Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Mencari tahu


__ADS_3

Pagi telah menjelang siang. Cahaya baru saja di periksa oleh dokter yang Doni datangkan dari kota. Sejak kejadian semalam Cahaya demam dan tidak bisa makan. Jika dipaksa maka setelahnya muntah. Khawatir dengan kondisi Cahaya akhirnya rencana untuk pulang hari ini pun ditunda .


Kejadian semalam hanya diketahui oleh mereka saja, tidak dengan Ibu Ratih dan anak anak tentunya. Jika ada yang bertanya tentang Cahaya maka alasan sakit karena masuk angin dan butuh istirahat adalah alasan yang tepat.


Doni sangat mencemaskan kondisi Cahaya. Ingin rasanya berada di sampingnya untuk menenangkan istrinya dan mengatakan semua itu hanya jebakan. Tapi hingga kini Doni tidak menemukan bukti maupun saksi. Dokter telah mengambil sampel darahnya . Namun butuh waktu untuk pemeriksaan di labor.


Beruntung Ibu dan anak anak masih berada di resort kawasan hutan buatan. Jadi Doni sedikit tenang tanpa khawatir mereka melihat kondisi Cahaya dan dirinya. Yang akan menimbulkan banyak pertanyaan.


Max tidak menemukan rekaman CCTV karena semua kameranya dinyatakan rusak. Hal ini menimbulkan kecurigaan mereka terhadap Marinda semakin kuat. Tinggal menunggu team Aryo dan hasil tes darah Doni.


Max berniat hendak menemui Marinda. Dia ingin bertanya secara baik baik. Meski hatinya hancur karena masalah ini, tapi sebagai sahabat Max tidak ingin membuat Marinda dalam masalah. Begitu juga dengan Doni, Maxim tidak ingin hubungan Doni dan Cahaya bermasalah . Max bisa melihat betapa Doni mencintai Cahaya dan begitu frustasi melihat kondisi Cahaya yang menderita.


Max bersiap keluar dari villa pribadinya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang tertidur menyandar di sofa ruang tamunya. Max memukul kepalanya karena baru saja mengingat sesuatu. Max melangkah mendekat dan menatap kasihan pada sekretaris nya yang terabaikan olehnya karena masalah Marinda.


" Amelia, bangun... hei... bangun !! " Max menepuk wajah mulus Amelia pelan.


" Hmm... angh... eh Pak, maaf saya tertidur. " Amelia tersentak dan langsung berdiri . Tubuh yang baru saja terbangun itu oleng karena Amelia belum sempurna mengembalikan kesadarannya. Beruntung Max menahannya dengan cepat.


" Hei... Hati-hati, kamu baru bangun kenapa langsung berdiri. " Ucap Max sambil mendudukkan Amelia kembali.


" Maaf, Pak. " Jawab Amelia singkat sambil merapikan rambut dan mengusap wajahnya .Ada rasa sungkan bangun tidur langsung berhadapan dengan Bosnya yang sudah rapi .


" Aku yang minta maaf telah membiarkan kamu tidur di sini semalaman. Kenapa tidak masuk saja ke salah satu kamar ? "


" Tadinya saya ingin minta izin Bapak dulu, tapi saya tunggu hingga larut malam , Bapak belum kembali jadi saya ketiduran . " Terang Amelia sungkan.


" Ya, ampun. Saking pusingnya aku nggak lihat kamu di situ. Mandilah, dan bersantai lah. Anggap saja liburan, kebetulan weekend juga. Dan...ini kartu akses kamarku, kopermu ada di dalam ambil saja . Aku mau keluar sebentar. " Max memberikan sebuah kartu pada Amelia dan berlalu menuju pintu.


" Tampan tapi dingin. Berrrrg beku aku tapi baik juga. Apa benar belum punya istri, umurnya seumuran Mas Fakhrul. Profesional Amel, jangan mikir yang aneh aneh . " Amelia bergumam sendiri dan kemudian memukul kepalanya sendiri.


Amelia melangkah menuju kamar utama. Villa pribadi Max terlihat lebih besar dan lebih mewah dari yang lain. Tentu dengan fasilitas yang lebih berteknologi tinggi. Satu satunya villa yang menggunakan kartu akses seperti hotel bintang lima. Dan see... kamar mewah miliknya sangat menakjubkan.


Amelia benar benar terpana lama di sana. Hingga matanya menangkap koper berwarna kuning miliknya. Amelia bergegas mengambil dan keluar sebelum dia khilaf dan berguling guling di ranjang super mewah itu.

__ADS_1


Amelia memilih kamar yang terdekat dengan kamar Bosnya . Agar lebih mudah dan cepat jika Bos es itu membutuhkan dirinya. Gegas Amelia mandi dan berganti pakaian. Dia tidak menyia nyiakan liburan gratis yang mendadak ini. Mumpung lagi di pulau dan pantai pribadi.


Dengan mengenakan celana pendek sepaha berwarna putih yang memperlihatkan paha putih mulusnya. Dan kemeja warna kuning hambar yang hanya diikat tanpa di kancing. Karena Amelia memakai tank top berwana putih di dalamnya. Amelia melangkah menuju pintu setelah memakai sandal tali miliknya.


Langkah Amelia terhenti tepat di ambang pintu . Max dan dua orang pria baru saja hendak masuk. Keempatnya sama sama tertegun dengan tatapan yang berbeda makna. Amelia yang terkesima langsung menunduk memberi hormat pada Bosnya dan teman temannya.


" Maaf, Pak saya izin ke pantai, mumpung di sini. Jika Bapak butuh sesuatu telpon saja, saya akan fast respon. " Ucap Amelia.


" Silahkan, nikmati liburanmu. " Max bergeser memberi jalan. Begitu pula dengan Doni dan Aryo yang saling menatap penuh arti.


Tanpa berkata lagi Amelia melenggang pergi meninggalkan ketiga pria itu dengan pikirannya masing masing.


" Apa dia sekretaris baru yang kamu ceritakan . " Tanya Aryo yang mengalihkan pandangan Max padanya.


" Iya... dia pintar dan cerdas. Lincah dan pandai mengatur jadwal ku yang padat. Dan dia punya kualitas yang aku butuhkan, dalam menghadapi meeting mendadak atau menghadapi klien yang rewel. Dia bisa berpikir cepat dalam mengatasi masalah itu yang paling penting. " Ucap Max sambil menggiring kedua sahabatnya masuk dan duduk di mini bar miliknya.


" Wow, perfect. Apa juga lincah di ranjang ? " Tanya Aryo nyeleneh.


" Jangan coba coba, jika kamu tak ingin terjebak dan akhirnya bangkrut. " Timpal Doni.


" Kalian mengenalnya ? " Tanya Max yang curiga mendengar ucapan Doni. Satu satunya sahabatnya yang tak pernah bicara omong kosong.


" Kami tahu riwayat hidupnya, tapi tidak secara personal. Dan tentu dia tidak kenal kami. Lebih tepatnya belum. " Jawab Aryo yang menyesap minuman yang baru saja Max tuangkan untuk mereka.


" Siapa dia ? " Tanya Max singkat. Tentu saja dia penasaran mengenai Amelia. Karena dia tidak menemukan hal yang ganjil saat melihat CV milik Amelia. Selain Max mengetahui kalau Amelia adalah anak seorang pengusaha yang bangkrut dan meninggal karena serangan jantung.


" Dia adalah simpanan mantan suami Cahaya. Dan cerita selanjutnya kamu sudah tahu, aku sudah pernah ceritakan waktu itu. " Ungkap Aryo.


" What the hell... benarkah ? Dia wanita yang membuat mantan suami Cahaya bangkrut ? " Tanya Max memastikan.


" Berhati hati lah. " Ucap Doni mengingatkan Max.


" Sejauh ini dia profesional, tidak pernah mencoba merayu atau menarik perhatian ku. " Max kembali menerawang mengingat keseharian Amelia dengannya.

__ADS_1


" Mungkin saja dia telah insaf, karena sekarang mantan suami Cahaya telah mengambil kembali hartanya dan mengambil alih gak asuh anak mereka. " Lanjut Doni.


" Dan bisa saja sekarang dia mencari mangsa baru. " Tambah Aryo.


" Akh... kalian buat aku ketar ketir. Padahal aku sudah nyaman dengan hasil kerjanya. Tahu sendiri aku sulit mencari pengganti Edo sejak dia resign. " Keluh Max.


" Kamu hanya perlu hati hati, jangan terlalu memberinya kemudahan atau mempercayakan hal yang sensitif di perusahaan . Dulu dia bisa melakukan itu karena pria itu mempercayakan semua hal padanya. Termasuk dana keluar masuk juga mengakses dana perusahaan. Bodoh sekali bukan ? " Ucap Aryo yang memang mengetahui semua sepak terjang Amelia masa itu.


" Kita lihat saja dulu, bisa saja dulu dia punya alasan untuk melakukan semua itu. Dan tetap hati hati. " Ucap Doni bijak.


" Baiklah, kita tutup masalah Amelia. Kembali ke masalah Doni. Apa yang terjadi setelah kamu tiba di villa Rinda. Coba jelaskan secara detail. " Aryo mengembalikan fokus kedua temannya pada pokok masalah .


" Aku menemukan Marinda meringkuk di bawah meja pantry ketakutan. Aku membantunya duduk dan memberinya minum. Aku mencoba menenangkannya dengan mengatakan badai ini hanya badai kecil. Kami terus ngobrol ringan setelah dia mulai tenang. Tak ingin berlama-lama aku menyuruhnya kembali ke kamar dan istirahat. Dia minta diantar ke kamar. Dan tiba tiba aku merasa pusing . Dan aku tak ingat apapun setelahnya. " Doni kembali mengingat apa yang terjadi malam itu.


" Apa kamu minum sesuatu saat bicara dengannya. Atau selama ada di sana ? " Tanya Aryo.


" Tidak, aku tidak meminum atau memakan apapun. " Doni menjawab dengan yakin.


" Bagaimana mungkin Marinda menjebak mu tanpa kamu mengkonsumsi sesuatu ? " Ucap Max sangsi dengan keterangan Doni.


" Kenyataannya memang begitu. Aku tak ingat, hingga kamu datang membangunkan aku di kamar itu. " Ucap Doni dengan yakin.


" Apa kamu ada mencium wangi wangian atau aroma yang menenangkan. " Tanya Aryo lagi.


" Sejak aku menemukan Marinda aku memang menghirup aroma parfum yang wangi. Aku rasa itu aroma parfum milik Marinda. Tidak ada yang aneh juga. Hanya wangi segar biasa. " Jawab Doni


" Yang aneh lagi, kenapa kamar atas. Padahal kamar utama lebih dekat dan kalian berada di lantai atas jauh sekali dari pantry. " Max mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Ketiga pria itu sama sama mengerutkan kening berpikir hal yang sama. Dan teka teki ini terasa sulit untuk dipecahkan. Tanpa ada bukti rekaman dan bukti fisik berupa bekas minuman atau makanan yang mengandung sesuatu yang membuat Doni tidak sadarkan diri.


...****************...


Happy Reading 💕

__ADS_1


__ADS_2