Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Kenyataan


__ADS_3

" Hai... aku Laura. Teman Marinda, yang tadi duduk di sampingnya. " Ucap Laura memperkenalkan diri.


" Oh, maaf aku kurang memperhatikan. Sepertinya aku sedikit mabuk. " Balas Amelia. " Aku Amelia. " Amelia menyambut uluran tangan Laura.


" Aku peracik parfum atau biasa di sebut Parfumer. Jika kamu berminat aku bisa meracik berbagai aroma. Termasuk aroma yang membuat pria mabuk kepayang. " Laura menyodorkan sebuah kartu nama. Dan Amelia menerimanya.


" Drrrt... Drrrt...


" Sebentar Bos ku mengirim pesan, biar aku balas dulu. " Amelia merogoh tasnya dan mengetik beberapa pesan di ponselnya. Kemudian kembali fokus pada Laura.


" Maaf, Laura... apa yang kamu maksudkan tadi. Parfum pembangkit gairah, kah...? " Antusias Amelia.


" Benar... aku menamai nya Lovely. Tapi harganya cukup mahal. Karena bahannya sangat sulit didapatkan dan juga mahal. " Laura mulai menggelar dagangannya.


" Tidak masalah, yang penting tujuanku tercapai. Berapa harganya, bisakah aku dapatkan besok. " Ucap Amelia tidak sabaran.


" Sepuluh juta untuk lima mililiter dan kamu bisa mendapatkannya minggu depan. Meracik nya butuh konsentrasi tinggi jika tidak bisa berbahaya. " Laura tersenyum tipis, karena merasa berhasil menarik peminat baru.


" Wah ... lumayan harganya. Tidak apa apa, aku pesan sepuluh mililiter dan minta nomor rekening mu aku transfer sekarang. " Laura menyebutkan nomor rekening nya dan Amelia segera mengirimkan uang dia puluh juta.


" Selesai, aku tunggu pesanan ku. Apakah itu barang yang sama yang Marinda gunakan kemarin saat di pulau untuk menjerat sahabatnya itu ? " Tanya Amelia sambil memperlihatkan notifikasi transaksi telah selesai di ponselnya.


*****


Pagi hari Doni terbangun terlebih dahulu dan cepat cepat bangun dari ranjang Cahaya. Dia tidak mau tertangkap basah tidur sambil memeluk Cahaya semalaman. Dengan rasa cemas dia menunggu Cahaya membuka mata. Takut jika dia hanya berhalusinasi melihat Cahaya telah kembali ke alam sadarnya.


Hingga akhirnya Cahaya bergerak dan mem buka mata. Dengan wajah yang sumringah Doni menyambut Cahaya dengan senyum termanis nya pagi hari ini. Setelah melihat bola mata Cahaya bergerak menatap sekeliling ruangan dan akhirnya pandangan mereka bertemu.


" Selamat pagi, Sayang. Senang bisa melihat mata bulat itu kembali hidup dan berbinar. Empat hari melihatmu menatap kosong membuat Abang takut kalau kamu tidak tahu jalan pulang, Sayang. " Ucapan Doni menciptakan banyak pertanyaan dalam benak Cahaya. Tapi dia enggan untuk mempertanyakan.


Cahaya ingin bergerak bangun dan hendak bangkit. Dia butuh ke kamar mandi dan bersih bersih. Subuh hampir habis sebab jam dinding menunjukkan pukul lima tiga puluh pagi.


Dengan sigap Doni menahan Cahaya. " Kamu mau kemana ? Jangan bangun dulu, kamu baru saja sadar Jingga. Dan selama empat hari tanpa asupan makanan. " Ucap Doni sambil memegang tangan Cahaya.


" Aku mau sholat, dan mau ke kamar mandi juga. " Cahaya tak mendengarkan Doni dan kekeh hendak turun.

__ADS_1


"'Abang pegangin , coba pelan pelan. " Doni akhirnya menyerah, tapi dia tetap siaga sambil memeluk pinggang Cahaya agar bisa menahan tubuh Cahaya.


Dan benar saja, baru saja kaki Cahaya sampai di lantai, Cahaya kehilangan kekuatannya dan nyaris limbung. Beruntung Doni telah memperkirakan semua yang akan terjadi. Tanpa persetujuan Cahaya Doni langsung membopong tubuh lemah itu ke kamar mandi. Dan tanpa mendapatkan protes dari Cahaya.


Setelah menggantungkan infus di tempat yang sudah tersedia di kamar mandi dan mendudukkan Cahaya di closet Doni menutup pintu kamar mandi.


" Abang kenapa nggak keluar, aku bisa sendiri kok. " Ucap Cahaya yang tidak nyaman ada Doni di dalam.


" Abang nggak akan se ceroboh itu membiarkan kamu sendiri. Bukan hanya untuk dirimu saja tapi juga bayi kita , Sayang. Jadi kali ini jangan protes. " Doni kembali menarik Cahaya berdiri dengan pelan dan melorot kan celana piyama Cahaya hingga lutut dan membuka closet. Barulah dia menyuruh Cahaya duduk untuk buang air.


Dengan rasa sungkan Cahaya terpaksa menuntaskan dorongan pada kemih nya yang telah sangat mendesak. Tidak mampu lagi untuk berdebat maupun menolak semua perlakuan Doni. Pada kenyataannya Cahaya memang tidak mampu sebab kedua kakinya tidak memiliki tenaga.


Setelah membersihkan daerah keluarnya urine Cahaya Doni kembali memasangkan dalaman dan celana piyama. Kemudian Doni kembali menutup closet dan menyuruh Cahaya duduk kembali. Dengan sigap Doni mengambil waslap dan gayung yang berisi air hangat. Dan kemudian membersihkan wajah Cahaya hingga lehernya dengan lembut. Terus ke tangan dan kemudian ke kaki.


" Sudah bersih. Sekarang Abang bantu wudhu . " Cahaya hanya diam menerima semua yang Doni lakukan. Selain pasrah Cahaya juga menatap wajah Doni dengan lekat. Mencoba menyakini dirinya, jika yang terjadi waktu itu hanya sebuah rekayasa. Tapi benarkah tak terjadi apa apa ?


Cahaya kembali mendesah pelan. Sangat sulit untuk mempercayai jika tidak terjadi apapun. Sementara Cahaya melihat dengan mata kepalanya sendiri Doni satu ranjang satu selimut dalam keadaan tak berbusana. Cahaya menutup matanya kuat menahan nyeri dadanya.


Ingin rasanya memungkiri semua itu, tapi nyatanya semua nyata adanya. Tanpa sadar Cahaya menggeleng gelengkan kepalanya, untuk membuang pikiran pikiran buruk yang menyergap kepalanya.


" Tidak apa apa. Mau sholat, udah kesiangan. " Cahaya masih enggan bicara banyak . Suaranya terdengar dingin. Doni kembali memaklumi.


Dengan hati hati Doni kembali membopong Cahaya kembali ke ranjang. Memasangkan Mukena dan menutupi kaki Cahaya dengan selimut. Cahaya akhirnya sholat dalam keadaan duduk.


*****


Saat Cahaya sedang sarapan , Dokter Nadya datang seperti biasa. Tapi kali ini tentu beliau tersenyum lebar mendapati Cahaya telah bangun dari alam bawah sadarnya. Pemandang yang tidak terbayangkan oleh Dokter Nadya akan terjadi secepat ini. Namun dia sangat bersyukur, Cahaya bisa kembali sadar dengan cepat.


" Senang melihatmu cepat menemukan jalan untuk kembali, Cahaya. " Ucap Dokter Nadya setelah mereka tinggal berdua. Karena Doni pamit sarapan ke kantin dan sengaja membiarkan Cahaya dan Dokter Nadya berdua.


" Apa yang terjadi, Dok. Kenapa aku tidak mengingat apapun selama empat hari ini. " Akhirnya Cahaya mengeluarkan apa yang sedari tadi malam memenuhi pikirannya.


" Akibat rasa sakit yang amat sangat dalam dan sulit untuk kamu terima, akhirnya kamu memilih tanpa sadar untuk bersembunyi di alam bawah sadar mu. Alam buatanmu sendiri untuk berlindung dari kekecewaan dan kenyataan yang menyakitkan. Dan selama empat hari ini kamu terperangkap disana. Biasanya pasien penderita Anxiety Disorder mengalami itu pada titik terakhir rasa lelahnya. Dan selama saya jadi Psikiater hal yang sangat sulit adalah mengembalikan mereka ke alam nyata. Dan tak jarang diantara mereka yang hilang akal alias gila. "


Mendengar penjelasan Dokter Nadya Cahaya langsung mengurut dadanya dan mengucap syukur. Sangat mengerikan jika itu terjadi padanya. Bagaimana anak anak dan kandungnya. Ada Ibu mertuanya yang kini juga prioritas nya.

__ADS_1


" Entah harus marah pada suamiku atau berterima kasih. Karena dia menyentuh minuman beralkohol itu lagi dan memenuhi ruangan ini dengan bau menyengatnya. Membuat saya tersentak bangun dan bingung dalam kondisi seperti ini. "


" Pak Aksa kembali minum ? Pasti dia dalam kondisi tertekan dan ketakutan yang luar biasa. Dan kembali mencari pelarian ke alkohol. Cahaya...saya orang psikologi, sangat mudah membedakan seseorang bicara bohong atau jujur. Dan saya yakin Pak Aksa bicara jujur dan sebenarnya."


" Entah masalah apa yang kini kalian hadapi, tapi saya bisa melihat kejujuran dalam ucapan maupun bahasa tubuhnya. Cobalah untuk mempercayai nya. Meski sulit tapi itulah yang terbaik untuk mu dan hubungan kalian. Cintanya padamu bukan bualan semata. Dan yang bisa menguasai dirimu ya kamu sendiri. Trust issue  , panic attack ataupun depresi itu semua butuh keyakinan dirimu sendiri untuk mengatasi. Sementara Obat anti depresan, konseling, terapi dan Psikiater sendiri adalah penunjang saja. Kamu paham maksudku ? "


Cahaya menjawab dengan mengangguk sambil meresapi semua ucapan Dokter Nadya. Haruskah dia mempercayai Doni. Doni berbeda dengan Fakhrul dulu. Jika Doni berusaha susah payah meyakinkan Cahaya berbeda dengan Fakhrul yang sengaja pura pura tak terjadi apa apa. Meski dia tahu betapa hancurnya Cahaya kala itu. Cahaya kembali menarik napas dalam.


*****


Sedangkan di kantor Maxindo Jaya Group Amelia duduk berhadapan dengan Maxim. Di tangan Max ada ponsel Amelia yang sedang memutar hasil rekaman suara. Max terlihat marah dan geram. Entah apa isi rekaman itu yang pasti muka Max merah padam.


Amelia terlihat tegang menyaksikan reaksi bos nya setelah mendengar rekaman itu. Perasaannya mulai tidak menentu saat tiba tiba mata Max menatap tajam padanya. Amelia menciut dan memucat sambil terus meremas tepian roknya.


" Apa yang kamu inginkan ? " Tanya Max dengan tatapan elangnya.


" Saya hanya ingin anda menolong saya untuk memberikan ini pada Tuan Aksa. " Jawab Amelia yang sebisa mungkin tidak terlihat gugup.


" Apa tujuanmu ! Saya tahu jika kamu adalah rival Cahaya dulu. Apa yang kamu harapkan dari perbuatan terpuji mu ini. " Max langsung menembak Amelia tepat pada sasaran yang membuat Amelia terperangah.


" Da... dari mana anda tahu, Pak. " Amelia kini benar benar terkejut dan tidak nyaman ketika masa lalunya diungkit.


" Tidak ada yang tidak saya tahu tentangmu, Amelia. Aku bukan pria bodoh seperti mantan kekasih mu itu. Dan jangan harap kamu menjadi spesial setelah membantu ku memecahkan masalah ini. " Tidak ada bentakan tapi cukup membuat Amelia ketar ketir. Suara dingin bertekanan itu menghentak nyalinya. Aura kejam menguar dari setiap ucapan dan tatapan Max yang menakutkan.


" Saya tidak mengharapkan apapun. Ini hanya bentuk permintaan maaf saya pada Cahaya. Karena penderitanya berawal dari saya. Dan anda adalah orang yang tepat yang bisa menyampaikan ini. Saya belum berani menampakkan diri ataupun minta maaf secara langsung. " Kali ini Amelia tegas, dia tidak ingin dicap sebagai wanita penggoda. Meskipun dulu iya, tapi sekarang Amelia ingin hidup lurus dan normal normal saja.


" Bagus, ingat...!! Semua tindakan mu diawasi disini. Jangan pernah curangi saya walaupun hanya dalam pikiran kamu saja. Jika itu terjadi kamu tidak akan bisa membayangkan akibatnya nanti. "


" Baik, Pak. Saya akan ingat ucapan Bapak. Kalau gitu saya permisi. Rekaman nya saya kirimkan ke nomor Bapak. Permisi... " Amelia keluar sambil menyeka keringatnya yang mengembun di dahinya.


Dengan lemas Amelia duduk di kursi kerjanya. Ada rasa sesak yang menyesak di dadanya. Mengingat masa lalu yang sulit untuk dihapuskan. Apalagi kini Amelia sedang menahan rindu pada anak semata wayangnya. Akhirnya tetesan bening itu luruh membasahi pipinya. Dengan kasar Amelia mengusap air matanya. Kini dia harus fokus bekerja agar pikirannya tidak terusik oleh hal hal yang memperburuk moodnya.


...****************...


Happy Reading Readers 💕

__ADS_1


__ADS_2