? Benarkah kamu sudah mencintai aku, Bang? " Ucap Cahaya dalam hatinya.
__ADS_1
Cahaya tersentak dari lamunan nya saat merasakan pelukan Doni yang hangat. Tanpa membuang-buang kesempatan Cahaya segera membalas. Tak penting Doni mulai mencintai nya atau tidak, yang pasti Cahaya akan terus meraih cinta suaminya.
Dan Cahaya akan berusaha merobohkan tembok yang Doni maksudkan. Tembok yang telah tanpa sadar Cahaya bentuk sendiri untuk melindungi dirinya. Tapi kini kehangatan yang Doni berikan pelan pelan melelehkan tembok itu.
" Kamu dapat baju dari mana ? Kok... " Sebelum menyelesaikan ucapannya Doni menatap Cahaya dengan tatapan memicing. "Sepertinya istri Abang datang dengan persiapan yang matang. " Ejekan tengil Doni memicu rona merah di pipi Cahaya.
Doni tidak bisa menahan diri lebih lama, aroma tubuh Cahaya telah mengusik hasrat nya. Bilanglah Doni kini berubah menjadi maniak. Tapi Doni menyadari jika hal ini hanya dengan Cahaya. Dulu dia melakukan sekali dua kali saja sudah merasa cukup dalam satu hari . Bahkan Doni tidak melakukan nya setiap hari.
Tapi dengan Cahaya Doni bisa melakukan hingga tiga kali. Dan kini Doni berhasrat kembali , padahal baru sembilan puluh menit yang lalu dia melakukan nya dengan Cahaya. Entah mantra apa yang Cahaya miliki yang bisa membuat Doni seperti habis menegak obat kuat.
" Oh... sayang, kamu wangi sekali. Abang mau kamu sekarang. " Doni tidak bisa mengkondisikan tangannya.
Cahaya yang tadi sudah rapi kini pora poranda oleh ulah Doni. Cahaya tidak bisa berkata apapun lagi. Karena setiap dia hendak protes yang keluar adalah suara nakalnya . Doni tidak membiarkan Cahaya untuk diam. Karena Doni selalu berkata...
" Ayo, Sayang mana suaranya , Abang suka kamu yang berisik. Berteriak lah...
Oleh sebab itu Cahaya tak perlu menahan atau merasa malu lagi. Dia membiarkan semua terjadi apa adanya. Memang begitulah Cahaya, terlalu sensitif. Tapi bodohnya Fakhrul dulu tidak mampu menemukan sisi liar Cahaya.
Karena kadang sebagian besar pria lebih cenderung mengejar rasa puasnya sendiri . Tanpa tahu cara membangkitkan rasa pada pasangannya . Tidak ingin mencari titik rahasia milik wanita nya. Yang membuatnya jauh lebih lincah dari yang kau duga.
*****
Kini Cahaya tersandar lemah di ranjang dengan menggunakan kimono mandi saja. Sementara Doni membantunya mengeringkan rambut. Sungguh Cahaya pasrah apa yang Doni lakukan saat ini. Cahaya sangat lelah dan lemas.
" Abang, Gimana baju Aya. Tadi bawanya hanya satu set. " Rengek Cahaya dengan wajah yang masih kesal.
" Tenang, mulai sekarang kamu punya stok baju di sini. " Doni melangkah ke arah lemari. " Taraa... see... Abang sudah siapkan. " Ucap Doni bangga. Sementara Cahaya ternganga tak percaya.
" Abang... " Pekik Cahaya takjub dengan suaminya ini.
" Mulai sekarang kamu nggak usah bawa persiapan dari rumah. "
" Apa Abang berniat untuk terus melakukan nya disini, seperti ini. " Cahaya heran dengan tingkah Doni yang gilanya kelewatan. Sungguh Cahaya bergidik ngilu membayang akan melewati adegan seperti tadi setiap harinya. Apa mungkin dulu...
Doni menyadari perubahan raut wajah Cahaya yang terlihat berpikir keras. Dan tatapan yang sendu. " Kenapa... kamu nggak suka, ya. " Doni merasa Cahaya tidak menyukai yang dia lakukan ini.
__ADS_1
" Bukan... bukan begitu. Aya nggak apa apa selagi abang suka dan menginginkan nya. Dan selagi Aya bisa, its ok ! " Cahaya berusaha menampakkan senyuman. Tapi Doni bisa melihat senyum keterpaksaan di bibir Cahaya.
" Ada yang kamu pikirkan. Abang tahu itu, pasti ada sesuatu. " Doni menatap Cahaya dalam. "'Katakan apa yang kamu rasakan. Sudah Abang bilang terbuka lah, Jingga. Jika kamu ingin mentalmu pulih, itulah syaratnya utamanya. Jangan ada sekat denganku. " Doni kembali berusaha membangkitkan rasa percaya Cahaya pada dirinya.
" Maaf... jika Aya... Aya menyinggung tentang Tiara. Tapi...
" Katakan...
Doni memotong ucapan Cahaya, karena paham arah pertanyaan Cahaya. Tapi Cahaya semakin ragu untuk mengatakan nya.
" Jika kamu bertanya apakah dulu Abang melakukan semua ini disini jawaban tidak. Tiara itu perfeksionis. Bahkan untuk bercinta saja dia tidak mau di sembarang tempat. Dia sukanya di hotel atau kamar pribadinya. Tidak pernah ada selembar pun bajunya disini. Bahkan untuk istirahat saja Tiara tidak pernah mau disini. Dia tidak suka menunggu ku bekerja. Bosan katanya. Dia lebih suka pergi belanja dari pada menemaniku. Kamu tahu Jingga, jika Tiara sudah kambuh penyakit belanjanya maka Ibuk akan mendiamkan nya selama seminggu... he.. he "
Tawa kecil Doni tak bisa Cahaya artikan. Entah itu sesuatu yang membahagiakan atau tawa miris. Tapi wajah Doni terlihat muram setelahnya.
" Apa kamu masih merindukan nya. " Tanya Cahaya lirih.
Pertanyaan Cahaya menarik pandangan Doni yang tadi menerawang, kini teralihkan pada Cahaya. Dengan cepat Doni merubah ekspresi nya.
" Jangan berasumsi seperti itu. Jika Abang jujur pun pasti kamu tidak akan percaya. Yang Abang pikirkan barusan adalah Ibuk. Mungkin Abang terlalu memanjakan Tiara, kadang Ibuk terlihat kesal kalau Tiara berbuat sesuka hati dan tanpa perhitungan. Tapi Ibuk nggak suka ngomel lebih memilih untuk diam. "
" Kalau bicara rindu... bahkan belakangan Abang lupa jika pernah menikah sebelum kamu. "
" Gombal...
" Sungguh Sayang...
" Nggak percaya tuh...
" Mau bukti ? " Tatapan Doni penuh maksud.
":Tidak...!! Ucapan Doni membuat Cahaya memekik melindungi tubuhnya dari jangkauan tangan Doni.
Keduanya malah bergelut saling menggoda dan saling menggelitik satu sama lain. Tertawa lepas bahkan saling tindih hingga keduanya kelelahan karena banyak tertawa. Persis seperti Binar dan Biru yang sedang berebut sesuatu.
Kebahagiaan mereka berbanding terbalik dengan Fakhrul yang menahan amarahnya yang tengah membuncah. Habis sudah kesabarannya. Prediksi Doni sangat tepat Fakhrul kini sudah kepanasan. Tinggal menunggu besok dia akan melakukan hal gila apa.
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕