
Sejak pembicaraan di meja makan Doni menghindari Cahaya. Doni merasa jika Cahaya butuh waktu untuk menerima dirinya dan perasaannya . Sementara Cahaya tetap melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik kecuali masalah ranjang. Karena Doni sendiri tidak pernah meminta haknya pada Cahaya.
Rania dan Ibu Ratih bisa melihat kalau hubungan mereka tidaklah baik baik saja. Baik Doni maupun Cahaya terlihat berkomunikasi dengan kaku. Sebatas formalitas saat bersama keluarga saja.
Rania mencoba bicara dengan Cahaya dari hati ke hati. Dia tidak ingin Cahaya lebih menderita setelah menikahi kakaknya. Atas persetujuan Ibu Ratih Rania pun mengajak Cahaya menikmati pijatan di sebuah SPA dan klinik kecantikan.
" Kita pesan kamar yang untuk berdua saja ya. Biar bisa sambil ngobrol. " Ujar Rania setibanya di lobi sebuah tempat pijat nyonya nyonya berduit itu.
" Boleh, aku juga nggak suka sendirian. " Jawab Cahaya.
Rania pun melangkah menuju meja resepsionis untuk memesan kamar dan jenis perawatan yang mereka inginkan. Sementara Cahaya menunggu di sofa yang ada di lobi SPA itu. Tiba tiba Cahaya melihat seseorang yang dia kenal.
" Hai Dokter Nadya. Masih ingat dengan saya, Cahaya ? " Sapa Cahaya sambil mengulurkan tangannya hendak menyalami.
" Hai... Cahaya ? Maksudnya Cahaya jingga, Bundanya Binar. ? " Ucap Dokter itu sedikit tak percaya sembari menyambut uluran tangan Cahaya.
" Benar Dok, saya Cahaya. Apa kabar Dokter, lama tidak bertemu. "
" Saya baik, bagaimana dengan kamu dan Binar. Apa masih sering kambuh ? " Tanya Dokter itu balik.
" Binar sudah jauh lebih baik, Dok. " Jawab Cahaya .
" Kenapa kamu tidak melanjutkan terapi mu. Saya tahu jika kamu belum sembuh Cahaya. Sangat disayangkan jika dibiarkan berlarut larut. Baik trauma, phobia atau penyakit mental yang lainya harus ditangani dengan cepat dan tepat. Apalagi kamu mengidap Anxiety Disorder. Itu sangat mengganggu hidupmu. Apa kamu masih trauma dengan bau minuman beralkohol ? " Cahaya mengangguk menjawab pertanyaan sang Dokter.
" Itu bisa jadi pemicu Anxiety Disorder itu kambuh. Jika terus menerus kamu bisa depresi berat. Ayolah Cahaya... demi kedua anak anak itu obati dirimu. Dan saya dapat melihat jika kamu kurang tidur dan sangat kurus dari terakhir kita bertemu. Jangan katakan jika mimpi itu kembali lagi. " Cahaya bingung untuk menjawab.
Bagaimana mungkin dia mengatakan kalau kurang tidur karena suaminya selalu bau alkohol setiap malam. Melihat kebisuan Cahaya Dokter Nadya hanya tersenyum lembut. Sebagai Psikiater dia tahu Cahaya tidak boleh ditekan. Dan Nadya mengerti jika Cahaya menyimpan sesuatu yang tidak bisa dia buka di depan umum.
" Ok, Cahaya begini saja. Datanglah ke klinik ku. Kita harus mulai terapi kamu lagi jika ingin hidup lebih tenang dan bahagia. Aku tunggu !" Dokter Nadya mengusap bahu Cahaya.
" Baik Dok, akan saya lakukan. Nanti saya hubungi Dokter lagi. Terima kasih telah mengingat kan. " Ucap Cahaya ramah.
__ADS_1
" Kalau begitu saya pamit, see you next time. " Dokter Nadya pun berlalu. Cahaya masih terpaku menatap punggung Dokter Nadya. Kembali menimbang nimbang ucapan Dokter itu. Hingga sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Cahaya bahwa ada Rania di dekatnya.
Cahaya tersentak kaget. Apakah Rania mendengar ucapan Dokter Nadya tadi ? Pertanyaan itu menghantui pikiran Cahaya seketika. Tapi ucapan Rania membuat Cahaya memejamkan matanya.
" Jadi kamu mengidap Anxiety disorder ? Dan kamu merahasiakan nya dari ku ? " Cerca Rania.
" Maaf, Nia. Aku belum sempat cerita. " Cahaya hanya bisa menatap dengan rasa bersalah.
" Dan Kak Doni membawa alkohol di tubuhnya setiap malam dan kamu diam saja. Bagaimana kamu melewati semua ini , hah...? Rania tidak bisa membayangkan menjadi Cahaya. " Bagaimana , Aya ! " Desak Rania.
" Dari mana kamu tahu Bang Doni...
" Tentu saja dari Ibuk, kamu kira kamu bisa menyembunyikan masalah mu di depan Ibuk. Tidak... ! Hanya beliau tidak tahu apa permasalahan kalian. " Potong Rania.
" Ya.. aku gagal membantu mengembalikan Abang sesuai keinginan kamu, Nia. Abang malah setiap hari singgah ke Club dan pulang dalam keadaan setengah mabuk. Aku tidak bisa mendekatinya karena nya. Seperti yang kamu dengar tadi, aku memiliki trauma terhadap aroma alkohol. " Cahaya tertunduk lemah menyesalkan ketidak berdayaan nya.
" Jangan menyalahkan dirimu. Kak Doni saja yang bodoh. Ya ... sudah, ayo kita lanjutkan tujuan kita. Aku semakin pusing jadinya. " Rania menarik Cahaya ke dalam ruang khusus yang tadi dia reservasi.
" Kamu tenang saja, akan aku buat Kak Doni menyesal mengabaikan mu. " Sengaja Rania tidak menanyakan banyak hal karena Rania mulai mengerti arah ucapan Cahaya . Kata jijik yang Cahaya ucapkan pasti tentang tubuh Cahaya yang penuh bekas luka.
" Awas kamu Kak....
*****
Sesuai janji Cahaya kemarin dengan Dokter Nadya, kini Cahaya memberanikan diri untuk kembali terapi. Dulu Cahaya menghentikan terapi karena alasan keuangan. Kini Cahaya memiliki kartu ajaib untuk kebutuhan pribadinya. Tidak ada salahnya bila dimanfaatkan untuk terapi bukan ?
" Bagaimana, apa yang kamu alami belakangan ini, Cahaya ? "Tanya Dokter Nadya saat memulai sesi konseling.
" Saya sudah menikah, Dok. "
" Wow ! Suatu kemajuan yang luar biasa. Saya kira kamu tak mampu untuk menikah lagi. Setidaknya butuh waktu lama. " Ujar Dokter Nadya.
__ADS_1
" Terpaksa, Dok. Laki laki itu kembali dan membuat Binar sempat kambuh. Dan tentu saja saya juga. Dan saya takut dia akan menyakiti kami. Saya butuh perlindungan dan suami sayalah orang yang bisa melindungi kami dari laki laki itu. " Terang Cahaya.
" Ceritakan tentang suami kamu, Cahaya. "
" Dia tidak menyukai saya, anggaplah kami menikah hanya .... seperti... simbiosis mutualisme. Dan yang jadi masalah dia suka konsumsi minuman beralkohol. "
" Apa yang kamu alami saat di dekatnya. " Dokter Nadya mencatat setiap jawaban Cahaya.
" Pusing, mual, tremor dan ... ketakutan berlebihan. Dan saya kesulitan tidur, Dok. " Jawab Cahaya. " Sesekali juga sampai muntah " Sambung Cahaya.
" Baiklah , Cahaya cukup sampai disini. " Dokter Nadya menutup jurnalnya. Kemudian duduk menghadap Cahaya.
" Apa kamu tidak menceritakan kondisi psikis mu padanya. Mungkin kalian butuh bicara dari hati ke hati. Agar dia menghentikan kebiasaan buruknya yang jelas merusak. Tidak hanya dirinya tapi kamu juga, Cahaya. " Dokter Nadya memperhatikan perubahan raut wajah Cahaya yang kembali muram.
" Kenapa... ada masalah lain ? Tanya Dokter Nadya lagi.
" Mmh begini , Dok. Saya takut dia semakin illfeel pada saya. Dokter tahu, kan ? Tubuh saya kurus dan banyak bekas luka yang menjijikan. Jika dia tahu saya ini wanita sakit jiwa ....
" Kamu terlalu overthinking, Cahaya. Anxiety Disorder penyakit mental yang bisa disembuhkan bukan penyakit gila . Dan tentang tubuh , kamu harus makan dan tidur yang cukup Cahaya buat berat badanmu kembali ideal. Kenapa kamu tidak coba untuk menggapai hati suami kamu ? " Dokter Nadya mencoba mesugesti Cahaya.
" Begini, Cahaya. Pertama, saya akan memberikan obat penenang yang harus kamu konsumsi agar tidur kamu tidak terganggu. Dan nanti saya berikan bagan makanan untuk menjaga asupan kamu. Ingat !! Kesembuhan kamu harus didukung oleh tubuh yang sehat. Dan tentu saja tubuh kita adalah modal utama untuk menggapai hati suami. " Dokter Nadya tersenyum penuh arti sementara Cahaya tersenyum tersipu .
" Terima kasih, Dokter. " Ucap Cahaya
" Jangan lupa minggu depan datang lagi, kita lihat perkembangan kamu. "
" Baik, Dok. "
...****************...
Happy Reading 💕
__ADS_1