Goresan Luka Masa Lalu

Goresan Luka Masa Lalu
Masih ingin berdua


__ADS_3

Masih dengan napas yang tersengal akibat penyatuan yang entah yang ke berapa kalinya, Doni kembali memeluk Cahaya dari belakang. Keduanya masih terdiam dalam rasa lelah akibat pergulatan panjang. Tapi tangan jahil Doni memaksa Cahaya untuk bersuara.


" Abang...! "Rengek Cahaya lembut tak bertenaga.


" Apa sayang ? " Ucap Doni dengan mata yang masih terpejam. Namun bibirnya tidak bisa dikondisikan dan terus menjelajahi tengkuk Cahaya.


" Sudah, Aya lelah dan... lapar. " Cicit Cahaya pelan tapi mampu membuat Doni mengakhiri aktivitas nya.


" Ya... ampun, Abang lupa kita belum makan. Dan... astaga, sudah jam tiga, Jingga.! " Doni benar-benar lupa diri. Hampir sebelas tahun tidak menyentuh wanita membuatnya gila berkali kali. Cahaya bahkan tidak mampu bicara normal sekarang.


" Siapa suruh se mesum ini. Ya ampun, Aya bahkan nggak kuat angkat kepala, Abang. " Cahaya yang berusaha bangkit terpaksa ter telungkup kembali.


" He... he... maaf. Abang tidak bisa menahan diri. Habis kamu yang menggoda duluan. " Tidak mau disalahkan Doni malah membuat Cahaya memutar matanya malas mendengar alasan suaminya yang tidak masuk di akal.


" Terserah, Abang saja. Sekarang tolong telpon supir saja untuk jemput anak anak, Aya belum mau bangun. Mau istirahat dulu. " Jawab Cahaya lemah dengan mata terpejam.


" Baik Sayang, istirahat lah sebentar. Abang ambilkan makanan ya? " Cahaya hanya mengangguk kecil dan Doni meraih ponsel nya untuk menghubungi supir dan Ibuk. Karena Doni masih ingin bersama Cahaya untuk waktu yang lama.


Doni membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan membiarkan Cahaya terlelap beberapa saat. Senyum kebanggaan terpatri indah di bibirnya saat menatap tubuhnya di cermin kamar mandi. Doni masih mengingat bagaimana dia berhasil membuat Cahaya tidak berkutik di bawahnya.


Awalnya Cahaya terlihat sedikit gugup dan bergetar halus. Tapi setelah penyatuan yang pertama Cahaya sudah mulai rileks. Sesuai ucapan Dokter Nadya, Cahaya akan nyaman jika dia merasa aman, itulah intinya. Terbukti Cahaya juga tidak lagi malu mengekspresikan dirinya. Bahkan tanpa sadar Cahaya membalas setiap sentuhan yang Doni berikan. Akh... kini Doni kembali on fire mengingat kejadian beberapa waktu lalu.


Setelah mengganti pakaian Doni memesan makanan dan juga pakaian yang sesuai dengan Cahaya di sebuah butik, lengkap dengan dalaman nya sekalian. Beruntung Doni punya stok baju di lemari, tetapi tidak untuk Cahaya.


" Sepertinya mulai sekarang lemarinya akan dipenuhi dengan pakaian mu juga. " Ucap Doni sembari memandang wajah polos Cahaya yang masih di posisi semula.


Kemudian Doni melangkah keluar ruang pribadi nya. Menatap rantang makanan yang tadi Cahaya bawa. Tentu saja makanannya sudah dingin. Tapi Doni tidak ingin membuat istrinya kecewa. Doni kembali membuka tutup rantang yang tadi sempat dia tutup sebelum memasuki kamar.

__ADS_1


Dengan sigap Doni meraih piring dan mengisinya dengan nasi dan perlengkapan nya. Dengan lahap Doni menghabiskan semua makanan itu tanpa sisa. Tidak saja karena sangat lapar tetapi juga karena masakan Jingga nya memang luar biasa.


Tidak lama kemudian sekretaris Doni mengetuk pintu ruangan.Dan masuk dengan menenteng beberapa paper bag .


" Permisi, Pak. Ini pesanan Bapak. " Ucap sang sekretaris yang bernama Winda.


" Terima kasih, Win. Taruh saja di meja sofa dan kamu boleh keluar. " Ucap Doni yang sibuk merapikan rantang makanan yang Cahaya bawa.


" Baik Pak, saya permisi. " Winda pergi setelah meletakkan paper bag itu di meja sesuai instruksi bos nya.


Doni kembali ke kamar dengan membawa paper bag tadi dengan sebuah piring dan sendok bersih. Tidak lupa dua botol air mineral kemasan di tangannya yang lain.


Mata Doni terpaut dengan seonggok tubuh yang masih bergelung tanpa busana di bawah selimut. Jingga nya pasti sangat kelelahan, sampai tak sanggup mengangkat matanya. Doni tersenyum bangga sekaligus kasihan melihat istrinya tak berdaya.


Dengan lembut Doni mengusap pipi Cahaya lembut. Walaupun Doni merasa kasihan tapi Cahaya belum mengisi perutnya sama sekali dan telah melewati jam makan siangnya. Dan sudah satu jam Doni membiarkan Cahaya tidur sejak pertempuran terakhir mereka.


" Bangunlah, Jingga.Ini sudah pukul empat, bersihkan dirimu lalu makan. Abang sudah pesan kan makanan untuk kamu. " Ucap Doni pada Cahaya yang sibuk membenarkan letak selimut.


" Abang sudah mandi ? " Tanya Cahaya menghilangkan kecanggungan.


" Sudah, dan sudah makan juga. Masakan kamu enak banget dan ludes Abang makan. Dan kamu makan yang itu saja. " Doni menunjuk ke arah paper bag yang tadi dibawa Winda.


" Baiklah Aya, mandi dulu. " Cahaya bangkit dengan pelan sambil menahan lilitan selimut di badannya. Dengan langkah sedikit tertatih Cahaya menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


" Bang, apa ada bathup. Aya rasanya ingin berendam sebentar. " Cahaya berbalik setelah dua langkah.


" Ada, berendam lah tapi jangan terlalu lama. Perut kamu perlu diisi. " Jawab Doni. Dan Cahaya langsung melangkah masuk kamar mandi.

__ADS_1


Cukup lama Doni menunggu namun Cahaya tak kunjung keluar. Akhirnya Doni mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.


" Jingga, kamu sudah siap ? Ini sudah terlalu lama, cepatlah ! " Tidak ada sahutan. " Kalau kamu tidak keluar juga Abang masuk , ya ? " Doni sempat berpikir Cahaya pingsan karena kelelahan. Tapi lega sesaat kemudian ketika pintu terbuka.


Cahaya keluar dengan lilitan handuk yang tak seberapa lebar itu.


" Baju ganti Aya nggak ada, Bang. Gimana ini. " Terlihat guratan cemas di wajah Cahaya.


" Abang sudah pesan , sementara pakai ini saja dulu sambil menunggu pesanannya sampai. " Doni mengulurkan sebuah kemeja miliknya yang hanya sepaha Cahaya. Tanpa dalaman dan tanpa bawahan. Tapi apa boleh buat, ini lebih baik dari pada hanya mengenakan handuk yang bahkan tak mampu menutupi pada Cahaya.


Tanpa berpikir panjang Cahaya pun memakai kemeja yang Doni berikan. Dan menggulung rambutnya dengan handuknya tadi. Penampakan yang membuat Doni kembali on fire. Tapi istrinya belum makan sama sekali. Doni tidak tega untuk melakukan penyerangan lagi.


" Makanlah dulu , sini...! " Dengan canggung Cahaya terpaksa mendekat ke arah Doni yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


Seporsi nasi putih dan semangkuk sop iga lengkap dengan udang tepung. Tidak lupa jus mangga. Sungguh perut Cahaya meronta minta diisi segera mencium aroma nya. Doni menata semuanya di meja kecil yang terdapat di sudut ruang pribadi itu.


" Habiskan semuanya, biar nanti bertenaga lagi. " ucap Doni tersenyum penuh arti.


Cahaya tidak lagi peduli. Perutnya lapar dan butuh diisi. Segera Cahaya duduk menghadap hidangan yang sangat menggiurkan itu dan melahap nya dengan sangat nikmat. Doni hanya tersenyum simpul melihat istrinya yang makan seperti tidak makan tiga hari.


" Pelan, Jingga. Tidak ada yang akan merebutnya darimu. Bahkan kamu lupa sama suamimu. " Sontak Cahaya berhenti menyuap.


" Abang mau ? " Tawar Cahaya dengan wajah merasa bersalah.


" Tidak... ! Abang hanya bercanda. Abang sudah tadi dengan masakan istri tercinta. " Wajah Cahaya memerah mendengar ucapan manis suaminya. Dan memutuskan untuk melanjutkan makannya. Seperti ucapan Doni menghabiskan nya tanpa sisa.


...****************...

__ADS_1


Happy Readingđź’•


__ADS_2