Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Hempaskan pelakor


__ADS_3

" Baiklah, aku akan membuat kamu kebakaran jenggot. Dan akhirnya melakukan kebodohan karena cemburu. Kamu salah mencari lawan, aku akan melindungi milikku bagaimana pun caranya. "


Doni bersiap menunggu kedatangan istrinya. Doni akan menahan Cahaya hingga malam nanti. Dan akan membuat seseorang berkeringat dingin dengan bayangan buruk dalam pikirannya sendiri. Dengan senyum penuh arti Doni menatap pintu yang sebentar lagi akan terbuka.


Sesuai prediksi Doni beberapa menit kemudian Cahaya datang dengan rantang makan siang. Doni langsung mendekati istrinya untuk menyambut kedatangan nya.


" Selamat datang...!! " Ucap Doni sambil merentangkan kedua tangannya. Dan memasukkan Cahaya ke dalam dekapannya.


Cahaya menurut saja dan ikut memeluk suaminya yang tiba tiba begitu manis beberapa waktu ini. Dengan menyandarkan dagunya di bahu Doni sembari merasai usapan lembut Doni di punggungnya.


" Assalamu'alaikum, Abang. " Sahut Cahaya membenarkan ucapan sapaan Doni.


" Waalaikumsalam, Sayang. " Balas Doni.


Cahaya mengurai pelukan dan melangkah menuju meja sofa untuk menaruh bawaannya. Doni mengekori Cahaya di belakang dan menarik Cahaya ke arah sofa. Doni duduk dengan Cahaya yang berada di pangkuannya. Tentu Cahaya merasa terkejut diperlakukan tidak biasa begini.


" Duduk dengan tenang, Jingga. Jika tidak akan bahaya. " Peringatan Doni membuat Cahaya duduk dengan kaku.


" Aya berat, Abang. " Keluh Cahaya tidak merasa nyaman.


" Nggak berat, tenanglah. Buat dirimu nyaman. " Doni meraih tangan Cahaya dan melingkarkan nya ke lehernya. Kemudian Doni membuka cadar Cahaya.


" Kenapa harus dipangku. Aya nggak nyaman. " protes Cahaya.


" Mulai sekarang biasakan duduk di pangkuan Abang. Ini cara untuk menghilangkan sekat yang selalu kamu bangun jika rasa percaya dirimu menurun. Kita sudah tidak berbatas, karena tubuh kita pun sudah saling menyatu. Jadi mulai sekarang terbukalah untuk segala hal. " Doni menatap Cahaya dengan lekat.


Ada ketakutan dalam hati Doni yang belakangan mengusiknya. Kehadiran Fakhrul membuat Doni merasa posisinya terancam. Jika Doni belum bisa mendapatkan kepercayaan dari Cahaya dan kedua anaknya maka bisa saja istri dan anak anaknya suatu saat akan kembali pada Fakhrul.


Bagaimana pun Fakhrul ayah dari kedua anak Cahaya. Ikatan darah mereka tentu lebih kuat dari pada ikatannya dengan Doni. Untuk itu Doni berusaha untuk mengikat hati Cahaya agar tetap bersamanya. Untuk itu penting baginya untuk membuat Cahaya nyaman dengannya.


Doni tiba-tiba menyatukan bibirnya dengan milik Cahaya. Memikirkan Fakhrul ysng akan merebut Cahaya darinya membuat Doni gusar. Doni mencari ketenangan dengan kehangatan pangutan Cahaya.


" Balas Abang, please... " Ucap Doni lirih. Cahaya menuruti permintaan suaminya. Tak sulit baginya melakukan itu, Cahaya tentu sudah pasti tahu caranya.


Dengan lembut Cahaya memimpin atas bibir tebal Doni. Doni membiarkan apapun yang Cahaya perbuat atasnya. Doni hanya menerima dengan memejamkan mata meresapi setiap sentuhan lembut bibir hangat dan lembut milik istrinya.


Cahaya pun menikmati perannya dengan baik. Tanpa lagi ada sekat yang Doni katakan. Cahaya mulai meruntuhkan rasa insecure yang terbentuk dalam dirinya. Doni suaminya, apapun dirinya adalah milik suaminya. Begitupun Doni adalah miliknya, Cahaya bisa melakukan apapun yang dia inginkan pada suaminya.


Tanpa sadar Cahaya merapatkan tubuhnya lebih erat. Merasai suaminya dengan intim dengan sepenuh hatinya. Hingga gejolak hasrat membelenggu nya . Cahaya yakin degup jantungnya bisa Doni rasakan karena dadanya tepat menempel lekat dengan dada Doni.


Akhirnya Cahaya kalah oleh sesak, terpaksa tautan itu terlepas setelah ber menit menit berbagi rasa. Dengan napas tersengal sengal Cahaya menggantungkan lehernya pada bahu kokoh suaminya. Dengan mendekap erat leher Doni untuk meredakan gejolak yang merasuki tubuhnya.


Senyum bangga terbit disudut bibir Doni. Dengan erat Doni membalas dekapan Cahaya dengan memeluk punggung istrinya. Mengusap turun naik untuk menenangkan Cahaya. Doni tahu Cahaya sedang terpancing hasrat, tapi Doni menahannya sementara. Dia tidak ingin membuat Cahaya kelaparan seperti kemaren.

__ADS_1


" Sudah tenang ? " Tanya Doni lirih, dan mendapat anggukan dari Cahaya. " Kalau begitu ayo kita makan, sebelum Abang memakan kamu. Abang tak ingin kamu kelaparan lagi. " Lanjut Doni.


Dengan perlahan Cahaya mengurai dekapannya. Lalu membuang pandangannya ke arah lain. Rasa malu melingkupi Cahaya, apalagi melihat senyum tengil suaminya yang nampak menyebalkan sekarang.


" Aya siapkan makanannya. " Ucap Cahaya mengusir malu. Cahaya bangkit menuju rantang dan menyajikan makanan permintaan Doni. Gulai kepala kakap dengan sambal terasi, dan cumi goreng tepung ditambah dengan acar mentimun.


Dengan telaten Cahaya melayani Suaminya dan memenuhi piring dengan lauk kesukaan Doni. Begitu juga dengan piringnya. Kedua suami istri itu makan dengan lahap. Kadang saling menyuapi satu sama lain. Doni pun sesekali menjahili Cahaya yang membuat Cahaya merengek manja.


Setelah mereka kenyang dan menunaikan ibadah sholat, Doni tidak lagi menahan diri. Sesuai rencananya Doni tidak akan membuat Cahaya pulang awal hari ini. Doni akan membuatnya lelah jika perlu Doni akan menggendong Cahaya keluar dari gedung ini.


Dan seperti itulah yang terjadi. Cahaya bahkan tak mampu mengangkat matanya. Hasrat Doni tak ada matinya. Sungguh Cahaya sangat kelelahan. Hingga Cahaya tertidur lemas tanpa sehelai benang pun .


Doni menatap punggung Cahaya yang terbuka karena Cahaya tidur telungkup. Bekas luka yang tadinya memenuhi punggung itu kini hilang tanpa bekas. Cahaya benar benar berusaha keras untuk menghilangkan nya. Doni mengecup punggung yang masih lembab karena keringat .


Cahaya tak bergeming karena terlalu pulas. Doni tersenyum bahagia melihat istrinya terlihat sangat cantik dengan rambut yang berantakan karena ulahnya. Doni sudah mandi dan kembali rapi . Doni membiarkan Cahaya beristirahat sebentar sedangkan Doni harus meeting sebentar dengan para staf.


" Winda, kamu nggak usah ikut meeting. Istriku sedang istirahat jangan ada yang mengganggu . Jika dia bangun tolong pesan kan susu coklat hangat dan Chocolate cake. " Doni memberikan Instruksi sebelum meninggal meja sekretaris nya.


" Baik, Pak. " Jawab Winda


Doni berlalu meninggalkan meja sekretaris nya. Setelah beberapa waktu Kenzo datang dengan membawa sebuah paper bag.


" Permisi, saya Kenzo supirnya Ibu Cahaya. Beliau menyuruh saya mengantarkan ini. " Ucap Kenzo.


" Baik, Nona . Ini... kalau begitu saya permisi . " Kenzo akhirnya berlalu meninggalkan lantai teratas gedung itu.


Selang lebih dari satu jam, Winda menerima panggilan dari interkom. Ternyata Cahaya menanyakan titipan Kenzo. Dengan segera Winda mengantarkan pesanan Nyonya Bosnya ke ruang pribadi yang tidak pernah dia masuki.


" Permisi, Bu. Ini titipan dari supir Ibu. " Winda menyerahkan sebuah paper bag pada Cahaya.


" Terima kasih, Win. " Cahaya hanya mengenakan kimono mandi berwarna abu abu milik Doni.


Winda terkesima melihat istri bosnya yang biasa mengenakan cadar itu . Rambut coklat tebalnya terurai indah bergelombang. Kulit kuning langsat yang berkilau diterpa cahaya lampu. Belum lagi wajah tirus dengan mata bulat besar bermanik coklat terlihat sempurna dengan bulu mata lentik nya. Alis yang berbaris teratur yang menyatu dengan hidung mancung nya.


" Wah... ternyata Ibu cantik banget, pantas saja Bapak bersedia mengakhiri masa hibernasi nya. " Ucap Winda tanpa canggung menatap Cahaya tak berkedip. " Saya jadi insecure, Buk. " Lanjut Winda dengan tatapan penuh kagum.


" Kamu, Win bisa aja. Saya biasa saja kok, jangan berlebihan. " Balas Cahaya tidak nyaman dipandang lekat oleh Winda.


" Beneran, Bu. Ibu melebihi ekspektasi saya , Bu. Pantas Bapak bucin nya kelewatan. Astaga !! Saya melupakan pesan Bapak gara gara Ibu. Kalau gitu saya permisi, Bu. " Winda langsung kabur meninggalkan Cahaya yang termangu dengan tingkah absurd Winda.


Cahaya telah mandi dan mengganti pakaiannya. Sambil menunggu Doni, Cahaya duduk sambil membaca majalah di kursi kebesaran milik Doni . Tak lama terdengar ketukan pintu yang ternyata Winda.


" Permisi, Bu. Ini pesanan Bapak buat Ibu, disuruh habiskan biar kembali bertenaga. " Ucap Winda menjahili Cahaya sambil tersenyum menggoda.

__ADS_1


" Kamu bisa aja, Win. So, terima kasih ya. "


" Sama sama, Bu. Saya pamit dulu, ya Bu., " Cahaya mengangguk. Kemudian fokus dengan segelas susu coklat di depannya. Cahaya memang butuh asupan saat ini karena ulah suami ganasnya.


" Wah... Nyonya besar sedang santai, ya... " Suara seorang wanita mengagetkan Cahaya. Mengetahui siapa pemilik suara itu Cahaya hanya bisa Mengerlingkan matanya dengan malas.


" Kalau masuk ke tempat orang, alangkah baiknya mengucapkan salam terlebih dahulu." Ucap Cahaya tanpa menjawab pertanyaan Marinda.


Ya... Marinda masuk tanpa izin, karena Winda sedang di toilet . Dia sendiri kaget mengetahui ada Cahaya di kantor Doni. Bahkan dulu Tiara saja jarang ke sini. Kini Cahaya selalu ada disini setiap Marinda datang.


" Kamu ngapain ke sini, gangguin Doni kerja saja. Jadi istri itu di rumah urus tuh anak sama mertuamu. Bukannya kelayaban. Atau jangan jangan kamu mengawasi Doni ? "


" Kamu benar, aku lagi mengawasi suamiku agar terhindar dari pelakor. " Jawab Cahaya santai sambil menikmati cake coklat.


" Emangnya kamu siapa, Doni bebas melakukan apapun tanpa izin mu. Kamu itu hanya istri pajangan. " Marinda berjalan dengan angkuh dan duduk dengan kaki bersilang.


" Aku Nyonya Ramadhoni Aksa. " Cahaya berkata dengan acuh tanpa melihat ke arah Marinda. Dengan menggoyang goyangkan kursi mahal milik Doni sambil membalik balik majalah.


" Sementara !! Karena sebentar lagi pasti kamu terbuang. Mana tahan Doni dengan wanita seperti kamu. Doni itu di kelilingi wanita wanita cantik dan sekelas pengusaha . Sedangkan kamu... he... he. Aku saja malu untuk menyebutkannya . " Ucap Marinda penuh cemooh.


" Aku memang...


" Hai, Sayang... kamu sudah bangun ? Pasti capek ya, maaf Abang selalu lupa diri jika denganmu. Ini saja rasanya ingin lagi, boleh...!?? " Doni masuk dan langsung menuju ke arah Cahaya dan menghujani nya dengan banyak ciuman.


Cahaya hanya membiarkan bahkan membalas perlakuan Doni tanpa canggung. Tentu saja dengan sengaja.


" Abang...


" Apa sayang... mau lagi... " Doni terus menyentuh Cahaya tanpa merasa berdosa.


" Abang...


Rengek kan Cahaya tidak Doni indahkan. Tangannya malah mulai menyusup ke dalam hijab Cahaya .


" Bang... ada tamu...


Sontak Doni terhenti dan mengitari ruangan dengan matanya. Tatapannya bertemu dengan tatapan penuh kesal dari Marinda yang berada di belakangnya.


" Eh... kamu Rin...


...****************...


Happy Reading 💕

__ADS_1


__ADS_2