
Malam bergerak kian larut. Cahaya telah berbaring di ranjang seorang diri. Jam di dinding telah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh tengah malam. Tapi mata Cahaya enggan untuk terlelap. Hingga selarut ini Doni belum menampakkan tanda tanda untuk kembali.
Kegelisahan Cahaya tidak hanya merasa canggung atau membayangkan yang iya iya iya di malam pengantinnya .Tapi juga karena Doni belum kembali hingga hari menjelang pagi. Pikiran buruk mulai menghantui Cahaya. Apa lagi mengingat Marinda yang menghubungi suaminya berkali kali.
Cahaya jadi paranoid sendiri mengingat pengalaman nya yang sering ditinggal oleh Fakhrul di masa lalu. Yang ternyata Fakhrul sibuk memadu kasih dengan wanita lain . Perasaan Cahaya tiba tiba tercubit mengingat semua itu. Dan Doni... Cahaya belum tahu apa yang suaminya lakukan saat ini.
Tepat pukul dua menjelang pagi pintu kamar mewah itu terbuka dengan sedikit keras. Cahaya baru saja tertidur sekitar setengah jam yang lalu. Tubuh ramping itu tersentak seketika. Cahaya yang sensitif terhadap bunyi ketika malam langsung bereaksi berlebihan.
Apalagi aroma minuman beralkohol yang menyeruak memenuhi rongga hidung Cahaya mematik rasa panik nya. Alam bawah sadar Cahaya membawanya pada waktu empat tahun yang lalu. Awal mula Cahaya membenci aroma minuman jahanam itu. Kebencian yang lambat laun membawa Cahaya pada ketakutan yang teramat dalam . Hingga mampu menimbulkan rasa sakit meski hanya mencium baunya.
Ya... setiap kali Fakhrul membawa aroma busuk itu pulang, bisa dipastikan tubuh Cahaya akan merasakan sakit akibat kejamnya tangan Fakhrul setelahnya . Dan penderitaan itu tidak akan berhenti sampai Fakhrul kehilangan kesadarannya karena lelah dan alkohol.
Dan malam ini Cahaya kembali mencium aroma yang sama. Tubuhnya mulai kesakitan, tulang tulangnya kaku tak mampu bergerak. dan keringat telah membasahi sekujur tubuhnya. Dengan meremas selimut yang membalut tubuhnya Cahaya melampiaskan rasanya cemas yang berlebihan.
Doni masuk dengan tubuh sedikit oleng. Mata sayu nya mencari saklar lampu dengan meraba dinding.
" Tak "
Seketika kamar yang tadi temaram kini terang benderang. Cahaya bisa melihat Doni yang sedikit berantakan. Kancing kemejanya bagian atasnya terbuka beberapa . Wajah lusuh dan rambut acak acakan. Pemandangan yang sama pernah Cahaya lihat beberapa tahun lalu.
" Hai... maaf membuatmu terganggu. " Doni tersenyum sambil melepaskan kancing kemejanya yang tersisa. Doni masih setengah mabuk. Dia masih bisa melihat Cahaya dengan jelas .
Setelah terbuka semua Doni melepaskannya dengan susah payah . Kondisinya yang terpengaruh oleh alkohol membuatnya tidak fokus. Sementara Cahaya hanya bisa menatap dengan tatapan bergetar .
" Cahaya aku ingin memelukmu ... boleh kah. " Pertanyaan Doni sepertinya tidak lagi penting. Karena Doni langsung menghempaskan tubuhnya ke samping Cahaya yang tengah terbaring. Tidak terasa cairan bening merambat melalui sudut mata Cahaya.
__ADS_1
" Aku menginginkan mu malam ini, bukankah ini malam pertama kita ? " Lagi lagi Pertanyaan yang tidak diperlukan, karena dengan sekali tarik selimut Cahaya telah tergeletak tak berdaya di lantai.
Cahaya menggunakan baju tidur terusan satin yang hanya sebatas betis. Dan kini malah tersingkap hingga paha akibat tarikan Doni. Dengan sedikit keberanian yang tersisa Cahaya menarik gaun tidurnya menutupi kakinya.
" Kamu sangat kurus sekali, apa kamu tidak pernah makan ? Lihat ini kecil sekali. " Doni meremas paha Cahaya gemas.
" Aauw... ! " Cahaya terpekik kaget dan ngilu pada pahanya.
" Sakit ya, maaf.. he.. he . " Doni Malah terkekeh tanpa merasa bersalah.
Tanpa banyak bicara lagi Doni mulai menghujani Cahaya dengan kecupan kecupan kecil sepenuh wajah Cahaya . Tangan Doni tidak diam saja. Kini gaun tidur Cahaya telah terseret dari bawah hingga pinggangnya karena tangan Doni sibuk mengelus kulit paha hingga perutnya.
" Bang... hentikan ! " Rasa tidak nyaman di perutnya membuat Cahaya ingin menghentikan Doni. Cahaya ingin muntah. Tapi Doni malah semakin menjadi. Getaran tubuhnya tak lagi terkendali.
" Jangan tolak aku saat ini, aku sangat menginginkannya. " Suara Doni terdengar serak dan memohon. Kemudian Doni mengecup bibir Cahaya yang berwarna peach dengan intens dan berakhir dengan ******* .
Walaupun getaran halus masih saja menguasai tubuh Cahaya, tapi Doni tidak terpengaruh karena nya. Bukan Doni tidak merasakan nya, tapi hasrat Doni sedang menguasai akal sehatnya .Dan tanpa butuh berlama lama gaun tidur milik Cahaya telah lolos melewati kepalanya. Seketika rasa malu melingkupi Cahaya dengan kedua tangannya Cahaya berusaha menutupi tubuhnya yang terbuka.
Doni terdiam terpaku pada pemandangan di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan intens pada tubuh kurus itu semakin membuat Cahaya kehilangan rasa percaya diri .Tatapan mata Doni terkunci pada bekas jahitan sepanjang lima belas sentimeter pada bawah dada Cahaya.
Dengan lembut Doni meraba tapi seketika melepaskan setelah merasakan kasarnya permukaan bekas luka itu. Cahaya yang terdorong oleh malu secepat kilat meraih gaun yang baru saja Doni hempaskan di ranjang. Dan segera menutupi tubuhnya seadanya.
" Apakah itu perbuatannya ? " Doni berkata tanpa melihat ke arah mata Cahaya, melainkan menyibakkan gaun yang hanya terlampir tanpa terpasang dengan benar .
Sementara Cahaya tidak mampu mengeluarkan suaranya. Getaran tubuhnya malah semakin keras. Rasa takut, malu dan bercampur dengan trauma yang tidak mampu Cahaya kendalikan.
__ADS_1
" Ini... ! " Doni menunjuk paha kiri bagian dalam yang juga ada bekas jahitan kira kira delapan sentimeter. " Ini bekas senjata tajam." Doni bukan bertanya tetapi lebih untuk menyakinkan dirinya.
Cahaya kembali terdiam membeku sembari menyembunyikan tubuhnya sebisa mungkin. Tanpa Cahaya duga Doni malah membalikan tubuh Cahaya sehingga punggung Cahaya terpampang di hadapannya.
Terdapat bekas luka goresan dan sobekan ukuran kecil bertaburan sepenuh punggung Cahaya. Luka sulutan api rokok yang mulai terlihat samar juga tak luput dari mata Doni. Apa lagi efek alkohol yang Doni rasakan mulai berkurang.
" Jawab... ini semua perbuatannya? "Tiba tiba suara Doni meninggi.
" I...i...iya... Iya ! " Cahaya yang kaget sontak menjawab meski terbata. Cahaya benar benar menggigil sekarang. Cahaya takut. Cahaya sangat takut. Pipinya sudah basah sedari tadi. Rasa mual telah bergejolak hebat di perut nya.
" Menjijikkan.... ! "
" Deg "
Hancur sudah hati Cahaya. Satu kata terakhir yang Doni ucapkan menikam dalam hatinya. Suaminya jijik padanya. Tubuh Cahaya kurus dan penuh luka membuat suaminya kecewa. Kini tak hanya psikisnya yang tertekan tapi hatinya retak seribu.
Apalagi setelah mengatakan satu kata penghancur itu Doni meninggalkan Cahaya seorang diri, entah kemana. Cahaya yang tadi menangis dalam diam kini tidak lagi menahan ratapannya. Raungan yang memilukan itu teredam dalam kamar mewah itu.
Dengan tenaga yang tersisa Cahaya berusaha turun dan memungut selimut yang ada di lantai . Tapi naas , saat menunduk kepala Cahaya berputar dahsyat. Hingga Cahaya tidak lagi mampu untuk sekedar membuka matanya. Dan tanpa ada yang tahu Cahaya ambruk seketika di lantai dingin kamar pengantin itu.
Lengkap sudah derita Cahaya di malam pernikahannya. Trauma yang telah lama tidak lagi mengganggu, kini tiba tiba kambuh disaat tidak tepat. Ucapan suami yang belum duapuluh empat jam menikahinya, telah tertancap dalam hingga mematikan rasa yang mulai Cahaya rasakan. Dan kini Cahaya tidak sadarkan diri sendirian di kamar pengantinnya.
Terlalu banyak harapan pada pernikahan nya kali ini. Sikap Doni yang hangat mulai menimbulkan efek merah jambu pada hati Cahaya. Keluarga Doni yang menyayangi anak anaknya menambah keyakinan Cahaya. Setidaknya nasib kedua buah hatinya lebih baik darinya. Memiliki keluarga yang selama ini Cahaya inginkan.
Tapi apa yang Cahaya bayangkan tak seindah kenyataan yang Cahaya alami. Cahaya jingga nama yang indah pemberian sang ibu ternyata tak seindah kisah hidupnya.
__ADS_1
...****************...
Happy day Readers 💕