
Siang ini Cahaya kembali ke gedung Aksa Group untuk mengantarkan makan siang untuk Doni. Itu karena Doni yang meminta agar Cahaya selalu mengantarkan makanan untuknya. Dengan syarat semua adalah masakan Cahaya. Karena Doni sudah terlanjur menyukai masakan sang istri.
Hal yang tidak pernah Doni rasakan saat bersama Tiara. Dulu Tiara datang ke kantor untuk mengajak Doni untuk makan di restoran pilihan Tiara. Tanpa bertanya pada Doni terlebih dahulu apa yang Doni inginkan. Tapi Doni melakukan dengan senang hati asalkan Tiara tidak sedih dan merajuk.
Berbeda saat Doni meminta Cahaya datang ke kantor untuk pertama kali. Cahaya menawarkan untuk membawakan makanan dan bertanya Doni mau makan apa. Hingga saat ini, saat Doni meminta membawakan makan siang Cahaya selalu bertanya Doni ingin makan apa .
Dua karakter yang bertolak belakang yang tanpa sadar Doni bandingkan. Lambat tapi pasti pesona Cahaya mulai menguasai pikiran Doni. Merasa lebih dihargai dan perhatian yang mengutamakan Doni yang Cahaya berikan membuat Doni terpaut tak kasat mata dengan sosok wanita dingin itu.
" Masak apa istri Abang hari ini. Tiba tiba lapar hanya melihat rantangnya saja. " Sambut Doni ketika melihat Cahaya muncul dari balik pintu ruangan nya.
" Sesuai permintaan Abang, Asam pedas kepala Kakap. Sambal cumi cabe hijau dengan terong dan sayur Capcay plus udang." Jawab Cahaya sambil membuka satu persatu rantang di atas meja sofa.
" Wah... aromanya menggoda, Sayang. " Doni tiba tiba sudah berada di belakang tubuh Cahaya dan memberikan kecupan disudut pelipis Cahaya.
" Aroma yang mana, Bang " Sindir Cahaya saat menyadari Doni sedang mencium pelipisnya dan kemudian menghirup leher Cahaya yang tertutup hijab.
" Aroma kamu... bikin Abang mabuk kepayang. " lirih Doni di kuping Cahaya. Membuat Cahaya kikuk dan kehilangan kata.
" Ayo makan dulu selagi hangat, Bang. " Ucap Cahaya mengakhiri petualangan Doni yang mulai nakal.
" Habis makan jangan langsung pulang, ya . Temani Abang nanti kita jemput anak anak bersama. " Doni masih berada di belakang Cahaya dengan tangan melingkar di perut Cahaya. Tapi bibirnya telah bergerilya di leher dan bahu Cahaya.
" Baiklah... Abang berhenti dulu. Ayo makan!! " Cahaya merasa geli dan gelisah karena ulah suaminya.
" Baiklah, tapi Abang mau minta satu hal dulu. Untuk makanan pembuka. " Doni membalikkan tubuh Cahaya menghadap padanya dan tanpa aba aba meraup benda kenyal yang tebal milik Cahaya. Aroma Cherry menguar dalam rongga mulut Doni ,terasa manis dan enggan untuk berhenti.
Cahaya membiarkan apapun yang Doni lakukan pada bibirnya. Dia hanya menikmati tanpa membalas, hanya menutup mata meresapi semua yang suaminya berikan. Sentuhan demi sentuhan oleh lidah dan bibir Doni memercikkan rasa ganjil yang telah lama mati dalam diri Cahaya. Hingga tanpa sadar Cahaya mendesah dalam ******* Doni.
__ADS_1
Remasan Cahaya pada lengan Doni mengerat saat Cahaya membutuhkan Oksigen. Menyadari itu Doni pun melepaskan ******* nya. Menatap wajah merah muda di depannya dengan senyuman penuh kemenangan. Dengan napas yang masih tersengal Cahaya merasakan usapan tangan Doni lembut di bibirnya. Membersihkan sisa saliva yang membasahi bibir bervolume miliknya.
" Manis, dan candu. " Doni menatap benda yang kini memerah yang nyaris membuatnya lupa untuk bernapas.
" Bengkak ! " Sungut Cahaya yang merasakan bibirnya kebas dan menebal. Doni terkekeh kecil mendengar rengekan Cahaya.
" Siapa suruh punya bibir menggoda. " Ucap Doni tidak mau kalah.
" Abang aja yang mesum. " Suara Cahaya yang terdengar manja membuat Doni sadar jika Cahaya memiliki sisi yang lain yang jarang terlihat. Tertutupi oleh dinginnya sikapnya selama ini.
" Abang akan mesumin kamu terus, asalkan bisa melihat sisi manjamu seperti ini. " Cahaya tertegun mendengar perkataan Doni.
Manja adalah sifat Tiara, bukan dirinya. Doni menyukai Cahaya yang bersikap manja apakah karena Doni menyukai nya atau karena mengingat Tiara ? Sesaat Cahaya termangu dengan pikirannya sendiri. Tapi Cahaya butuh penjelasan.
" Maaf jika Aya lancang. Boleh Aya bertanya sesuatu pada Abang ? "
" Boleh, tanyakan apa saja pasti Abang jawab jika Abang punya jawabannya. "
" Abang menyukai wanita manja. Karena ketika bermanja wanita itu memperlihatkan sisi lembutnya . Saat mendengarnya merengek dan bermanja membuat Abang merasa dibutuhkan . Tapi tidak untuk semua wanita. Marinda juga kadang kadang bersikap manja tapi tidak mampu menggoyahkan sisi ke laki lakian ku. Tiara salah satu yang mampu dan kini kamu. Sedikit saja suara lembut mu terdengar mampu meruntuhkan dunia ku " Ucapan terakhir Doni membuat mata Cahaya berotasi malas.
" Ngomong nya jangan terlalu lebay, Aya takut ketinggian nanti terbang bagaimana. " Ejek Cahaya membuat Doni tergelak sembari mencubit hidung Cahaya gemas.
" Kamu ini, Abang lagi mau gombalin kamu . " Ucap Doni disela kekehan nya.
" Nggak usah digombalin juga udah jadi milik Abang . " Ucap Cahaya spontan.
" Benar milik Abang, tapi belum bisa Abang sentuh lebih dalam. Karena yang katanya milik Abang ini masih takut disentuh. " Ucapan lirih penuh makna. Doni menatap lekat mata bulat di depannya. Tangan yang tadi memeluk kini membelai pipi mulus Cahaya.
__ADS_1
" Abang masih menunggu waktu itu tiba, disaat kamu benar benar percaya padaku. Dan menyerahkan dirimu utuh untuk Abang miliki sepenuhnya. " Kedua pasang itu saling menatap tak berkedip.
" Aya ingin dimiliki dengan cinta dan kasih sayang. Bisakah Abang memberikan nya ? Aya ingin dibahagiakan, bukan hanya untuk membahagiakan. Aya butuh dilindungi tidak sekedar pelampiasan. Dan Aya tidak mau diduakan. Bisakah Aya dapatkan semua itu ?" Cahaya mencoba untuk berkompromi baik dengan Doni maupun dengan hatinya sendiri.
Doni mendengarkan setiap kata yang menyiratkan harapan. Setiap harapan yang tak kunjung Cahaya dapatkan pada pernikahan nya terdahulu. Bahkan pernikahan yang melukiskan duka terdalam di hidupnya. Cahaya menegaskan itu semua padanya.
" Abang akan memenuhi semua yang kamu inginkan, Jingga. Karena kamu berhak atas itu semua. Abang janji... " Doni berkata sungguh sungguh. Tak dipungkiri kini hatinya telah terpaut pada sosok wanita cantik di depannya ini .
" Kalau begitu ayo kita coba. Miliki Aya sekarang. " Cahaya menguatkan hatinya dan menyakinkan dirinya jika ini adalah saatnya. Dan Doni bukan Fakhrul.
Tanpa bicara Doni menghujani Cahaya dengan kecupan. Tangannya dengan cepat melepaskan hijab panjang yang Cahaya pakai. Terlihat rambut hitam bergelombang yang kini lebih pendek dari biasanya. Tapi lebih tertata rapi seperti habis dipotong dan dibentuk lebih modis.
Kecupan basah pun memenuhi leher dan rahang Cahaya. Doni tak henti mengecup dan menghirup aroma Vanila Rose yang menguar dari tubuh istrinya. Seperti candu yang telah mematik rasa gairah dari dalam diri Doni.
Doni menarik Cahaya menuju sebuah pintu di sebelah rak buku. Sebuah ruangan pribadi yang lengkap dengan ranjang dan lemari pakaian. Tidak terlalu besar tapi cukup nyaman dengan nuansa Black and White. Aroma maskulin langsung memenuhi rongga hidung saat memasuki ruangan itu.
" Abang tidak akan berhenti, Jingga. Mesti kamu memintanya dengan memohon sekalipun. " Ucap Doni lirih sesaat sebelum meraup Cahaya kembali. Cahaya tak berkutik hanya berusaha untuk tidak terlihat gugup.
Doni mendorong Cahaya pelan agar duduk di pinggir ranjang. Dan Doni melangkah besar menuju jendela. Dengan sekali sentakan gorden kamar itu terbuka seluruhnya hingga cahaya matahari menerangi kamar itu. Doni ingat ucapan Dokter Nadya, lakukan di siang hari dan hindari suasana temaram.
Cahaya melihat apa yang Doni lakukan dan merasa lega saat menyadari Doni memahami nya. Cahaya tak suka temaram. Dan ketika Doni mendekat padanya sambil membuka kemeja dan melemparnya asal, jantung Cahaya terasa lepas dari rongga nya.
Dengan menampilkan tubuh kekar berotot tanpa baju Doni kembali menarik Cahaya berdiri kembali kemudian menatapnya dalam dan berkata...
" Katakan tidak sekarang maka Abang akan melepaskan mu. " Cahaya bergeming. " Kamu mempercayai Abang ? " Cahaya mengangguk. " Baiklah Abang tidak akan bertanya lagi, ayo kita mulai untuk bahagia... " Suara lirih terpapar oleh gairah Doni mengakhiri perbincangan mereka.
Akhirnya kedua pasangan pengantin yang tidak baru lagi itu melakukan hubungan pertama mereka. Penyatuan dalam ikatan utuh sebagai suami istri. Saling memiliki satu sama lain. Hingga sore menjelang keduanya masih larut dalam gelora.
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕