
Di sebuah taman kota yang rimbun dengan pepohonan, seorang wanita muda sedang mendorong stroller. Seorang balita usia empat tahun ada di dalamnya. Keduanya menikmati udara segar di pagi hari. Sambil berjalan pelan menyusuri jalan kecil sepanjang taman.
Sesekali mereka berbincang ringan dan tersenyum bersama. Sang Ibu sesekali memberikan balita itu air minum. Hingga mereka berhenti sejenak di bawah terik mentari pagi untuk berjemur. Setelah dirasa cukup keduanya pergi menuju sebuah mobil yang terparkir di luar taman. Dan kedua ibu dan anak itu pun meninggalkan taman saat matahari mulai meninggi.
Tanpa mereka sadari sebuah mobil mengikuti mereka sejak tadi. Seorang pria usia matang itu menatap dengan tajam. Ada amarah yang berusaha diredam nya. Apalagi ada seorang anak tak berdosa bersama wanita itu. Pria itu sendiri masih bingung dengan langkah yang akan dia ambil.
Mobil perempuan itu memasuki sebuah halaman rumah minimalis tapi terlihat cukup mewah. Rumah berwarna pastel yang didominasi warna Light Cream dan warna Latte di beberapa space. Dan dikelilingi oleh pagar besi berwarna putih.
Kedua ibu dan anak itu masuk tanpa curiga sedikitpun. Tapi saat keduanya telah masuk ke rumah dan wanita itu hendak menutup pintu, tiba-tiba sebuah tangan menghalanginya.
Saat kedua mata itu bertemu wanita yang sedang menggendong anaknya itu mundur beberapa langkah sembari mendekap anak yang ada di gendongannya. Sementara pria itu tersenyum menyeringai dengan tatapan mata yeng menakutkan.
" Lama tidak bertemu, Amelia sayang. " Sebaris kalimat yang keluar dari bibir pria itu mampu membuat tubuh wanita yang bernama Amelia itu bergetar hebat.
" Kamu... buat apa kamu kamari. " Meski bergetar suara Amelia masih terdengar menantang.
" He... he.. masih berani bertanya kamu. Tentu saja menemui kekasih ku yang kabur dengan uang dan... benihku ! " Amelia menegang dan memucat.
" Uni... Uni... " Tiba tiba Amelia berteriak, dan tak lama kemudian datang seorang wanita yang jauh lebih tua dari Amelia dengan tergopoh gopoh.
" Iya, Bu sudah pulang ? " Wanita itu terlihat sungkan dan menghormati Amelia seperti seorang pembantu.
" Uni... tolong bawa Farel masuk dan buatkan susu, ya. Saya ada tamu, dan jangan tinggalkan Farel sendiri. " Ucap Amelia setengah berbisik.
__ADS_1
" Baik, Bu. " Pembantu itu meraih balita yang bernama Farel itu ke dekapannya dan pergi meninggalkan majikannya tanpa curiga apapun .
" Jadi... namanya Farel. Nama yang bagus. " Pria itu Fakhrul. Setelah menguntit Amelia selama dua hari akhirnya Fakhrul memutuskan untuk menemuinya.
" Aku akan mengembalikan sebagian uangmu dan sebagian untukku sebagai ganti harga diriku yang melayani mu selama tujuh tahun. Dan jerih payahku membantu membesarkan perusahaan mu selama aku bekerja. Anggap saja kompensasi. " Ucap Amelia yang memicu tawa Fakhrul.
" Selama aku memakai tubuhmu aku memanjakan mu dengan uang , Amel. Bahkan aku membelikan mu rumah sebelum aku membelikannya untuk istriku. Dan aku membelikan kamu mobil sedangkan Cahaya tidak pernah. Dasar wanita serakah !! " Bentak Fakhrul terpancing emosi oleh ucapan Amelia.
" Aku ikut bekerja keras siang malam membantumu membesarkan perusahaan. Apa yang Cahaya lakukan ! Hanya menunggumu dengan masakannya ? Atau dengan membuka pahanya. Tapi kamu lebih suka membuka pahaku, kan. Hingga kamu lupa pulang keenakan. Kamu selalu memaksa aku untuk melayani mu tak kenal waktu dan tempat. Tapi apa yang kamu berikan untuk aku, Mas. Bahkan aku minta kau nikahi saja kamu tak mau. Apa salahnya poligami, toh sama sama sakit untuk Cahaya. Aku bosan kau anggap pemuas mu. Aku ingin dihargai sebagai wanita. Tapi kamu selalu memikirkan sedikit sedikit Cahaya. Aku muak !! "
Amelia akhirnya mengeluarkan isi hatinya. Sesaat hati Fakhrul tercubit mendengar ucapan Amelia. Begitu parahnya dia mengkhianati Cahaya, apa masih pantas dia meminta Cahaya kembali. Layak kah Cahaya mendapatkan bajingan sempurna seperti dirinya. Ingatan Fakhrul kembali pada masa dia bersama Amelia. Dia lupa pulang bahkan berhari hari menginap di Apartemen yang dia hadiahkan untuk Amelia.
Tapi waktu Fakhrul pulang Cahaya menyambutnya dengan senyuman yang menyejukkan hati. Menyediakan makanan kesukaannya. Dan menyiapkan air hangat untuknya mandi melepas lelah setelah bercinta berkali kali dengan Amelia. Sampai malamnya Fakhrul tak sanggup lagi memberikan Cahaya nafkah batin karena telah terpuaskan oleh Amelia. Sejahat itulah dia terhadap Cahaya dulu.
" Kenapa kamu diam, Mas. Apakah aku benar. " Amelia merasa di atas angin melihat diamnya Fakhrul.
Amelia merasa panas, hatinya masih saja mencintai laki-laki brengsek di depannya ini. Bahkan setelah sekian tahun, pesona Fakhrul masih mengusik jiwa feminin nya. Amelia masih merasa sakit saat Fakhrul menyebut nama Cahaya. Sejak dulu banyak pertimbangan yang Fakhrul utarakan hanya untuk Cahaya.
" Jika begitu, kenapa kamu di sini. Pergilah pada Cahaya mu itu. Buat apa kamu masih mencari ku. " Bentak Amelia kesal.
" Andai saja kau pergi tanpa menjatuhkan ku hingga dasar. Andai kebangkrutan itu tidak merusak hidup dan harga diriku dan andai saja aku tidak bodoh menyakiti Cahaya. Mungkin kini kami telah bahagia. Tapi lihatlah sekarang baik kehadiranmu maupun kepergianmu menyisakan jejak kelam di hati dan tubuh Cahaya ku. Dan kini aku akan membalaskan rasa sakit itu padamu. " Fakhrul menyeringai penuh dendam pada Amelia.
Wanita itu menatap Fakhrul dengan kengerian. Tubuhnya meremang melihat seringai iblis Fakhrul. Entah apa yang Fakhrul lakukan padanya, tapi kini Amelia merasa terancam. Saat Amelia hendak bergerak Fakhrul langsung mencengkram lengan Amelia.
__ADS_1
" Mau kemana buru buru. Apa kamu tidak merindukan tubuh ku, Amel sayang. " Amelia merinding saat Fakhrul berbisik ditelinga nya. Seperti saat mereka di kantor, jika Fakhrul menginginkannya Fakhrul selalu melakukan itu padanya.
" Le... lepas... lepas Mas. Atau aku akan berteriak . " Ancam Amelia.
" Berteriak lah, Amel ... setelah itu aku jamin anak kita akan menghilang dari hidupmu selamanya. Dan bisnismu akan hancur dalam hitungan detik. " Fakhrul memperlihatkan sebuah rekaman video.
Karyawan baru yang dia rekrut kemarin untuk ketiga cabang restoran nya sedang menyalakan korek api . Ada tiga video di cabang restoran berbeda miliknya . Ternyata Fakhrul telah menyusupkan orang orangnya di sana.
Amelia semakin gemetar, mengingat dia hanya tinggal bertiga dengan anak dan pembantu di rumah ini . Bagaimana jika Fakhrul nekat menyakiti anaknya. Amelia tidak tahu betapa menakutkan nya Fakhrul saat ini.
Setelah Fakhrul mengambil ponselnya pada Amelia, dia menarik wanita itu untuk duduk berdempetan dengannya. Kemudian Fakhrul merangkul Amelia hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
" Sekarang transfer semua uang di rekening mu ke rekening ku. " Fakhrul menekan bahu Amelia agar tidak berontak. " Kenapa ? Kamu tidak terima ? " Ucap Fakhrul saat melihat Amelia melotot padanya. " Itu uangku Amel, jangan membantah atau kamu terima akibatnya. " Fakhrul bicara pelan tapi penuh tekanan hingga Amelia mendengar bunyi geraham nya yang bertemu.
Amelia meraih ponselnya malas, kemudian mulai mentransfer semua uangnya ke rekening Fakhrul. Tapi Fakhrul belum puas. " Rekening kamu yang satunya lagi belum. Isinya paling banyak bukan ? Jangan kira aku tidak tahu. " Fakhrul berterima kasih pada Doni untuk ini. Akhirnya dia tahu semua rekening Amelia beserta isinya.
" Ada uang pribadiku juga, semua bukan hanya milikmu. " Ucap Amelia tidak terima.
" Kamu datang hanya dengan tubuh montok ini saja, maka aku akan membuatmu kembali pergi dengan tubuh ini saja. Semua yang ada padamu adalah harta ku, hasil membohongi Cahaya demi ****** seperti dirimu. " Ucapan Fakhrul menusuk tepat pada jantung Amelia.
Amelia gemetar antara takut dan marah. " Kamu brengsek, Mas. " Ucap Amelia geram.
" Yes, I am....B*tch !!
__ADS_1
...****************...
Happy Reading 💕