
Pagi harinya Cahaya telah menyiapkan pakaian kerja Doni di ranjang, sedangkan Doni masih mandi di kamar mandi. Sementara itu Cahaya menuju kamar anak anak untuk membantu mereka bersiap untuk ke sekolah. Aktifitas baru ini Cahaya lakukan untuk pertama kali sebagai istri Ramadhoni aksa.
Mereka sarapan bersama layaknya keluarga. Cahaya melayani suami dan anak anaknya juga mertuanya setiba di meja makan. Semua terlihat begitu sempurna. Namun sedari tadi ada yang terlihat janggal dari Ibu Ratih. Walaupun dia memperlihatkan senyuman pada kedua cucunya tapi terlihat ada yang salah. Ibu Ratih tidak banyak bicara seperti biasanya.
" Binar sama Biru diantar oleh Pak Ed, ya ! Nanti pulang nya Papa yang jemput. " Ucap Doni. Mereka memang sepakat jika Doni dipanggil Papa.
Kedua anak itu menganggukkan kepala. Komunikasi mereka memang masih sangat kaku. Terutama Binar, sangat sulit untuk menerima Doni meski tidak menolak.
Selesai makan Cahaya mengantarkan kedua buah hatinya menuju ke mobil. Supir Doni sudah menunggu di sana. Tinggal lah Doni dan Ibu Ratih berdua di meja makan . Dan Cahaya sekembalinya ke dalam rumah Cahaya mendengar percakapan antara Ibu Ratih dan Doni . Sepertinya mereka sedang berdebat.
" Doni akan memindahkan nya, Buk. "
" Terlambat ! Bahkan Cahaya juga sudah melihatnya. Dan kamu tahu bagaimana rasa hatinya saat foto itu terpampang di depan matanya ? Doni... meski pernikahan ini terpaksa kamu jalani tapi kamu tidak bisa berbuat seenaknya. " Terdengar jawaban dari Ibu Ratih .
" Tapi Doni nggak sengaja, Buk. " Jawab Doni.
" Tidak sengaja ? Andai saja lamu mendengarkan Ibuk untuk menyingkirkan semua tentang Tiara sebelum Cahaya masuk ke rumah ini. Tapi kamu keras kepala, dan selalu menempatkan Tiara di atas segalanya. Belum cukupkah sepuluh tahun untuk menghancurkan hidupmu demi mengenang Tiara, Don ? Bahkan Ibuk saja kamu abaikan selama itu , apa Ibuk mengeluh ? Tidak !! Tapi sekarang kamu telah memutuskan membawa seseorang untuk mendampingi dirimu seumur hidup, tolong jangan kecewakan. "
Ibu Ratih terbawa emosi menyebabkan suara tua yang biasa lembut itu bergetar menahan gejolak emosi. Dia begitu menyayangkan sikap Doni yang keras kepala. Mengenang seseorang yang telah tiada itu tak ada salahnya. Hanya saja apa yang Doni lakukan berlebihan dan tanpa sadar telah menyakiti orang orang di sekelilingnya.
Cahaya masih bersandar di balik dinding pembatas ruang tengah. Dia ragu untuk melangkah. Diantara ingin mendengar tapi takut ketahuan menguping.
" Doni minta maaf, Buk. Tapi Doni belum bisa melupakan bahkan membuang apapun tentang Tiara. Doni butuh waktu ! " Terdengar suara Doni melemah.
__ADS_1
" Waktu... !! Ya... nikmati saja waktumu, jangan menyesal jika waktu mengikis kesabaran Cahaya . Mungkin penyesalan pun tidak lagi berguna. Ibuk hanya ingin kamu sadar, Doni. Kematian itu takdir yang tidak bisa kamu halangi. Dan takdir Tiara yang harus pergi dengan cara seperti itu. Berhentilah menyalahkan menyalahkan dirimu sendiri. Hidup harus tetap berjalan, jika kamu memilih untuk berdiam di tempatmu, terserah... "
Terdengar derik kursi bergeser diikuti langkah pelan meninggalkan meja makan. Sepertinya Ibu Ratih yang melakukannya. Setelah menarik napas dalam Cahaya melangkah kembali ke meja makan. Sambil melepaskan cadar nya, Cahaya mendekat ke arah Doni.
" Abang belum mau berangkat ? " Gugup , Cahaya sangat gugup. Tapi dia berusaha terlihat tenang. Sambil merapikan sisa sisa sarapan di meja.
" Sebentar lagi. Sini ! " Ucap Doni sambil menepuk kursi di sampingnya tempat di mana Cahaya duduk tadi. Cahaya pun menurut.
" Ada apa, Bang. " Tanya Cahaya sedikit cemas. Cahaya duduk dengan nyaman dan sedikit miring ke arah Doni.
" Ini... gunakan untuk kebutuhan rumah. Semua sekarang kamu yang ambil alih. " Ucap Doni menyerahkan sebuah kartu berwarna silver. " Dan ini untuk kebutuhan pribadi kamu. Beli apa saja yang kamu butuhkan dengan ini " Doni kembali menyerahkan sebuah kartu, kali ini berwarna gold.
Cahaya hanya menatap kedua kartu yang terletak di meja di depannya . Bingung harus berkata apa dan ragu untuk menerimanya.
" Kamu harus membeli beberapa pakaian untuk acara acara penting atau menemui orang orang penting nantinya. Ingat kamu istri ku sekarang. " Tanpa Doni melanjutkan ucapan nya Cahaya tahu maknanya. Seakan Doni mengatakan jangan permalukan dirinya.
" Baik, Bang. " Cahaya mengambil kedua kartu itu.
" Makanlah yang banyak, kamu sangat kurus. Beli bahan makanan yang sehat agar anak anak juga bisa tumbuh lebih baik. " Suara Doni cukup lembut tapi mendengar kata "sangat kurus" seperti ada yang menusuk hulu hatinya.
Cahaya memang kurus tidak seperti Tiara yang padat berisi. Tinggi tubuh Cahaya hampir mencapai telinga Doni. Cukup tinggi untuk ukuran wanita dewasa. Sementara Tiara kalau dilihat dari fotonya hanya se leher Doni. Cahaya semakin kehilangan rasa percaya dirinya. Ucapan Doni malam itu juga masih terngiang oleh Cahaya.
" Cahaya mengenai foto...
__ADS_1
" Tidak masalah. " Potong Cahaya sebelum Doni membahas tentang foto pernikahan di ruang kerja Doni.
" Aku tidak keberatan dengan itu. Jika Abang ingin memajang nya di setiap sudut rumah aku juga tidak masalah. Hati seseorang tidak bisa di paksakan bukan ? Lakukan apapun yang Abang mau, aku akan menerima apapun itu. " Entah mengapa Cahaya terbawa emosi. Mungkin kini Cahaya merasa tidak diinginkan dan rasa rendah dirinya telah mencampakkannya hingga dasar.
" Aku tidak tahu jika itu dipasang oleh pekerjaan yang membantu memindahkan ruang kerja. " Ucap Doni membela diri.
" Apa bedanya, mau di ruang kerja atau di kamar. Atau mungkin di ruang tamu sekalian. Dan aku juga yakin di kantor Abang juga ada. Di mobil juga ada. Apa bedanya... ? Aku sadar posisi, Abang jangan khawatir. Selama aku jadi istrimu aku janji tidak akan mengusik Tiara meski di hatimu sekalian. " Cahaya bangkit dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Air matanya telah menggenang, dan Cahaya tidak ingin menumpahkannya di depan Doni. Cahaya berada di titik terendah rasa percaya dirinya. Semua ucapan Doni sejak mereka menikah seperti jarum jarum kecil yang menusuk. Ucapan manis Doni awal menikah menguap entah kemana.
Cahaya kembali pada kenyataan jika dirinya bukan siapa siapa. Apa yang Cahaya harapkan. Doni dan seluruh keluarganya termasuk Rania adalah kalangan di luar jangkauan Cahaya. Dan jika Cahaya masuk ke dalamnya tetap saja levelnya berbeda. Dan mulai sekarang Cahaya harus pandai menempatkan dirinya dan hatinya.
Doni terpaku menatap punggung Cahaya yang menjauh . Ada rasa tersentil dalam hatinya. Menyadari jika Cahaya sedang tersakiti saat ini. Semua yang Cahaya katakan adalah benar, baik di mobil maupun di kantor memang ada foto Tiara. Jadi apa bedanya jika dia menyingkirkan yang di ruang kerja, nyatanya Tiara telah menguasai seluruh hatinya.
Dan Cahaya... siapa Cahaya baginya. Benarkah Cahaya hanya sekedar untuk menyenangkan hati ibunya. Apakah cukup melindungi Cahaya dan anak anaknya sebagai balasan.
Lalu apa arti ucapan nya sesaat setelah akad nikahnya. Sungguh saat itu Doni bicara dari hatinya. Dari awal mengetahui apapun tentang Cahaya ada keyakinan untuk menikahi wanita itu. Ada ketertarikan khusus yang Doni rasakan. Bukankah itu suatu yang baik, setidaknya Doni bisa merasakan kembali rasa yang pernah hilang.
Tapi mengapa begitu sulit untuk menyingkirkan Tiara. Kenapa Doni begitu terbelenggu dengan semua kenangan tentang Tiara. Apakah tidak bisa Doni mendapatkan Cahaya dengan tetap ada Tiara dalam hatinya.
Dengan langkah gontai Doni meninggalkan rumah menuju kantornya.
...****************...
__ADS_1
Happy day 💕